Selasa, 31 Mei 2016

About Oni

Hari Rabu ini, Oni dateng pagi banget ke apartemen gue. Kayaknya dia lupa bahwa semalem kita dan beberapa orang dari manajemen pulang jam setengah tiga dari New York. Peragaan busana, sekalian bertemu teman lamanya Oni.
"Kumala, please, bangun. Kita harus buru-buru," ucap Oni, sambil membereskan beberapa pakaian kotor yang berserakan di lantai kamar.
"Please Oni, Indonesia udah merdeka, dan gue masih kerja rodi," balas gue.
Ya gila aja, baru tidur jam empat dan dibangunin jam setengah enam gini. Amit-amit emang si Oni ini.
"Ada pemotretan jam tujuh pagi, babe, jangan bilang lo lupa," ucap Oni, sekarang sudah mulai menarik-narik selimut gue.
"Gue nggak pernah dikasih tau ada pemotretan hari ini," kali ini gue udah duduk sambil ngedumel.
"Iya, manajer lo emang gila. Apa-apa nggak tau. Gue pecat dia hari ini deh, nggak berguna, bikin lo luntang-lantung," balas Oni sambil melipat selimut gue.
"Ni, tau nggak? Sebenernya lo yang bikin gue luntang-lantung, bangun pagi-pagi gini. Lo inget nggak semalem kita baru nyampe dari New York?" balas gue ketus. Lalu buru-buru masuk kamar mandi.
"Tapi lo juga harus inget, Mala, hari ini pemotretan mahal, bukan yang bisa dibatalin gitu aja," teriak Oni dari luar kamar mandi.
Dasar gila. Jadi gue deh yang jadi budaknya.
Selesai mandi dan berpakaian, gue sudah melihat Oni duduk di ruang TV dengan dua mangkuk bubur yang masih mengepul.
"Bubur dimana nih? Mantap," ucap gue, siap menyantap bubur yang dihidangkan Oni.
Oni buru-buru menyodorkan teh hangat dari mug biru kesayangan gue, "minum teh dulu. Make your body warm."
Gue patuh pada Baginda Oni.
"Ngomong-ngomong, pemotretan apa sih hari ini?" tanya gue sambil mulai melahap buburnya.
"Inget Theo?" tanya Oni.
"Theo James?" jawab gue asal.
Oni mendecak, "itu divergent. Theo yang waktu itu kita ketemu di Sydney, orang garut-Jerman, yang lo ketawain waktu dia ngomong Sunda. Inget nggak?"
Gue mengangguk perlahan, "model Sydney kan cakep-cakep, ngapain minta ke elo?"
"Because he is my lover. And want to shoot my dearest model, you," jawab Oni.
Gue terlonjak kaget, "kok gue nggak tau lo udah nggak sama Feri?"
"Ini gue kasih tau."
Gue mendecak. Si Oni ini, adalah nice guy yang sukanya dadakan, apa-apa mendadak. Dari soal pekerjaan, sampai keputusannya menjadi seorang gay.
Diam-diam gue terkikik, kalau Bapak Haji Gustaman Tardi dan Ibu Hajah Dwi Arumi tau bahwa gue, anak semata wayang mereka bersahabat dengan gay, maka habislah gue dan gay itu. Oni dan gue bakal dibanjiri batu mungkin sama mereka.
Ya, di Indonesia, baru-baru ini, gay memang menjadi salah satu perdebatan pelik antar golongan. Mulai dari pemuka agama, sampai aktivis HAM membicarakan ini. Si Oni sendiri, yang melihat realita itu, adem ayem aja, kadang malah geleng-geleng kepala. Kata dia; gue aja sering nggak ngurus diri sendiri, kok ini orang-orang sibuk ngurusin gue. Biasanya, gue cuma membalasnya dengan menoyor kepalanya, biar nggak tambah sinting.
"Is he nice?" gue tanya.
Oni menggeleng, "sedikit egois, but overall I'm happy with him."
"What makes you happy with him, Oni?"
"He is smart, Mala. You know, he is educated," balas Oni.
Kali ini bubur kita sudah sama-sama habis. Gue meminum teh dari mug gue, lalu menaruh mug itu ke meja.
"I always here if you feel lose," ucap gue.
"So do I," balas Oni sambil memeluk gue.

Selesai pemotretan, gue, Oni dan Theo makan siang. Sebenarnya ini udah termasuk makan sore, jam tiga begini.
"Oni, harusnya kamu memperhatikan pola makan model kamu ini. Lihat, Kumala baru makan jam tiga sore," ucap Theo saat kami menyantap makan siang di sebuah restoran jepang.
"I'm okay, Theo. Mau gimana pun, gue nggak akan gemuk," balas gue, sambil tersenyum.
"I know, but you should keep healthy for camera. Jangan sampe loyo," lanjut Theo.
Gue tertawa saat orang bule satu ini melafalkan 'loyo'.
"Really, I'm okay. I do exercise, drink water enough, eat more, but less sleep," adu gue diakhiri tawa.
"Yes Oni, your model is tired. Just sleep, honey, jangan buru-buru kerja kalau masih ngantuk," ucap Theo, tulus.
"Thanks, Theo. But you should know how Oni's slave life is, we are slave for him," ucap gue, sambil terus cekikikan. Makanan gue sampai dingin.
Theo menampakkan wajah kecewa, "Oni, denger nggak pengakuan Kumala tadi?"
Oni yang dari tadi hanya diam, menoleh ke arah Theo dengan wajah datar. Aku tau ini tatapan apa, Oni tidak suka.
"Could you shut up your mouth and just eat, please." bukan, itu bukan permintaan. Oni memerintahkan.
And everyone in our table just eat.
Oni sendiri sudah selesai makan, dia menyalakan rokoknya dalam diam.
"Okay guys, I have to go now. Nanti malam aku ada flight ke palembang jam tujuh, so I must be prepared before it," ucap Theo, lalu berdiri.
Gue pun ikut berdiri dan menyambut uluran tangannya, menerima ciuman pipinya, dan memberikan senyum profesional.
"I'm glad to meet you, honey. You are the perfect model. Nanti kalau sudah diedit, aku kirim hasil pemotretan tadi," ucap Theo.
"Yes Theo, thank you. Really I enjoy it, kamu partner kerja yang baik," balas Theo.
"Sleep more," ucap Theo lalu pergi.
Dia sama sekali tidak pamit pada Oni.
"Babe? Are you okay?" tanya gue pada Oni.
Oni menggeleng sambil menghembuskan asap rokoknya.
"He is nice, serius," ucap gue.
"Ternyata dia suka ikut campur," balas Oni sambil mematikan rokoknya di asbak.
Oni melangkah pergi. Gue buru-buru mengikutinya. Gila ya si Oni, nggak ngerasa lagi bawa gue, main pergi aja.
Di dalam mobil, Oni menjalankan aksi bisunya. Gue merasa bersalah, pasalnya tadi gue menjelekkan namanya didepan pacarnya. Emang tolol gue.
"Oni, I'm sorry," ucap gue.
"What?" tanya Oni, datar.
"Gue tadi ngomong gitu ke Theo, maksudnya bercanda, Ni. Gue nggak maksud bikin lo terlihat kejam sama gue," jawab gue.
"About slave?"
"Ya,"
"Asal lo tau, lo juga budak dari perasaan lo sendiri, lo budak kamera, lo budaknya masyarakat, lo budaknya perancang busana. We are slave, honey," jelas Oni.
Gue diam.
"Sorry," ucap Oni.
Gue tersenyum, "it's okay."
Kami diam. Oni tetap sahabat yang gue kenal, yang kali ini terbukalah salah satu sisi dalam dirinya. He is slave, so am I.
"Ni, break relationship between you and Theo. Don't be a relationship slave," ucap gue, dengan senyum.
Oni tertawa, "yes okay, I will."
"Now, please."
"Okay Yang Mulia," jawab Oni sambil masih tertawa.
Lalu mobilnya mulai menepi. Oni mulai menelpon Theo.
"Yes Theo," ucap Oni, sepertinya sudah diangkat.
"Can we stop everything between us, now? I mean, gue rasa gue nggak cocok sama lo," ucap Oni, lalu diam.
"Yes, thank you. Glad to meet you," ucap Oni, mematikan ponselnya.
"Done?" tanya gue.
"Already done. Thank you," balas Oni.
"Anytime buddy."
Gue rasa ada satu hal baik yang gue suka dari seorang Oni, jika dia bilang 'yes', it will 'yes'.
Berbandingan terbalik dengan sikap gue, jika gue bilang 'yes', pada akhirnya mungkin saja 'yes' 'no' 'idk'.
Gue linglung, Oni terarah.
"Mungkin kalo lo datang bertahun-tahun lalu, gue akan naksir berat sama lo," ucap Oni.
Gue terhenyak. Oni nggak pernah begini.
"Tapi dulu itu, gue udah terlanjur kecewa menjalani hubungan dengan perempuan. Perempuan itu nggak terdeteksi, kaya elo gini," lanjut Oni.
"Ni," panggil gue, ingin menyadarkan dia.
Oni terbahak, "jangan tegang begitu. Gue kan nggak lagi nembak lo."
"Lo nggak pernah ngomongin relationship lo sama cewek ke gue," ucap gue.
"Because I'm gay,"
Gue menghembuskan napas, "you are best buddy for me."
"You too, Kumala. Rasanya gue nggak butuh apa-apa lagi kalo ada elo, elo bisa jadi semuanya. Elo handal dalam segala hal," ucap Oni, tulus.
"Because I'm your slave," balas gue sambil tertawa.
Oni ikut tertawa, "stay here. Keep close with me, model."
"Yes boss,"
Oni tersadar, "omong-omong, gue mau pecat manager lo nanti malam. Gue aja yang jadi manager lo,"
"Elo?"
"I am."
"Bisa kerja rodi ditambah romusha nih gue," ucap gue.
"Just love me and your job, honey."
Mampus, bos besar merangkap manajer.

