Jumat, 16 Oktober 2015

hidup itu begini

hidup itu begini;
bangun tidur, bersiap pergi ke sekolah. padahal benci dan lelah dengan sekolah, tapi secara otomatis setiap pagi pergi kesana. pergi kesekolah, bermain sandiwara, terserah akan pintar atau tidak, sekolah bukan hanya tentang belajar lalu lulus ujian akhir. ada nilai-nilai yang membuat kita menjadi manusia, entah itu manusia setengah dewa atau manusia yang tak ubahnya dengan tai kucing (najis). bersandiwara dan mati-matian menutupi aib. menerima tatapan sengit atau kasihan, tapi sedikit tatapan memuja karena tawa oleh orang-orang menyedihkan. semuanya harus ditutupi dengan tawa dan sikap individualis, jangan sampai mencurahkan seluruh hidup dan emosi pada sekolah, jangan seyakin itu pada sekolah sekalipun setengah dari hidupmu kamu lalui disana.
lalu pulang sekolah, membawa beban lagi dari sekolah sekaligus membawa kembali beban yang dibawa ke sana. letih dan perih. permasalahan hidup berbeda-beda; ada orang yang mati-matian ingin sekolah, ada yang ingin buru-buru keluar dari sana. ada orang yang mengeluh saat stok baju yang ingin dibelinya habis, ada juga yang mengeluh karena hanya makan tempe dan nasi dari beras raskin. ada orang yang berpacaran ke sana kemari, ada juga yang sibuk mencari kemana kakaknya berjudi malam tadi. terserahlah, urusan masing-masing. tapi tak heran bila ada saja orang yang ingin mencampuri urusan orang lain, mungkin dia belum repot.
pulang sekolah mulai melamun, disoraki sana-sini tak dengar. ah, tidak ada undang-undang yang mengatur tentang larangan melamun. melamunkan beberapa orang yang dicintai disekolah, menghadirkan imaji-imaji manis dan bergairah. melamunkan beberapa orang yang dibenci disekolah, lalu menghadirkan imaji-imaji keji lalu ingin muntah.
lalu dirumah mulai menulis, menuangkan segala imaji-imaji baik dan manis. menghadirkan Garda, Kumala, Ali Huda, William dan yang lainnya. mempermainkan mereka dalam cerita-cerita asik yang dikarang sendiri. tak heran bila tiba-tiba merasa mereka memang nyata, karena nyatanya selalu memikirkan mereka.
kadang juga, dirumah hanya tidur, memimpikan guru-guru galak, baik, memimpikan urusan-urusan yang belum tercapai lalu tiba-tiba bangun. lelah dan beban itu dibawa kerumah juga.
tiba-tiba menangis dikamar, memikirkan kenapa hidup selalu tak adil. kenapa Tuhan memberi berbeda-beda. mengapa cobaan harus datang demi melihat seberapa kuat kita. aduh, Tuahnku, aku lelah dan ingin mati saja.
rasanya memang tiba-tiba begitu, tapi tiba-tiba bisa saja sadar dari keinginan untuk mati; bangsat! kenapa harus mati sekarang? masih banyak orang jahat yang belum terbalas.
lalu hujan, hujan airmata, ditemani lagu-lagu aneh dari ponsel.
lalu membiarkan hidup ini berjalan, terserah mau dibawa kemana aku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar