Yang bersemayam dalam duka
Yang termenung dalam rindu
Lalu hati-hati menyeberangi sakit
Namanya asa
Tapi tak kunjung pudar
Sekalipun dihapus luka yang berpendar
Aku mencoba hilang
Di antara yang terang juga yang gelap
Di antara sepi juga ramai
Tapi tak bisa
Takdir masih mau menoreh tintanya di jalanku
Kemudian dalam asa, diriku bermimpi
Membuat yang sumbang jadi terbang
Sabar merajut harap
Untuk menuju bahagia di ujung sana
Menggenggam tinta kelabu sialan
Aku tetap melangkah
Mungkin sebentar lagi tiba
Selasa, 16 September 2014
Kami
Kami, para pelajar yang
pada pagi hari datang memakai seragam membosankan dan mendengarkan
teriakan-teriakan monoton si tukang parkir. Dengan satu tujuan, kami datang ke
sekolah untuk kebahagiaan kami di masa depan.
“Kamu
udah ngerjain PR sejarah, Tih?” tanya Salmah padaku pagi itu.
“Baru
setengah, kamu?” balasku.
“Baru
setengah juga. Yaudah, aku coba liat punya yang lain deh,” ucap Salmah lalu
pergi meninggalkanku.
Kegiatan
kami di pagi hari, saling bertukar pekerjaan rumah yang pada hari itu harus
diserahkan pada guru. Iya, kami semua, dari yang paling rajin, sampai yang
paling malas sekalipun. Tentu saja, ini akan menjadi kenangan di akhir nanti.
Pada
jam pelajaran ketiga tidak ada guru, karena guru yang bersangkutan sedang sakit
saat itu. Kelas kami rusuh sekali, semua berbicara dan berteriak-teriak. Semua
murid kelas kami mengeluarkan suara, kecuali Zul si pembuat onar di kelas kami
yang sedang tidur di pojok ruangan saat itu.
“Ponselku
hilang!” teriak Ami yang mampu membuat kami semua terdiam. Tidak ada suara
kecuali tangisan Ami yang pelan-pelan mulai pecah. Sontak, semua murid langsung
memastikan keberadaan ponsel masing-masing.
Suara
Farah yang melengking membuat kami bertambah pucat, “ponselku juga hilang!”
Tak
lama kemudian, Faiq mengucapkan hal yang sama.
Hebat,
tiga orang di kelas kami kehilangan ponselnya. Siapa yang melakukannya? Tidak
mungkin salah satu dari kami, kan? Lalu siapa? Tidak ada anak-anak kelas lain
yang masuk ke kelas kami. Tidak ada orang lain yang masuk ke kelas kami.
Suasana
kelas kami menjadi lebih kacau dari sebelumnya. Kepanikan dan ketakutan mulai
melanda diri kami masing-masing. Setiap murid di kelas kami sibuk dengan
kesimpulannya sendiri. Layaknya kesimpulan mereka harus diterima oleh orang
lain dan kesimpulan itu pasti benar.
“Kita
harus memeriksa semua tas di kelas ini!” teriak Julius.
Kami
semua menyetujui usulnya. Tiara memerintahkan kami untuk maju ke depan kelas
dan meninggalkan tas kami di bangku masing-masing.
Farah,
Ami, dan Faiq memeriksa semua tas. Sekujur tubuh murid perempuan juga dirazia
oleh Tiara dan sekujur tubuh murid laki-laki dirazia oleh Julius. Lalu Julius
dan Tiara meminta tubuh mereka juga di razia oleh Reza dan Riqsa. Apapun bisa
terjadi di saat seperti ini kan?
Farah
terpekik kaget saat memeriksa tas milik Vio. Ketiga ponsel yang hilang ada di
tas milik Vio. Ekspresi Vio tidak kalah terkejut dibanding kami semua.
Apa-apaan ini?
“Aku
nggak percaya kamu sejahat ini, Vi,” ucap Salmah yang merupakan teman sebangku
Vio.
“Vio,
tega sekali sih kamu. Kita ini kan teman,” ucap Julius dengan sinis.
“Kamu
mau ponsel seperti ini, Vi? Caranya bukan dengan mencuri!” bentak Farah sambil
mengacungkan ponselnya.
“Kenapa
kalian menuduh aku? Bukan aku yang mencurinya! Aku nggak mungkin sejahat itu
sama kalian! Memang kalian lihat aku mencurinya?” bentak Vio membela diri.
“Udah
jelas ya, Vi, ponselku ada di tas kamu!” balas Ami dengan penuh penekanan.
“Mungkin
aja aku dijebak sama pencuri itu! Sumpah, bukan aku yang melakukannya!” balas
Vio dengan suara bergetar.
“Nggak
perlu mengelak kamu, Vi. Semuanya sudah jelas!” bentak Tiara.
“Dasar
pencuri!” bentak Farah.
Vio
mulai menangis, “bukan aku, itu bukan perbuatanku.”
“Vio,
kesini sebentar!” teriak Ibu Khusnul yang merupakan wali kelas kami dari depan
pintu kelas. Di samping beliau ada Faiq dengan muka merah padam.
Vio
menghampiri Ibu Khusnul dan beliau mengajak Vio berbicara di meja guru kelas
kami. Berkali-kali kami mendengar Vio berusaha meyakinkan Ibu Khusnul bahwa
bukan dia yang melakukan ini.
Tiba-tiba,
salmah yang duduk tepat di belakangku menepuk bahuku dan membisikkan sesuatu.
“Santai
aja, jangan tegang begitu. Hari ini Vio ulang tahun, ini semua rencanaku dan
beberapa orang di kelas,” bisik Salmah.
Sontak,
mataku terbelalak. Aku buru-buru memberitahu Annisa yang merupakan teman
sebangkuku, dan reaksinya sama sepertiku. Dan ucapan Salmah pun menjadi pesan
berantai yang mengejutkan beberapa orang.
Benar
saja, sedetik kemudian Ulfah dan Suci masuk ke kelas dengan membawa kue ulang
tahun yang di atasnya terdapan lilin berbentuk angka 15.
“Selamat ulang tahun,
kami ucapkan…” kami pun menyanyikan lagu selamat ulang
tahun untuk Vio.
Ibu
Khusnul menyalami Vio yang kali ini menangis karena terharu. Kami semua
menghampiri Vio yang sedang meniup lilin dan kami sibuk menggoda Vio yang
ternyata gampang sekali menangis.
“Kalian
ini benar-benar, aku takut sekali tadi,” ucap Vio dengan sisa-sisa tangisnya.
“Kalau
nggak bersalah kenapa harus takut?” balas Ami.
“Karena
kalian mengancam akan melaporkanku ke polisi, padahal bukan aku yang melakukan
ini,”
Ami
mencolekkan krim kue ke wajah Vio, “kalau kamu menangis, Vi, polisi bisa
mengira memang kamu yang melakukan ini.”
Kami
semua tertawa mendengar ucapan Ami. Benar juga.
“Tapi
terimakasih karena sudah repot membuat kejutan untukku,” ucap Vio.
Vio
mengucapkan terimakasih kepada kami sambil menangis dan kami meminta maaf sudah
membuatnya menangis.
“Ini
semua ide siapa, sih?” tanya Vio.
Serentak
semuanya menunjuk Salmah yang langsung membelalakan mata. Vio mengejar Salmah
dan mencolekkan krim kue ke pipinya. Lalu kami sibuk berfoto dengan wajah yang
penuh dengan krim. Wajah Vio yang paling parah. Beberapa dari kami memberikan
kado untuk Vio.
Tak
berapa lama kami sudah larut dalam tawa.
Kami bahagia pernah
dipersatukan. Kami juga bahagia pernah menjadi teman. Dengan suka-duka yang
kami jalani bersama, kami merasa utuh.
Kami saling bertumpu
pada teman. Saling menggenggam erat tangan teman untuk tetap kuat. Kami bahagia
menyadari bahwa kami adalah satu bagian.
Walaupun kami tidak sehebat
mereka. Walaupun kami hanya yang kedua. Kami merasa sempurna telah berbahagia
bersama.
Lalu perpisahan menjadi
sangat menyakitkan bagi kami.
Sampai
jumpa, kawan, di pagi selanjutnya.
Aku Memanggilnya Ibu
Hari
ini hujan. Aku menunggu Ibu di pelataran TK dengan tidak ada orang selain
seorang anak lelaki yang dikenal sangat hiperaktif bernama Arul yang sedang
bermain hujan-hujanan.
Di persimpangan itu aku melihat Ibu
dengan payung kuning kesukaanku sedang tersenyum padaku. Aku melambaikan tangan
dengan gembira. Akhirnya…
“Maaf Ibu terlambat, Bibi Ainun baru
saja mengalami masalah, jadi tadi beliau bercerita sedikit lama pada Ibu. Kau
membawa payung?” ucap Ibu saat sudah berada di depanku.
“Tidak masalah, yang penting
sekarang Ibu sudah disini. Tidak, aku tidak membawa payung,” jawabku.
