Kamis, 24 Desember 2015

Email dari Are di Budapest




[Senin, 06.10 sampai seterusnya]

Pagi itu, Re, aku menerima sebuah email baru darimu yang ada di Budapest. Pagi itu pula aku berani mengabaikan semua laporan keuangan yang sudah menjerit ingin kuperiksa sebelum pertemuan nanti siang…
Emailmu begini, Areno…
Untuk; Ratih, temanku dari segala arti teman
Perihal; bertanya
Temanku Ratih,
Aku ingin bertanya sesuatu untuk permulaan emailku, sayang, sudahkah kamu merindukan aku? Sebab segala rinduku yang berupa penantian akan temu denganmu sudah menumpuk didadaku dan tak peduli walau aku memaksa menghentikan pembelian tiket dari sini ke Indonesia. Aku bercanda, belum, aku belum rindu kamu, sama sekali belum. Aku juga belum berpikir tentang penerbangan melelahkan itu. Aku hanya cinta kamu, belum rindu
Aku sudah lupa bagaimana kita berbicara ringan tentang novel kesukaanmu atau film-film dan musik-musik kesukaan kita. Aku juga sudah lupa hal apa yang kamu tidak suka dan aku sangat menggilainya. Tapi, Ratih, beruntungnya aku belum lupa bahwa aku punya kamu dan seluruh hatimu (soal hatimu ini aku yakin), aku tak akan lupa.
Ratih, aku ingin bertanya, ini serius dan aku butuh jawabannya segera.
Ratih, apa arti cinta bagimu? Apa kamu mati-matian tidak mengharapkan perpisahan dari hubungan percintaan kita? Atau kamu realistis lalu memandang lurus pada lajur kehidupan yang bahkan tak selalu lurus seperti pandanganmu? Mengapa kamu memilih aku? Mengapa kamu menaruh hatimu kepadaku tanpa persetujuanku sebelumnya? Apakah dulu engkau seyakin itu dengan aku? Apakah dulu engkau seyakin itu dengan cinta? Atau malah sampai detik ini pun kamu masih yakin akan cinta?
Dan, sayangku, sudahkah kamu siap jika suatu hari kita berpisah? Apa persiapanmu?
Aku hanya bertanya, Ratih, dan jangan jadi ragu akan perasaanku kepadamu karena pertanyaan-pertanyaan diatas.
Dan, apa kamu baik? Bagaimana jantungmu? Sehat? Aku harap begitu.
Dan saat ini, selesai menulis email ini, aku rindu kamu, rindu sekali.
-Are.

Saat itu aku tercenung dan kaget, Re, jika kamu mau tau. Tapi lalu aku tersenyum dan senang. Hubungan ini, aku dan kamu, kita, bukan hanya tentang cinta dan ketidaksadarannya. Bukan hanya tentang ketidakmasukakalan cinta yang impulsif dan hanya tentang rasa. Aku butuh segala pikiranmu yang lalu melebur dan menjadi satu dengan segala pikiranku. Aku butuh itu, Re, butuh…
Maka segera aku balas emailmu begini…
Untuk; Are, separuhnya aku
Perihal; menjawab
Areno sayangku,
Mula-mula aku ingin menjawab tentang keadaanku. Jantungku mulai tidak baik, mungkin karena degup-degup aneh saat menerima emailmu. Mungkin karena aku jatuh cinta terlalu dalam padamu. Aku tidak bercanda, Re.
Are, aku senang kamu bertanya begini padaku. Aku butuh segala pikiranmu itu, Re, bahkan aku butuh segala keraguanmu kepadaku kalau ada. Karena aku ingin cinta kita masuk akal dan bukan hanya tentang kata-kata magismu yang membuat aku bahagia.
Re, aku ingin benar-benar jatuh saat mencintaimu. Lalu akan ada titik terjatuh dimana aku akan hampa dan bertanya pada diriku, benarkah aku mencintaimu? Atau aku hanya ingin jatuh dan mencapai titik itu lalu terlena. Tidak Re, aku tak mau. Aku ingin mencintaimu dengan fatal, sampai tak ada lagi yang perlu aku risaukan tentang cinta kita. Sampai aku hanya tau kamu paham betul aku dengan segala pikiran dan keraguanku.
Re, aku juga ingin mencintaimu secara sadar. Aku ingin sadar akan apa yang aku rasakan. Jiwaku tak ingin terpejam sekalipun mataku lurus menatapmu. Aku ingin sadar dalam mencintaimu, lalu menerjemahkan segala rasa dengan kerasionalanku yang benar-benar bangun. Re, aku tak ingin terlelap dalam cintamu. Aku ingin sadar saat merasakan kamu dan cintamu.
Aku senang aku tak memahami definisi mutlak tentang cinta, aku senang. Tapi aku bisa mendefinisikan secara jelas bagaimana definisi dan alur cintaku kepadamu. Aku bukannya cinta tanpa alasan, Re. Aku tau alur cintaku ini, aku tau alasan, resiko, definisi, konsep, segalanya tentang cintaku kepadamu. Sebab sebuah konsep akan selamanya hampa tanpa ada tujuan dan penyebab. Aku punya segalanya yang kamu tanyakan, Re, tapi ada beberapa tanyamu yang tak ingin ku jawab secara jelas dan tepat sasaran. Aku ingin kamu definisikan semua dari tulisanku kepadamu ini. Aku ingin kamu terjemahkan aku.
Aku butuh pikiranmu, Re, butuh. Aku ingin pikiranmu melebur bersama pikiranku. Aku butuh pikiranmu yang menyatu dengan punyaku. Bukan, bukan tentang persepsi, tapi pengertian bersama tentang kamu dan aku. Aku tak pernah buru-buru ingin perpisahan, biarlah senang dulu lalu terbang dan jatuh, saat jatuh itu aku mau kita sama-sama bertanya pada diri kita. Bukan, bukan tentang baik-buruknya, karena kamu tau kita tak hidup untuk sesuatu itu. bertanya tentang mampukah kita untuk sadar kembali dan menelusuri kronologi cinta kita dari awal. Haruskah berakhir perpisahan atau pelukan (kembali). Haruskah mengulang untuk kembali jatuh lagi dan mendefinisikan kembali segala rasa.
Aku belum jatuh sejatuh-jatuhnya, Re. Semua rasa dan tanyaku masih kusimpan dan aku bagi sedikit denganmu, karena aku tau kamu adalah satu yang mampu berbaur denganku. Karena aku belum ingin disiksa dengan kenyataan dan secara gamblang menyentuh sebuah ironi. Tidak, aku ingin terbang dulu lalu jatuh sejatuh-jatuhnya.
Dan, Re, tak ada yang aku yakini selain ketidakyakinan itu sendiri. Aku penikmat, Re, yang tak bisa yakin dengan sungguh-sungguh lalu memutuskan. Aku butuh sesuatu yang nanti memutuskan. Kendali semua yang bergerak di sekelilingku bukan padaku, aku hanya penikmat yang tiba-tiba bisa disuruh jatuh lalu bertanya dan berpikir. Tapi aku ingin sepenuhnya sadar dan masuk akal, Re, bukan penikmat yang terpejam jiwanya.
Makanya, aku butuh pikiranmu, aku butuh kamu Re.
Tak akan kusesali bila pada akhirnya semua ini hanya kesemuan, tapi rasa ini sudah mengkristal indah tak ingin kuhapus sekalipun kamu sudah terhapus dari hidupku.
Tak apa, Re, tak apa, semuanya akan indah pada waktunya. Nikmati saja, kita hanya penikmat.
Dan, Areno, aku rindu kamu. Cepat pulang ya dari Budapest
-Ratih

Segera aku kirim emailmu tanpa ada keraguan atas semua isinya. Aku ingin kamu membalasnya segera, Re.
Lalu sekitar 15 menit kemudian, layar laptop berkedip sekali dan menampilkan pemberitahuan email masuk darimu.
Untuk; Ratih, separuhnya aku di Indonesia
Perihal; terimakasih, semoga jantungmu baik
Inilah kamu yang aku cintai secara sadar dan masuk akal, Ratih…
Bukankah keyakinan terbesar adalah kepada ketidakyakinan itu sendiri? Memang begitulah adanya di dunia ini.
Lalu bukankah kepastian terbesar adalah ketidakpastian itu sendiri? Ya, jelas begitu.
Aku akan pulang sebentar lagi, aku sudah tak mau melacurkan waktuku disini. Aku kangen kamu.
-Are


Aku membalasnya.
Untuk; Are yang di Budapest
Perihal; aku juga kangen kamu
Ketidakyakinan dan ketidakpastian adalah sesuatu yang mengelilingi aku saat ini.
Melacurkan waktu? Sesungguhnya kamu pelacur sejati disana. Sebab ada tiga macam pelacur sejati, yaitu yang melacurkan waktu, jiwa atau jati diri. Kamu salah satunya, Re, tapi aku tetap cinta kamu.
Aku juga kangen, sampai bertemu segera. Dan tidurlah lagi, disana masih terlalu malam, bukan?
-Ratih

Sampai bertemu disini, Re. Aku sudah rindu sekali. Dan semoga segalanya berakhir seperti yang aku harapkan.

Jumat, 18 Desember 2015

Wajah Rindu

Aku terbaring
Dalam tubuh ringkih ini tersampir rindu
Dalam jiwa jenuh ini tersangkut rindu
Wajah ini tirus dengan warna pasi
Sengaja tak pakai gincu agar tak jadi rancu

Aku terbaring
Raga ringkih ini kaku
Mendekam rindu yang membuat pilu
Teko berbunyi
Air sudah panas
Aku ingin jumpa denganmu saja

Tak ada teh sore dalam kesendirian
Hanya mampu melukai dan dilukai rindu
Andai pipi ini diwarnai sedikit
Tak akan pilu sore melirikku
Tapi Rancu yang dipahat gugup

Apa aku benar sedang rindu?
Atau hanya rindu palsu jalang murahan?
Yang dihargai beberapa dolar
Dan bercinta hingga dihinggapi hampa

Apa aku benar perempuan yang sedang rindu?
Pada siapa?
Hingga tak pakai gincu
Hingga tak memoles pipi

Apa rindu begitu suci?
HIngga hilang binar dalam raut
Bahkan tubuh ini kaku
Hanya tersampir rindu
Tak bisa berusaha jumpa

Tapi, aku rindu!

Sabtu, 12 Desember 2015

Mum!

"Mum, Mum kau dengar tidak? Mum! Pokoknya aku mau seorang ayah, Mum. Mum apa kau tuli?!" ucap Mia.
Astaga Mia, apa kau tahu bagaimana menyesakkannya kata-katamu buatku?
"Mia, ada apa? Apa kau mencoba membunuhku dengan perkataanmu?"
"Teman-temanku punya seorang ayah dan mereka bahagia, mereka sering pergi berlibur dengan ayah mereka. Dihidupku hanya ada kau, Mum, dan laptop busukmu!" ucap Mia.
"aku ingin pergi ke kamar, terserah padamu," ucapku lalu pergi.

aku masih ingat kata-kata Mia semalam. Tapi entahlah, aku bahkan tak berani kembali ke London, menemui Alex dan bilang bahwa Mia adalah anaknya. Tapi Mia berhak tau siapa ayahnya. Ah sudahlah, anak itu hanya mencari perhatianku. Ini akhir tahun dan pekerjaanku menumpuk.

Tiba-tiba Mia sudah berdiri di pintu ruangan kantorku dengan muka masam.
"Kau kemari dengan siapa, sayang?" tanyaku menghampirinya.
Ia menghela napas. Wajah cantiknya cemberut dan memerah karena marah. Alis anak ini mengingatkanku pada Alex, selalu, selain itu semua yang ada pada dirinya adalah seperti aku.
"Mum, kenapa kau nggak angkat telponku? Aku menelpon Eda dan dia menjemputku. Kau harus berterimakasih padanya, dia ada di mejanya. Mum, Eda baik sekali, ya," ucapnya panjang lebar.
Anak ini sungguh cerewet.
"Mia, maafkan aku. Tapi ada beberapa laporan yang harus aku baca, lagian dari tadi ponselku mati. Lalu kenapa kau tak minta Eda untuk mengantarmu ke rumah?"
"Aku lapar, Mum. Lagian apa apartemen jelek kita masih bisa disebut rumah?" tanyanya.
Aku menghela napas, "hanya karena warnanya pink dan kau tak mau menyebutnya rumah. Ayolah Mia, itu apartemen mahal di kota ini,"
"Baiklah Mum, aku lapar,"
"Pesan sup dan kentang atau apapun di McDonald's, antar kemari. Aku ingin kentang yang banyak ya," ucapku.
"Mum, kau menyebalkan. Tapi oke, aku akan telpon. Apapun yang aku mau ya?" balas Mia.
Aku tersenyum, "tentu saja tuan putri, tentu saja."

"Apa yang kau kerjakan Mum?" tanya Mia setelah ia selesai menelpon.
"Entahlah. Aku cuma cari uang untuk kita. Mia apa kau sudah memikirkan perayaan natal untuk kita berdua?" jawabku sambil tetap fokus pada laptopku.
"Tidak, aku sungguh tidak mau natal kali ini. Tapi kalau kau sudah menyiapkan uang untuk perayaan itu, bagaimana kalau kau membeli laptop baru saja? Aku muak dengan laptop busukmu, Mum," balas Mia, tajam seperti biasa.
"Mia apa kau mau terus menjahatiku? Apa aku berbuat salah padamu?" tanyaku, kali ini meninggalkan laptopku dan fokus pada bocah kelas tiga SD di depanku, dia anakku... oh sungguh.
"Mum, apa aku enggak punya ayah?" tanyanya serius.
"Kau nggak punya ayah, lalu apa masalahnya. Semua orang hidup baik dengan atau tanpa ayah," jawabku.
"Baiklah aku hanya punya dirimu," jawabnya.
"itu bagus." aku tersenyum.
"Nanti kalau jadi seorang ibu, aku nggak mau jadi ibu yang kayak Mum," ucap Mia termenung.
baiklah Mia, baiklah, aku memang bukan ibu yang baik.
aku mengangkat alis, "benarkah?"
"well, Mum, apa kau nggak sadar kalau kau itu menyebalkan? aku memang menyayangimu, sih, tapi kau menyebalkan. walaupun kau masak untukku, menyiapkan bekal makan, mengepang rambutku dengan begitu indah, tapi kau tetap nggak ngerti aku," jelasnya.
astaga benarkah itu?
"Mia dengarkan aku, aku tak ingin membuat semua ini seberti drama animasi yang sedih. aku ingin kau mengerti aku, lalu kau akan ngerti juga bagaimana aku selalu mencoba mengerti kau yang tidak stabil, oke? dengarkan." ucapku, sambil menatapnya.
"Mum, tapi habis ini aku ingin bilang sesuatu, boleh?"
"ya, tentu saja. dengarkan aku dulu. Aku sudah hidup susah semenjak aku tau aku hamil dirimu tanpa ada ayahmu. Lalu kau lahir dan jadi gadis kecil menyebalkan yang tinggal di apartemen pink-ku. Lalu, Mia, tiba-tiba aku hanya ingin dirimu ada didekatku, kau seperti obat penenang bagiku. Tapi saat kau marah, aku terpaksa meminum pil-pil yang membuatku tidur. Mia, aku ini Mum-mu, suka atau tidak memang sudah begitu. Aku berkali-kali mencoba menyayangimu, Mia, dan memang aku sayang padamu, aku hanya tak tau caranya agar kau mengerti." ucapku panjang lebar, aku tak ingin menangis.
"baiklah aku mengerti, Mum. Dan sekarang aku sepakat akan mencoba mengerti dirimu juga,"
"bagus" ucapku lega.
"apa yang ingin kau katakan tadi?" tanyaku, kali ini semuanya lebih ringan.
"apa kau bisa datang ke acara sekolahku pada hari Ibu? katanya kita akan memberi bunga untuk ibu kita. apa aku harus meminta Eda yang datang seperti tahun lalu?" tanya Mia, bergetar suaranya.
"tidak, aku yang akan datang,"
"itu bagus"
"apa kau mau ikut aku untuk perayaan natal di London? mungkin kita bisa mencoba merencanakan untuk bertemu dengan ayahmu,"
"Mum, jangan bercanda,"
"aku serius"
"jadi ayahku benar-benar orang London ya? London dan Indonesia jauh, kenapa kau meninggalkannya, Mum? kenapa kau memisahkan kami?" tanyanya.
"oh ayolah Mia, ini tawaran bagus, jangan merusaknya,"
"baiklah Mum, aku mau, sangat mau!" jawabnya lalu memelukku.
"siapa nama ayahku?"
"Alex, Alex Dawson,"
"bagus, namanya bagus,"

baiklah Mia, ini rencana kita. nggak tahu nanti berakhir seperti apa.

Lucy dan Matt



Hari itu Matt, aku datang dari New York ke Texas hanya untuk bertemu denganmu. Kau Matt, seseorang yang beberapa waktu lalu bertemu denganku di chat room stranger, lalu masuk ke kontak emailku, lalu hubungan kita indah begitu saja tanpa adanya kenyataan. Kau mulai menelponku siang dan malam, aku pun sebaliknya.
Aku yang bekerja sebagai akuntan di perusahaan besar, mulai punya mimpi untuk bisa hidup bersamamu di peternakanmu di Texas. Kau punya ladang jagung yang subur dan kau bilang kau adalah pemasok jagung di seluruh Kanada. Aku bangga Matt, entah kenapa begitu. Lalu kau bilang, kau punya peternakan domba yang bulunya selalu diincar oleh beberapa produsen baju, yang walaupun tidak terlalu terkenal.
Tapi Matt, hidupmu begitu damai, begitu sederhana, dan aku tiba-tiba saja bermimpi ingin hidup denganmu. Bahagia di Texas.
Saat itu aku sampai di Texas siang hari, dan aku mulai mencari motel. Aku mulai menghubungimu yang sebelumnya sudah tahu aku akan datang ke Texas, tapi kau bahkan berkali-kali menolak panggilanku. Ada apa Matt? Ada apa denganmu?
Aku mengirimimu alamat motelku dan meminta kau datang malam hari. Dan betapa bahagianya aku saat kau datang, Matt, walaupun wajah tampanmu itu sangat pucat. Matt, tahukah kau? Ini pertemuan pertama kita, aku bertemu dengan stranger yang kutemui di chat room, yang mengirimiku email, yang sering menelponku. Matt, akhirnya aku bertemu denganmu, dan kau harus tahu bahwa saat itu aku bahagia.
“Halo, Lucy,” katamu, tersenyum.
“Hai Matt!” aku gembira, sungguh.
“Aku pikir kita tak akan bertemu secepat ini, tapi aku bahagia,” ucapmu, datar.
Aku berpikir, pertemuan ini tak membuatmu bahagia. Tapi aku ingin bahagia, aku tak bisa menolak betapa hatiku buncah saat menatapmu.
“Kau baik-baik saja Matt? Aku pikir kau sedang tidak sehat, wajahmu pucat,” ucapku.
“Aku baik, Lucy, jangan khawatir. Mungkin aku terlalu senang,” ucapmu dengan senyum yang ternyata lebih menawan dibanding di foto.
Tapi, ada sesuatu disana Matt, di dalam matamu. Ada ragu, ada penolakan, ah entahlah, tapi matamu sendu sedikit.
“Kau sudah makan malam? Bagaimana jika kita makan malam? Aku lumayan lapar,” ucapku.
Matt mengangguk, dan kita masuk ke dalam café di samping motel. Kita makan malam dalam diam. Sungguh, aku tak tahu ini tepat atau tidak bagi kita.
Lalu setelah makan, kau langsung ingin pulang. Kau kenapa Matt? Kenapa terburu-buru?
“Lucy, aku harus segera pulang. Ibuku sendirian dirumah. Well, jika kau mau datang ke tempatku, ini alamatnya, kau bisa naik taksi. Ah tidak, sebaiknya kau naik taksi, karena sedikit sulit jika harus naik bus,” ucapmu panjang lebar.
Aku hanya mengangguk dan menerima kertas alamat yang dia tulis di tisu makan.
Lalu Matt, kau mengusap pipiku lalu mencium bibirku.
Matt, aku tidak menemukan ragu dalam ciumanku, benarkah aku Matt?
Ini ciuman rindu, yang bahkan tanpa sadar aku pun rindu padamu. Entah rindu macam apa, tapi aku benar-benar rindu padamu. Aku ingin kau terus menciumku, aku ingin begitu, tapi lalu kau berhenti dan melepasnya.
“sampai bertemu besok Lucy, terimakasih untuk malam yang indah ini,” ucapmu, lalu tersenyum dan naik ke mobilmu dan pergi.
Matt, aku rasa aku mencintaimu. Tapi entahlah, aku ingin ciuman itu lagi.

Pagi sekali aku sudah memesan taksi lewat motelku, dan taksi itu datang tepat waktu. Aku memberikan alamat Matt dan setengah jam kemudian aku sudah sampai di rumah yang sederhana, lucu dan asri, dengan peternakan domba beberapa meter di sebelahnya.
Aku melihat Matt sedang duduk sambil meminum apapun dari cangkirnya, dia duduk di sebuah ayunan yang terbuat dari tambang dan sederhana. Ada dua ayunan disana.
“Hai, Matt” panggilku.
“Oh, Lucy. Aku tak mengira kau akan datang sepagi ini, tapi ini waktu yang tepat untuk minum kopi, kau mau?” balas Matt dengan senyumnya.
Aku mengangguk dan membiarkan ia masuk ke rumahnya. Aku tak menyangka bahwa Matt yang sering ku telpon malam-malam adalah lelaki dengan tubuh tinggi tegap bak tentara, wajah seperti artis holywood.
Lalu aku membiarkan hati ini mengalir entah kemana.
“ini kopinya. Kau mau bertemu ibuku? Sebentar lagi dia pasti datang, dia sedang ke gereja hari ini, mengantar pesanan bunga untuk pernikahan,” jelas Matt.
Aku tersenyum dan meminum kopiku. “Matt aku rasa pertemuan kita ini untuk sesuatu kan?”
Matt tertegun, “apa tidak terlalu cepat?”
“Aku sudah bilang Matt, aku tidak suka apapun yang maya dan fana,” ucapku.
“Masuklah, sepertinya akan turun salju pertama.” Ucap Matt.
Memang, dinginnya begitu menyergap. Sepertinya memang harus masuk ke dalam rumah Matt.

“Matt apa kita bisa lebih serius tentang hal ini?” tanyaku.
“Hal apa?”
Astaga Matt, “kita, tentang kita.”
“Aku tidak tau, Lucy. Aku pikir kita bisa menjadi teman, ini baru pertemuan pertama kita,”
“bukankah kita sudah berteman terlalu lama?”
“aku tidak tahu, Lu, aku sungguh tak tahu.” Matt menyerah.
Kali itu aku hanya ingin pergi dan tidak mau membuang waktu untuk apapun yang maya dan fana. Matt adalah sesuatu itu.

“Matt aku pikir kita harus mulai bersiap, salju sudah turun… oh maaf aku kira tidak ada siapapun. Halo!” itu suara Ibu Matt yang baru masuk pintu.
“Halo, aku Lucy, teman Matt,” ucapku memberi salam.
“Oh Lucy, aku tidak pernah mendengar tentangmu. Apa kau teman SMA Matt? Aku Carol, ibu Matt,” balasnya.
Entah, kata-katanya menyakitiku. Aku memang tak pernah ada dalam hidup Matt. Ibunya bahkan tak tahu tentang aku. Oh kenapa dia harus tahu? Ya Tuhan, aku berlebihan, pasti berlebihan tentang ini.
“Tidak Carol, aku... well teman Matt di email,” jawabku.
“oh benarkah? Aku ingin mengenalmu lebih banyak. Dan senang sekali bisa bertemu langsung denganmu, pasti kau juga senang kan Matt?”
Matt terdiam dan hanya menatap dua perempuan di depannya.
“Tapi sepertinya aku harus pergi. Salju sudah turun dan aku harus kembali ke New York,” ucapku.
“oh dari New York? Baiklah jika kau mau pergi, mungkin Matt akan mengantarmu. Aku harus ke dapur.” Lalu dia pergi.
Baiklah Matt, baiklah jika aku tak ada artinya.
“kupikir kau tak perlu mengantarku. Aku pergi, ya. Selamat tinggal, Matt,” aku membuka pintu.
“Sampai jumpa, Lucy” balas Matt dari pintu.
Aku membalikkan badan dan melambai.
Oh tidak Matt, jangan ‘sampai jumpa’, dan jangan pakai tatapan itu.

