Pembaca, di lantai dua rumahku, terdapat ruang kosong dekat gudang. Di sana ada satu jendela yg menghadap ke belakang rumahku, ke jendela kamar orangtuaku di lantai satu, dan ke halaman kecil belakang rumahku. Biasanya aku duduk di sana, lalu Atharwa datang. Lewat mana? Aku pun tak mengerti.
Kemarin sore pun begitu. Dia tiba-tiba datang saat aku duduk di dekat jendela sambil minum teh.
"Atharwa, bulan depan aku ke Bali, udah tau?" tanyaku tanpa menatapnya.
Atharwa hanya berdiri di sebelahku, sambil memegang pundakku.
"Tau, bahkan sebelum kamu daftar kesana, aku udah tau," balasnya.
"Serius?"
Dia hanya mengangkat bahu.
Sudahkah aku bilang padamu, Pembaca, bahwa dia menjelaskan duniaku sekaligus menyimpan rahasia. Sedang aku tak pernah tau sedikitpun soal dunianya, apalagi rahasianya.
"Kalau aku ke Bali, kamu ikut ya? Temenin aku. Aku pasti kesepian kalau nggak ada kamu," ucapku lagi.
"Belum tau, tergantung semesta mengizinkan atau nggak," balasnya.
Aku menatapnya, wajahnya teduh dengan pandangan lurus menghadap rumah tetangga.
"O come on, kita ini punya andil terhadap diri kita, Atharwa," ujarku sambil tertawa.
"No, we have not, Pirus. Ada Yang Maha Kuasa yang mengatur segalanya," jelasnya sambil tersenyum ke arahku.
"Iya sih benar."
"Baik-baik ya di sana. Kalau aku nggak bisa ikut, kamu harus cari teman yang banyak biar nggak kesepian. Jangan sinis jadi orang, jangan cuek, jangan 'jahat', jangan keluarkan sisi negatifmu, Pirus," gumamnya, dia tak menatapku.
Apa di matamu itu ada kesedihan untukku, Atharwa?
Aku terkekeh, "memangnya aku jahat?"
"Bagiku enggak, kamu hanya mau pengakuan. Dan dunia ini lebih mudah mengakui kejahatan, dibanding kebaikan," jawabnya.
"Kalau bisa, kamu ikut ya? Nggak akan ada orang yang sebaik kamu, nggak ada orang yang ngerti aku selain kamu,"
Atharwa tersenyum, "liat aja nanti."
Kami terdiam. Menatap langit sore yang mulai menampakkan gurat jingga. Wajahnya teduh dan dihias cahaya lembayung.
"Lembayung sore ini indah," ucapku.
"Seindah kamu," balas Atharwa.
Aku tersenyum. Makhluk apa sih dia. Kenapa dia begini sayang padaku? Mengapa dia membuat aku nyaman dengan eksistensinya yang kadang?
Ampun Gusti, jangan buat aku tenggelam lebih dalam pada dia yang memberiku genggam.
"Kamu tuh makhluk apa sih? Kamu selalu ada buat aku, sampai aku nggak mau cari siapa-siapa lagi. Kamu aja sudah cukup buatku. Aku sama sekali nggak tau duniamu, bahkan rahasiamu. Sedang kamu menjelaskan duniaku juga menyimpan rahasiaku. Atharwa, aku juga ingin kamu berbagi denganku," ucapku padanya. Baru kali ini aku mengeluarkan isi kepalaku tentang ini padanya.
Atharwa menatapku dalam. Matanya seringkali membuat aku hanyut, terbuai, dalam duniaku yang dipaparnya, dalam rahasiaku yang disimpannya.
Kemudia ia berlutut, di sampingku yang diam terduduk. Ia menyentuk tanganku. Terasa nyata sekaligus penuh imaji yang membara.
"Jangan cemas soal aku. Aku hanya dikirim semesta kepadamu. Aku hanya temani kamu sampai pada saat yang kelak akan kamu tentukan. Jangan risau, Pirus, jangan pernah. Aku disini untukmu, bukan kamu yang disini untukku," jelasnya.
Kalau aku jatuh cinta padamu bagaimana, Atharwa?
"Kamu boleh jatuh cinta padaku, tapi pikirkan dulu tentang perbedaan kita, Pirus. Aku bahkan sudah lebih dulu mencintaimu. Pirus, percayalah," ucapnya, membalas kata dalam pikiranku.
"Kamu mencintaiku?"
"Dari dulu. Tapi aku sadar kita berbeda,"
"Aku tak ingin beda. Aku tak ingin Arjuna, aku ingin kamu Atharwa,"
Atharwa hanya menatapku. Setitik airmata jatuh dipipiku.
Atharwa tersenyum, lalu hilang menjadi sekumpulan asap. Meninggalkan aku berairmata bersama langit gelap senja.
Rasanya, tak akan mampu aku sendiri tanpamu, Atharwa.
Selasa, 27 September 2016
Rabu, 21 September 2016
Tentang 'Sebelum Pagi Terulang Kembali' Menurut Saya
Saya jarang bicara soal film, jarang sekali. Namun, kali ini saya sangat sangat ingin bicara soal film Indonesia yang satu ini. Judulnya; Sebelum Pagi Terulang Kembali.
Mungkin juga bahasan saya kali ini nggak sesuai target, karena sebagian besar pembaca blog saya cuma anak muda umur 16 sampai 23 tahun.
Ah peduli setan, memang mereka siapa? Nggak dibaca pun nggak apa, kok.
Mumpung film ini masih hangat dalam ingatan saya, saya mau kasih tau kalau film ini luar biasa bagus. Saya nggak bisa melihat kekurangan suatu hal yang bukan bidang saya, jadi disini saya akan bicara soal yang baik-baik saja, bukan buruk-buruknya.
Mari kita bicara dulu soal alur dan karakternya;
Saya dibawa mengalir di film ini. Saya dibawa masuk ke rumah Pak Yan (Alex Komang) untuk menyaksikan semua intrik dan kejadian yang ada di rumah beliau.
Saya dibawa untuk ikut merasai, meresapi.
Lebay kah? Oh tentu saja, karena film ini pun bagusnya luar biasa lebay. Saya tidak bercanda.
Di awali dengan sosok Satria (Fauzi Baadila) anak Pak Yan, yang merupakan seorang laki-laki yang bekerja di perusahaan swasta. Beda dengan Pak Yan yang bekerja di dinas perhubungan dan punya sifat 'lurus' dan berprinsip, Satria justru punya sifat nyeleneh dan bebas.
Lalu kepulangan kakak Satria, Firman (T. Rifnu Wikana) yang baru cerai dan pengangguran. Keadaan Firman bertolak belakang dengan Satria yang kaya raya, hedonis dan sibuk, Firman justru miskin dan tak punya aktivitas pasca kepulangannya ke rumah Pak Yan. Konflik dalam diri Firman, menurut saya adalah, dia anak pertama yang hidupnya paling berantakan di antara kedua adiknya.
Lalu, anak terakhir Pak Yan, Dian (Adinia Wirasti) yang diceritakan akan segera menikah dengan Hasan (Ibnu Jamil) yang merupakan anggota dewan.
Dua anak laki-laki Pak Yan punya konflik batin masing-masing. Firman berpikir bahwa ia belum bisa membahagiakan kedua orangtuanya, dan selalu merasa dipandang sebelah mata oleh ayah dan juga seluruh keluarga. Sedangkan Satria merasa bahwa ayahnya tak pernah memandangnya, menyayanginya dan menghargainya.
Diawali dengan kerja sama proyek yang ditawarkan Satria kepada Pak Yan, lalu ternyata proyek tersebut mengandung segala macam kecurangan yang berbanding terbalik dengan prinsip Pak Yan. Satria ternyata dimanfaatkan oleh Hasan, calon suami Dian. Bukan hanya menyeret Pak Yan, Satria juga menyeret kakaknya, Firman, dalam berjalannya proyek tersebut.
Hasan, Satria, Firman dan Pak Yan ada dalam lingkaran kecurangan itu.
Namun, segera setelah Pak Yan sadar, ia memilih mengundurkan diri. Satria, Firman dan Hasan masih dalam lingkaran tersebut.
Hasan memanfaatkan Satria, Satria memanfaatkan Firman.
Dalam perihal asmara, Firman yang baru cerai dengan istrinya ternyata jatuh cinta pada Nisa, pembantu di rumah sekaligus istri dari Jaka, sopir pribadi Pak Yan. Firman merasa, hanya Nisa-lah yang menerima dirinya apa adanya, tanpa menuntut apapun. Maka ia jadi 'buta' untuk mendapatkan rasa yang selama ini tidak didapatkannya dari siapapun.
Sedangkan Satria berhubungan dengan Caca yang merupakan seorang player. Caca merupakan anak jendral. Namun, tidak diceritakan lebih lanjut soal asmara mereka.
Dian sudah bersiap akan menikah dengan Hasan beberapa hari lagi.
Klimaks terjadi sangat cepat dan brutal. Dalam satu atau dua kali waktu, semua masalah terkupas. Konflik memanas.
Hari itu H-1 acara pernikahan Dian. Semua orang sibuk menata ruangan di rumah Pak Yan. Lalu, Ibu, istri Pak Yan, memergoki Firman yang sedang bermesraan dengan Nisa. Lalu, sore hari, seorang wanita datang dan mengaku sebagai istri Hasan. Sedangkan di rumah Jaka, Jaka menemukan barang-barang pemberian Firman pada Nisa.
Firman mengakui perbuatannya pada Ibu. Dian tidak jadi menikah. Jaka dan Nisa cerai.
Beberapa hari kemudian, Firman dan Satria ditangkap tangan oleh KPK, bersama dengan beberapa anggota dewan. Tidak dijelaskan apakah Hasan ikut tertangkap atau tidak.
Film ini sungguh-sungguh menjelaskan kepada saya perihal peran. Tentang bagaimana peran ayah, ibu, kakak, adik, pacar, teman. Lebih tepatnya, peran kita sebagai manusia. Film ini tidak menyediakan keterkejutan atau apapun, misal si A ternyata di belakang si B, dia berkhianat pada si A, tokoh in ternyata begini, kasus ini ternyata begini. Kita seperti sudah diberitahu, kita hanya tinggal menunggu. Film ini tidak seperti 'siapa yang membawa granat dan akan meledakkannya', tapi lebih kepada 'kira-kira kapan bom waktu yang dibawa si anu meledak'.
Film ini tidak memberi kejutan, namun lebih kepada tamparan. Penonton seperti saya puas tanpa perlu berprasangka.
Masalah casting, saya juga merasa cocok. Meskipun banyak artisnya yang out of profile, namun mereka bermain peran dengan baik. Contohnya Adinia, karakternya biasanya kuat, terlihat independen sekaligus berantakan, tapi di film ini dia menjadi perempuan lurus dan manis sekaligus si bungsu yang disayang ayah, ibu, kakak dan calon suaminya. Adinia membawakan peran perempuan happy yang selalu disayang, bahkan terlihat tepat saat membawakan kesedihan karena dibatalkannya pernikahan.
Setting keluarga juga kentara. Dimana keluarga menjadi tempat pertama untuk sosialisasi tentang norma. Dimana selain kasih sayang, masih banyak yang bisa diberikan keluarga, salah satunya masalah. Film ini nggak melulu menceritakan soal keluarga sebagai tempat berlindung, tempat pulang, ada kalanya keluarga menjadi seteru, meskipun pada akhirnya akan bersatu. Saya menyukai karakter ayah dalam diri Pak Yan yang dibawakan dengan baik oleh Alex Komang, karakter bijaksana yang bisa juga kebingungan soal merespon anak-anaknya. Saya juga menyukai karakter ibu dalam diri Ratna yang dibawakan dengan apik oleh Nungki Kusumastuti, karakter yang jernih dalam keluarga, sekaligus gamang sebagai pribadi.
Mungkin kalian juga akan sangat sangat menyukai Eyang. Saya pun demikian.
Saya rasa film ini bukan hanya perihal kecurangan, korupsi, proyek, jabatan atau sejenisnya. Lebih dari itu, film ini menunjukkan kepada kita bagaimana sebuah keluarga itu pada umumnya. Konflik apa yang ada di dalamnya. Siapa mencintai siapa, siapa menginginkan siapa, siapa bersama siapa, siapa seharusnya.
Film ini membawa kenyataan tentang manusia, keluarga, dan kehidupan. Film ini tidak mengada-ada.
Sekian.
Mungkin juga bahasan saya kali ini nggak sesuai target, karena sebagian besar pembaca blog saya cuma anak muda umur 16 sampai 23 tahun.
Ah peduli setan, memang mereka siapa? Nggak dibaca pun nggak apa, kok.
Mumpung film ini masih hangat dalam ingatan saya, saya mau kasih tau kalau film ini luar biasa bagus. Saya nggak bisa melihat kekurangan suatu hal yang bukan bidang saya, jadi disini saya akan bicara soal yang baik-baik saja, bukan buruk-buruknya.
Mari kita bicara dulu soal alur dan karakternya;
Saya dibawa mengalir di film ini. Saya dibawa masuk ke rumah Pak Yan (Alex Komang) untuk menyaksikan semua intrik dan kejadian yang ada di rumah beliau.
Saya dibawa untuk ikut merasai, meresapi.
Lebay kah? Oh tentu saja, karena film ini pun bagusnya luar biasa lebay. Saya tidak bercanda.
Di awali dengan sosok Satria (Fauzi Baadila) anak Pak Yan, yang merupakan seorang laki-laki yang bekerja di perusahaan swasta. Beda dengan Pak Yan yang bekerja di dinas perhubungan dan punya sifat 'lurus' dan berprinsip, Satria justru punya sifat nyeleneh dan bebas.
Lalu kepulangan kakak Satria, Firman (T. Rifnu Wikana) yang baru cerai dan pengangguran. Keadaan Firman bertolak belakang dengan Satria yang kaya raya, hedonis dan sibuk, Firman justru miskin dan tak punya aktivitas pasca kepulangannya ke rumah Pak Yan. Konflik dalam diri Firman, menurut saya adalah, dia anak pertama yang hidupnya paling berantakan di antara kedua adiknya.
Lalu, anak terakhir Pak Yan, Dian (Adinia Wirasti) yang diceritakan akan segera menikah dengan Hasan (Ibnu Jamil) yang merupakan anggota dewan.
Dua anak laki-laki Pak Yan punya konflik batin masing-masing. Firman berpikir bahwa ia belum bisa membahagiakan kedua orangtuanya, dan selalu merasa dipandang sebelah mata oleh ayah dan juga seluruh keluarga. Sedangkan Satria merasa bahwa ayahnya tak pernah memandangnya, menyayanginya dan menghargainya.
Diawali dengan kerja sama proyek yang ditawarkan Satria kepada Pak Yan, lalu ternyata proyek tersebut mengandung segala macam kecurangan yang berbanding terbalik dengan prinsip Pak Yan. Satria ternyata dimanfaatkan oleh Hasan, calon suami Dian. Bukan hanya menyeret Pak Yan, Satria juga menyeret kakaknya, Firman, dalam berjalannya proyek tersebut.
Hasan, Satria, Firman dan Pak Yan ada dalam lingkaran kecurangan itu.
Namun, segera setelah Pak Yan sadar, ia memilih mengundurkan diri. Satria, Firman dan Hasan masih dalam lingkaran tersebut.
Hasan memanfaatkan Satria, Satria memanfaatkan Firman.
Dalam perihal asmara, Firman yang baru cerai dengan istrinya ternyata jatuh cinta pada Nisa, pembantu di rumah sekaligus istri dari Jaka, sopir pribadi Pak Yan. Firman merasa, hanya Nisa-lah yang menerima dirinya apa adanya, tanpa menuntut apapun. Maka ia jadi 'buta' untuk mendapatkan rasa yang selama ini tidak didapatkannya dari siapapun.
Sedangkan Satria berhubungan dengan Caca yang merupakan seorang player. Caca merupakan anak jendral. Namun, tidak diceritakan lebih lanjut soal asmara mereka.
Dian sudah bersiap akan menikah dengan Hasan beberapa hari lagi.
Klimaks terjadi sangat cepat dan brutal. Dalam satu atau dua kali waktu, semua masalah terkupas. Konflik memanas.
Hari itu H-1 acara pernikahan Dian. Semua orang sibuk menata ruangan di rumah Pak Yan. Lalu, Ibu, istri Pak Yan, memergoki Firman yang sedang bermesraan dengan Nisa. Lalu, sore hari, seorang wanita datang dan mengaku sebagai istri Hasan. Sedangkan di rumah Jaka, Jaka menemukan barang-barang pemberian Firman pada Nisa.
Firman mengakui perbuatannya pada Ibu. Dian tidak jadi menikah. Jaka dan Nisa cerai.
Beberapa hari kemudian, Firman dan Satria ditangkap tangan oleh KPK, bersama dengan beberapa anggota dewan. Tidak dijelaskan apakah Hasan ikut tertangkap atau tidak.
Film ini sungguh-sungguh menjelaskan kepada saya perihal peran. Tentang bagaimana peran ayah, ibu, kakak, adik, pacar, teman. Lebih tepatnya, peran kita sebagai manusia. Film ini tidak menyediakan keterkejutan atau apapun, misal si A ternyata di belakang si B, dia berkhianat pada si A, tokoh in ternyata begini, kasus ini ternyata begini. Kita seperti sudah diberitahu, kita hanya tinggal menunggu. Film ini tidak seperti 'siapa yang membawa granat dan akan meledakkannya', tapi lebih kepada 'kira-kira kapan bom waktu yang dibawa si anu meledak'.
Film ini tidak memberi kejutan, namun lebih kepada tamparan. Penonton seperti saya puas tanpa perlu berprasangka.
Masalah casting, saya juga merasa cocok. Meskipun banyak artisnya yang out of profile, namun mereka bermain peran dengan baik. Contohnya Adinia, karakternya biasanya kuat, terlihat independen sekaligus berantakan, tapi di film ini dia menjadi perempuan lurus dan manis sekaligus si bungsu yang disayang ayah, ibu, kakak dan calon suaminya. Adinia membawakan peran perempuan happy yang selalu disayang, bahkan terlihat tepat saat membawakan kesedihan karena dibatalkannya pernikahan.
