Rabu, 23 Maret 2016

Pergi, Entah Dia atau Aku

Gue pernah denger sih, entah dari mana. Bahwa seseorang yang sudah percaya pada sesuatu, akan selamanya pergi setelah dikecewakan oleh sesuatu tersebut. Setuju, banget. Dan memang iya kan? Memangnya, kita masih mau percaya sama sesuatu yang udah mengecewakan kita? Gue sih jelas engga.
Seperti yang, yeah, yang Eldaru lakukan terhadap gue dua bulan silam, sebelum gue pindah ke Bali.
Eldaru, yang gue tau adalah lelaki yang gue cintai setengah mati. Yang, dulu, selalu ada buat gue sekalipun dia bukan siapa-siapa gue selain seseorang yang gue butuhkan selalu. Sekalipun gue sendiri nggak pernah nyatakan cinta atau apapun padanya. Kami hanya saling berdampingan. Tanpa ada apapun diantara kami.
Namun, itu dulu. Dulu sekali. Sebelum gue dan dia berpisah waktu dia ke Amsterdam, sebelum suatu keputusan yang gue ambil sepulangnya dari Amsterdam.
Guys, this, dengerin gue, a guy who always say love and take action to show that love, belum tentu bisa jadi teman hidup. Karena perempuan dewasa dan lajang kayak gue ini, butuh lebih dari action kecil-kecilan apalagi omong kosong tentang cinta. Gue butuh lebih dari itu, lebih dari antar jemput, lebih dari dinner, lebih dari lunch bareng, lebih dari liburan ke negara tetangga, lebih dari action yang yeah you name it. Gue butuh action memang, tapi big action. Like you take me to your family, you take me dinner with your friends, you ask me about future, we talk about our future, dan pengertian-pengertian yang kadang sudah harus tumbuh dikala kita dewasa.
Namun, kalau kalian ingin tau apa yang terjadi antara gue dan Eldaru, begini;
Sepulangnya dari Amsterdam dan mendapat pekerjaan bagus di Indonesia, Eldaru mulai menjadi milik gue. In weird relationship yang semua orang mungkin nggak tahan untuk menjalaninya. We live in the same city, but we never really meet kecuali untuk bersenang-senang. Ya, gue dan dia memang harus bersenang-senang, setelah hidup di kota sibuk dan ikutan sibuk. But, gue butuh dia bukan untuk itu, senangnya gue sederhana dan itu bisa didapat cuma dari bertemu dia dan diajak makan siang. Gue nggak butuh terlalu banyak liburan atau makan malam ditempat mahal, lalu kembali pulang sendiri-sendiri dan jadi kosong bersama rutinitas yang monoton. Sumpah, gue nggak butuh itu.
Gue cuma butuh pertemuan kita yang hangat. Mau makan malam dipinggir jalan, if we do really deep conversation dan bukan cuma nanya kabar dan rutinitas, it's actually happiness. Maksud gue, gue ingin merasakan bahwa dia ada, bahwa kita adalah kita. Tapi ini tidak, mungkin judulnya adalah sibuk, tapi harusnya ada gue tempat dia pulang dan ada dia tempat gue pulang.
Engga, gue bukan menjelaskan ini buat kalian. Bahkan gue udah berkali-kali menjelaskan ini ke Eldaru, didn't I, Eldaru?
Namun dia tetap lelaki yang sama. Yang tiap kali gue jelaskan keberatan gue, selalu menjawab klise dengan kata-kata manis dan perlakuan manis. Dan kebetulan gue memang lemah atas pesonanya.
Perempuanmu ini mau dibuatkan rencana besar apa, Ru? Lama bener aku nunggunya. Sampai bosen, bosen sama kata-kata manismu, perlakuan manismu, kesenangan sementara kita, bosen juga sama ketidakjelasan kita.
Lalu satu ketika, gue bosen dan ingin gerak. Nggak ingin terkekang oleh relationship macem gini, apalagi oleh ketidakjelasan Eldaru.
"Ru, did you ever think about what are we gonna be?" tanya gue malam itu. Waktu kita pulang dari dinner berdua, didalam mobil.
"Why did you ask me this? It's not you, it's really not like you," balas Eldaru.
"Bukannya kita udah dewasa, Ru? I'm tired just being a girl, I want to be a women of course with my man, not my boy." jelas gue.
"Apa sih? Kok ngelantur? We are two, who didn't need anything except us."
"I need a commitment," ucap gue.
"Loh, ini kita in relationship. Aku lagi berkomitmen sama kamu."
"Bercanda lo. Komitmen macem gini cuma buat anak SMA."
"Aku baru mampu segini. Aku masih mau sendiri."
Oh shit, man! What did he talking about? Shit! Selama ini, setelah ada gue, setelah katanya dia sedang berkomiten sama gue, ternyata dia masih sendiri. Dan masih ingin sendiri. He such a jerk!

Lalu gue pindah ke Bali.