Baiklah, selamat tinggal, Matt.

Minggu, 06 Desember 2015

cinta dan arti di dalamnya

pada cinta dan juga sebuah arti didalamnya;
aku tak pernah paham bagaimana rindu bisa terjadi di kala kedua manusia bahkan belum pernah mencintai

dan ketika dua manusia saling berpagutan mesra bahkan saat kepastian cinta belum hadir diantara keduanya. bahkan ketika kepastian cinta belum hadir dalam hati mereka masing-masing.
apakah pantas menyebut pagutan itu mesra? tapi keduanya mendamba

jika hari dimana keduanya bertemu dan beradu, apakah dunia mengizinkan sepasang cinta terbangun dan coba menapaki rencana?

 apakah pantas sebuah tawa mengalir dari dua senyum yang bahkan sama-sama menyimpan rahasia dan tidak pasti? apakah tawa itu bisa mengalir begitu saja?

jika yang kau maksud cinta adalah sebuah genggaman tangan dan dekapan hati, yang kau maksud cinta adalah pagutan dan dekapan hati, yang kau maksud cinta adalah rindu dan dekapan hati.

Maka cinta adalah sebuah keterikatan antar hati.

Namun, seperti itukah mereka yang tadi bertemu?

 tidak, sebab mereka hanya sepasang rindu yang ingin jumpa
dan tidak didekapnya hati dengan sebuah cinta
karena mencintai adalah takdir hati kedua insan dari Tuhan
dan kupikir, mereka hanya saling mendamba. tak sudi Tuhan memberi takdir cinta bagi keduanya. karena keduanya belum pernah pasti dalam satu dekapan hati.

Sabtu, 21 November 2015

Waktu aku...

waktu aku sakit, kamu datang ke rumah aku, bawain aku bubur dan teh herbal. nemenin aku tidur sampai aku bangun. nyiapin obat aku dan membujuk aku habis-habisan untuk meminumnya.
kamu baik, tapi aku belum cinta sama kamu
cinta tidak semudah itu dengan kamu merawat aku sakit, sepertinya.

tapi ada satu kejadian lagi
waktu aku mau ikut ujian dan malam-malam kamu datang bawain aku makanan dan vitamin, karena tau seharian aku belajar dan lupa makan. kamu nungguin aku belajar dan pulang saat aku udah ketiduran di meja belajar. dan paginya aku udah tidur di tempat tidur, dapet Line dari kamu yang isinya 'tetap semangat, tapi kalo kamu nggak lolos pun aku tetap cinta kamu'.
sesederhana itu cinta kamu sama aku, tapi kenapa nggak sesederhana itu aku buat cinta sama kamu?
aku benar-benar belum bisa cinta sama kamu.

terus ingat nggak?
waktu aku nggak bisa tahun baruan waktu itu karena kakiku cedera. semua temanku ke pantai dan aku dirumah sendirian. kamu yang udah punya planning malam tahun baruan di Bandung buru-buru pulang sorenya ke rumahku, sambil bawa jagung dan paket lengkap restoran kesukaan aku. malamnya kamu rebus jagung itu dan kita makan-makan sampai kekenyangan lalu kamu ngajak aku main playstation sampai jam tiga pagi.
sederhana dan manis ya? pengorbanan kamu nggak kelihatan lelah, tapi menyenangkan.

penjelasan kamu, cinta itu bukan untuk sakit. kamu senang mencintai aku dengan tulus tanpa ingin dapat balasan, karena menurutmu aku punya hati yang bebas dan tak perlu dipaksa untuk berlabuh ke hati kamu. terserah, bukan urusanmu jika hati ini ternyata jatuh pada orang lain, tapi menjadi sangat sangat urusanmu katamu kalau hati ini berlabuh padamu, karena kamu jadi punya tugas berat untuk tidak melukai hatiku.

bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padamu yang sebaik itu masih jadi misteri buat aku.
waktu-waktu aku yang sendirian dan kelelahan, selalu ada kamu. apalagi waktu-waktu bahagia aku, pasti selalu karena kamu dan perlakuan sederhanamu.

kayaknya, nanti sore aku jatuh cinta padamu...

Jumat, 30 Oktober 2015

jumpa esok

ada yang tak bisa aku pungkiri
rindu
degup hanyut saat memikirkanmu
jantung seakan sampai ke kerongkongan
rindu aku padamu
padahal tadi baru bertemu
ah tapi lalu berpisah

rindu
aku rindu tempat kita tertawa
bermuara di cangkir-cangkir es krim bahagia
tempat kita berdoa lewat dupa yang kita acungkan
tempat itu pernah jadi titik temu aku dan kamu
aku juga rindu kuil dan bau dupa

esok, sayang, mari kita jumpa
lewat degup-degup jantung yang menggelora
dan beribu cangkir es krim yang bahagia
atau kita bisa berdoa lagi di kuil itu
dengan dupa yang asapnya mengantarkan puja

esok, sayang, jumpai aku
sebagaimana rindu ini menjumpaiku selagi kamu tak ada
jantung ini berdebar ingin bertemu denganmu
aku masih rindu pada tatap berhargamu

jumpa esok, sayang
aku rindu!