Jumat, 27 Mei 2016

Ke Klender

Jadi ceritanya, hari Minggu yang lalu gue berkunjung ke rumah temen lama gue di Jakarta, tepatnya di Klender. Wilayah itu dulunya adalah tempat tinggal gue dan Mama setelah Bapak meninggal waktu kami masih tinggal di Bogor. Gue tinggal di Jakarta sampai umur gue 13 tahun, sampai Mama menyusul Bapak karena sakit. Pada akhirnya, gue ditampung oleh panti asuhan milik pemerintah di Kota Bandung, lalu setahun kemudian gue diadopsi oleh sepasang suami istri kaya raya yang tidak punya anak, lalu gue menyebut mereka sebagai Ibu dan Ayah.
Ibu adalah perawat di sebuah rumah sakit besar di Bandung, umur Ibu waktu mengadopsi gue adalah 40 tahun. Sedangkan Ayah adalah seorang pemilik pabrik kertas di Kalimantan, kantornya ada di Jakarta, waktu mengadopsi gue Ayah berumur 43tahun.
Ibu dan Ayah merawat gue dengan baik. Gue tinggal berkecukupan di Kota Kembang. Untungnya, gue anak yang lumayan pintar, dan selalu berusaha untuk menjadi baik agar Ibu dan Ayah tidak kecewa karena telah mengadopsi gue. Mereka menyekolahkan gue sampai jenjang kuliah, dimana gue mengambil jurusan komunikasi di universitas negri ternama di Bandung.
Dan sekarang, di umur 25 tahun, gue sudah terbilang sukses di dunia jurnalistik. Gue menjadi wartawan di salah satu media cetak nasional yang bergengsi. Gue mencapai sukses dengan jalan yang dimudahkan Tuhan.
Mungkin, Mama dan Bapak bisa melihat gue, anak semata wayangnya telah menjadi gadis sukses. Walaupun Mama dan Bapak mungkin juga nggak bisa melihat gue, gue selalu berdoa buat mereka dalam sujud terakhir di setiap sholat gue.
Kembali ke cerita di Hari Minggu. Gue menyusuri gang-gang sempit tempat dulu gue main bareng temen-temen gue yang bajunya nggak pernah bagus. Gue juga dulu selalu pakai baju seadanya, Mama nggak bisa beli baju bagus karena gaji buruh belum sebesar sekarang. Mama dan gue hidup seadanya waktu itu. Di kampung kumuh ini, dulu gue berteman dengan Sani, perempuan dengan rambut hitam legam saat rambut gue dan rambut beberapa anak lain merah pirang karena kebanyakan kena sinar matahari. Sani punya badan kecil dan mukanya manis dengan mata belo sama kayak punya gue. Sani adalah sahabat terbaik gue disini. Sani juga punya kakak, namanya Gilang. Dulu itu gue dan Gilang, ah nggak usah dibicarakan, kisah masa kecil.
Sampai di gang rumah gue dan Sani, gue melihat beberapa orang yang berbeda, nggak seperti ingatan gue tentang orang-orang disini. Tapi rumah Sani masih disana, persis disamping rumah gue yang sekarang catnya sudah bagus mengkilap.
Rumah Sani masih kecil, kumuh, dan kurang sedap dipandang. Namun, dulu disanalah gue biasanya tidur siang kalau Mama belum pulang dari pabrik.
Ini jam 11 siang, kemungkinan Sani sedang bekerja atau kemana. Tapi gue udah terlanjur kesini, masa mau balik lagi ke Bandung. Ternyata pintu rumah Sani terbuka, TV dirumah itu menyala dan seorang perempuan sedang mengupas bawang didepan pintu sambil menghadap ke TV.
"Assalamualaikum," ucap gue.
Perempuan itu menoleh, dan iya itu Sani. Alis Sani mengerut heran, lalu dia menghampiri gue yang masih diluar pagar rumahnya.
"Cari siapa, mbak?" tanyanya.
Gue tersenyum, "ini aku, San, Nita."
Mata Sani melebar kaget, "ya ampun, pangling gue. Rambut lo udah nggak merah sih, Nita!"
Gue tertawa, "Bandung adem, San."
Sani tertawa lalu mempersilahkan gue masuk, "masuk sini masuk."
Gue pun masuk kerumah Sani. Rumahnya sepi, kayak nggak ada orang selain Sani sendiri. Foto-foto yang dipajang masih sama seperti dulu, kecuali tambahan foto wisuda SMA Sani dan Gilang.
"Baru mau masak lo?" tanya gue, mulai terbiasa dengan bahasa kasar kami dulu.
"Iya, gue baru pulang dagang di pasar. Eh mau minum apa, Nit?" balas Sani.
Ternyata Sani pedagang di pasar, sama kayak ibunya dulu.
"Apa aja, nggak usah repot-repot, San," jawab gue sambil mengeluarkan tiga kotak kue dari ransel gue lalu menaruhnya di meja makan tempat Sani membuatkan gue minum.
Sani kaget, "eh itu elo yang repot-repot, pake bawa-bawa segala kayak kerumah siapa aja."
"Nggak repot lagi, gue nggak bikin kue sendiri, San," balas gue terkikik.
Sani selesai membuat dua gelas es teh untuk gue dan dia. Kami lalu ke ruang depan, tempat TV dan bawang Sani ditinggal tadi.
"Apa kabar lo, Nit?" tanya Sani.
"Baik, lo sendiri gimana?"
"Baik juga. Lo sibuk gitu ya sekarang?"
Gue menggeleng, "cuma kerja sampe Sabtu, nggak sibuk sih biasa aja."
Sani mengangguk-angguk, "gimana kabar orangtua lo?"
"Mereka baik, Ibu baru pensiun bulan lalu, sekarang lagi dirumah aja. Kalo Ayah sih masih sibuk," jawab gue.
Sani bergumam mengiyakan.
"Orang rumah pada kemana, San? Kok sepi? Orangtua lo kemana? Bang Gilang?" tanya gue berturut-turut.
Wajah Sani berubah, gue merasa nggak enak.
"Orangtua gue meninggal setahun lalu, Ibu meninggal karena stroke, tiga bulan kemudian Bapak kena tabrak lari sama orang naik motor. Bang Gilang belom pulang dari semalem," jawab Sani, wajahnya tertunduk dalam.
Gue sedih mendengar apa yang Sani bilang, gue nggak menyangka. Gue pun menggenggam tangan Sani, "maaf San karena ngungkit ini."
Sani menggeleng lalu menatap gue sambil tersenyum, "udah sewajarnya lo nanya begini, Nit."
"Kenapa elo nggak ngabarin gue waktu orangtua lo meninggal?" tanya gue.
"Gue nggak kepikiran. Saat itu keluarga gue lagi kelilit utang, gue minjem kemana-mana waktu Ibu sakit. Setelah Bapak meninggal sampai sekarang pun utang itu belum lunas. Bang Gilang juga minjem kemana-mana, ditambah kerja sana-sini," jawab Sani, airmata sudah mengalir deras di kedua pipinya.
Memang sudah seharusnya Sani menangis.
Gue meremas bahunya, ingin menenangkan sahabat gue ini. Kemudian, dia buru-buru meredakan tangisannya dan menghapus air matanya.
"Sekarang Bang Gilang kerja apa?" tanya gue.
"Kerja di toko punya cina di pasar, biasanya sampe abis maghrib. Tapi semalem dia nggak pulang, nggak tau kemana," jawab Sani.
"Dia sering nggak pulang gitu?"
Sani menggeleng, "jarang, cuma sebulan terakhir ini emang lebih sering. Biasanya pagi pulang, itu juga rada mabok."
Gue memeluk Sani, gue ingin memeluk sahabat gue. Gue nggak ngerti lagi gimana sakitnya dia, apa yang udah dia lewatin sendirian selama ini. Tubuh Sani lebih kurus dari yang terlihat. Tubuh ini yang dulu sering main gendong-gendongan sama gue di kolong jembatan depan, sambil lari-lari seperti orang gila.
Masa kecil Sani dulu nggak seburuk sekarang.
Sani sudah berhenti menangis dan gue sudah melepaskan pelukan gue.
"Lo harus kuat, San. Lo sekarang punya gue, lo tau harus kemana kalo lo butuh bantuan," ucap gue.
"Gue nggak bisa minta bantuan lo, Nit. Gue nggak bisa begitu," balas Sani.
"Kenapa, San? Kita ini temen, kita ini sahabatan udah dari kecil, San. Hubungin gue ya kalo lo butuh sesuatu? Ya?" bujuk gue. Gila, mana gue tega ngebiarin dia susah sendiri, pontang-panting sendiri, saat dia punya gue yang lagi nganggur dan bisa bantu.
Sani mengangguk, "iya, gue akan hubungin lo kalo gue lagi butuh sesuatu, gue janji. Makasih, ya."
Gue mengangguk sambil menggenggam tangannya.
"Kerja apa lo sekarang?" tanya Sani.
"Wartawan, San, di koran," jawab gue.
Hening. Mungkin Sani diam-diam menginginkan untuk menjadi seperti gue. Dan gue, diam-diam bersyukur kepada Tuhan atas apa yang diberikannya kepada gue.
"San, gue mau nanya," ucap gue, membuat mata Sani menatap gue.
"Berapa banyak utang lo?" tanya gue, hati-hati.
"Lo nggak perlu tau, Nit," jawabnya sambil tersenyum.
"Jawab aja, San," desak gue.
Sani diam sejenak, lalu menjawab, "sebelas juta."
Hening. Jujur, gue kaget.
"Gue ada uang segitu, lo bisa pake dulu buat bayar utang lo, ya?" ucap gue.
Sani buru-buru menggeleng, "nggak, gue nggak mau."
"Mau nggak mau lo harus, San. Lo mau kelilit utang terus? Makin lo tunda bayar, makin banyak utang lo," tegas gue.
"Gue nggak bisa, Nit, gue nggak bisa pakai duit lo gitu aja,"
"Lo bisa, San. Kali ini turutin gue ya?" bujuk gue lagi.
Sani menggeleng.
"San, siapa lagi yang bisa ngasih lo sebelas juta buat lunasin utang lo? Siapa lagi yang mau lo utangin buat bayar utang lo?" tanya gue. Kali ini memaksa agar Sani setuju.
Akhirnya Sani mengangguk, "gimana cara gue balikinnya?"
"Nggak usah mikirin itu. Besok gue kesini buat ngasih uangnya, ya?"
Tepat saat itu, ada seorang laki-laki masuk ke rumah. Badannya tinggi, kaki panjangnya dibalut celana jeans belel, badan tegapnya dibalut kaos yang kelihatan usang. Wajahnya tirus dengan mata tajam dan janggut tipis yang mulai tumbuh.
Laki-laki itu Gilang. Dan Gilang masih setampan dulu meski dengan dandanan orang pasar.
"Bang Gilang, ini Nita, masih inget nggak?" ucap Sani, jejak-jejak air mata masih membekas di wajahnya.
Sorot matanya kaget, lalu berubah rindu. Entah, atau gue yang terlalu percaya diri.
"Bang," sapa gue.
"Eh Nit, jadi item ya sekarang rambut lo," balasnya sambil melenggang masuk. Aroma alkohol tercium saat dia lewat di belakang gue.
Suara air terdengar dari kamar mandi, sepertinya Gilang sedang mandi.
Beberapa saat kemudian dia muncul didepan gue dan Sani dengan celana jeans yang tadi dan kaos yang terlihat baru.
"Kaos siapa, bang?" tanya Sani.
Gilang menatap kaos yang dipakainya, "kaos gue. Bikinin gue teh tawar, San."
Sani buru-buru ke dapur.
"Apa kabar lo, Nit?" tanya Gilang.
"Baik, Bang. Abang sendiri gimana?" balas gue.
"Ya begini," jawabnya sambil terkekeh.
Gue hanya tersenyum sambil menenangkan detak jantung gue. Sialan, masih begini ternyata.
"Kangen gue sama lo. Bersihan ya sekarang, nggak gembel kayak dulu," ucapnya diikuti tawa Sani.
Sani meletakkan teh tawar di depan abangnya, lalu ikut duduk dengan gue dan abangnya.
"Wartawan dia sekarang, Bang," ucap Sani kepada abangnya yang sedang meminum teh nya.
Gue hanya tersenyum malu.
"Wah udah asik lo sekarang. Masih di Bandung?" tanya Gilang.
"Masih," jawab gue.
Kemudian obrolan kami bertiga berlanjut sekiranya sampai habis Maghrib.
"Gue mau pulang nih, udah malem banget, takut udah nggak ada bus," ucap gue.
"Yaudah yuk gue anter sampai depan," balas Gilang.
Gue pun mengiyakan, lalu pamit pada Sani dan bilang bahwa gue akan kesini lagi besok.
Gue dan Gilang jalan kaki menyusuri gang-gang sempit ini. Saat di perjalanan, perut gue berbunyi. Gue baru inget, saking asik ngobrol, Sani, Gue dan Gilang cuma makan kue. Dan gue juga baru inget, perut gue belum tersentuh nasi dari semalam. Kalau Ibu tau, mungkin gue udah diceramahin panjang lebar.
"Laper?" tanya Gilang.
Gue baru sadar kalau bunyi perut itu tanda lapar, gue pun mengangguk.
"Lo mau makan dulu di warung-warung depan sana atau mau beli roti aja di supermarket?" tanya Gilang lagi.
Gue bingung, asli, "gue nggak berani makan di warung sendirian. Tapi kayaknya gue bakal pingsan deh kalau cuma makan roti."
Aduh, tolol.
Gilang tertawa terbahak-bahak.
Tuh kan, emang tolol banget gue.
Gue cuma diam.
"Jadi mau minta gue temenin makan di warung?" tanya Gilang.
Gue tetap diam.
"Yuk," sambil menggandeng tangan gue, Gilang menuju salah satu warung bubur ayam.
"Pak bubur ayam satu," teriak Gilang kepada pedagang bubur ayam.
"Lo nggak makan?" tanya gue heran.
Gilang menggeleng, "nanti aja."
Gue mendecak lalu berteriak, "satu lagi pak bubur ayamnya."
"Gue belom laper," ucap Gilang dengan nada tidak suka.
"Gue nggak suka makan sendiri," balas gue.
Lalu bubur ayam kami datang. Kami menyantapnya dalam hening.
Lalu tiba-tiba Gilang berkata, "lo nggak usah minjemin kita uang sebelas juta. Jumlah itu nggak sedikit."
"Gue minjemin Sani, bukan lo," balas gue sambil melahap satu sendok terakhir bubur ayam gue.
"Nit, dengerin gue. Gue dan Sani nggak mau elo ikut susah kaya kita. Gue dan Sani tau dulu gimana susahnya elo waktu kecil, jadi kalo sekarang lo udah hidup enak ya jangan ikut kita susah," ucap Gilang panjang lebar.
"Gue nggak ikut susah, Gilang. Gue cuma ikut bantu kalian berdua, emang salah?" balas gue.
Gilang diam, lalu, "gue takut nggak bisa ganti duit lo."
"Nggak usah diganti juga nggak apa-apa, Gi," ucap gue.
"Nggak apa-apa gimana? Itu sebelas juta, bukan sebelas ribu!" bentak Gilang. Beberapa pengunjung warung memperhatikan kami.
Gue menatap Gilang, masih ada sisa-sisa kangen gue ke dia. Masih ada sisa-sisa rasa kagum gue ke dia yang dulu pernah gue rasain. Masih, masih ada, dan masih sama.
Gilang yang dulu, yang ada di masa kecil gue adalah Gilang yang selalu ngebelain gue kalau gue berantem dengan anak dari kampung sebelah. Gilang yang nganterin gue pulang waktu Mama udah mengunci pintu karena gue pulang terlalu larut. Gilang yang selalu marahin Sani kalau gue berantem sama Sani, dan akhirnya gue dan Sani berbaikan karena takut sama Gilang.
Lucu, masa kecil gue dulu, gue merasa punya kakak laki-laki. Gue merasa punya pengganti Bapak, gue merasa punya sosok laki-laki yang gue kagumi. Gue punya Gilang, sebagai laki-laki yang eksistensinya berlebih dalam kehidupan masa kecil gue.
"Gi, sebelas juta itu nggak ada artinya kalau dibandingin sama eksistensi lo di masa kecil gue dulu," ucap gue, pelan.
"Tentang masa kecil itu harusnya nggak usah diungkit-ungkit lagi, Nit. Gue emang udah seharusnya jadi abang buat lo dan Sani," balas Gilang.
"Gue cuma mau berterimakasih sama lo berdua, dan biarin ini jadi satu-satunya cara buat gue berterimakasih,"
"Gue harus tetep ganti sebelas juta itu," ucap Gilang tegas.
"Lo bisa jual rumah lo itu, lalu tinggal dirumah kecil gue di Bandung. Gue punya rumah hasil tabungan gue disana, nggak terlalu jauh dari rumah orangtua gue. Lo berdua bisa tinggal disana," ucap gue.
"Nggak, nggak bisa," balas Gilang.
"Itu satu-satunya cara, Gi," ucap gue lagi.
Gilang menggeleng.
"Satu-satunya cara biar gue nggak terus-terusan kangen sama lo," ucap gue.
Sialan, mulut tolol ini emang harus dilatih buat ngomong sama Gilang.
"Nggak terus-terusan kangen sama Sani juga," lanjut gue, berusaha untuk seringan mungkin mengucapkan itu.
Tapi, Gilang udah terlanjur menatap mata gue. Tepat di mata gue, sampai seluruh badan gue kaku dan kuping gue berdenging. Jantung gue berpacu terlalu keras.
"Gue udah selesai, Gi. Gue mau pulang," ucap gue tiba-tiba.
Gue lalu membayar bubur ayam. Gilang masih duduk di bangku tadi, gue pun menghampirinya.
"Udah ya, Gi, gue pulang. Makasih udah nganterin gue sampai sini, bilang juga sama Sani, makasih udah nerima kunjungan gue dengan baik," ucap gue.
Gilang hanya terus menatap gue, dengan rahang keras yang dikatupkan.
"Gue antar lo sampai terminal," ucap Gilang.
Lalu dia berdiri, "ke bengkel itu sebentar yuk, gue mau minjem motor."
Gue mengikuti langkahnya ke bengkel yang dimaksud.
Lalu beberapa saat kemudian Gilang sudah mengendarai motor dengan gue di belakangnya.
Beberapa menit kemudian kami sampai di terminal, gue turun dari motor diikuti Gilang.
"Gue mau tinggal di Bandung, di rumah lo," ucap Gilang.
Entah senyum macam apa yang gue tunjukkan saat itu, yang pasti itu membuat Gilang terkekeh.
"Bilang sama Sani, besok udah harus siap. Gue akan bawa mobil ke sini, kalian berdua akan ikut gue," balas gue.
Tiba-tiba Gilang memeluk gue.
Aduh, Gi, ini terminal.
"Terimakasih banyak,"
"Sama-sama, Gilang,"