Setting keluarga juga kentara. Dimana keluarga menjadi tempat pertama untuk sosialisasi tentang norma. Dimana selain kasih sayang, masih banyak yang bisa diberikan keluarga, salah satunya masalah. Film ini nggak melulu menceritakan soal keluarga sebagai tempat berlindung, tempat pulang, ada kalanya keluarga menjadi seteru, meskipun pada akhirnya akan bersatu. Saya menyukai karakter ayah dalam diri Pak Yan yang dibawakan dengan baik oleh Alex Komang, karakter bijaksana yang bisa juga kebingungan soal merespon anak-anaknya. Saya juga menyukai karakter ibu dalam diri Ratna yang dibawakan dengan apik oleh Nungki Kusumastuti, karakter yang jernih dalam keluarga, sekaligus gamang sebagai pribadi.
Mungkin kalian juga akan sangat sangat menyukai Eyang. Saya pun demikian.
Saya rasa film ini bukan hanya perihal kecurangan, korupsi, proyek, jabatan atau sejenisnya. Lebih dari itu, film ini menunjukkan kepada kita bagaimana sebuah keluarga itu pada umumnya. Konflik apa yang ada di dalamnya. Siapa mencintai siapa, siapa menginginkan siapa, siapa bersama siapa, siapa seharusnya.
Film ini membawa kenyataan tentang manusia, keluarga, dan kehidupan. Film ini tidak mengada-ada.
Sekian.
Minggu, 11 September 2016
Mahasiswa/i yang Terhormat
Halo, mahasiswa-mahasiswi yang terhormat, teman-temanku.
Anggap saja aku temanmu, pun begitu selebihnya biarlah berlalu. Aku ingin bercerita, menyampaikan isi pikiran, mengkritik atau bahkan menghujatmu, teman. Maaf, yang terakhir biarlah menjadi persepsi masing-masing. Kendati aku menyuarakannya lewat tulisan di blog pribadiku, aku ingin kau buka pikiranmu seluas bangunan universitasmu.
Persetan dengan universitas, just open your mind no matter what, universitas hanya perihal obrolan orangtuamu dengan tetangga.
Teman, beberapa bulan lalu, alangkah aku bahagia melihat namamu dibarengi dengan kata 'Diterima' dalam kolom khusus penerimaan mahasiswa baru di universitas impianmu. Kendati demikian, teman, aku tak ubahnya orang yang berdoa agar kau berguna, sekalipun doa yang satu itu terdengar seperti mencemooh dirimu yang sebelumnya.
Harmonis, saat pikiran dan impian tergabung dalam kenyataan.
Tapi perihal kau menjadi mahasiswa, teman, disebuah universitas besar nan agung, mengapa aku sangsi kau bisa jadi orang besar nan agung? Ya, aku sangsi. Bukan iri. Aku tak pernah ingin menyentuh hal berbau gengsi, aku tak sudi. Aku sangsi, dengan kepribadian dan pemikiranmu yang masih belia dan penuh haha-hihi, dengan tabiatmu yang suka mondar-mandir di media sosial tanpa secuil pun hal penting yang bisa aku dapati disana.
Teman, adakah terlintas dalam benakmu bahwa engkau masih bersandar pada tembok rutinitas nyaman dibarengi uang bulanan? Berontaklah, teman, karena hidup bukan cuma sekedar naik kereta dan jauh dari orangtua.
Aku amati engkau dari jauh, berkecimpung dalam lapisan sosial yang tak ubahnya dengan belia SMA. Bilang bahwa aku sok tau, tapi pernahkah melihat seorang kritikus film ikut andil dalam pembuatan film tersebut? Yang berjarak akan melihat, sedang yang dekat akan merasa kelewat nikmat.
Teman, apakah begitu proses pendewasaan yang seharusnya? Butalah dari pujian fakultas atau universitas, engkau bukan dibentuk dari almamatermu. Engkau adalah engkau, yang meskipun cumlaude tetap realistis bukan penuh narsistik.
Engkau pasti akan bilang aku sama sekali tidak tau environment macam apa yang selama ini menghajarmu. Namun, teman, pernahkah kau berpikir ada ribuan mahasiswa di universitasmu? Dan pernahkah kau berpikir lagi bahwa disana pasti terbentuk berbagai lapisan sosial yang bisa kau pilih? Masyarakatnya heterogen, aku tau benar. Yang aku tak tau, kenapa kau memilih kelompok sosial yang berjibaku atas nama uang bulanan? Kenapa kau pilih pendakian sosial dengan uang, teman? Padahal ada begitu banyak kelompok sosial yang bergairah dengan berbagai macam hal penting yang baik maupun buruk. Asal tidak rendahan. Asal tidak gampangan. Asal tidak kampungan. Asal tidak kemahalan perihal uang bulanan. Tentu, kau bisa memilih dengan bijak jika kau berpikir.
Teman, mahasiswa ekonomi UI hanya akan jadi alumni ekonomi UI tanpa kelanjutan jika ia tak berjuang untuk melanjuti. Mahasiswa komunikasi UNPAD hanya akan jadi alumni komunikasi UNPAD dengan gelar tanpa jabatan jika ia tak mencoba untuk menjabat. Mahasiswa sastra UNAIR hanya akan jadi alumni sastra UNAIR tanpa pencapaian jika ia tak coba untuk mencapai. Begitu juga dengan yang lainnya, teman.
Jika hari ini kau hanya mengerjakan sederet tugas lalu tidur atau nonton drama korea, pasca kelulusan kau tidak akan mengenang apa-apa, kau belum sempat mencicipi pengalaman apapun, kau menyesal bahwa semuanya hanya jadi sia-sia. Yang kau ingat hanya tugas dan kumpul-kumpul tugas.
Tiga atau empat tahunmu belum apa-apa.
Kau tidak pernah mendapatkan apa-apa.
Teman, ayo, jangan dibaca lagi jika ini malah membuatmu takut atau kau merasa aku beromong-kosong. Tutup halaman ini.
Aku hanya mau yang tergugahlah yang membaca ini.
Jika Embun Kinara dalam Klandestin bilang bahwa jangan lulus dulu sebelum kau ikut demo, aku akan bilang hal yang sama pada kalian yang berjiwa berani. Atau jika kalian tidak seberani itu, lakukan aksi sosial di Merapi dan jangan hanya selfie di Kerinci. Atau jika kalian tidak seberani itu, kunjungi tempat-tempat bersejarah dan berfilosofilah, jangan hanya berkunjung ke cafe dan check-in Path, itu tak berarti, teman. Atau jika kau menganggap dirimu manusia modern, bergabunglah ke dalam asosiasi berbasis kepedulian dan jadikan kepedulianmu alat modernisasi bagi sisi dirimu yang ternyata bigot. Atau jika kau seorang yang religius, buatlah sekumpulan manusia yang menjunjung tinggi nilai keagamaan, dan bukannya menjunjung tinggi ego.
Seperti omong kosong?
Tepat (jika kau seorang teman yang bodoh dan tak mau dikritik)
Seperti sindiran?
Benar (jika kau seorang teman yang memenuhi timeline-ku dengan akun galau yang tak berdasar)
Atau tepat seperti apa yang mau kau dengar?
Ya, kau temanku yang terjerumus dan aku tak tega melihatmu mati dengan ketiadaan tanpa sempat aku peringatkan.
Orang-orang tak berguna seperti teman-temanmu atau bahkan kau sendiri, adalah orang-orang yang tersedia untuk dimanfaatkan. Jadilah berguna agar bermanfaat tanpa perlu dimanfaatkan. Jadilah berguna karena kau memang begitu, bukan karena mereka ingin kau begitu.
Teman, adakah hal yang lebih penting ketimbang mengingatkanmu?
Aku sayang kau, teman. Sayang sekali.
Anggap saja aku temanmu, pun begitu selebihnya biarlah berlalu. Aku ingin bercerita, menyampaikan isi pikiran, mengkritik atau bahkan menghujatmu, teman. Maaf, yang terakhir biarlah menjadi persepsi masing-masing. Kendati aku menyuarakannya lewat tulisan di blog pribadiku, aku ingin kau buka pikiranmu seluas bangunan universitasmu.
Persetan dengan universitas, just open your mind no matter what, universitas hanya perihal obrolan orangtuamu dengan tetangga.
Teman, beberapa bulan lalu, alangkah aku bahagia melihat namamu dibarengi dengan kata 'Diterima' dalam kolom khusus penerimaan mahasiswa baru di universitas impianmu. Kendati demikian, teman, aku tak ubahnya orang yang berdoa agar kau berguna, sekalipun doa yang satu itu terdengar seperti mencemooh dirimu yang sebelumnya.
Harmonis, saat pikiran dan impian tergabung dalam kenyataan.
Tapi perihal kau menjadi mahasiswa, teman, disebuah universitas besar nan agung, mengapa aku sangsi kau bisa jadi orang besar nan agung? Ya, aku sangsi. Bukan iri. Aku tak pernah ingin menyentuh hal berbau gengsi, aku tak sudi. Aku sangsi, dengan kepribadian dan pemikiranmu yang masih belia dan penuh haha-hihi, dengan tabiatmu yang suka mondar-mandir di media sosial tanpa secuil pun hal penting yang bisa aku dapati disana.
Teman, adakah terlintas dalam benakmu bahwa engkau masih bersandar pada tembok rutinitas nyaman dibarengi uang bulanan? Berontaklah, teman, karena hidup bukan cuma sekedar naik kereta dan jauh dari orangtua.
Aku amati engkau dari jauh, berkecimpung dalam lapisan sosial yang tak ubahnya dengan belia SMA. Bilang bahwa aku sok tau, tapi pernahkah melihat seorang kritikus film ikut andil dalam pembuatan film tersebut? Yang berjarak akan melihat, sedang yang dekat akan merasa kelewat nikmat.
Teman, apakah begitu proses pendewasaan yang seharusnya? Butalah dari pujian fakultas atau universitas, engkau bukan dibentuk dari almamatermu. Engkau adalah engkau, yang meskipun cumlaude tetap realistis bukan penuh narsistik.
Engkau pasti akan bilang aku sama sekali tidak tau environment macam apa yang selama ini menghajarmu. Namun, teman, pernahkah kau berpikir ada ribuan mahasiswa di universitasmu? Dan pernahkah kau berpikir lagi bahwa disana pasti terbentuk berbagai lapisan sosial yang bisa kau pilih? Masyarakatnya heterogen, aku tau benar. Yang aku tak tau, kenapa kau memilih kelompok sosial yang berjibaku atas nama uang bulanan? Kenapa kau pilih pendakian sosial dengan uang, teman? Padahal ada begitu banyak kelompok sosial yang bergairah dengan berbagai macam hal penting yang baik maupun buruk. Asal tidak rendahan. Asal tidak gampangan. Asal tidak kampungan. Asal tidak kemahalan perihal uang bulanan. Tentu, kau bisa memilih dengan bijak jika kau berpikir.
Teman, mahasiswa ekonomi UI hanya akan jadi alumni ekonomi UI tanpa kelanjutan jika ia tak berjuang untuk melanjuti. Mahasiswa komunikasi UNPAD hanya akan jadi alumni komunikasi UNPAD dengan gelar tanpa jabatan jika ia tak mencoba untuk menjabat. Mahasiswa sastra UNAIR hanya akan jadi alumni sastra UNAIR tanpa pencapaian jika ia tak coba untuk mencapai. Begitu juga dengan yang lainnya, teman.
Jika hari ini kau hanya mengerjakan sederet tugas lalu tidur atau nonton drama korea, pasca kelulusan kau tidak akan mengenang apa-apa, kau belum sempat mencicipi pengalaman apapun, kau menyesal bahwa semuanya hanya jadi sia-sia. Yang kau ingat hanya tugas dan kumpul-kumpul tugas.
Tiga atau empat tahunmu belum apa-apa.
Kau tidak pernah mendapatkan apa-apa.
Teman, ayo, jangan dibaca lagi jika ini malah membuatmu takut atau kau merasa aku beromong-kosong. Tutup halaman ini.
Aku hanya mau yang tergugahlah yang membaca ini.
Jika Embun Kinara dalam Klandestin bilang bahwa jangan lulus dulu sebelum kau ikut demo, aku akan bilang hal yang sama pada kalian yang berjiwa berani. Atau jika kalian tidak seberani itu, lakukan aksi sosial di Merapi dan jangan hanya selfie di Kerinci. Atau jika kalian tidak seberani itu, kunjungi tempat-tempat bersejarah dan berfilosofilah, jangan hanya berkunjung ke cafe dan check-in Path, itu tak berarti, teman. Atau jika kau menganggap dirimu manusia modern, bergabunglah ke dalam asosiasi berbasis kepedulian dan jadikan kepedulianmu alat modernisasi bagi sisi dirimu yang ternyata bigot. Atau jika kau seorang yang religius, buatlah sekumpulan manusia yang menjunjung tinggi nilai keagamaan, dan bukannya menjunjung tinggi ego.
Seperti omong kosong?
Tepat (jika kau seorang teman yang bodoh dan tak mau dikritik)
Seperti sindiran?
Benar (jika kau seorang teman yang memenuhi timeline-ku dengan akun galau yang tak berdasar)
Atau tepat seperti apa yang mau kau dengar?
Ya, kau temanku yang terjerumus dan aku tak tega melihatmu mati dengan ketiadaan tanpa sempat aku peringatkan.
Orang-orang tak berguna seperti teman-temanmu atau bahkan kau sendiri, adalah orang-orang yang tersedia untuk dimanfaatkan. Jadilah berguna agar bermanfaat tanpa perlu dimanfaatkan. Jadilah berguna karena kau memang begitu, bukan karena mereka ingin kau begitu.
Teman, adakah hal yang lebih penting ketimbang mengingatkanmu?
Aku sayang kau, teman. Sayang sekali.
Jumat, 09 September 2016
Arjuna untuk Subadra. #Atharwa
-Malam ini, aku duduk dekat jendela, kiranya langit tak bertuan bulan ataupun bintang. Tiba-tiba, Atharwa sudah berdiri di sebelahku, menarik kursi di dekat ku lalu duduk. Ia tak menghiraukan aku dan asap rokokku.
Oh, jangan kau tanya dari mana datangnya ia, pun kemana perginya.
"Ngapain?" tanyaku.
"Duduk," jawabnya, dibarengi senyum yang damai. Jika tak merasa segini dekat dan sayang dengannya, mungkin akan aku pacari ia karena senyumnya.
Aku hanya hembuskan asap ke arah wajahnya.
Ia pandangi aku lekat, "berhentilah hembuskan asap kematian."
Aku terkikik, "ayolah Atharwa, ini Jakarta."
"Bekasi,"
Aku mendecak.
"Carilah kebahagiaan yang lain," ucapnya lagi.
"Misalnya?"
"Carilah cinta,"
Aku terbahak, "sudah ada dikeluargaku, tak perlu repot."
"Dari seseorang, laki-laki."
"Why should I?" tanyaku.
"Mau melajang seumur hidup, heh?" balasnya kesal.
"Kenapa? Aku punya kamu yang sayang sama aku," balasku sambil menatapnya lekat.
Atharwa berdecak.
"Oh, atau kamu ada niatan untuk pergi?" tanyaku cepat.
"Aku nggak bisa terus-terusan jagain kamu," jawabnya. Ada nada frustasi?
"Aku memang merepotkan," ucapku, lemah. Sembari bersandar kembali pada kursi dan menatap langit.
"Carilah seorang Arjuna," ucap Atharwa. Ternyata dia belum selesai menguliahi aku dengan wejangannya.
"Diam, Atharwa,"
"Aku serius, Pirus. Carilah Arjuna untukmu!" dia panggil aku 'Pirus', saat situasi berubah serius. Selalu begitu.
"Kenapa harus Arjuna saat aku temukan seorang Bisma dalam dirimu? Bisma yang hanya mencintai satu orang, kamu yang hanya mencintai aku. Kenapa?" tanyaku, mendesak.
Dia menghela napas, "itu berbeda."
"Tell me the different, Atharwa, tell me,"
"Pirus, percayalah aku menyayangi bahkan mencintaimu, namun aku bukan untuk jadi milikmu selamanya. Aku menemanimu sampai saat yang telah ditentukan," jelasnya.
"Kapan saat itu tiba?"
"Kamu yang tentukan."
"Kalau begitu tak akan pernah aku menentukannya," jawabku, sengit.
Atharwa meraih kepalaku, membuatku terpaksa memandang bola matanya. Aku melihat isi dunia, bahkan segala rahasia, pada manik matanya.
"Jadilah Subadra, bagi Arjuna," bisiknya.
"Baiklah, bukan Bisma. Tapi kenapa harus Arjuna? Saat ada Yudistira, Bima, Nakula bahkan Sadewa. Kenapa?"
"Karena takdirmu adalah menjadi Subadra, yang paling sayang dan setia pada Arjuna," jawabnya.
Pembaca, aku bingung, kenapa Atharwa membawa kisah wayang disini. Pembaca?
"Omong kosong. Sadarlah Atharwa, hidupku bukan kisah pewayangan," balasku.
"Memang bukan, namun Dewata sudah menggariskannya," ucapnya.
Aku bergeming. Aku menolak untuk percaya, namun apapun yang diucapkan Atharwa selalu benar dan membuat aku percaya. Seolah ada rantai yang membuatku selalu yakin akan dirinya yang bahkan dipenuhi rahasia.
Atharwa mengusap pipiku, "berbahagialah, Pirus. Kamu tau aku selalu menginginkanmu begitu."
Kemudian ia kecup dahiku, membuatku tenteram dengan mata terpejam.
Saat tak kurasai lagi bibirnya di dahiku, aku buka mataku. Mendapati dirinya yang tersenyum dengan dua lesung yang mendamaikan, dengan mata jernih yang menyimpan duniaku. Sesaat aku terlena oleh duniaku dalam matanya. Duh Gusti, sebab apa Kau ciptakan makhluk yang begini indah?
Sesaat, dirinya lenyap, menjadi sekumpulan asap yang lalu mengabur dan hilang. Aku tertegun, Atharwa selalu menghilang dengan caranya sendiri. Namun ia sukses membuat malamku damai, pun bulan dan gemintang enggan berteman.
Makhluk dari ordo manakah Atharwa? Makhluk dari ordo manakah ia yang menyimpan rahasiaku sekaligus menjelaskan duniaku? Pun aku tak memintanya datang, ia selalu datang disaat yang tepat untuk datang, sejauh manapun aku pergi, sehening apapun aku sembunyi, ia tetap datang. Bahkan sebelum aku sadar bahwa aku butuh dia. Makhluk apakah dia, Pembaca?
Duh Gusti, sebab apa Kau ciptakan Atharwa untukku?
Langganan:
Postingan (Atom)