“Kau ini, sudah berapa kali Ibu
bilang untuk membawa payung, ini musim hujan, kau tahu? Besok-besok jangan
diulangi lagi,” nasehat Ibu, sambil kami berjalan beriringan meninggalkan
sekolahku.
“Aku suka payung ini, tapi Ibu tidak
pernah membiarkanku membawanya,” ucapku sambil cemberut.
Ibu tersenyum, “ini terlalu besar
untukmu, kau bisa tidak terlihat jika memakai ini.”
Aku semakin cemberut.
***
Aku tinggal berdua dengan Ibu,
mungkin dari aku lahir. Aku tidak tahu dimana Ayah, tapi aku yakin beliau sudah
menyakiti Ibu dengan sangat.
“Makanlah sayurnya. Kau tahu? Gadis
remaja harus memakan banyak sayur, agar kulitnya halus,” nasehat Ibu saat melihatku
menyingkirkan sayuran dari piringku.
“Tidak, aku tidak mau. Rasanya tidak
enak, Bu. Lagi pula, aku bisa memakai pelembab kulit agar kulitku tetap bagus,”
balasku.
“Ah, gadis berumur 16 tahun memang
menyebalkan bila dinasehati,” ucap Ibu sambil terkekeh. Aku pun hanya bisa
menampilkan deretan gigiku yang putih.
Kau tahu? Aku mencintai Ibu dengan
sangat, seperti tak bisa melihat wajah Ibu yang marah, atau sedih karena
perlakuanku.
***
Siang itu aku pulang dengan mata
berkaca-kaca. Aku tidak banyak bercerita pada Ibu karena aku ingin sendiri di
kamar. Ada sesuatu yang terjadi di sekolah tadi. Akhirnya aku hanya menangis di
kamar, meninggalkan Ibu dengan tatapan bingung dan khawatir yang ditujukan
kepadaku.
Ibu mengetuk pintu sambil memanggil
namaku. Aku pun membukanya.
“Apa yang terjadi, Sayang?” tanya
Ibu sambil mengelus rambutku.
“Setelah ini aku akan benar-benar
membenci lelaki, Bu,” ucapku diiring tangis yang tadi sudah mulai reda.
“Ada apa? Memangnya apa yang dia
lakukan padamu?” tanya Ibu lagi.
“Dia bilang, dia akan mempertahankan
hubungan ini, dia tidak akan membohongiku dan dia tidak akan memilih perempuan
lain selain diriku. Tapi tadi aku melihatnya menggandeng tangan seorang perempuan,
dia adalah seniorku yang sangat cantik. Aku membencinya, Bu, aku tidak akan
pernah mempercayai lelaki lagi,” jelasku pada Ibu.
“Lalu bagaimana nanti jika kau
menikah? Kau akan hidup dengannya, bahagia bersamanya, mengasuh seorang anak
darinya. Kau bilang, kau ingin mencium bibir seorang lelaki yang akan menjadi
suamimu nanti?” tanya Ibu dengan nada menegurku.
“Tidak, aku tidak akan melakukannya.
Aku tidak ingin menikah! Aku ingin tinggal bersama Ibu selamanya,” jawabku
dengan penuh penekanan diiringi tangis yang semakin menjadi-jadi.
“Tenangkan dirimu dulu, kau pasti
akan menyesal pernah bicara seperti ini,” ucap Ibu sambil memelukku yang terus
menangis.
“Tidak, tidak, Bu. Aku tidak akan
menyesal. Aku tidak mau hidup dengan lelaki. Dimana Ayah? Dia bahkan pergi
tanpa sempat aku melihatnya. Aku yakin dia pasti menyakiti Ibu juga. Aku tidak
mau hidup dengan lelaki, mereka semua sama saja, mereka brengsek, Bu,” aku
masih terus menangis dipelukan Ibu.
Ibu mempererat pelukannya,
“percayalah bahwa ada lelaki yang ditakdirkan untukmu. Jangan jadikan kisah Ibu
dan Ayah sebagai pandanganmu. Ibu yang salah, Ibu mencintai lelaki yang salah,
Sayang.”
Tangisku seperti tidak akan
berhenti, “aku, aku takut, Bu, aku takut mencintai lelaki yang salah, Bu.”
Aku bahkan hanya ingin hidup bersama
Ibu, tanpa ada seorang lelaki disisiku. Aku hanya ingin terus mendampingi Ibu.
Aku hanya ingin terus menyayangi Ibu seperti Ibu yang terus menyayangiku.
***
“Kapan dia datang? Ibu tidak sabar
melihat bagaimana rupanya. Apa kau sudah izin tidak masuk kerja hari ini pada
atasanmu?” tanya Ibu.