Dan akhirnya, malam kamis ini, gue dan Gilang sedang duduk-duduk santai menunggu Sani menyelesaikan masakannya untuk makan malam kami.
"Gi, nggak nyangka kita bertiga akan berakhir begini," ucap gue, sambil rebah di bahunya.
"Gue sih udah nyangka kalau gue akan bareng-bareng terus sama lo, entah berapa lama kita pisah," balas Gilang sambil tertawa pelan.
Kok gue nggak nyangka sih, Gi?

-Bandung, Mei 2015

Kamis, 26 Mei 2016

Cinta dan Solidaritas

Gue nggak tau siapa yg nulis ini. Yang gue tau tulisan ini gue baca saat sepak bola Indonesia menjadi pusat perhatian baru bagi setiap orang dari kalangan manapun di Indonesia. Tulisan ini, juga mampu bikin gue merinding kala itu dan saat ini. Tulisan ini, murni tulisan dari hati seseorang untuk hati kita yang masih mau terbuka meski sedikit.
Dan tulisan ini, gue yakin menjadi tamparan keras bagi seluruh bangsa Indonesia.
Here  you go guys. Coba duduk sebentar dan baca ini;


Cinta dan Solidaritas
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan masalah kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba, politik, uang , membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah  GENERASI GAGAL. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kanyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan , sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataaan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para criminal yang suka menncuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang atau kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre untuk mendapatkan tetapi tidak. Jutaan orang berteriak lantang demi sepak bola nasional yang mulai bangkit. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu, kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu, kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak dikenakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di bukit jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bolalah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak ada urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidaklah perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riddle yang percaya bahwa sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan dewasa. Berjibakulah Maman, Hamka, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irfan bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah olahan kata dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharap piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang Pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang lelaki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan teladan!!!

Terimakasih, untuk siapapun elo yang nulis ini.

Minggu, 22 Mei 2016

Mengulang

Kali ini terserah orang-orang ingin menyukai tulisan saya atau tidak. Saya hanya ingin bercerita, tentang bagaimana saya ke kamu. Saya hanya ingin bertanya, tentang bagaimana kamu ke saya.


Bekasi, pukul 9 pagi

Hari ini saya bangun jam sembilan lagi, rumah saya sudah sepi. Entah ini hari ke berapa saya jadi pengangguran pasca UN, saya udah mulai bosan. Makin sering saya nganggur, makin sering saya ngelamun, makin sering pula saya memikirkan tentang kamu.

Mikirin bagaimana saya dan kamu, beberapa bulan lalu, bertemu dan bersama dalam satu hari itu.

Sebenarnya saya bukan orang yang suka pakai perasaan untuk sesuatu yang sebentar dan tidak menguras pikiran. Tapi nyatanya, satu hari bersamamu itu menguras pikiran walau hanya sebentar. Setelah bertemu kamu itu, besoknya, saya mulai kepikiran, mulai bertanya-tanya, mulai menyesal, mulai kecewa terutama pada diri saya sendiri.

Tapi poin pentingnya bukan itu, poin pentingnya adalah setelah bertemu kamu, besoknya, besoknya lagi, dan seterusnya hingga hari ini, saya masih bertanya-tanya, berartikah hari itu bagi kamu? Karena kejadian hari itu masih jelas membekas dalam benak dan hati saya.

Jadi setelah bangun tidur ini, saat saya sedang minum teh sambil makan roti, saya punya pikiran untuk mengulang kejadian hari itu, lagi.
Saya ingin mengulang indahnya, agar saat mengingatnya bukan hanya sakit yang saya rasakan. Bukan hanya sakit.
Lalu saya buru-buru menghabiskan sarapan saya, buru-buru mandi, buru-buru berpakaian seperti hari itu, buru-buru menyiapkan tas yang saya pakai waktu itu.

