Sabtu, 12 Desember 2015

Mum!

"Mum, Mum kau dengar tidak? Mum! Pokoknya aku mau seorang ayah, Mum. Mum apa kau tuli?!" ucap Mia.
Astaga Mia, apa kau tahu bagaimana menyesakkannya kata-katamu buatku?
"Mia, ada apa? Apa kau mencoba membunuhku dengan perkataanmu?"
"Teman-temanku punya seorang ayah dan mereka bahagia, mereka sering pergi berlibur dengan ayah mereka. Dihidupku hanya ada kau, Mum, dan laptop busukmu!" ucap Mia.
"aku ingin pergi ke kamar, terserah padamu," ucapku lalu pergi.

aku masih ingat kata-kata Mia semalam. Tapi entahlah, aku bahkan tak berani kembali ke London, menemui Alex dan bilang bahwa Mia adalah anaknya. Tapi Mia berhak tau siapa ayahnya. Ah sudahlah, anak itu hanya mencari perhatianku. Ini akhir tahun dan pekerjaanku menumpuk.

Tiba-tiba Mia sudah berdiri di pintu ruangan kantorku dengan muka masam.
"Kau kemari dengan siapa, sayang?" tanyaku menghampirinya.
Ia menghela napas. Wajah cantiknya cemberut dan memerah karena marah. Alis anak ini mengingatkanku pada Alex, selalu, selain itu semua yang ada pada dirinya adalah seperti aku.
"Mum, kenapa kau nggak angkat telponku? Aku menelpon Eda dan dia menjemputku. Kau harus berterimakasih padanya, dia ada di mejanya. Mum, Eda baik sekali, ya," ucapnya panjang lebar.
Anak ini sungguh cerewet.
"Mia, maafkan aku. Tapi ada beberapa laporan yang harus aku baca, lagian dari tadi ponselku mati. Lalu kenapa kau tak minta Eda untuk mengantarmu ke rumah?"
"Aku lapar, Mum. Lagian apa apartemen jelek kita masih bisa disebut rumah?" tanyanya.
Aku menghela napas, "hanya karena warnanya pink dan kau tak mau menyebutnya rumah. Ayolah Mia, itu apartemen mahal di kota ini,"
"Baiklah Mum, aku lapar,"
"Pesan sup dan kentang atau apapun di McDonald's, antar kemari. Aku ingin kentang yang banyak ya," ucapku.
"Mum, kau menyebalkan. Tapi oke, aku akan telpon. Apapun yang aku mau ya?" balas Mia.
Aku tersenyum, "tentu saja tuan putri, tentu saja."

"Apa yang kau kerjakan Mum?" tanya Mia setelah ia selesai menelpon.
"Entahlah. Aku cuma cari uang untuk kita. Mia apa kau sudah memikirkan perayaan natal untuk kita berdua?" jawabku sambil tetap fokus pada laptopku.
"Tidak, aku sungguh tidak mau natal kali ini. Tapi kalau kau sudah menyiapkan uang untuk perayaan itu, bagaimana kalau kau membeli laptop baru saja? Aku muak dengan laptop busukmu, Mum," balas Mia, tajam seperti biasa.
"Mia apa kau mau terus menjahatiku? Apa aku berbuat salah padamu?" tanyaku, kali ini meninggalkan laptopku dan fokus pada bocah kelas tiga SD di depanku, dia anakku... oh sungguh.
"Mum, apa aku enggak punya ayah?" tanyanya serius.
"Kau nggak punya ayah, lalu apa masalahnya. Semua orang hidup baik dengan atau tanpa ayah," jawabku.
"Baiklah aku hanya punya dirimu," jawabnya.
"itu bagus." aku tersenyum.
"Nanti kalau jadi seorang ibu, aku nggak mau jadi ibu yang kayak Mum," ucap Mia termenung.
baiklah Mia, baiklah, aku memang bukan ibu yang baik.
aku mengangkat alis, "benarkah?"
"well, Mum, apa kau nggak sadar kalau kau itu menyebalkan? aku memang menyayangimu, sih, tapi kau menyebalkan. walaupun kau masak untukku, menyiapkan bekal makan, mengepang rambutku dengan begitu indah, tapi kau tetap nggak ngerti aku," jelasnya.
astaga benarkah itu?
"Mia dengarkan aku, aku tak ingin membuat semua ini seberti drama animasi yang sedih. aku ingin kau mengerti aku, lalu kau akan ngerti juga bagaimana aku selalu mencoba mengerti kau yang tidak stabil, oke? dengarkan." ucapku, sambil menatapnya.
"Mum, tapi habis ini aku ingin bilang sesuatu, boleh?"
"ya, tentu saja. dengarkan aku dulu. Aku sudah hidup susah semenjak aku tau aku hamil dirimu tanpa ada ayahmu. Lalu kau lahir dan jadi gadis kecil menyebalkan yang tinggal di apartemen pink-ku. Lalu, Mia, tiba-tiba aku hanya ingin dirimu ada didekatku, kau seperti obat penenang bagiku. Tapi saat kau marah, aku terpaksa meminum pil-pil yang membuatku tidur. Mia, aku ini Mum-mu, suka atau tidak memang sudah begitu. Aku berkali-kali mencoba menyayangimu, Mia, dan memang aku sayang padamu, aku hanya tak tau caranya agar kau mengerti." ucapku panjang lebar, aku tak ingin menangis.
"baiklah aku mengerti, Mum. Dan sekarang aku sepakat akan mencoba mengerti dirimu juga,"
"bagus" ucapku lega.
"apa yang ingin kau katakan tadi?" tanyaku, kali ini semuanya lebih ringan.
"apa kau bisa datang ke acara sekolahku pada hari Ibu? katanya kita akan memberi bunga untuk ibu kita. apa aku harus meminta Eda yang datang seperti tahun lalu?" tanya Mia, bergetar suaranya.
"tidak, aku yang akan datang,"
"itu bagus"
"apa kau mau ikut aku untuk perayaan natal di London? mungkin kita bisa mencoba merencanakan untuk bertemu dengan ayahmu,"
"Mum, jangan bercanda,"
"aku serius"
"jadi ayahku benar-benar orang London ya? London dan Indonesia jauh, kenapa kau meninggalkannya, Mum? kenapa kau memisahkan kami?" tanyanya.
"oh ayolah Mia, ini tawaran bagus, jangan merusaknya,"
"baiklah Mum, aku mau, sangat mau!" jawabnya lalu memelukku.
"siapa nama ayahku?"
"Alex, Alex Dawson,"
"bagus, namanya bagus,"

baiklah Mia, ini rencana kita. nggak tahu nanti berakhir seperti apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar