Minggu, 12 April 2015

Biarkan

kuusap pilu
dengan secarik ayat-ayat
yang menyapu dinding dengan airmata
biarkan
aku hanya merapalkan doa
bila itu baik, biar Tuhan yang aminkan
bila itu pantas, biar malaikat yang ucapkan 'semoga'

Pak Kusir, memacu kuda sengsara
dengan peluh sakit
dengan napas putus asa
biarkan
Tuhan punya rencana sendiri
bila aku jatuh cinta denganmu pun,
biarkan
Tuhan punya rencana sendiri
untuk jatuh cintaku
untuk jatuh cintamu
untuk jatuh cinta kita

biarkan

Rabu, 01 April 2015

Merindu

pagi ini aku menyerah
menyerah pada kata yang lugas bermakna
menyerah pula pada setiap bait puisi yang rancu
aku menyerah

tak terganti oleh keping hati yang baru, aku merindu
rindu merajam di tengah rintik gerimis
aku menatap harap pada tiap payung yang memayungi, aku menunggumu
aku merindu kamu, yang tiba-tiba membalas surat cintaku

sejuta harap, seratus kecewa
aku tak pernah bosan karenanya
tak perlu rayu itu
tak perlu, sungguh
aku dengan ikhlas menunggumu
ditemani secangkir jahe dan segenggam kacang goreng
sebab menunggumu itu mengingatkanku padamu selalu

padahal di tengah terik kala itu
kita masih bercengkrama
tapi kamu seperti bermain denganku
pergi mengendap di tengah gelap
aku kehilanganmu

makanya aku menunggu
setelah kamu membalas surat cintaku;
'kamu selalu ada di tiap derap langkahku. aku merana karena rindu. aku rindu cintaku, kamu'

Mati

Pada tapak-tapak kaki yang menghentak
Tak tega aku mencabut tangkai mawar itu
Semburat jingga menerangi duri kejinya
Dimana hati?
Kenapa tak kau terangi lagi hati itu?

Nisan(mu) yang berkilau
Putih suci pusara(mu) kusentuh
Mati
Kematian
Sesudahnya tak akan sama lagi
Bahkan saat kau tulis surat cinta
Bahkan saat kau kirim surat itu dengan merpati, menembus langit

Aku lelah disekap duka
Aku takut dirajam rindu
Hingga ingin kugali pusara(mu)
Dan kutemukan raga-
yang dulu pernah mendekapku


-catatan suci 2013 lalu