Saya gila, memang. Saya lemah untuk semua hal tentang kamu.

Tapi lalu saya berpikir, bukannya saya ingin lupa? Bukannya kenangan adalah satu-satunya hal terkuat yang ingin saya kalahkan? Lalu mengapa saya begini?
Saya ingat, hari ini saya mendapat informasi tentang pameran seni rupa di Museum Seni dan Keramik, lebih baik saya kesana, jauh lebih baik saya kesana daripada mengulang semuanya seperti yang baru saja saya niatkan ini.
Akhirnya saya ganti baju saya, saya ganti tas saya, saya ganti juga isi tas saya.
Saya berangkat, ke pameran.


Pameran Rupa Karya 2016, Jakarta

Saya masuk ke pameran itu, karya pertama yang saya lihat adalah sebuah karya dari seorang mahasiswa Politeknik Negri Media Kreatif. Selanjutnya, banyak karya 'bermain' yang bagus dan mindblowing. Saya bisa lupa sejenak tentang kamu.
Tema yang diangkat adalah 'bermain', jadi berkali-kali saya yakinkan diri saya bahwa saya masih anak-anak yang waktu itu kamu ajak bermain.

Sekalipun telah dewasa, terkadang sekali waktu kita kembali ke masa lalu dan bermain dengan memori yang sulit di pahami
itu kutipan disamping karya Once Upon A Time milik Andreas.
Rasanya antara bermain dan masa lalu adalah satu hal yang terkait. Namanya bermain, bagi saya, adalah masa lalu. Bermain adalah masa lalu yang mungkin, di waktu saya yang sudah serius ini, bermain tak bisa digapai lagi. Ia menjadi memori yang sulit dipahami oleh saya dan waktu yang serius ini.

Saya menyesal sudah bermain dengan kamu. Saya menyesal, karena saat ini saya sulit memahami memori bersama kamu itu.

Ada foto lelaki dengan kemeja putih yang dibalut jas hitam, itu karya Goyang Ketombe dengan judul Janji Pria Sejati. Di atas foto tertulis LELAKI SEJATI TAK PERNAH INGKAR JANJI.
Lalu sebaris tulisan di samping karya itu berbunyi; lelaki baiknya mendengarkan hati bukan nafsunya.
Waktu itu, apa kamu mendengarkan hatimu? Saya tidak begitu yakin.
Katanya, lelaki sejati tak pernah ingkar janji. Kamu tak buat janji dengan saya. Itu yang ada di pikiran saya waktu ngelamun sambil menatap tulisan di atas karya ini.

Kamu tak pernah buat janji dengan saya.

Kebanyakan karya di sini adalah karya mahasiswa Universitas Tarumanegara. Tapi ada beberapa dari universitas lain, seperti UNJ, Polimedia, LaSalle College.

Saya menutup kunjungan saya ke pameran sekitar pukul 4 sore. Saya lelah dan ingin pulang. Saya tak mau apapun untuk dikenang. Saya ingin segera sudah lalu lupa.


Stasiun Jakarta Kota, pukul 4.30 sore

Kereta tujuan Bekasi ramai, semua orang tampak bergegas. Dan saya jadi malas. Lalu saya beralih ke kereta tujuan Kampung Bandan, saya mau naik dari Jatinegara saja. Saya duduk di salah satu bangku kereta, dekat seorang lelaki dengan celana pendek loreng dan kaus polo, terlihat santai. Tidak terlihat lelah seperti saya.
Sambil menunggu kereta berangkat, saya membuka buku pameran tadi, melihat karya-karya yang tadi terpajang di sana. Sia-sia memang, saya hanya membunuh waktu agar tidak bosan.
"Dari Pameran Rupa Karya ya, Mbak?" ucap lelaki di sebelah saya ini.
Saya menoleh, lalu tersenyum sambil mengangguk. Saya baru sadar, rambut laki-laki ini tidak begitu hitam, rambutnya agak coklat tua.
"Suka seni rupa?" tanya lelaki itu, lagi. Dia mungkin tidak menyadari lelahnya saya hari ini.
"Engga, cuma iseng dateng kesana. Saya juga nggak ngerti maksud karya-karyanya kalau nggak ada penjelasan di sampingnya," jawab saya, sedikit panjang. Agar dia puas lalu bungkam.
Dia mengangguk sambil mulutnya membentuk huruf O, "saya tadi mau kesana, pas mau masuk udah nggak boleh karena udah tutup. Telat banget sih, kesorean." Saya hanya menggumam untuk menanggapi.
"Mbaknya dari mana?" tanyanya lagi.
"Dari pameran, Mas," jawab saya, enggan menoleh.
Lalu lelaki disamping saya tertawa pelan, membuat saya menoleh.
"Maksudnya, Mbaknya tinggal dimana?" tanyanya dengan sisa tawa dibibir tipisnya.
Saya tersenyum malu, "oh, saya dari Bekasi Mas."
Enggan bertanya dari mana dia, takut berakhir panjang.
"Loh, itu kereta ke Bekasi, kok nggak naik yang itu aja?" tanyanya heran.
"Penuh," begitu saja saya jawab.
Diam sejenak, dia membalas, "saya juga tinggal di Bekasi."
"Terus kenapa nggak naik kereta yang itu Mas?" tanya saya, mengulang pertanyaannya pada saya tadi.
Dia tersenyum, "bisa dibilang, saya ingin mengulang."
Aku buru-buru menoleh.
Tatapanku entah apa artinya, tapi rasanya 'mengulang' itu pernah jadi niatku.

There is something behind every games played, kutipan karya Controller milik Maharani Anandita.
Jadi kira-kira, sesuatu apa dibalik permainan percakapan saya dengan mas-mas celana loreng ini?

"There is something behind every games played," ucapnya sambil membaca tulisanku diatas gambar karya Maharani itu. Aku memang mencatat kutipannya di buku pameran ini.
Aku mengerutkan kening.
"Yang pasti ya, Mbak, saya bukan sesuatu dibalik percakapan kita ini. Saya cuma mau membunuh waktu dengan ngobrol sama Mbak," lanjutnya.

Saya juga sedang membunuh waktu. Tapi saya tidak ingin 'bermain'.

"Maaf ya Mas, saya capek, saya nggak mau dengerin kata-kata Mas yang mindblowing itu," ucap saya.
"Terimakasih karena bilang kata-kata saya mindblowing," balasnya.
Lalu kami berdua sama-sama diam sampai tujuan.


Stasiun Kampung Bandan, pukul 5.15 sore (mendung)

Sejujurnya, saya memang ingin mengulang. Mengulang semuanya. Dari mulai saya yang memilih untuk naik kereta tujuan Kampung Bandan lalu ingin lanjut ke Jatinegara baru ke Bekasi, dalam lubuk hati saya yang paling dalam saya ingin mengulang.

Setidaknya, saya ingin mengulang rute itu dulu. Walau tak sama persis.

Saya duduk di bangku stasiun yang penuh sesak. Menunggu kereta tujuan Jatinegara bersama ratusan orang lain. Pikiran saya menguak lagi beberapa memori yang dulu telah saya simpan rapat-rapat. Hati saya menjelaskan lagi bagaimana sakitnya ini.
Saya ini, sebenarnya, memang tak ingin lupa. Saya ini, sejujurnya, memang ingin menyimpannya rapat-rapat. Namun kenapa hanya rasa sakitnya yang jelas, mengapa indahnya malah mengabur.

Percaya atau tidak, setitik air mata saya buru-buru jatuh ke lutut saya. Sialan

"Geser dikit, Mbak," ucap suara seorang laki-laki kepada saya. Laki-laki tadi.
Saya buru-buru geser tanpa bersuara.
"Kebawa suasana ya, Mbak?" tanyanya.
"Suasana apa?" tanya saya sambil menoleh.
Dia tersenyum lalu menjawab, "iya, ini mendung-mendung berangin dingin gini di stasiun emang membawa suasana sendu, Mbak."
Saya tertawa pelan, "percaya atau enggak, memang iya."
Lalu kami sama-sama diam.

Hati dan pikiranku memang disini, tapi tentang beberapa waktu lalu. Bukan saat ini
Kamu yang manis untuk dikenang, serupa guruh dilangit juga lubuk hati
Indah bersama pilu yang hadir di pintu jiwa yang mendung
Kelabu, sendu, terbias dari rupa kelopak yang sayu
Mengulang, aku mengulang
Dari satu dua perjalanan kereta
Dari tiga empat langkah di peron
Kenangan itu menjelma ratusan sakit yang terpahat lama, berkarat
Gores dinding hati yang belum sembuh dari kenangan
Kenangan
Kenangan

Kereta tujuan Jatinegara di jalur dua.


Stasiun Jatinegara, pukul 5.50 sore (hujan)

Jakarta diguyur hujan deras sore itu. Saya sampai di Jatinegara, bersama dengan laki-laki tadi saya menuju ke mushola untuk sholat Maghrib. Seusai sholat Maghrib, saya beli dua roti dan dua cup kopi panas. Lalu buru-buru kembali ke depan mushola tempat laki-laki tadi memakai sepatu.
Saya menaruh roti dan teh di samping laki-laki itu.
"Ngopi, Mas," ucap saya.
Dia tersenyum sambil mengambil cup kopinya, "makasih, Mba."
Saya hanya tersenyum.

Di stasiun ini juga, dulu, saya dan kamu duduk sebentar untuk mengisi perut saat hujan mengguyur Jakarta dengan deras. Saya luar biasa kedinginan waktu itu, sekarang tidak. Dulu, saya membuat kenangan bersama kamu disini. Dulu kita 'bermain', ingat saya menyesal karena pernah 'bermain' dengan kamu.
"Tadi kenapa, Mbak, di Kampung Bandan?" tanya laki-laki di samping saya, tiba-tiba.
Saya tersenyum, "saya mengulang, sama seperti yang Mas lakukan."
"Bedanya mungkin saya mengulang kebahagiaan, Mbak bukan mengulang suatu hal itu," balasnya.
Sukses membuat hati saya mencelos.
"Kalau kata I Gusti Ngurah Bagus Wirajaya dalam karyanya yang Maen Aer, bahagia itu tergantung dari sudut pandang kita," ucap saya, tegas.
Lelaki itu menoleh, "nah, itu dia Mbak, coba ubah sudut pandang Mbak. Siapa tau hal itu jadi kebahagiaan."

Benar juga, masa lalu memang tidak bisa diubah. Namun tentang sedih atau bahagianya masih bisa kita manipulasi dengan sudut pandang kita tentang masa lalu tersebut.

Kereta menuju Bekasi datang.


Kereta Menuju Bekasi, pukul 6.30 sore (gerimis)

Saya dan lelaki tadi berdiri berdekatan, tidak dapat tempat duduk. Saya bersandar pada ruang kosong di sebelah pintu. Saya kembali memikirkan bagaimana sakit dan galaunya saya tentang kejadian pada hari itu, pada hari dimana kita bertemu.

Mungkin benar, kebahagiaan itu tergantung dari sudut pandang kita.

Termasuk kebahagiaan tentang masa lalu itu. Masa lalu memang begitu adanya, sekuat apapun kita tak bisa mengubahnya, namun saya bisa ganti sudut pandang saya tentang masa lalu itu.
Agar tidak ada lagi sakit yang saya dapat saat mengingatnya.
"Mbak tau nggak apa kata C. S Lewis tentang kebahagiaan?" tanya laki-laki tadi, mungkin ingin membunuh waktu dengan percakapan.
"Apa?" tanya saya.
"Don't let the happiness depend on something you may lose," jawab laki-laki itu.
Saya mengerutkan kening, "loh iya dong, memang harusnya begitu. Sudah bergantung lalu kehilangan kan nggak akan bahagia."
"Jadi, Mbak, cari sesuatu yang kekal untuk menggantung kebahagiaan kita, jangan bergantung sama apa yang pasti akan menghilang. Udah tau akan pergi, kok masih menggantung kebahagiaan ke dia," jelasnya.
Saya tercenung. Sialan, kata-katanya memang mindblowing banget.

kereta berhenti di stasiun Cakung. Tertunda karena rel putus.

Laki-laki itu keluar kereta, memilih untuk membiarkan dirinya terkena gerimis. Saya berdiri di pintu sambil menghadap keluar, melihat bagaimana orang-orang memilih untuk keluar kereta, entah untuk keluar stasiun atau hanya menunggu diluar.
"Masih kepikiran ya, mbak?" tanyanya.
"Saya nggak habis pikir, kata-kata Mas tuh mindblowing banget ya," ucap saya sambil tersenyum.
Dia tertawa, "mindblowing karena keadaan Mbak persis kayak yang saya omongin. Buat yang lagi nggak mengalami sih biasa aja, Mbak."
Saya ikut tertawa. Lagipula, sudah lama saya tidak tertawa oleh ocehan lelaki.
Laki-laki itu menatap saya, "ada beberapa lelaki yang memang saya akui terlalu kurang ajar buat perempuan."
"Maksudnya?"
"Saya memang lelaki, tapi saya tau mana kaum saya yang udah keterlaluan."
Saya tertawa, "Mas ini kaya Aslan lagi ngomong ke penduduk Narnia, ya."
Dia ikut tertawa, terbahak malah.
"Tapi memang saya baru bertemu yang brengsek sih, Mas, belum ketemu yang baik-baik," lanjut saya sambil tertawa pelan.
Kami diam sambil menatap sekeliling. Mungkin bingung ingin bicara apa lagi.
"Mbak turun dimana? Bekasi atau Kranji?" dia bertanya.
"Bekasi," jawab saya.
Dia mengangguk-angguk, "Mbak ini emang nggak suka bertanya balik ya?"
Saya tertawa, dia juga.
"Yaudah, Mas turun di Bekasi juga?" tanya saya.
"Enggak, saya turun di Kranji," jawabnya.

kereta melanjutkan perjalanan

Saya lelah juga ingin pulang
Saya merasa cukup untuk hari ini
"Udah mau sampai Kranji, Mbak," ucapnya tiba-tiba.
Aku mengangguk.
"Saya boleh minta kontak Mbak?" tanyanya lagi.
Saya buru-buru menoleh.
"Maksudnya saya mau lebih banyak percakapan,"
"Saya ngerti, tapi saya nggak bisa. Saya nggak mau bermain lagi, dan saya juga yakin kamu nggak mau ada di lingkaran permainan saya," balas saya.


Stasiun Kranji

Laki-laki itu akan turun, namun sebelum melangkahkan kaki keluar gerbong kereta ini, dia menoleh lalu berkata;
"Terimakasih buat permainan hari ini. Nama saya Ferris."


Stasiun Bekasi, pukul 7.45

Saya jadi ingat kutipan di sebelah karya I'm Playing punya Loudeath;
Play is our brain's favorite way to be washed

Jadi, tunggu main-mainnya saya ya, Ferris.



Bekasi, 21 Mei 2016

Minggu, 15 Mei 2016

Ke Bandung

Bandung di 2016 itu panas banget kalo siang, padat banget saat Sabtu sore dan otomatis rame banget di Sabtu malamnya. Pokoknya, gue sama sekali nggak berniat ke pusat kota Bandung Sabtu sore begini. Amit-amit ramenya, ngalahin sekitaran Tanah Abang H-7 puasa.
Iya, Bandung sekarang beda sama Bandung  2005 silam. Ah, nggak perlu diungkit lagi hal-hal di tahun 2005 itu. Kumala Tardi ini sudah harus melupakannya.
Gue emang nggak berniat kesini, kalo siang tadi si Oni nggak nyulik gue setelah rapat terakhir buat pelaksanaan fashion show hari Rabu nanti. Saat gue tanya ada apa, ternyata ada pameran foto Zaldy Armansyah. Gila, Zaldy Armansyah aja gue nggak tau orangnya. Tapi ya namanya juga Oni, kalo udah sampe nyulik gue begini ya gue harus nurut, kalo engga nurut bisa-bisa dia menjalankan aksi bisu ke gue selama sebulan.

