Namaku Inang, usiaku baru 18 tahun, sedang duduk di ranjang rumah sakit sambil mengupas apel dengan pisau yang tidak terlalu tajam. Di depanku ada Pak Dokter Manalu, orang batak yang penyayang dan pintar, oh iya penyabar juga.
Aku Inang, lahir dari rahim seorang pelacur yang saat itu katanya sudah tobat, ibuku pelacur. Tapi tidak lagi setelah aku lahir. Aku tak punya ayah, dan aku bersyukur karena itu berarti aku tak perlu melihat lelaki brengsek yang menghamili ibu dan lalu pergi. Nama ibuku Talita, nama yang bagus.
Aku lahir sambil mengidap leukimia yang sampai sekarang belum juga sembuh. Tapi yang lebih membingungkan kenapa sampai sekarang aku belum juga mati. padahal seharusnya sudah.
lupa bercerita tentang rumahku, rumah Ibu Talita, rusun di pinggir kota jakarta yang tampak kumuh. Biaya sewa murah karena sudah dibantu oleh pemerintah. Ibu bekerja di restoran sebagai tukang cuci piring, aku ingin kerja di restoran sebagai koki.
Gaji ibu jelas tidak cukup untuk biaya berobatku, jadi akan ku jelaskan bagaimana aku bertemu Pak Dokter Manalu.
Waktu itu aku sakit, umurku kira-kira 15 tahun saat itu, aku dibawa kerumah sakit oleh ibu dan tetanggaku. Aku koma selama seminggu, dan setelahnya aku jarang meninggalkan rumah sakit, itu menjadi rumah keduaku.
Aku bertanya pada ibu bagaimana ia bisa membayarnya, dia bilang ada pak dokter yang menyayangiku, jadi aku dibiayai olehnya. Ah terserahlah, dia orang kaya yang baik dan tolol, mau bagaimanapun aku tak bisa sembuh.
Lalu aku bertemu Pak Dokter, dia memancarkan aura 'ayah' yang selama ini hanya bisa kulihat di televisi hasil akting si aktor. Pak Dokter tidak berakting.
"Nah Inang, kamu melamun lagi. Saya udah bilang itu salah satu faktor kuat kamu gak bisa bangkit dari ranjang, melamun!" suara Pak Dokter memutuskan ceritaku padamu.
"Tidak ada larangan untuk melamun, berimajinasi, bermimpi, berkhayal, tidak ada larangan untuk itu," jawabku sambil memakan apel yang sudah kupotong.
Pak Dokter mengambil satu, "saya lelah, hidup kok gini-gini amat."
"hidup sudah baik, tak usah mengeluh,"
"kemarin ibumu bercerita sesuatu,"
"dan apakah itu?" tanyaku sembari aku merebahkan tubuhku diranjang karena lelah.
"dia tau kamu bercinta dengan anakku minggu lalu, dia sedih," jawab pak dokter sambil tersenyum.
aku terkikik, "aku tumbuh dewasa, sudah 18 tahun dan sebentar lagi akan mati, aku hanya ingin tau bagaimana rasanya bercinta. kenapa sih dia harus sedih?"
Pak Dokter berdeham, "sebenarnya, dia hanya malu kepadaku."
"malu? malu karena aku yang sudah dihidupi oleh uang denganmu malah bercinta dengan anakmu? begitu bukan?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi.
"ku kira begitu," jawab Pak Dokter singkat, dia tau kalau aku sudah begini tak perlu dijelaskan panjang lebar lagi atau aku akan benar-benar berteriak.
"Pak Dokter, bagaimana denganmu?" tanyaku pelan.
"tidak masalah Inang, toh anakku tak marah atau bereaksi tak senang. dunia ini terus berputar, hidup kita masing-masing harus berjalan dan tinggalkan masa lalu. sudah, jangan ributkan apa yang sudah terjadi, waktu tak akan kembali," Pak Dokter memberitahu.
"sebenarnya, agak aneh, anak lelakimu yang tampan itu mau bercinta dengan perempuan botak sepertiku," ucapku sambil terkikik. Pak Dokter malah terbahak.
lalu hening.
hanya terdengar kunyahan pak dokter yang sedang makan apel.
"Dalam dua tahun terakhir, ibumu mempertanyakan kehadiranmu baginya," ucap pak dokter.
"apa?"
"dia bertanya-tanya, apa arti dirimu baginya, kenapa kau datang ke kehidupannya 18 tahun lalu, kenapa kau datang membawa leukimia ditubuhmu dan menyimpannya sendiri, apa yang coba Tuhan peringatkan kepadanya lewat dirimu."
"dia bicara begitu padamu?"
pak dokter mengangguk.
"pak dokter, menjadi seorang pengidap leukimia mungkin hal yang sulit, tapi mempunyai anak yang mengidap leukimia pasti hal yang paling sulit. entah apa yang dipikirka ibu saat melihatku berbaring, saat melihatmu memeriksaku, entah."
"tapi, hidup harus terus berjalan, dengan atau tanpa makna," balas pak dokter.
"aku hanya menikmati hidup ini tanpa kebebasan. tapi ibu, pak dokter dan suster-suster ada disini, aku baik-baik saja"
"Life must go on, Inang."
"sekalipun aku mati, hidup ini harus terus berjalan, tapi entah hidup siapa"
"cepatlah tidur, sudah larut."
"terimakasih pak dokter, bilang terimakasih juga pada anakmu" aku tersenyum
"iya, tapi jangan mati dulu"
"hehe enggak kok, sebentar lagi"
aku tertidur
tapi sebentar lagi mati
sebentar lagi mati...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar