ada yang tak bisa aku pungkiri
rindu
degup hanyut saat memikirkanmu
jantung seakan sampai ke kerongkongan
rindu aku padamu
padahal tadi baru bertemu
ah tapi lalu berpisah
rindu
aku rindu tempat kita tertawa
bermuara di cangkir-cangkir es krim bahagia
tempat kita berdoa lewat dupa yang kita acungkan
tempat itu pernah jadi titik temu aku dan kamu
aku juga rindu kuil dan bau dupa
esok, sayang, mari kita jumpa
lewat degup-degup jantung yang menggelora
dan beribu cangkir es krim yang bahagia
atau kita bisa berdoa lagi di kuil itu
dengan dupa yang asapnya mengantarkan puja
esok, sayang, jumpai aku
sebagaimana rindu ini menjumpaiku selagi kamu tak ada
jantung ini berdebar ingin bertemu denganmu
aku masih rindu pada tatap berhargamu
jumpa esok, sayang
aku rindu!
Jumat, 30 Oktober 2015
Kamis, 22 Oktober 2015
kau akan temukan aku bunuh diri
suatu hari, mungkin kau akan temukan aku bunuh diri
tergantung di langit-langit kamar dengan seutas tali
kau menemukan aku dalam bisu
wajahku pucat, wajahmu mungkit kaget. entah
ada garis air mata di pipiku
ada kitab di atas meja yang masih terbuka
aku habis membacanya--
meminta ampunan kepada-Nya tentang dosa ini dan dosa yang lain
semua itu latar aku bunuh diri
di bawah kakiku yang menggantung, akan kau temukan surat
surat untukmu, untuk ayah, untuk ibu, untuk pacarku, untuk saudaraku
surat untuk semua orang yang sepertinya mencintaiku
berisi permohonan maafku dan keberatanku selama hidup dengan mereka
suratnya terbuka, tidak aku masukan dalam amplop
suratnya ada titik-titik air mataku
suratnya hampir basah air mata
di hari kemudian setelah itu,
kau mungkin tak akan pernah lagi mendengar keluhanku tentang hidup yang tak adil
atau mendengar jeritanku di ruang pemasunganku
atau mendengar ocehanku yang gila
atau mendengar tangisku yang menyesakkan
kau tak akan lagi mendengar apapun dariku
aku sudah tak bisa menyampaikan, tak akan lagi bisa
di hari kemudian setelah itu,
kau tak akan bisa lagi melihatku
kecuali dalam mimpi-mimpi burukmu
yang akan membuatmu bangun dengan berkeringat dan linangan air mata
temanku sayang, aku rindu
tapi apa kau menyesal telah bersekongkol dengan semua orang yang aku cintai?
menyesal telah ikut memasungku dalam ruangan gelap yang laintainya dingin?
apa kau menyesal?
karena waktu itu, aku pernah melihat sakit di matamu
waktu aku menjerit di sel-sel rumah sakit jiwa
temanku sayang, apa boleh aku datang lagi di mimpimu?
