Kamis, 24 Desember 2015

Email dari Are di Budapest




[Senin, 06.10 sampai seterusnya]

Pagi itu, Re, aku menerima sebuah email baru darimu yang ada di Budapest. Pagi itu pula aku berani mengabaikan semua laporan keuangan yang sudah menjerit ingin kuperiksa sebelum pertemuan nanti siang…
Emailmu begini, Areno…
Untuk; Ratih, temanku dari segala arti teman
Perihal; bertanya
Temanku Ratih,
Aku ingin bertanya sesuatu untuk permulaan emailku, sayang, sudahkah kamu merindukan aku? Sebab segala rinduku yang berupa penantian akan temu denganmu sudah menumpuk didadaku dan tak peduli walau aku memaksa menghentikan pembelian tiket dari sini ke Indonesia. Aku bercanda, belum, aku belum rindu kamu, sama sekali belum. Aku juga belum berpikir tentang penerbangan melelahkan itu. Aku hanya cinta kamu, belum rindu
Aku sudah lupa bagaimana kita berbicara ringan tentang novel kesukaanmu atau film-film dan musik-musik kesukaan kita. Aku juga sudah lupa hal apa yang kamu tidak suka dan aku sangat menggilainya. Tapi, Ratih, beruntungnya aku belum lupa bahwa aku punya kamu dan seluruh hatimu (soal hatimu ini aku yakin), aku tak akan lupa.
Ratih, aku ingin bertanya, ini serius dan aku butuh jawabannya segera.
Ratih, apa arti cinta bagimu? Apa kamu mati-matian tidak mengharapkan perpisahan dari hubungan percintaan kita? Atau kamu realistis lalu memandang lurus pada lajur kehidupan yang bahkan tak selalu lurus seperti pandanganmu? Mengapa kamu memilih aku? Mengapa kamu menaruh hatimu kepadaku tanpa persetujuanku sebelumnya? Apakah dulu engkau seyakin itu dengan aku? Apakah dulu engkau seyakin itu dengan cinta? Atau malah sampai detik ini pun kamu masih yakin akan cinta?
Dan, sayangku, sudahkah kamu siap jika suatu hari kita berpisah? Apa persiapanmu?
Aku hanya bertanya, Ratih, dan jangan jadi ragu akan perasaanku kepadamu karena pertanyaan-pertanyaan diatas.
Dan, apa kamu baik? Bagaimana jantungmu? Sehat? Aku harap begitu.
Dan saat ini, selesai menulis email ini, aku rindu kamu, rindu sekali.
-Are.

Saat itu aku tercenung dan kaget, Re, jika kamu mau tau. Tapi lalu aku tersenyum dan senang. Hubungan ini, aku dan kamu, kita, bukan hanya tentang cinta dan ketidaksadarannya. Bukan hanya tentang ketidakmasukakalan cinta yang impulsif dan hanya tentang rasa. Aku butuh segala pikiranmu yang lalu melebur dan menjadi satu dengan segala pikiranku. Aku butuh itu, Re, butuh…
Maka segera aku balas emailmu begini…
Untuk; Are, separuhnya aku
Perihal; menjawab
Areno sayangku,
Mula-mula aku ingin menjawab tentang keadaanku. Jantungku mulai tidak baik, mungkin karena degup-degup aneh saat menerima emailmu. Mungkin karena aku jatuh cinta terlalu dalam padamu. Aku tidak bercanda, Re.
Are, aku senang kamu bertanya begini padaku. Aku butuh segala pikiranmu itu, Re, bahkan aku butuh segala keraguanmu kepadaku kalau ada. Karena aku ingin cinta kita masuk akal dan bukan hanya tentang kata-kata magismu yang membuat aku bahagia.
Re, aku ingin benar-benar jatuh saat mencintaimu. Lalu akan ada titik terjatuh dimana aku akan hampa dan bertanya pada diriku, benarkah aku mencintaimu? Atau aku hanya ingin jatuh dan mencapai titik itu lalu terlena. Tidak Re, aku tak mau. Aku ingin mencintaimu dengan fatal, sampai tak ada lagi yang perlu aku risaukan tentang cinta kita. Sampai aku hanya tau kamu paham betul aku dengan segala pikiran dan keraguanku.
Re, aku juga ingin mencintaimu secara sadar. Aku ingin sadar akan apa yang aku rasakan. Jiwaku tak ingin terpejam sekalipun mataku lurus menatapmu. Aku ingin sadar dalam mencintaimu, lalu menerjemahkan segala rasa dengan kerasionalanku yang benar-benar bangun. Re, aku tak ingin terlelap dalam cintamu. Aku ingin sadar saat merasakan kamu dan cintamu.
Aku senang aku tak memahami definisi mutlak tentang cinta, aku senang. Tapi aku bisa mendefinisikan secara jelas bagaimana definisi dan alur cintaku kepadamu. Aku bukannya cinta tanpa alasan, Re. Aku tau alur cintaku ini, aku tau alasan, resiko, definisi, konsep, segalanya tentang cintaku kepadamu. Sebab sebuah konsep akan selamanya hampa tanpa ada tujuan dan penyebab. Aku punya segalanya yang kamu tanyakan, Re, tapi ada beberapa tanyamu yang tak ingin ku jawab secara jelas dan tepat sasaran. Aku ingin kamu definisikan semua dari tulisanku kepadamu ini. Aku ingin kamu terjemahkan aku.
Aku butuh pikiranmu, Re, butuh. Aku ingin pikiranmu melebur bersama pikiranku. Aku butuh pikiranmu yang menyatu dengan punyaku. Bukan, bukan tentang persepsi, tapi pengertian bersama tentang kamu dan aku. Aku tak pernah buru-buru ingin perpisahan, biarlah senang dulu lalu terbang dan jatuh, saat jatuh itu aku mau kita sama-sama bertanya pada diri kita. Bukan, bukan tentang baik-buruknya, karena kamu tau kita tak hidup untuk sesuatu itu. bertanya tentang mampukah kita untuk sadar kembali dan menelusuri kronologi cinta kita dari awal. Haruskah berakhir perpisahan atau pelukan (kembali). Haruskah mengulang untuk kembali jatuh lagi dan mendefinisikan kembali segala rasa.
Aku belum jatuh sejatuh-jatuhnya, Re. Semua rasa dan tanyaku masih kusimpan dan aku bagi sedikit denganmu, karena aku tau kamu adalah satu yang mampu berbaur denganku. Karena aku belum ingin disiksa dengan kenyataan dan secara gamblang menyentuh sebuah ironi. Tidak, aku ingin terbang dulu lalu jatuh sejatuh-jatuhnya.
Dan, Re, tak ada yang aku yakini selain ketidakyakinan itu sendiri. Aku penikmat, Re, yang tak bisa yakin dengan sungguh-sungguh lalu memutuskan. Aku butuh sesuatu yang nanti memutuskan. Kendali semua yang bergerak di sekelilingku bukan padaku, aku hanya penikmat yang tiba-tiba bisa disuruh jatuh lalu bertanya dan berpikir. Tapi aku ingin sepenuhnya sadar dan masuk akal, Re, bukan penikmat yang terpejam jiwanya.
Makanya, aku butuh pikiranmu, aku butuh kamu Re.
Tak akan kusesali bila pada akhirnya semua ini hanya kesemuan, tapi rasa ini sudah mengkristal indah tak ingin kuhapus sekalipun kamu sudah terhapus dari hidupku.
Tak apa, Re, tak apa, semuanya akan indah pada waktunya. Nikmati saja, kita hanya penikmat.
Dan, Areno, aku rindu kamu. Cepat pulang ya dari Budapest
-Ratih

Segera aku kirim emailmu tanpa ada keraguan atas semua isinya. Aku ingin kamu membalasnya segera, Re.
Lalu sekitar 15 menit kemudian, layar laptop berkedip sekali dan menampilkan pemberitahuan email masuk darimu.
Untuk; Ratih, separuhnya aku di Indonesia
Perihal; terimakasih, semoga jantungmu baik
Inilah kamu yang aku cintai secara sadar dan masuk akal, Ratih…
Bukankah keyakinan terbesar adalah kepada ketidakyakinan itu sendiri? Memang begitulah adanya di dunia ini.
Lalu bukankah kepastian terbesar adalah ketidakpastian itu sendiri? Ya, jelas begitu.
Aku akan pulang sebentar lagi, aku sudah tak mau melacurkan waktuku disini. Aku kangen kamu.
-Are


Aku membalasnya.
Untuk; Are yang di Budapest
Perihal; aku juga kangen kamu
Ketidakyakinan dan ketidakpastian adalah sesuatu yang mengelilingi aku saat ini.
Melacurkan waktu? Sesungguhnya kamu pelacur sejati disana. Sebab ada tiga macam pelacur sejati, yaitu yang melacurkan waktu, jiwa atau jati diri. Kamu salah satunya, Re, tapi aku tetap cinta kamu.
Aku juga kangen, sampai bertemu segera. Dan tidurlah lagi, disana masih terlalu malam, bukan?
-Ratih

Sampai bertemu disini, Re. Aku sudah rindu sekali. Dan semoga segalanya berakhir seperti yang aku harapkan.

2 komentar: