Sabtu, 22 Agustus 2015

Tuturan 200 Jeda

'Garda, jika kamu tanya aku apa arti gumamanku waktu kita berlibur di Pantai Losari, aku akan menjawabnya sekarang', itu ucapan tegas dari hatiku sebelum memasuki kantor Garda.
"Terlambat 20 menit, untung aku cinta sama kamu, jadi aku memaafkanmu," ucap Garda saat aku masuk ke ruangannya.
Kamu tahu, Garda? Aku selalu jatuh cinta dengan senyum kecilmu dan mata tajammu yang menatapku intens. Sudah berapa tahun aku cinta padamu? Sudah berapa ratus jeda untuk rasa yang menggelora ini? Sudah berapa kali peringatan dari diri ini untuk rasa yang kuat ini?
Cinta. Aku selalu bingung jika membicarakannya. Kadang aku membicarakannya denganmu, Garda, tapi itu semakin membuatku bingung.
Apakah cinta adalah suatu rasa suci atau penuh birahi? Katamu, Garda, cinta itu tak bisa didefinisikan secara gamblang, cinta hanya bisa dirasakan.
"Hidupmu mudah dan ceria ya? Bisa jalan-jalan pas lagi jam kantor, senyum-senyum pas masuk ruanganku. Omong-omong, masih ingat tujuanmu kemari kan?" ucap Garda sambil memegang kepalaku.
Sumpah, aku rasa rambut hitamku terbakar, sentuhannya seperti mengandung magis yang kuat.
Aku duduk di sofa ruangannya itu. Garda mengambil cappuccino dingin dan duduk di sebelahku.
"Aku bilang, aku ingin menjelaskan sesuatu, kan?" tanyaku sambil membuka cup cappuccino punyaku.
Garda mengangguk, "dan apakah itu?"
"Apa? Kalau ingin kejelasan, ya kamu harus bertanya," balasku.
Keningmu berkerut bingung. Mungkin dalam bisikan-bisikan di hatiku ini, aku sudah mengkhianatimu.
"Kalau begitu, terserah aku kan ingin kejelasan yang mana? Lama-lama kamu semakin aneh," ucap Garda.
Garda mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya. Menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke wajahku, sambil tersenyum sinis.
"Tidak pernahkah kamu membenciku?" itu pertanyaan pertama Garda.
Benci? Benci kepadamu, Garda?
Aku selalu benci saat kamu menamparku atau menghembuskan asap rokokmu kepadaku. Aku selalu benci saat kamu meraih pinggang salah satu rekan kerja wanitamu. Aku selalu benci saat kamu datang ke apartemenku dalam keadaan mabuk, dan muntah di bathup kesayanganku. Aku selalu benci saat kamu tidak membelaku yang sering direndahkan oleh ibumu. Aku selalu benci saat bibirmu, tak hanya mengecup bibirku, melainkan wanita-wanita mainanmu. Aku selalu benci kelakuan aneh dan busukmu yang menyayat hatiku dengan rupawan.
"Tidak, aku tidak pernah membencimu barang sedikitpun," jawabku. Bukannya aku takut menjabarkan kebencianku kepadamu dan takut mendapat tamparan darimu, tapi ada yang namanya tulus dalam hatiku yang kokoh ini.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Garda.
Tak perlu kamu tanyakan itu, sebab segala benci yang aku jabarkan tadi, telah ditutupi oleh cintaku yang besar kepadamu. Cinta tanpa ego tapi dengan kesabaran, juga ketulusan yang aku bilang tadi.
"Aku mencintaimu," jawabku.
"Tapi, sayangku, seseorang penah bilang padaku tentang cintamu, dia bilang begini 'cinta dia cuma dari hipokrisi dan opera coklat, jangan percaya'. Lalu aku harus percaya yang mana?" sanggah Garda.
Aku menatapmu kosong, Garda, kosong. Bukannya tak percaya dengan kata-katamu itu, tapi bertanya-tanya, benarkah ucapanmu tadi itu dari orang lain dan bukannya dari dirimu sendiri?
"Siapa orang yang bilang begitu?" tanyaku.
"Seseorang," jawabmu singkat, kembali dengan senyum sinismu. Bukan, bukan senyum kecil yang selalu ku puja.
"Bukan dirimu sendiri, kan, yang bilang begitu?" tanyaku lagi, tenang, tapi kepalaku pening.
Wajahmu tiba-tiba mengeras, rahangmu terkatup rapat.
"Apa itu terdengar seperti aku yang bicara begitu?" tanya Garda.
"Ya," jawabku. pening di kepalaku semakin menjadi, tapi ketenanganku lebih kuat dari itu.
"Oke, memang aku yang bicara begitu,"
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kamu berpikir bahwa cintaku hanya dari hipokrisi dan opera coklat?"
"Tak ada kemunafikankah dalam cintamu itu? Apa ini hanya semanis dan selugu cinta di iklan coklat?"
Aku menghembuskan nafas beratku. Peningku hilang, berganti kesadaran dan ketenangan yang mengejutkan.
Aku akan menjelaskannya.
"Kamu ingat, cintaku Garda, gumamanku di Pantai Losari waktu itu? Ya, kamu ingat, akan selalu ingat sekalipun aku lupa. Aku bergumam, bahwa jeda untuk perasaanku padamu sudah yang ke 176. Malam tadi, tepat yang ke 200. Kamu tau apa maksudnya? Selalu aku ingatkan pada diriku untuk jeda sejenak dari perasaan mencintaimu, sejenak saja, untuk aku berpikir bahwa cinta kita salah. Tadi aku bilang aku tak benci padamu, kan? Ada banyak kebencianku padamu, tapi seluruh benci itu sudah ditutup oleh rasa cintaku yang tulus dan tanpa ego sedikitpun. Aku benci saat kamu menghembuskan asap rokokku ke wajahku, benci saat kamu menamparku, benci saat kamu mencium wanita lain, benci saat aku ternyata bukan yang satu-satunya bagimu karena seringkali, kamu merangkul pinggul wanita lain. Katakan jika aku keliru. Tapi aku yakin kamu pun membenarkannya. Aku banyak membenci hal-hal yang ada didirimu, tapi syukurnya cinta membuat aku buta, aku terus dan akan selalu mencintaimu sekalipun banyak laki-laki lugu nan setia diluar sana. Aku mencintaimu, mengerti? Sudah 200 jeda, dalam tiap jeda aku membuat diriku rasional dan mengabaikan perasaanku padamu. Aku mencoba mendengarkan akal sehatku yang bilang bahwa kamu tidak pantas untukku karena sering menyakitiku. Tapi lagi-lagi cinta ini begitu kuat. Aku cinta kamu, paham? Selalu cinta, tak peduli seberapa menyakitkannya cinta padamu ini," tuturku. Tak ada airmata, tak ada isakan, hanya kelegaan semata.
"Maaf," itu kata pertama darimu setelah beberapa menit kita terdiam.
"Maaf," itu kata kedua.
"Aku juga mencintaimu. Tapi mungkin caraku salah. Ajari aku dan tapaki jalan hidup kita bersama-sama," itu penjelasanmu.
Lalu ada haru saat kamu memelukku dan terdengar isak tangis darimu, Garda. Pertama kali aku mendengarmu terisak.
Bahuku basah oleh airmatamu, tak masalah, kan aku mencintaimu.
Cinta itu baik-baik saja jika tulus dan tanpa ego, sekalipun tidak rasional.

Minggu, 16 Agustus 2015

Bunga Tidur

malam ini aku terjaga
tertidur, tapi terjaga
aku bisa merasakanmu, Bunga
kamu ada dalam aku yang terjaga
kamu ada dalam aku yang tertidur

Bunga, resah ini tak akan usai
hingga lewat mentari merajai semesta
resah ini, Bunga, aku bawa dalam tidurku yang terjaga
bulu mata lentikku bergetar
aku terjaga dalam tidurku

kamu tahu mengapa aku resah?
aku resah, memikirkan kamu yang tak henti membayangi tidurku
atau yang hilang seketika dalam kesadaranku
api aku ingin kamu, Bunga

aku ingin terlelap saja
tanpa terjaga
aku ingin kamu membayangiku

Bunga, aku ingin kamu
aku ingin terlelap saja

-gumaman rindu seorang Jati