dan bertanya tentang kalung ketenangan yang kau berikan
temanku sayang, aku ini tidak gila
aku hanya suka mengeluh dan berapi-api
aku akan datang ke mimpimu untuk menjelaskannya
karena yang aku percayai hanya dirimu
yang aku sayang hanya dirimu
bukan keluargaku atau pacarku
yang aku percaya adalah kau, temanku
temanku sayang, semoga bahagia dalam hidupmu
tidak seperti aku yang dipasung lalu bunuh diri
tergantung di langit-langit kamar dengan seutas tali
kau menemukan aku dalam bisu
wajahku pucat, wajahmu mungkit kaget. entah
ada garis air mata di pipiku
ada kitab di atas meja yang masih terbuka
aku habis membacanya--
meminta ampunan kepada-Nya tentang dosa ini dan dosa yang lain
semua itu latar aku bunuh diri
di bawah kakiku yang menggantung, akan kau temukan surat
surat untukmu, untuk ayah, untuk ibu, untuk pacarku, untuk saudaraku
surat untuk semua orang yang sepertinya mencintaiku
berisi permohonan maafku dan keberatanku selama hidup dengan mereka
suratnya terbuka, tidak aku masukan dalam amplop
suratnya ada titik-titik air mataku
suratnya hampir basah air mata
di hari kemudian setelah itu,
kau mungkin tak akan pernah lagi mendengar keluhanku tentang hidup yang tak adil
atau mendengar jeritanku di ruang pemasunganku
atau mendengar ocehanku yang gila
atau mendengar tangisku yang menyesakkan
kau tak akan lagi mendengar apapun dariku
aku sudah tak bisa menyampaikan, tak akan lagi bisa
di hari kemudian setelah itu,
kau tak akan bisa lagi melihatku
kecuali dalam mimpi-mimpi burukmu
yang akan membuatmu bangun dengan berkeringat dan linangan air mata
temanku sayang, aku rindu
tapi apa kau menyesal telah bersekongkol dengan semua orang yang aku cintai?
menyesal telah ikut memasungku dalam ruangan gelap yang laintainya dingin?
apa kau menyesal?
karena waktu itu, aku pernah melihat sakit di matamu
waktu aku menjerit di sel-sel rumah sakit jiwa
temanku sayang, apa boleh aku datang lagi di mimpimu?
dan bertanya tentang kalung ketenangan yang kau berikan
temanku sayang, aku ini tidak gila
aku hanya suka mengeluh dan berapi-api
aku akan datang ke mimpimu untuk menjelaskannya
karena yang aku percayai hanya dirimu
yang aku sayang hanya dirimu
bukan keluargaku atau pacarku
yang aku percaya adalah kau, temanku
temanku sayang, semoga bahagia dalam hidupmu
tidak seperti aku yang dipasung lalu bunuh diri
Jumat, 16 Oktober 2015
hidup itu begini
hidup itu begini;
bangun tidur, bersiap pergi ke sekolah. padahal benci dan lelah dengan sekolah, tapi secara otomatis setiap pagi pergi kesana. pergi kesekolah, bermain sandiwara, terserah akan pintar atau tidak, sekolah bukan hanya tentang belajar lalu lulus ujian akhir. ada nilai-nilai yang membuat kita menjadi manusia, entah itu manusia setengah dewa atau manusia yang tak ubahnya dengan tai kucing (najis). bersandiwara dan mati-matian menutupi aib. menerima tatapan sengit atau kasihan, tapi sedikit tatapan memuja karena tawa oleh orang-orang menyedihkan. semuanya harus ditutupi dengan tawa dan sikap individualis, jangan sampai mencurahkan seluruh hidup dan emosi pada sekolah, jangan seyakin itu pada sekolah sekalipun setengah dari hidupmu kamu lalui disana.
lalu pulang sekolah, membawa beban lagi dari sekolah sekaligus membawa kembali beban yang dibawa ke sana. letih dan perih. permasalahan hidup berbeda-beda; ada orang yang mati-matian ingin sekolah, ada yang ingin buru-buru keluar dari sana. ada orang yang mengeluh saat stok baju yang ingin dibelinya habis, ada juga yang mengeluh karena hanya makan tempe dan nasi dari beras raskin. ada orang yang berpacaran ke sana kemari, ada juga yang sibuk mencari kemana kakaknya berjudi malam tadi. terserahlah, urusan masing-masing. tapi tak heran bila ada saja orang yang ingin mencampuri urusan orang lain, mungkin dia belum repot.
pulang sekolah mulai melamun, disoraki sana-sini tak dengar. ah, tidak ada undang-undang yang mengatur tentang larangan melamun. melamunkan beberapa orang yang dicintai disekolah, menghadirkan imaji-imaji manis dan bergairah. melamunkan beberapa orang yang dibenci disekolah, lalu menghadirkan imaji-imaji keji lalu ingin muntah.
lalu dirumah mulai menulis, menuangkan segala imaji-imaji baik dan manis. menghadirkan Garda, Kumala, Ali Huda, William dan yang lainnya. mempermainkan mereka dalam cerita-cerita asik yang dikarang sendiri. tak heran bila tiba-tiba merasa mereka memang nyata, karena nyatanya selalu memikirkan mereka.
kadang juga, dirumah hanya tidur, memimpikan guru-guru galak, baik, memimpikan urusan-urusan yang belum tercapai lalu tiba-tiba bangun. lelah dan beban itu dibawa kerumah juga.
tiba-tiba menangis dikamar, memikirkan kenapa hidup selalu tak adil. kenapa Tuhan memberi berbeda-beda. mengapa cobaan harus datang demi melihat seberapa kuat kita. aduh, Tuahnku, aku lelah dan ingin mati saja.
rasanya memang tiba-tiba begitu, tapi tiba-tiba bisa saja sadar dari keinginan untuk mati; bangsat! kenapa harus mati sekarang? masih banyak orang jahat yang belum terbalas.
lalu hujan, hujan airmata, ditemani lagu-lagu aneh dari ponsel.
lalu membiarkan hidup ini berjalan, terserah mau dibawa kemana aku
bangun tidur, bersiap pergi ke sekolah. padahal benci dan lelah dengan sekolah, tapi secara otomatis setiap pagi pergi kesana. pergi kesekolah, bermain sandiwara, terserah akan pintar atau tidak, sekolah bukan hanya tentang belajar lalu lulus ujian akhir. ada nilai-nilai yang membuat kita menjadi manusia, entah itu manusia setengah dewa atau manusia yang tak ubahnya dengan tai kucing (najis). bersandiwara dan mati-matian menutupi aib. menerima tatapan sengit atau kasihan, tapi sedikit tatapan memuja karena tawa oleh orang-orang menyedihkan. semuanya harus ditutupi dengan tawa dan sikap individualis, jangan sampai mencurahkan seluruh hidup dan emosi pada sekolah, jangan seyakin itu pada sekolah sekalipun setengah dari hidupmu kamu lalui disana.
lalu pulang sekolah, membawa beban lagi dari sekolah sekaligus membawa kembali beban yang dibawa ke sana. letih dan perih. permasalahan hidup berbeda-beda; ada orang yang mati-matian ingin sekolah, ada yang ingin buru-buru keluar dari sana. ada orang yang mengeluh saat stok baju yang ingin dibelinya habis, ada juga yang mengeluh karena hanya makan tempe dan nasi dari beras raskin. ada orang yang berpacaran ke sana kemari, ada juga yang sibuk mencari kemana kakaknya berjudi malam tadi. terserahlah, urusan masing-masing. tapi tak heran bila ada saja orang yang ingin mencampuri urusan orang lain, mungkin dia belum repot.
pulang sekolah mulai melamun, disoraki sana-sini tak dengar. ah, tidak ada undang-undang yang mengatur tentang larangan melamun. melamunkan beberapa orang yang dicintai disekolah, menghadirkan imaji-imaji manis dan bergairah. melamunkan beberapa orang yang dibenci disekolah, lalu menghadirkan imaji-imaji keji lalu ingin muntah.
lalu dirumah mulai menulis, menuangkan segala imaji-imaji baik dan manis. menghadirkan Garda, Kumala, Ali Huda, William dan yang lainnya. mempermainkan mereka dalam cerita-cerita asik yang dikarang sendiri. tak heran bila tiba-tiba merasa mereka memang nyata, karena nyatanya selalu memikirkan mereka.
kadang juga, dirumah hanya tidur, memimpikan guru-guru galak, baik, memimpikan urusan-urusan yang belum tercapai lalu tiba-tiba bangun. lelah dan beban itu dibawa kerumah juga.
tiba-tiba menangis dikamar, memikirkan kenapa hidup selalu tak adil. kenapa Tuhan memberi berbeda-beda. mengapa cobaan harus datang demi melihat seberapa kuat kita. aduh, Tuahnku, aku lelah dan ingin mati saja.
rasanya memang tiba-tiba begitu, tapi tiba-tiba bisa saja sadar dari keinginan untuk mati; bangsat! kenapa harus mati sekarang? masih banyak orang jahat yang belum terbalas.
lalu hujan, hujan airmata, ditemani lagu-lagu aneh dari ponsel.
lalu membiarkan hidup ini berjalan, terserah mau dibawa kemana aku
Sabtu, 10 Oktober 2015
Sebentar lagi mati
Namaku Inang, usiaku baru 18 tahun, sedang duduk di ranjang rumah sakit sambil mengupas apel dengan pisau yang tidak terlalu tajam. Di depanku ada Pak Dokter Manalu, orang batak yang penyayang dan pintar, oh iya penyabar juga.
Aku Inang, lahir dari rahim seorang pelacur yang saat itu katanya sudah tobat, ibuku pelacur. Tapi tidak lagi setelah aku lahir. Aku tak punya ayah, dan aku bersyukur karena itu berarti aku tak perlu melihat lelaki brengsek yang menghamili ibu dan lalu pergi. Nama ibuku Talita, nama yang bagus.
Aku lahir sambil mengidap leukimia yang sampai sekarang belum juga sembuh. Tapi yang lebih membingungkan kenapa sampai sekarang aku belum juga mati. padahal seharusnya sudah.
lupa bercerita tentang rumahku, rumah Ibu Talita, rusun di pinggir kota jakarta yang tampak kumuh. Biaya sewa murah karena sudah dibantu oleh pemerintah. Ibu bekerja di restoran sebagai tukang cuci piring, aku ingin kerja di restoran sebagai koki.
Gaji ibu jelas tidak cukup untuk biaya berobatku, jadi akan ku jelaskan bagaimana aku bertemu Pak Dokter Manalu.
Waktu itu aku sakit, umurku kira-kira 15 tahun saat itu, aku dibawa kerumah sakit oleh ibu dan tetanggaku. Aku koma selama seminggu, dan setelahnya aku jarang meninggalkan rumah sakit, itu menjadi rumah keduaku.
Aku bertanya pada ibu bagaimana ia bisa membayarnya, dia bilang ada pak dokter yang menyayangiku, jadi aku dibiayai olehnya. Ah terserahlah, dia orang kaya yang baik dan tolol, mau bagaimanapun aku tak bisa sembuh.
Lalu aku bertemu Pak Dokter, dia memancarkan aura 'ayah' yang selama ini hanya bisa kulihat di televisi hasil akting si aktor. Pak Dokter tidak berakting.
"Nah Inang, kamu melamun lagi. Saya udah bilang itu salah satu faktor kuat kamu gak bisa bangkit dari ranjang, melamun!" suara Pak Dokter memutuskan ceritaku padamu.
"Tidak ada larangan untuk melamun, berimajinasi, bermimpi, berkhayal, tidak ada larangan untuk itu," jawabku sambil memakan apel yang sudah kupotong.
Pak Dokter mengambil satu, "saya lelah, hidup kok gini-gini amat."
"hidup sudah baik, tak usah mengeluh,"
"kemarin ibumu bercerita sesuatu,"
"dan apakah itu?" tanyaku sembari aku merebahkan tubuhku diranjang karena lelah.
"dia tau kamu bercinta dengan anakku minggu lalu, dia sedih," jawab pak dokter sambil tersenyum.
aku terkikik, "aku tumbuh dewasa, sudah 18 tahun dan sebentar lagi akan mati, aku hanya ingin tau bagaimana rasanya bercinta. kenapa sih dia harus sedih?"
Pak Dokter berdeham, "sebenarnya, dia hanya malu kepadaku."