“Tentu saja aku sudah izin, Bu,
kalau tidak begitu gajiku akan segera dipotong,” jawabku sambil terkekeh.
“Ah mengapa dia lama sekali? Apa dia
tahu sudah membuat wanita tua seperti Ibu menunggu lama sekali?” gerutu Ibu
dengan senyuman dan tatapan bahagia di wajahnya yang mulai terlihat keriput.
“Sebentar lagi dia pasti datang, Bu.
Dia bilang dia sudah dalam perjalanan ke sini,” jawabku dengan senyum bahagia.
Garis wajah Ibu sudah terlihat tua
dan lelah. Walaupun begitu Ibu tetap cantik dengan hidung bangir, mata bundar,
dan bibirnya yang selalu mengulum senyum dengan tulus. Belakangan Ibu menjadi
cepat lelah. Aku ingin Ibu menjalani kelas yoga agar lebih santai dan sehat.
Tapi Ibu tidak mau, Ibu hanya akan menikmati masa tuanya dengan dilayani
olehku, tidak dengan yang lain.
Semoga Ibu baik-baik saja.
***
Hari ini adalah acara penikahanku
dengan kekasihku yang beberapa waktu lalu datang untuk melamarku. Lelaki yang
sama, yang telah membuat Ibu menunggu waktu itu hanya untuk kedatangannya ke
rumahku. Amir.
Aku melihatnya berdiri di altar
dengan gagah dan sedang menungguku yang sedang berjalan menuju kesana dengan Paman
Bram (suami Bibi Ainun) disampingku. Setalah sampai di altar, Paman menyerahkan
tanganku pada Amir, yang diterima dengan setulus hatinya.
Aku melihat senyum bahagia di bibir
Ibu. Dengan rambut putihnya yang disanggul dan gaun selutut yang sederhana. Aku
bahagia dengan kesempurnaan saat ini.
***
Aku masih tinggal dengan Ibu. Amir menjadi
satu-satunya lelaki di rumah ini. Putriku, Anggi, sangat amat menyayangi Ibu.
Dia bilang neneknya adalah kebahagiaannya di urutan ketiga setelah aku dan
Amir. Dia terlihat lucu sekaligus dewasa. Kata Ibu, Anggi mirip sekali
denganku.
Amir
satu-satunya lelaki yang membuatku percaya bahwa lelaki juga mempunyai hati
yang tulus untuk mencintai wanita. Dia seperti keajaiban bagiku.
“Kau
ingat saat kau bilang tidak mau menikah? Ibu senang kau tidak mempertahankan
ikrar konyolmu itu setelah bertemu Amir,” ucap Ibu suatu ketika.
“Aku
mencintai lelaki yang tepat, Bu,” balasku sambil tersenyum bahagia.
Ibu
tersenyum bahagia tanda ia setuju.
***
Suatu
pagi aku terbangun. Aku bingung mengapa pagi ini Ibu belum bangun, tidak
seperti biasanya.
Aku
membuka kamar Ibu. Ibu tidur dengan wajah tenang, setenang air didanau dekat
rumah kami. Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya.
“Ibu,”
panggilku. Tidak ada respon.
Jantungku
mulai berdebar. Aku memegang lehernya mencari nadinya. Tidak ada, tidak ada
yang berdenyut. Ah mungkin aku yang tidak tahu dimana letak nadinya. Aku pun
menaruh tanganku didepan lubang hidungnya. Tidak ada nafas yang terhembus. Ah
mungkin memang tidak terasa. Aku memegang dadanya, mencoba merasakan detak
jantungnya. Tidak ada, tidak ada yang berdetak disini.
“Ibu,
Ibu tolong bangun, Bu. Ini sudah terlalu siang. Ibu, aku mohon bangunlah,”
ucapku dengan lebih keras. Aku mengguncang tubuh Ibu. Ibu tetap tenang.
Amir
menghampiriku dengan wajah yang terlihat baru bangun tidur.
“Ibu,
Ibu, tolong bangun, Bu. Ibu, bangunlah, Bu,” ucap Amir sambil menggoncang Ibu.
Dia juga memeriksa denyut nadi dan nafas Ibu.
Amir
pun memelukku erat sekali. Aku menangis dalam pelukannya. Tubuhku terasa lemas
dan air mataku seperti tak mau berhenti mengalir.
“Ibu
sudah pergi, Sayang, beliau sudah pergi,” bisik Amir.