Kamis, 22 Oktober 2015

kau akan temukan aku bunuh diri

suatu hari, mungkin kau akan temukan aku bunuh diri
tergantung di langit-langit kamar dengan seutas tali
kau menemukan aku dalam bisu
wajahku pucat, wajahmu mungkit kaget. entah
ada garis air mata di pipiku
ada kitab di atas meja yang masih terbuka
aku habis membacanya--
meminta ampunan kepada-Nya tentang dosa ini dan dosa yang lain
semua itu latar aku bunuh diri

di bawah kakiku yang menggantung, akan kau temukan surat
surat untukmu, untuk ayah, untuk ibu, untuk pacarku, untuk saudaraku
surat untuk semua orang yang sepertinya mencintaiku
berisi permohonan maafku dan keberatanku selama hidup dengan mereka
suratnya terbuka, tidak aku masukan dalam amplop
suratnya ada titik-titik air mataku
suratnya hampir basah air mata

di hari kemudian setelah itu,
kau mungkin tak akan pernah lagi mendengar keluhanku tentang hidup yang tak adil
atau mendengar jeritanku di ruang pemasunganku
atau mendengar ocehanku yang gila
atau mendengar tangisku yang menyesakkan
kau tak akan lagi mendengar apapun dariku
aku sudah tak bisa menyampaikan, tak akan lagi bisa

di hari kemudian setelah itu,
kau tak akan bisa lagi melihatku
kecuali dalam mimpi-mimpi burukmu
yang akan membuatmu bangun dengan berkeringat dan linangan air mata

temanku sayang, aku rindu
tapi apa kau menyesal telah bersekongkol dengan semua orang yang aku cintai?
menyesal telah ikut memasungku dalam ruangan gelap yang laintainya dingin?
apa kau menyesal?
karena waktu itu, aku pernah melihat sakit di matamu
waktu aku menjerit di sel-sel rumah sakit jiwa

temanku sayang, apa boleh aku datang lagi di mimpimu?
dan bertanya tentang kalung ketenangan yang kau berikan
temanku sayang, aku ini tidak gila
aku hanya suka mengeluh dan berapi-api
aku akan datang ke mimpimu untuk menjelaskannya
karena yang aku percayai hanya dirimu
yang aku sayang hanya dirimu
bukan keluargaku atau pacarku
yang aku percaya adalah kau, temanku

temanku sayang, semoga bahagia dalam hidupmu
tidak seperti aku yang dipasung lalu bunuh diri

Jumat, 16 Oktober 2015

hidup itu begini

hidup itu begini;
bangun tidur, bersiap pergi ke sekolah. padahal benci dan lelah dengan sekolah, tapi secara otomatis setiap pagi pergi kesana. pergi kesekolah, bermain sandiwara, terserah akan pintar atau tidak, sekolah bukan hanya tentang belajar lalu lulus ujian akhir. ada nilai-nilai yang membuat kita menjadi manusia, entah itu manusia setengah dewa atau manusia yang tak ubahnya dengan tai kucing (najis). bersandiwara dan mati-matian menutupi aib. menerima tatapan sengit atau kasihan, tapi sedikit tatapan memuja karena tawa oleh orang-orang menyedihkan. semuanya harus ditutupi dengan tawa dan sikap individualis, jangan sampai mencurahkan seluruh hidup dan emosi pada sekolah, jangan seyakin itu pada sekolah sekalipun setengah dari hidupmu kamu lalui disana.
lalu pulang sekolah, membawa beban lagi dari sekolah sekaligus membawa kembali beban yang dibawa ke sana. letih dan perih. permasalahan hidup berbeda-beda; ada orang yang mati-matian ingin sekolah, ada yang ingin buru-buru keluar dari sana. ada orang yang mengeluh saat stok baju yang ingin dibelinya habis, ada juga yang mengeluh karena hanya makan tempe dan nasi dari beras raskin. ada orang yang berpacaran ke sana kemari, ada juga yang sibuk mencari kemana kakaknya berjudi malam tadi. terserahlah, urusan masing-masing. tapi tak heran bila ada saja orang yang ingin mencampuri urusan orang lain, mungkin dia belum repot.
pulang sekolah mulai melamun, disoraki sana-sini tak dengar. ah, tidak ada undang-undang yang mengatur tentang larangan melamun. melamunkan beberapa orang yang dicintai disekolah, menghadirkan imaji-imaji manis dan bergairah. melamunkan beberapa orang yang dibenci disekolah, lalu menghadirkan imaji-imaji keji lalu ingin muntah.
lalu dirumah mulai menulis, menuangkan segala imaji-imaji baik dan manis. menghadirkan Garda, Kumala, Ali Huda, William dan yang lainnya. mempermainkan mereka dalam cerita-cerita asik yang dikarang sendiri. tak heran bila tiba-tiba merasa mereka memang nyata, karena nyatanya selalu memikirkan mereka.
kadang juga, dirumah hanya tidur, memimpikan guru-guru galak, baik, memimpikan urusan-urusan yang belum tercapai lalu tiba-tiba bangun. lelah dan beban itu dibawa kerumah juga.
tiba-tiba menangis dikamar, memikirkan kenapa hidup selalu tak adil. kenapa Tuhan memberi berbeda-beda. mengapa cobaan harus datang demi melihat seberapa kuat kita. aduh, Tuahnku, aku lelah dan ingin mati saja.
rasanya memang tiba-tiba begitu, tapi tiba-tiba bisa saja sadar dari keinginan untuk mati; bangsat! kenapa harus mati sekarang? masih banyak orang jahat yang belum terbalas.
lalu hujan, hujan airmata, ditemani lagu-lagu aneh dari ponsel.
lalu membiarkan hidup ini berjalan, terserah mau dibawa kemana aku

Sabtu, 10 Oktober 2015

Sebentar lagi mati

Namaku Inang, usiaku baru 18 tahun, sedang duduk di ranjang rumah sakit sambil mengupas apel dengan pisau yang tidak terlalu tajam. Di depanku ada Pak Dokter Manalu, orang batak yang penyayang dan pintar, oh iya penyabar juga.
Aku Inang, lahir dari rahim seorang pelacur yang saat itu katanya sudah tobat, ibuku pelacur. Tapi tidak lagi setelah aku lahir. Aku tak punya ayah, dan aku bersyukur karena itu berarti aku tak perlu melihat lelaki brengsek yang menghamili ibu dan lalu pergi. Nama ibuku Talita, nama yang bagus.
Aku lahir sambil mengidap leukimia yang sampai sekarang belum juga sembuh. Tapi yang lebih membingungkan kenapa sampai sekarang aku belum juga mati. padahal seharusnya sudah.
lupa bercerita tentang rumahku, rumah Ibu Talita, rusun di pinggir kota jakarta yang tampak kumuh. Biaya sewa murah karena sudah dibantu oleh pemerintah. Ibu bekerja di restoran sebagai tukang cuci piring, aku ingin kerja di restoran sebagai koki.
Gaji ibu jelas tidak cukup untuk biaya berobatku, jadi akan ku jelaskan bagaimana aku bertemu Pak Dokter Manalu.
Waktu itu aku sakit, umurku kira-kira 15 tahun saat itu, aku dibawa kerumah sakit oleh ibu dan tetanggaku. Aku koma selama seminggu, dan setelahnya aku jarang meninggalkan rumah sakit, itu menjadi rumah keduaku.
Aku bertanya pada ibu bagaimana ia bisa membayarnya, dia bilang ada pak dokter yang menyayangiku, jadi aku dibiayai olehnya. Ah terserahlah, dia orang kaya yang baik dan tolol, mau bagaimanapun aku tak bisa sembuh.
Lalu aku bertemu Pak Dokter, dia memancarkan aura 'ayah' yang selama ini hanya bisa kulihat di televisi hasil akting si aktor. Pak Dokter tidak berakting.
"Nah Inang, kamu melamun lagi. Saya udah bilang itu salah satu faktor kuat kamu gak bisa bangkit dari ranjang, melamun!" suara Pak Dokter memutuskan ceritaku padamu.
"Tidak ada larangan untuk melamun, berimajinasi, bermimpi, berkhayal, tidak ada larangan untuk itu," jawabku sambil memakan apel yang sudah kupotong.
Pak Dokter mengambil satu, "saya lelah, hidup kok gini-gini amat."
"hidup sudah baik, tak usah mengeluh,"
"kemarin ibumu bercerita sesuatu,"
"dan apakah itu?" tanyaku sembari aku merebahkan tubuhku diranjang karena lelah.
"dia tau kamu bercinta dengan anakku minggu lalu, dia sedih," jawab pak dokter sambil tersenyum.
aku terkikik, "aku tumbuh dewasa, sudah 18 tahun dan sebentar lagi akan mati, aku hanya ingin tau bagaimana rasanya bercinta. kenapa sih dia harus sedih?"
Pak Dokter berdeham, "sebenarnya, dia hanya malu kepadaku."
"malu? malu karena aku yang sudah dihidupi oleh uang denganmu malah bercinta dengan anakmu? begitu bukan?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi.
"ku kira begitu," jawab Pak Dokter singkat, dia tau kalau aku sudah begini tak perlu dijelaskan panjang lebar lagi atau aku akan benar-benar berteriak.
"Pak Dokter, bagaimana denganmu?" tanyaku pelan.
"tidak masalah Inang, toh anakku tak marah atau bereaksi tak senang. dunia ini terus berputar, hidup kita masing-masing harus berjalan dan tinggalkan masa lalu. sudah, jangan ributkan apa yang sudah terjadi, waktu tak akan kembali," Pak Dokter memberitahu.
"sebenarnya, agak aneh, anak lelakimu yang tampan itu mau bercinta dengan perempuan botak sepertiku," ucapku sambil terkikik. Pak Dokter malah terbahak.
lalu hening.
hanya terdengar kunyahan pak dokter yang sedang makan apel.
"Dalam dua tahun terakhir, ibumu mempertanyakan kehadiranmu baginya," ucap pak dokter.
"apa?"
"dia bertanya-tanya, apa arti dirimu baginya, kenapa kau datang ke kehidupannya 18 tahun lalu, kenapa kau datang membawa leukimia ditubuhmu dan menyimpannya sendiri, apa yang coba Tuhan peringatkan kepadanya lewat dirimu."
"dia bicara begitu padamu?"
pak dokter mengangguk.
"pak dokter, menjadi seorang pengidap leukimia mungkin hal yang sulit, tapi mempunyai anak yang mengidap leukimia pasti hal yang paling sulit. entah apa yang dipikirka ibu saat melihatku berbaring, saat melihatmu memeriksaku, entah."
"tapi, hidup harus terus berjalan, dengan atau tanpa makna," balas pak dokter.
"aku hanya menikmati hidup ini tanpa kebebasan. tapi ibu, pak dokter dan suster-suster ada disini, aku baik-baik saja"
"Life must go on, Inang."
"sekalipun aku mati, hidup ini harus terus berjalan, tapi entah hidup siapa"
"cepatlah tidur, sudah larut."
"terimakasih pak dokter, bilang terimakasih juga pada anakmu" aku tersenyum
"iya, tapi jangan mati dulu"
"hehe enggak kok, sebentar lagi"
aku tertidur
tapi sebentar lagi mati
sebentar lagi mati...

Sabtu, 26 September 2015

bagi kamu, orang baik, yang ingin diberi kebaikan pula

Ada satu waktu saya bermonolog dengan diri saya sendiri di suatu ruang teh, sore-sore.

mengapa orang-orang menyebut saya jahat?
karena tak seorang pun melihat kebaikanmu
 ah, kebaikan tak perlu diumbar, kan?
betul, hanya aku yang tau betapa baiknya kamu. hahaha
hehe, kamu kan saya juga. lalu kenapa sih teman-teman saya melakukan kebaikan pada seseorang, tapi jika orang itu tak baik kembali pada mereka, mereka mengeluh? saya juga begitu sih kadang-kadang, enak saja sudah ta' baikin, orang itu malah jahat.
memangnya, saat kamu berbuat jahat pada seseorang, kamu peduli pada kebaikannya kepadamu?
jelas engga, pokoknya ya saya jahat aja sama dia.
lalu kenapa kamu peduli pada kejahatan orang lain saat kamu berbuat baik kepada orang tersebut?
ya jelas, wong udah aku baikin, kok ngebalesnya malah begitu.
hahaha, lucu. mungkin orang yang kamu jahatin lebih mulia dari pada kamu, dia tetap, seenggaknya, sedikit berbuat baik padamu, padahal kamu jahat.
ya terserah aku tho mau jahat sama dia atau gimana? terserah dia mau baik ke aku atau balik jahat ke aku
ah, itu dia. KAMU BAIK KE DIA, YA TERSERAH DIA MAU BAIK KE KAMU ATAU BALAS KAMU DENGAN KEJAHATAN, URUSAN DIA, YANG PENTING KAMU BAIK SAMA DIA
 jadi, AKU JAHAT KE DIA, YA URUSAN DIA MAU JAHAT BALIK KE AKU ATAU MALAH BAIKIN AKU. gitu bukan?
MANTAP! hehehe
hah, tapi ya kalo ada yang jahatin aku, ya aku balik jahat ke dia lah
jadi kalo ada yang baik ke kamu, ya kamu baik balik ke dia lah. hahaha
ah kamu gak paham
kamu yang belum paham. apa-apa kok diambil yang enaknya di kamu aja. dasar, nggak adil
ah yowes lah! urusan masing-masing mau jahat atau baik. pokoknya aku baik ke dia, terserah gimana dia ke aku, aku jahat ke dia, terserah gimana dia ke aku. sa'karep'e dewe lah!

-Ruang Teh Sendiri, jalan Minang no.43-

Sabtu, 19 September 2015

Temu Kangen

Pagi-pagi aku bangun, dingin. Ini Bandung, beda sama sekali dengan 10 tahun silam, saat aku meninggalkannya. Bandung, 10 tahun setelah aku meninggalkannya...

Jam 10 tepat...
Aku jalan kaki, lalu naik bus. Sudah pangling dengan jalanan kota Bandung, setelah lama menetap di jogja untuk kuliah lalu kerja. Aku ambil cuti dua hari untuk ke Bandung, untuk sebuah pertemuan eksekusi mungkin. Bukan, bukan eksekusi tubuh, eksekusi perasaan.
Tapi aku berharap, tak ada eksekusi perasaan. Ini hanya Temu Kangen, yang semoga berakhir indah

Jam 10.15...
Aku mampir di toko buku milik Koh Teng yang dulu sering aku datangi waktu SMA. Koh Teng sudah sangat tua sekarang, ada yang membantunya di toko bukunya, seorang anak laki-laki, mungkin masih SMP.
"Koh Teng, saya beli buku ini, berapa?" tanyaku sambil menunjukkan buku Arloji karangan Sapardi Djoko Damono.
Koh Teng menatapku, lalu bilang; "lima belas, lima belas untuk yang balik lagi ke Bandung."
Aku terkejut, "Koh Teng ingat saya?"
"Kumala Tardi, cucu tentara itu kan? yang rumahnya mewah, di ujung jalan ini"
"Mala!"
"Mala. Datang lagi ke Bandung, untuk apa? Bandung tak sejiwa lagi dengan kita yang meninggalkannya, betul?"
Aku tertawa, "Bandung masih menyimpan rahasiaku, Koh!"
"Oke, oke, sekarang pergilah, tidak perlu kau bayar buku bekas itu."
"Benar, Koh?"
Koh Teng mengangguk sambil menyeruput kopi hitamnya.
Ah Koh Teng dan toko bukunya, kenangan lagi dari Bandungku.

Jam 10.27...
Aku sampai di kedai Tempo Dulu, yang sering aku datangi untuk kencan denganmu dulu. 10 tahun silam, berarti 2004, kedai ini saksi perasaanku padamu.
Aku memesan kopi, kopi lagi, kopi terus. Kali ini aku pilih Latte, tidak kopi Bali seperti biasanya. Lalu aku memesan donat yang dibakar, yang aku tahu kamu adalah pecintanya.
Aku bayar pesananku, lalu aku duduk di salah satu kursi rotan dan meja kayu yang dihiasi setangkai mawar merah.
Aku mulai menunggumu.
Aku datang 30 menit dari waktu perjanjian.
Aku mengeluarkan surat-surat darimu. Dengan kertas kekuningan dan bau kenangan. 2004, aku masih jadi siswi SMA malu-malu yang polos dan berpikir lambat.
2005 itu, kita, aku dan kamu masih jadi teman sekelas yang pada masanya masih berpacaran.

Ada satu surat, surat pertama darimu, nama pengirimnya; Lidah Kucing. begini:
 kalau kakekmu bawa senapan, aku hampiri dia dengan berani
lalu aku ajak kenalan, hah siapa tau aku dapat cucunya yang cantik. 
halo Mala...

aku tersenyum. kala itu kita masih remaja. yang cuma tau telepon genggam cuma untuk orangtua kita yang dewasa juga kaya.

Ada satu surat, surat keberapa entah. kamu tidak menulis nomor suratnya:
 Halo... halo mala... kelak jadi kenangan
sudah lama beta... tidak berjumpa dengan kau...
ah mala, aku tak pandai bikin lagu. ayo, kita kencan saja besok minggu.

aku ingat, surat itu kamu kasih waktu hari Sabtu, pulang sekolah.

Ada kenangan-kenangan indah bersamamu saat SMA. Aku tidak akan lupa pastinya. Kelak, jika tak bisa bersatu, aku ingin bilang terimakasih pernah menghias masa SMA-ku dengan manisnya cinta.

ah, ada satu surat lagi, suratnya romantis:
Mala, cucu tentara, dari keluarga Tardi yang kaya raya. Mala, aku jatuh cinta padamu hari ini, esok, dan selamanya! Mala, bilang aku kalo aku ga romantis, kelak Bandung akan jadi yang paling romantis bagi kamu, eh asal kamunya sama aku hehe.
Mala, anjingmu galak, tapi aku suka kamu, kamu nggak galak hehehe.
Mala, sekarang aku serius, kelak aku akan menikah denganmu dan cintaku bukan cinta bocah anak SMA saja.
Mala, aku cinta kamu pokoknya! Selamat liburan!
-Lidah Kucing.

 Aku tersenyum dan hampir menangis. Ah, akankah sama jika kita bertemu lagi...

Jam 11.06...
TING!!
pintu kedai terbuka
Ada kamu, Ali
Ali Huda Pradikta
Ali-nya aku
Aku tau, kali ini, kita akan tetap bersama, selamanya.
sebab senyumanmu, dan senyumanku bersatu.
dan kenangan-kenangan tentang kita di masa SMA kembali bergerilya di benakku.
"Ali, aku rindu,"
"Mala, aku kangen,"
Kau tau, Ali? Saat itu kamu sangat tampan dengan kemeja biru yang digulung sebatas siku.
Ah, itu undakan kedua, sebelum undakan ketiga yang pada tanggal 17 Desember 2014, kita menikah.
"Mala, jika Tuhan ijinkan, aku tidak akan melepaskanmu barang sebentar saja, tapi Tuhan punya cara lebih indah untuk mempersatukan kita lagi," kata Ali pada hari itu, di kedai itu.
Ah, temu kangen yang sempurna
Ah, Bandung selalu punya rasa untuk mereka yang berperasaan.