Omong-omong soal Bandung, gue pernah tinggal di sini dari lahir sampai SMA, yaitu tahun 1987 sampai 2005. Lalu gue kuliah di Jogja dan kerja disana sampai tahun 2014. Pada akhir tahun 2014 itu gue menikah dengan Ali dan pindah ke Jakarta. Gue meninggalkan pekerjaan gue di Jogja sebagai psikolog dan menjadi pengangguran selama menikah dengan Ali. Lalu sekitar pertengahan 2015 gue bercerai dengan Ali karena masalah sepele, yang pada akhirnya gue tau bahwa kita terlalu buru-buru untuk bersatu.

Ali kembali ke Bandung untuk mengenang
Gue di Jakarta tak mau mengenang

"ngelamunin apa sih, La?" tanya Oni sambil menyetir. Tol ke arah Bandung rame, padat, rasanya semua orang ingin mesra di Bandung malam ini.
"ngelamunin kenapa elo bisa-bisanya ngajak gue ke Bandung malam Minggu gini. Nggak malam Minggu aja gue udah benci ke Bandung," sembur gue. Oni cuma cekikikan di balik kemudi.
"Elo harus bisa move on  dari Bandung, Mala," ucap Oni.
Cowok satu ini kayaknya nggak pernah ngerti aksi move on gue deh.
"Masa gue ajak ke Bandung aja nggak kuat, sembur sana sembur sini," lanjutnya.
"Oni, gue ini lagi dalam masa move on, tapi elo malah ngajak gue ke Bandung. Elo ngerti definisi move on nggak sih, Ni?" ucap gue, lalu membuka jendela mobil dan mulai menyalakan rokok gue.
Oni malah makin cekikikan, "ngerti gue. Gue tuh cuma pengen tau udah sampe mana lo move on-nya. Ternyata masih belum kemana-mana sama sekali, masih stuck sama romantisme lo di Bandung."
Rasanya gue mau menyundutkan rokok gue ke si Oni.
"Udah deh, pokoknya gue mau buru-buru balik abis pameran kelar."
"Emang siapa yang mau lama-lama sih?" balas Oni sambil cekikikan.

Sampe di tempat pameran, gue bener-bener ngerti bagaimana temen gue yang seniman ini begitu tergila-gila sama seni. Gue sendiri sih buta sama sekali sama seni macam gini. Yang gue tau cuma jalan di catwalk pake rancangan Anne Avantie, Peggy Hartanto dan yang lainnya. Yang gue tau cuma photoshoot pake make up artsy yang sama sekali nggak gue ngerti arti seninya dimana. Gue cuma menjalani aktivitas dengan kosong, setelah meninggalkan segala romantisme hidup.
Beda dengan Oni yang selalu senang dengan muka gue saat pake make up artsy buat photoshoot, yang selalu datang saat gue ada di peragaan busana luar atau dalam negri, gue sendiri malah nggak ngerti makna-makna dalam hidup gue, dalam segala 'indah' yang Oni definisikan. Dalam segala seni yang gue kenakan, gue nggak mengerti makna di balik itu semua.

"La, kalo lo bosen, duduk aja ya, gue mau menjelajah dulu. Parah, keren banget si Zaldy ini," ucap Oni lalu melangkah pergi. Gue bosen tapi nggak lihat ada tempat duduk.
Gue menghembuskan napas lelah. Mengamati sekeliling.
Orang-orang gila seni, gila keindahan dengan penafsiran masing-masing, berada di sekeliling. Tapi aku cuma tahu lelah dan hampa di hati, di lubuk paling jauh, dan di sisi paling dekat. Sekalipun dekat tapi tak ada sentuh, sekalipun jauh tapi tak pernah dekat.
Aku hanya sendiri, yang bahkan tak memiliki diri. Aku hanya gamang dan tak bertuan.
Menepi tapi tak sudah. Menyepi tapi tak lengah.
Entah, mungkin pada akhir aku bergantung bahagia. Mungkin juga pada perjalanan aku rakus bahagia.
Tapi bahagia sendiri itu, apa?
Aku terlalu jauh. Aku terlalu jauh, entah dari apa dan siapa.

"Kumala?" panggil seseorang, membuyarkan lamunan gue. Membuyarkan kata yang bahkan tak pernah sudah berucap dalam benak gue.
Gue menoleh, "Ali?"
Orang-orang disini gila seni. Orang-orang dijalan gila mesra. Orang-orang didefinisikan dengan 'gila'-nya masing-masing. Entah Ali, aku gila pada apa saat melihatmu.
"Ada apa kesini? Tumben," tanyanya sambil mendekati gue.
Ali masih setampan dulu, tapi romantisme dalam dirinya sudah terkikis habis secara magis.
"Yang pasti bukan untuk ketemu kamu, Ali," jawab gue kasar.
Ali tersenyum, "terserah. Bagaimana kabar kamu?"
"Baik," jawabku datar. Ingin buru-buru pergi.
Untunglah Oni datang, kegilaan gue sudah akan meledak.
"Ayo, Oni, kita pergi," ajak gue.
Aku tak beri kesempatan pada waktu untuk membuka kenanganku. Juga, tak beri waktu untuk membuat kenangan baru. Aku ingin sudah, Ali, aku tak ingin bertengkar dengan diriku dan takdirku. Aku ingin sudah, Ali, aku tak ingin ada sempat yang membuat rasaku melarat. Jadi izinkan kita melepas kita, izinkan aku telanjangi hatiku dari rasa sakit karena dirimu. Izinkan aku bersuci, dari luka yang pernah engkau toreh. Biarkan aku lahir kembali, suci tanpa bayangmu.
Gue beranjak tanpa pernah mengungkit romantisme yang diberikan oleh Kota Bandung. Sambil membayang dalam mobil yang sunyi, apakah Oni tau seberapa jauh gue move on dari romantisme itu.
"Dia orangnya?" tanya Oni.
Gue mengangguk.
"Sakit?"
Gue mengerutkan kening, "siapa?"
"Hati lo, sakit?"
Gue menggeleng, ragu.
"Gue tau bagaimana usaha lo. Gue tau bagaimana elo nggak mau lagi nerima romantisme hidup ini, dari lo yang nggak terima bunga saat peragaan busana, nggak ikut fanmeet yang diadain manajemen, nggak pulang ke rumah orang tua lo. Gue tau apa yang berkecamuk dalam diri lo," ucap Oni, tulus.
Gue tertawa, "rasanya gue mau jawab 'tau apa sih lo, Oni'. Tapi saat sadar kalo elo yang mungut gue dari kesedihan, rasanya nggak sopan."
Oni tertawa sambil menepuk pundak gue.
Ini jam dua malam, tapi rasanya gue masih ingin mengembara ke dalam diri gue. Masih ingin bercengkrama dengan diri gue. Gue masih belum ingin tidur.
Jadi jam dua malam itu, gue minta traktir Oni ke bar kecil di Bandung. Sambil membuka percakapan dalam benak gue.
Malam ini, jalanan sepi tapi pikiran manusia tak pernah sunyi. Ada yang masih mengadu pada Tuhan, ada yang masih menyusun pekerjaan, ada yang baru saja bekerja, ada yang mulai menggoda.
Aku memilih bercengkrama sendiri.
Berisik. Dalam benakku berisik.
Tersihir oleh alkohol yang setia menemani luka, teraniaya oleh satu gelas kosong yang menjelma dua.
Malam ini aku tak ingin lelap, malam ini aku harus kalap. Menjelajah, bertanya, mencari, satu atau dua tanya harus terjawab.
Malam ini aku kalap.


-Bandung, 14 Mei 2016

Rabu, 11 Mei 2016

Sihir Bunga Matahari



Pada suatu siang yang terik
Bunga matahari rapalkan mantra sihir
Untuk mereka yang rapalkan doa pada Sang Pencipta
Bunga matahari adalah perantara
Antara hamba dengan Sang Pencipta

Aku juga rapalkan doa pada Sang Pencipta
Untuk kau yang entah dimana
Demi keselamatan dan bahagia selalu
Tapi lalu kamu datang
Ketuk pintuku dengan tenang
Ada sihir dalam rapalan bunga matahari
Yang antarkan kamu dari entah

Jumat, 06 Mei 2016

A Deaf

Kalau Sandra Brown mendeskripsikan Jennifer dalam Eloquent Silence sebagai gadis tuli yang mampu membuat orang lain langsung sayang, gue mendeskripsikan diri gue sebagai orang yang langsung sayang sama orang tuli satu ini. Namanya Dikta.

