Seperti yang, yeah, yang Eldaru lakukan terhadap gue dua bulan silam, sebelum gue pindah ke Bali.
Eldaru, yang gue tau adalah lelaki yang gue cintai setengah mati. Yang, dulu, selalu ada buat gue sekalipun dia bukan siapa-siapa gue selain seseorang yang gue butuhkan selalu. Sekalipun gue sendiri nggak pernah nyatakan cinta atau apapun padanya. Kami hanya saling berdampingan. Tanpa ada apapun diantara kami.
Namun, itu dulu. Dulu sekali. Sebelum gue dan dia berpisah waktu dia ke Amsterdam, sebelum suatu keputusan yang gue ambil sepulangnya dari Amsterdam.
Guys, this, dengerin gue, a guy who always say love and take action to show that love, belum tentu bisa jadi teman hidup. Karena perempuan dewasa dan lajang kayak gue ini, butuh lebih dari action kecil-kecilan apalagi omong kosong tentang cinta. Gue butuh lebih dari itu, lebih dari antar jemput, lebih dari dinner, lebih dari lunch bareng, lebih dari liburan ke negara tetangga, lebih dari action yang yeah you name it. Gue butuh action memang, tapi big action. Like you take me to your family, you take me dinner with your friends, you ask me about future, we talk about our future, dan pengertian-pengertian yang kadang sudah harus tumbuh dikala kita dewasa.
Namun, kalau kalian ingin tau apa yang terjadi antara gue dan Eldaru, begini;
Sepulangnya dari Amsterdam dan mendapat pekerjaan bagus di Indonesia, Eldaru mulai menjadi milik gue. In weird relationship yang semua orang mungkin nggak tahan untuk menjalaninya. We live in the same city, but we never really meet kecuali untuk bersenang-senang. Ya, gue dan dia memang harus bersenang-senang, setelah hidup di kota sibuk dan ikutan sibuk. But, gue butuh dia bukan untuk itu, senangnya gue sederhana dan itu bisa didapat cuma dari bertemu dia dan diajak makan siang. Gue nggak butuh terlalu banyak liburan atau makan malam ditempat mahal, lalu kembali pulang sendiri-sendiri dan jadi kosong bersama rutinitas yang monoton. Sumpah, gue nggak butuh itu.
Gue cuma butuh pertemuan kita yang hangat. Mau makan malam dipinggir jalan, if we do really deep conversation dan bukan cuma nanya kabar dan rutinitas, it's actually happiness. Maksud gue, gue ingin merasakan bahwa dia ada, bahwa kita adalah kita. Tapi ini tidak, mungkin judulnya adalah sibuk, tapi harusnya ada gue tempat dia pulang dan ada dia tempat gue pulang.
Engga, gue bukan menjelaskan ini buat kalian. Bahkan gue udah berkali-kali menjelaskan ini ke Eldaru, didn't I, Eldaru?
Namun dia tetap lelaki yang sama. Yang tiap kali gue jelaskan keberatan gue, selalu menjawab klise dengan kata-kata manis dan perlakuan manis. Dan kebetulan gue memang lemah atas pesonanya.
Perempuanmu ini mau dibuatkan rencana besar apa, Ru? Lama bener aku nunggunya. Sampai bosen, bosen sama kata-kata manismu, perlakuan manismu, kesenangan sementara kita, bosen juga sama ketidakjelasan kita.
Lalu satu ketika, gue bosen dan ingin gerak. Nggak ingin terkekang oleh relationship macem gini, apalagi oleh ketidakjelasan Eldaru.
"Ru, did you ever think about what are we gonna be?" tanya gue malam itu. Waktu kita pulang dari dinner berdua, didalam mobil.
"Why did you ask me this? It's not you, it's really not like you," balas Eldaru.
"Bukannya kita udah dewasa, Ru? I'm tired just being a girl, I want to be a women of course with my man, not my boy." jelas gue.
"Apa sih? Kok ngelantur? We are two, who didn't need anything except us."
"I need a commitment," ucap gue.
"Loh, ini kita in relationship. Aku lagi berkomitmen sama kamu."
"Bercanda lo. Komitmen macem gini cuma buat anak SMA."
"Aku baru mampu segini. Aku masih mau sendiri."
Oh shit, man! What did he talking about? Shit! Selama ini, setelah ada gue, setelah katanya dia sedang berkomiten sama gue, ternyata dia masih sendiri. Dan masih ingin sendiri. He such a jerk!
Lalu gue pindah ke Bali.
Niatnya mencari ketenangan. Namun Eldaru datang lagi, malam ini ada didepan gue. Sedang minum kopi dikedai, dengan gue.
"Aku sudah siap. Maksudnya untuk komitmen yang lebih besar," ucap Eldaru.
Aku mendengus, "hatimu itu terbuat dari apa, Aru?"
Aru tertawa, "apalagi yang kurang? Biar aku tambahi."
What? God. It feels like Bruce Lee hit me repeatedly, hurt.
"Sayangnya, Aru, aku terlalu muak sama kamu. Sudah terlalu muak. Thanks, you give me many reasons to kick you out of my life. I didn't need you and your commitment anymore." ucap gue. Lalu pergi.
Gue nangis. Serius, kali ini gue nangis.
Gue bukannya butuh komitmen pakai paksaan.
It feels like someone spray the pepper to my eyes, perih.