"malu? malu karena aku yang sudah dihidupi oleh uang denganmu malah bercinta dengan anakmu? begitu bukan?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi.
"ku kira begitu," jawab Pak Dokter singkat, dia tau kalau aku sudah begini tak perlu dijelaskan panjang lebar lagi atau aku akan benar-benar berteriak.
"Pak Dokter, bagaimana denganmu?" tanyaku pelan.
"tidak masalah Inang, toh anakku tak marah atau bereaksi tak senang. dunia ini terus berputar, hidup kita masing-masing harus berjalan dan tinggalkan masa lalu. sudah, jangan ributkan apa yang sudah terjadi, waktu tak akan kembali," Pak Dokter memberitahu.
"sebenarnya, agak aneh, anak lelakimu yang tampan itu mau bercinta dengan perempuan botak sepertiku," ucapku sambil terkikik. Pak Dokter malah terbahak.
lalu hening.
hanya terdengar kunyahan pak dokter yang sedang makan apel.
"Dalam dua tahun terakhir, ibumu mempertanyakan kehadiranmu baginya," ucap pak dokter.
"apa?"
"dia bertanya-tanya, apa arti dirimu baginya, kenapa kau datang ke kehidupannya 18 tahun lalu, kenapa kau datang membawa leukimia ditubuhmu dan menyimpannya sendiri, apa yang coba Tuhan peringatkan kepadanya lewat dirimu."
"dia bicara begitu padamu?"
pak dokter mengangguk.
"pak dokter, menjadi seorang pengidap leukimia mungkin hal yang sulit, tapi mempunyai anak yang mengidap leukimia pasti hal yang paling sulit. entah apa yang dipikirka ibu saat melihatku berbaring, saat melihatmu memeriksaku, entah."
"tapi, hidup harus terus berjalan, dengan atau tanpa makna," balas pak dokter.
"aku hanya menikmati hidup ini tanpa kebebasan. tapi ibu, pak dokter dan suster-suster ada disini, aku baik-baik saja"
"Life must go on, Inang."
"sekalipun aku mati, hidup ini harus terus berjalan, tapi entah hidup siapa"
"cepatlah tidur, sudah larut."
"terimakasih pak dokter, bilang terimakasih juga pada anakmu" aku tersenyum
"iya, tapi jangan mati dulu"
"hehe enggak kok, sebentar lagi"
aku tertidur
tapi sebentar lagi mati
sebentar lagi mati...
Aku Inang, lahir dari rahim seorang pelacur yang saat itu katanya sudah tobat, ibuku pelacur. Tapi tidak lagi setelah aku lahir. Aku tak punya ayah, dan aku bersyukur karena itu berarti aku tak perlu melihat lelaki brengsek yang menghamili ibu dan lalu pergi. Nama ibuku Talita, nama yang bagus.
Aku lahir sambil mengidap leukimia yang sampai sekarang belum juga sembuh. Tapi yang lebih membingungkan kenapa sampai sekarang aku belum juga mati. padahal seharusnya sudah.
lupa bercerita tentang rumahku, rumah Ibu Talita, rusun di pinggir kota jakarta yang tampak kumuh. Biaya sewa murah karena sudah dibantu oleh pemerintah. Ibu bekerja di restoran sebagai tukang cuci piring, aku ingin kerja di restoran sebagai koki.
Gaji ibu jelas tidak cukup untuk biaya berobatku, jadi akan ku jelaskan bagaimana aku bertemu Pak Dokter Manalu.
Waktu itu aku sakit, umurku kira-kira 15 tahun saat itu, aku dibawa kerumah sakit oleh ibu dan tetanggaku. Aku koma selama seminggu, dan setelahnya aku jarang meninggalkan rumah sakit, itu menjadi rumah keduaku.
Aku bertanya pada ibu bagaimana ia bisa membayarnya, dia bilang ada pak dokter yang menyayangiku, jadi aku dibiayai olehnya. Ah terserahlah, dia orang kaya yang baik dan tolol, mau bagaimanapun aku tak bisa sembuh.
Lalu aku bertemu Pak Dokter, dia memancarkan aura 'ayah' yang selama ini hanya bisa kulihat di televisi hasil akting si aktor. Pak Dokter tidak berakting.
"Nah Inang, kamu melamun lagi. Saya udah bilang itu salah satu faktor kuat kamu gak bisa bangkit dari ranjang, melamun!" suara Pak Dokter memutuskan ceritaku padamu.
"Tidak ada larangan untuk melamun, berimajinasi, bermimpi, berkhayal, tidak ada larangan untuk itu," jawabku sambil memakan apel yang sudah kupotong.
Pak Dokter mengambil satu, "saya lelah, hidup kok gini-gini amat."
"hidup sudah baik, tak usah mengeluh,"
"kemarin ibumu bercerita sesuatu,"
"dan apakah itu?" tanyaku sembari aku merebahkan tubuhku diranjang karena lelah.
"dia tau kamu bercinta dengan anakku minggu lalu, dia sedih," jawab pak dokter sambil tersenyum.
aku terkikik, "aku tumbuh dewasa, sudah 18 tahun dan sebentar lagi akan mati, aku hanya ingin tau bagaimana rasanya bercinta. kenapa sih dia harus sedih?"
Pak Dokter berdeham, "sebenarnya, dia hanya malu kepadaku."
"malu? malu karena aku yang sudah dihidupi oleh uang denganmu malah bercinta dengan anakmu? begitu bukan?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi.
"ku kira begitu," jawab Pak Dokter singkat, dia tau kalau aku sudah begini tak perlu dijelaskan panjang lebar lagi atau aku akan benar-benar berteriak.
"Pak Dokter, bagaimana denganmu?" tanyaku pelan.
"tidak masalah Inang, toh anakku tak marah atau bereaksi tak senang. dunia ini terus berputar, hidup kita masing-masing harus berjalan dan tinggalkan masa lalu. sudah, jangan ributkan apa yang sudah terjadi, waktu tak akan kembali," Pak Dokter memberitahu.
"sebenarnya, agak aneh, anak lelakimu yang tampan itu mau bercinta dengan perempuan botak sepertiku," ucapku sambil terkikik. Pak Dokter malah terbahak.
lalu hening.
hanya terdengar kunyahan pak dokter yang sedang makan apel.
"Dalam dua tahun terakhir, ibumu mempertanyakan kehadiranmu baginya," ucap pak dokter.
"apa?"
"dia bertanya-tanya, apa arti dirimu baginya, kenapa kau datang ke kehidupannya 18 tahun lalu, kenapa kau datang membawa leukimia ditubuhmu dan menyimpannya sendiri, apa yang coba Tuhan peringatkan kepadanya lewat dirimu."
"dia bicara begitu padamu?"
pak dokter mengangguk.
"pak dokter, menjadi seorang pengidap leukimia mungkin hal yang sulit, tapi mempunyai anak yang mengidap leukimia pasti hal yang paling sulit. entah apa yang dipikirka ibu saat melihatku berbaring, saat melihatmu memeriksaku, entah."
"tapi, hidup harus terus berjalan, dengan atau tanpa makna," balas pak dokter.
"aku hanya menikmati hidup ini tanpa kebebasan. tapi ibu, pak dokter dan suster-suster ada disini, aku baik-baik saja"
"Life must go on, Inang."
"sekalipun aku mati, hidup ini harus terus berjalan, tapi entah hidup siapa"
"cepatlah tidur, sudah larut."
"terimakasih pak dokter, bilang terimakasih juga pada anakmu" aku tersenyum
"iya, tapi jangan mati dulu"
"hehe enggak kok, sebentar lagi"
aku tertidur
tapi sebentar lagi mati
sebentar lagi mati...
Langganan:
Postingan (Atom)