“Ibu,
Ibu aku mohon bangun. Maafkan aku, Bu. Maafkan aku. Ibu bangunlah, Ibu belum
melihat Anggi di Sekolah Dasar. Ibu aku mohon bangun, Bu,” ucapku dengan
terbata-bata. Tubuhku jatuh ke bawah, aku terduduk karena lemas sekali. Aku
melihat Amir menangis dan Anggi yang mengintip takut-takut dari pintu kamar
Ibu.
Aku
percaya Ibu sudah tenang disana. Tapi apakah harus secepat ini? Apa Tuhan tidak
bisa menundanya terlebih dahulu. Ibu, aku bahkan belum mengatakan bahwa aku
mencintaimu, Bu.
Ibu
meninggalkan dua pucuk surat untukku dan untuk Amir.
Untuk
menantuku, Amir:
Aku
tahu aku bukan mertua yang baik untukmu. Maaf karena menitipkan putriku yang
sangat manja padamu. Tapi terimakasih karena telah menerimanya dan memilihnya
menjadi pendampingmu.
Aku
senang kau menyayangiku seperti akulah Ibu kandungmu. Aku bahagia memiliki
menantu yang menyayangiku dan menyayangi putriku. Putriku terlihat kuat, tapi
sebenarnya dia sangat rapuh seperti daun di musim gugur. Tolong biarkan putriku
bertumpu padamu.
Amir,
tolong buat putriku bahagia selama hidupnya. Aku mempercayakannya padamu. Aku
juga mohon untuk membimbing Anggi menjadi gadis yang luar biasa.
Amir,
jadikan kedua perempuan itu Ratumu. Jangan kau sakiti mereka, aku mohon.
Note:
Putriku sangat mencintaimu, Amir.
-Ibu Mertuamu
Untuk
putriku tercinta:
Sayang,
maaf Ibu pergi terlalu cepat. Maaf meninggalkanmu secepat ini. Percayalah
Sayang, Tuhan telah mengaturnya. Tolong maafkan Ibu.
Sayang,
maaf Ibu belum bisa menjadi Ibu yang sempurna untukmu, maaf Ibu belum
sepenuhnya membimbingmu. Sayang, jagalah suami dan anakmu. Jadilah ibu dan
istri yang kuat. Sayang, jaga Amir, dia adalah rumahmu sekarang. Sayang,
bimbinglah Anggi menjadi wanita luar biasa sepertimu. Berbahagialah setelah
ini. Tolong hapus air matamu setelah ini. Ibu mohon, ikhlaskan Ibu yang akan
istirahat.
Sayang,
Ibu mencintaimu, sangat. Jaga dirimu.
-Ibu
Surat
untukku basah setelah aku membacanya. Aku bahagia memiliki Ibu yang sangat
mencintaiku.
Ibu,
aku juga mencintaimu.
Ibu.
Aku memiliki seorang
putri yang mencintaiku sampai akhir hayatku. Yang menjagaku, dan yang selalu
mebuatku bersemangat menjalani hidup ini. Tanpa dia disampingku, tanpa siapapun
kecuali Ainun dan Bram, aku membimbingnya menjadi wanita luar biasa. Tanpa
pernah membentakku dan selalu menangis manja kepadaku, membuatku merasa sangat
dibutuhkan olehnya. Aku sangat mencintainya.
Tuhan, tolong tetap
jaga dia. Setelah aku tidak ada, aku yakin dia menjadi lebih rapuh. Tuhan,
tolong kuatkan dia, tolong jaga dia.
Aku mencintai putriku.
Sabtu, 13 September 2014
Pandita Ratu
Dengan
keanggunan dan keangkuhan
Duduk
tenang di atas singgasana
Sang
fajar bahkan terkalahkan
Jangan
coba mengusik, atau kau kan terusik
Dia
Pandita Ratu
Kecantikannya seperti pusaka Tuhan
Menguncupkan kembang yang akan mekar
Pun mutiara kerang
Saraswati minitiskan sempurna-Nya
Wahai Durga, simpan dulu maut itu
Jangan
tanya mengapa
Berwibawalah
Pandita Ratu
Jangan
tanya mengapa
Bahkan
purnama tidak tahu
Jangan
tanya
Diam-diam, padi disawah mulai berbisik
Petaninya bergunjing ria
Pandita Ratu memegang janji
Janji suci pada Sang Brahma
Pandita Ratu memegang janji
Janji
suci tentang hidup
Janji
suci tentang mati
Dia
mulai berikrar di hadapan Brahma
Berjanji
akan tetap hidup walau mati
Janji
suci itu telah diikrarkan
Pandita Ratu
Yang angkuh dan tenang
Pandita Ratu yang anggun
Pandita Ratu yang sempurna
Dan Pandita Ratu yang mengikrarkan janji suci
Langganan:
Postingan (Atom)