Yes, Dikta, bertemu gue sekitar satu setengah tahun lalu, kemudian jadi pacar gue, dan sampai malam ini jabatannya adalah tunangan gue. People says, "he is your fault", tapi mereka salah, karena yang benar adalah; "he is my love." Kalau dia adalah kesalahan, maka nggak mungkin gue bertahan dalam waktu satu setengah tahun mencintai seorang tunarungu.
Jelas, Dikta atau ketuliannya bukan kesalahan.
Dikta mengidap tunarungu parsial, artinya dia masih bisa mendengar suara keras, seperti dia masih bisa membedakan mana suara helikopter dan mana suara peluit pramuka. Dia juga masih bisa sedikit bicara, seperti memanggil nama gue dengan kejelasan yang menakjubkan bagi seorang tuli. Tapi Dikta tetap menggunakan alat bantu dengar yang dipasangnya ke kuping, alat ini bukan alat bantu korektif seperti kacamata. Begini, kalau kalian menyetel radio lalu yang terdengar hanya suara desis, dan saat kalian memperkeras volumenya maka yang terdengar adalah suara desis yang lebih keras, bukan jernih. Jadi menurut gue, mungkin alat bantu itu nggak berarti apa-apa dibanding kepekaan dirinya akan sesuatu.
Walaupun begitu, Dikta adalah seorang laki-laki yang luar biasa tampan, kalian nggak akan sadar kalau dia adalah seorang tunarungu sampai mendengarnya bersuara. Dikta punya tinggi badan sekitar 170cm, kulit bersih dan rambut lurus yang kalem warna coklat. Senyumnya manis, dan gue sadar itu dari hari pertama bertemu dia.
Well, satu setengah tahun lalu gue bertemu dia di sebuah kegiatan amal yang diadakan oleh dia dan rekan-rekannya. Mereka mengadakan kegiatan belajar gratis untuk tunarungu di daerah terpencil Indonesia, dan gue selaku mahasiswi pendidikan luar biasa tingkat akhir mengikuti kegiatan tersebut sebagai pengajar. Waktu itu Dikta masih berpacaran dengan Alin, seorang wanita tunarungu yang luar biasa cantik. Mereka berdua serasi, sangat. Namun, karena saat pertama melihat Dikta gue langsung jatuh cinta sama dia, gue berusahan keras untuk mendapatkannya. Sekali lagi, people commented on me, they said I'm really crazy, padahal sebegitu banyak lelaki normal di dunia. Jawaban gue waktu itu enteng, "Dikta ganteng," well dia juga bukan abnormal.
Setengah tahun berikutnya gue berpacaran dengan Dikta, dan Alin menikah satu tahun kemudian. Dan waktu gue tanya apakah Dikta sedih melihat Alin sudah menikah, jawabannya adalah "engga, karena Alin bukan ingin menikah dengan Dikta" begitu Dikta jawab pakai bahasa isyarat ke gue.
Dan waktu itu gue tanya lagi pakai bahasa isyarat, "jadi kalau Alin mau menikah dengan Dikta, Dikta malah sedih?"
Dikta tersenyum, lalu membentuk huruf R dengan bahasa isyarat dan melakukan gerakan telunjuk dari atas ke bawah seperti membuat garis yang berarti nama gue. Setelah dia mengisyaratkan nama gue, dia berisyarat, "kalau Alin menikah dengan Dikta, kamu pasti sedih, dan kalau kamu sedih aku juga sedih. Begitu."
Aduh, rasanya waktu itu mau mati meleleh deh.

Iya, waktu itu. Karena sekarang, sambil menunggu Dikta datang ke rumah gue yang berada di dekat alun-alun Jogja, gue merenung. Mungkin apa yang tadi gue ceritain ke elo adalah cerita gue sekitar setengah tahun lalu, saat gue dan dia masih hangat dan masih seru. Saat gue masih antusias menjadi pacar seorang tunarungu ganteng. Namun sekarang, diam-diam dengan keji gue malah memikirkan betapa romantisnya punya pasangan yang bisa dengerin gue nyanyi, yang bisa diajak karokean, yang bisa diajak dengerin suara merdunya Mandy Moore yang nyanyi buat Shane West di A Walk to Remember, yang bisa diajak diskusi panas sampai teriak-teriak, yang bisa marahin gue dengan berapi-api, yang bisa main gitar sambil nyanyiin lagu-lagunya Sheila on 7, yang bisa musikalisasiin puisi-puisi gue dan bukannya cuma tersenyum setelah membacanya.
Kalau mau disebutin semua, terlalu banyak andai kata "yang bisa bla bla bla". Dan kalau lagi sendirian gini, gue memang sering memikirkan ucapan orang-orang tentang "kesalahan" gue. Tentang gue yang jago masak, jago bikin puisi, jago renang, jago suling, jago tenis meja dan jago-jago lainnya ini, gue ini, lebih memilih untuk menyerahkan diri dan cintanya pada tunarungu ganteng, atau pendeknya mereka sebut "kesalahan".

Lalu suara ketukan pintu menyadarkan lamunan gue. Gue beranjak ke pintu lalu membukanya, terlihat Dikta yang compang-camping dibopong oleh Pak Supirnya. Wajah kirinya lebam, kemeja lengan kirinya terkoyak, celananya bolong dan kekacauan lain.
Tapi Dikta tersenyum, ke gue, sambil sedikit meringis.
Gue membawa Dikta masuk. Lalu membiarkan Pak Supirnya pulang, dengan ancaman keras agar tidak memberitahu keluarga Dikta, takut mereka khawatir. Lalu sambil membersihkan dan mengobati lukanya, gue bertanya padanya dengan bahasa isyarat;
"kamu kenapa?"
"Kecelakaan," jawab Dikta sambil meringis menahan sakit.
"Gimana kejadiannya?" tanya gue lagi.
"Tadi lagi mau ke toko untuk ambil barang pesanan, lalu saat mau nyebrang ada motor menyerempet badan aku," jawab Dikta. Bahasa isyaratnya sedikit tersendat karena sepanjang lengannya terluka.
Lalu gue melihat bungkusan yang dibawa Dikta, paper bag hitam dari toko perhiasan Semar Nusantara. Gue mengernyit saat membukanya. Ada kotak cincin warna hitam, lalu gue bertanya;
"kenapa beli ini? untuk siapa?"
"sebenarnya rahasia," jawab Dikta.
gue cemberut, penasaran.
lalu Dikta menyentuh pundak gue dan berisyarat, "buka."
Gue pun membukanya, terdapat dua cincin, yang satu dengan ukiran nama gue didalamnya dan yang satu lagi ukiran nama Dikta. Gue tertegun, buat gue?
Dikta menyentuh pundak gue lagi agar gue melihat kearahnya, lalu dia berisyarat, "harusnya rahasia, tapi karena ketahuan ya udah cobain aja dulu."
Dikta tersenyum malu-malu.
Dan gue tertawa terbahak-bahak. Gila, bisa sepolos ini ya. Tapi juga semanis ini.
Gue memandang Dikta, lama. Dikta memang sering nggak paham sesuatu, gue yang harus benar-benar paham. Harusnya cincin ini dipakai di pernikahan nanti, bukan dicobain dulu. Tapi melihat bagaimana Dikta datang ke rumah gue dengan tubuh penuh luka dan senyum malu-malu saat gue menemukan kotak cincin ini, gue tau dan paham betul, laki-laki tunarungu ini sungguh-sungguh dan nggak akan menyakiti gue.
Walaupun dia nggak sempurna, namun gue rasa gue bisa merasakan kelembutan hatinya. Lewat isyaratnya, gue paham betul bagaimana dia dan lewat ketuliannya kadang dia mendengar suara hati gue.
Jadi, malam itu, adalah acara coba-coba cincin kawin dan berisyarat-isyarat tentang cinta.
Keraguan dan penyesalan gue selama ini habis sudah, yang ada hanya keyakinan akan isyarat cintanya.

-Jogjakarta. Agustus 2008