Niatnya mencari ketenangan. Namun Eldaru datang lagi, malam ini ada didepan gue. Sedang minum kopi dikedai, dengan gue.
"Aku sudah siap. Maksudnya untuk komitmen yang lebih besar," ucap Eldaru.
Aku mendengus, "hatimu itu terbuat dari apa, Aru?"
Aru tertawa, "apalagi yang kurang? Biar aku tambahi."
What? God. It feels like Bruce Lee hit me repeatedly, hurt.
"Sayangnya, Aru, aku terlalu muak sama kamu. Sudah terlalu muak. Thanks, you give me many reasons to kick you out of my life. I didn't need you and your commitment anymore." ucap gue. Lalu pergi.

Gue nangis. Serius, kali ini gue nangis.
Gue bukannya butuh komitmen pakai paksaan.
It feels like someone spray the pepper to my eyes, perih.

Kamis, 17 Maret 2016

Friendzone

Tahukah kamu, diam-diam aku ingin menyudahi semuanya saja. Menyudahi pertemanan kita, menyudahi aku dan kamu, menyudahi aku dan dia, menyudahi dia dan kamu. Rasanya bodoh untuk tetap mempertahankan semua ini, yang bahkan kita sendiri masih meraba ada apa.

Setelah bertahun-tahun bersama, seharusnya kita berhenti menyakiti satu sama lain. Ada apa dengan kita? Meraba seperti si buta. Bahkan kalau mau, kita bisa berkumpul dan bicara. Entah hati siapa yang akan terluka, setidaknya kita harus mengerti. Tidakkah kamu pikir begitu?

Masalahnya selalu sama, aku yang mencoba mengejarmu, selalu tiba-tiba tersungkur jatuh saat melihatmu dengannya. Bukan hal baru, namun aku belum terbiasa. Bagaimana dia bisa sedekat itu denganmu, aku masih belum paham. Dimana letak kesalahanku, aku juga tak menemukan.

Bicara soal dia, aku juga bukannya orang yang tak mengerti sama sekali, aku tak sebegitu tolol. Aku mengerti bagaimana rasa, bagaimana binar dan bagaimana getar suara itu saat membicarakanmu.
Dia jatuh cinta, jatuh cinta, sayangnya padamu.

Masalahnya, aku juga telah lama jatuh cinta padamu.

Tidak, aku dan dia tidak buru-buru berkata ini cinta. Aku pikir, aku sudah memahami ini cinta dari sejak lima tahun lalu. Aku sudah paham bahwa aku mencintaimu dari sejak itu. Namun itu belum cukup bagiku untuk menata hati juga rasa yang keliru ini. Waktu selama itu belum cukup untuk membuatku berani mengeksekusi rasa yang keliru ini.

Jelas keliru, aku dan sahabatku mencintai kamu, yang merupakan sahabat kami juga. Mana bagian yang benar? Tidak ada.

Lalu bicara soal kamu. Kamu hanya bergeming, seperti tembok batu tinggi yang dulu sering kita datangi. Tak pahamkah kamu bahwa ada dua yang menggebu disekitarmu. Kamu yang entah, bersikap seakan buta dan mati rasa. Dengan dalih persahabatan yang luar biasa membingungkan buatku. Kamu bicara sebagai orang yang menyenangkan dengannya, tapi kamu diam seperti batu saat didekatku. Aku masih belum mengerti apa sebabnya, namun pasti ada yang kamu lakukan entah untuk apa dan siapa.

Dari semua tempat singgahku, dari semua yang semu, aku pikir hanya dirimu labuhanku.
Namun entah, rasanya tidak tepat saat memikirkan dia, memikirkan kita.
Aku bukan orang yang terobsesi akan dirimu, baiklah jika semua tak seperti harapanku. Namun, tidakkah menurutmu kita semua butuh kejelasan atas kekeliruan yang sedang terjadi? Tidakkah kamu ingin tahu bagaimana aku padamu, bagaimana dia padamu? Tidakkah kamu ingin tahu, bahwa ada suatu kesalahan yang berkembang semenjak kita dewasa? Tidakkah kamu pikir aku sudah terlalu lama digantung dengan dalih persahabatan?

Atau, selama ini, mungkin aku belum meraba sesuatu antara kamu dan dia? Begitu? 
Apa aku terlalu buta juga bodoh untuk menyadari bahwa kalian dua sejoli?

Apakah ternyata, selama ini aku hanya penghalang yang lancang?

Sabtu, 05 Maret 2016

Kematian Baba



Baba pergi tepatnya pada 5 Februari 2008. Waktu itu sore saat aku sedang merapikan meja kerja, akan pulang. Sore itu gerimis, jalanan macet, tapi aku tak mau menunda kepulangan ke rumah.
Lalu, Dewa, seorang sahabatku sejak SMA sekaligus tetanggaku, datang. Dewa bilang, “bisa pulang sekarang kan?”
“ya, ada apa? Kok lo buru-buru, pucat pula,” ucapku sambil membawa tas yang sudah rapi.
Dewa mengajakku duduk di sofa ruanganku, “Baba… baba pergi.”
Alisku mengerut heran, “pergi? Kemana? Sendiri?”
Dewa menggeleng, “Baba meninggal.”
Wajahku kaku. Air mata pun tak mampu turun. Aku hanya menatap Dewa dengan tegas, entah apa maksudnya. Tapi aku sepenuhnya sadar, namun mati rasa.
“Ayo pulang, Dewa,” ajakku pada Dewa. Lalu dengan begitu saja Dewa membawaku pulang, aku tak tahu.
Saat sudah sampai rumah, rumahku ramai. Banyak tetangga dan saudara kami yang datang, beberapa kerabat Baba yang kukenal juga mulai berdatangan. Beberapa temanku juga sudah ada yang datang. Aku datang terlalu terlambat, jalanan macet dan aku hanya… tak tahu.
Aku melihat Baba ditutup kain. Mama datang, bersimpuh di samping Baba.
Aku berjalan mendekati jenazah Baba. Hatiku seperti ditarik lalu diremas dengan kencang, seperti akan hancur.
“Baba,” panggilku.
Mama menoleh kearahku, lalu memelukku, “oh anakku… anakku. Jantungnya… jantungnya menyakitinya.”
“Baba,” panggilku sekali lagi. Baba hanya diam terpejam. Baba tak mungkin menyahutku.
Lalu aku diam disamping Baba, sambil merapalkan doa kepada Tuhan untuk membahagiakan Baba disana.
Dewa disampingku. Merangkul pundakku. Lama sekali kami dalam posisi ini; aku, Mama dan Dewa, hanya melihat Baba sambil diam. Mama terisak perlahan, terus dan terus, sekalipun mereka telah lama bercerai, aku paham betul rasa kehilangan yang dirasakan Mama.
Lama-kelamaan para pelayat pergi karena hari sudah malam. Hanya beberapa saudara yang berada di ruang keluarga, sedangkan kami bertiga di kamar. Mama keluar, meninggalkan aku dan Dewa bersama Baba.
“Dewa, gue satu-satunya anak Baba. Baba sudah lama pensiun dan bahagia melihat gue bekerja dan berguna. Gue juga bahagia punya Baba, lo tau itu kan?”
“Baba juga bahagia punya elo,” balas Dewa. Tangannya berada diatas pangkuannya. Kami duduk bersimpuh hingga mati rasa.
“Waktu itu Baba bilang sayang sama gue, dia juga bilang, kalau dia wafat dia mau gue lah yang terakhir dilihatnya, bukan orang lain. Dewa, harusnya hari ini gue nggak kerja, Wa. Gue harusnya tetap dirumah,” aku terisak. Dadaku sakit.
Aku menangis. Menangis kencang. Baba semalam mengeluh sakit padaku, namun kukira itu hanya masuk angin. Tapi Baba ternyata tidak masuk angin. Lalu pagi itu Baba pergi karena serangan jantung.
“Ya Tuhan, Dewa, gue harusnya dirumah sama Baba. Gue harusnya jadi orang yang terakhir dilihatnya. Harusnya gue tau kalau Baba sakit. Baba… Baba…” aku menangis pilu. Siapapun yang mendengarnya akan merasa pilu juga.
Semua orang tau, aku adalah putri yang paling disayanginya setelah Mama dan dia bercerai. Aku adalah satu-satunya yang dia punya begitupun sebaliknya.
“Baba… aku mohon bangun. Baba aku minta maaf, Baba dengarkan aku,” dengan napas satu-satu aku bicara dengan Baba yang matanya tak akan pernah terbuka lagi untuk dunia.
“Tenanglah… tenang,” ucap Dewa sambil mengusap bahuku.
“Harusnya gue tau ini, Dewa.”
“Kita gak pernah tau kapan mau menerkam, dia hanya selalu mengintai,” balas Dewa.
“Tapi dia Babaku!” jeritku.
Aku menangis terus, airmata rasanya tak berhenti. Aku kehilangan Babaku.
Baba, jika Tuhan izinkan aku tau kapan maut menjemputmu, saat itu, aku akan datang dan bukannya menjadi orang terakhir yang pulang.
Jika Baba pernah salah padaku, percayalah aku lebih banyak melakukannya. Aku tau aku bukanlah Mama yang spesial di hatimu, namun aku percaya aku tetaplah putrimu tersayang.
Lalu, Baba, sekeras apapun aku mencari, tak pernah ada lelaki yang serupa denganmu. Baba tetap menjadi juara dalam hatiku.
Baba, bersama-sama kita lewati badai tanpa Mama. Namun aku sudah selesai belajar darimu, aku harus berjuang sendiri sekarang, Baba. Tanpamu disampingku.
Jika Baba bukan ayahku, aku tak tau bisakah aku bersandar pada yang lain. Baba adalah sandaranku, lalu tiba-tiba bisa menjadi temanku sekaligus lawan bermain catur buatku.
 
Baba, jika Baba mau tau sebesar apa aku mencintai Baba, tolong lihatlah mataku. Hanya ada satu cinta tergambar disana, cinta untukmu, Baba.
Cinta untukmu, Baba