sometimes, I just need my blog to throw myself away. sometimes I just write everything down, I don't even care the reader will get it or nah, we like it or nah. I just write everything down.
sometimes, people need a cure for themselve. we need to curing myself from the world that always hurt us. we pretend to be ok for so long, actually we just that pathetic one who needs a cure.
and my cure is writing, on my blog. that I always do every weekend.
so now, I just want to write this down. about the curing for myself.
writing is working. no writing, maybe I am dying
Minggu, 19 Februari 2017
Sabtu, 04 Februari 2017
Hold On, Baby
Sudirman Mansion
Pukul 22.00
Bianglala tak selalu berada diatas, ia berputar dan jelas akan ada waktunya ia dibawah, lalu menanjak, lalu di puncak, lalu menurun, dan ia kembali ke dasar. Tapi, jangan biarkan ia berhenti.
"Saya harus pindah ke Singapura bersama Lana dan orangtuanya. Ada bisnis keluarga di sana, bisnisnya ayah Lana. Dia ingin saya untuk pegang cabang Singapur. Saya juga harus resign dari kantor," begitu ucapan Made malam ini, tanpa menatap saya.
Saya cuma bisa tersenyum, "itu sepenuhnya hakmu."
"Lalu bagaimana dengan hakmu, Rum? Saya memikirkan itu. Bagaimana soal bayi di kandunganmu? Bagaimana bisa saya jadi pengecut, bahkan sebelum anak ini lahir saya sudah pergi," ucapnya, frustasi.
Saya bahkan benar-benar tau bahwa dia tidak ingin pergi. Tapi, tak ada pilihan lain.
Saya sungguh tau dan mengerti itu.
"Pindah ke Singapura itu bukan pilihanmu, tapi pergi dari apapun diantara kita ini pilihanmu," ucap saya.
"Pindah ke Singapura itu bukan pilihanmu, tapi pergi dari apapun diantara kita ini pilihanmu," ucap saya.
"Maksudmu?" tanya Made.
"Badan kamu memang pergi ke Singapur, De, namun kalau eksistensimu masih ada buat saya, ya saya akan baik-baik aja," jawab saya.
"Maksudmu via phone? email? Bullshit! Saya bahkan nggak bisa pegang perutmu, mengecup kamu, ngerasain gimana kamu merawat saya. Saya ingin cerai dari Lana tapip saya nggak bisa. Ibu saya, alasannya tetap Ibu saya. Rumaya, tolong saya," suara Made mengambang saat mengatakan itu.
Saya tersenyum sambil menyentuh pipinya, membuatnya menatap mata saya dan percaya pada saya.
"Suatu saat, saya yang akan berjuang buat kita, bukan kamu sendiri. Saya yang akan bergerak bersama kamu, bukan kamu sendiri. Saya yang akan membuat Ibu kamu mencintai saya. Tenang, Made, saya disini," jelas saya.
Saya kecup bibirnya, dalam dan perlahan, membuat getaran bibirnya tenang dan merasakan saya.
Made melepasnya, "saya tidak akan pernah pergi dari apapun yang ada diantara kita. Saya akan berjuang untuk itu. Saya akan diam-diam membangun mesin uang untuk masa depan kita dengan cara yang benar, saya akan membuat kamu merasa aman saat saya tidak di samping kamu."
"Jangan lupa, De, kamu juga harus ada disamping saya saat persalinan saya 4 bulan lagi, ya?" pinta saya.
Made mengangguk pasti, "Iya, pasti, Rumaya."
Made mengelus perut buncit saya. Ia tatap mata saya, membuat saya yakin bahwa apapun yang terjadi, saya dan Made hanya dua orang yang sedang mencari eksistensi diri dengan bersama satu sama lain.
"Rumaya, saya jatuh cinta dan sayang dengan kamu."
"Saya juga cinta dan sayang denganmu, Made."
4 bulan kemudian
Putri kami tercinta hadir ke dunia. Dengan didampingi ayah dan ibunya. Dengan ayahnya yang sepenuhnya milik ia dan ibunya.
"Terimakasih," begitu kata Made pada saya dan putri kami.
"Namanya?"
Made tersenyum, "Namanya Calya Dayita, artinya kekasih tanpa cacat. Kita panggil dia Calya, ya Rum?"
Aku mengangguk.
Tuhan memang baik..
Ia hadirkan Made dan Calya dengan kebaikan yang mengiriku.
Kisah ini ditutup dengan bianglala yang terus berada diatas, dipuncak paling bahagia yang pernah ada.
when we up to the air
We are automatically meet intensively.
Sudirman Mansion
Pukul 00.30
Hujan
Rasanya saya terbang saat Made bilang bahwa dirinya akan tinggal dengan saya beberapa waktu sampai pertengkaran dia dan istrinya mereda.
Saya juga masih ingat jelas saat saya bertemu dengan istrinya yang mukanya geram siang tadi, mendesak saya agar memberitau Made yang sedang meeting dengan beberapa kepala cabang kantor kami.
Saat itu, saya hanya tersenyum, membuatnya merasa nyaman dan datang sebagai bidadari bagi istri atasan saya.
"Mohon maaf sekali, Bu Lana, tapi untuk sekarang Bapak Made tidak bisa diganggu. Ibu bisa menunggu di ruangannya jika Ibu mau, sambil saya antarkan teh dan camilan buat Ibu. Bagaimana?" ucap saya waktu itu.
Lalu, tanpa disangka, Lana malah menjawab, "sekalian temani saya bisa?"
Ya, I will Lana, sekalipun kalimatmu seperti perintah bukan permintaan tolong, sekalipun kalimatmu tidak lebih dulu menanyakan apakah saya sibuk atau tidak.
Akhirnya saya datang untuk menemaninya dengan dua cangkir teh dan satu kotak bolu dari Made untuk saya tadi pagi.
"Hari ini Pak Made luar biasa sibuk, Bu. Masalahnya, perusahaan kita lagi krismon, parah deh," saya membuka perbincangan.
Bu Lana mengangguk sambil minum tehnya, "iya sih, beberapa hari ini dia juga stress. Tapi anehnya dia juga mau nambah stress dengan mau kami punya anak. Saya bingung."
Jadi masalahnya adalah Made ingin punya anak dari Lana. Baik, Made, saya tidak apa-apa, itu sepenuhnya adalah hakmu.
Saya tersenyum kepada Lana, "loh? Malah bagus dong, Bu, biar ada hiburan."
"Saya nggak mau, ribet, saya ini masih muda. Masa masih 25 tahun udah gendong bayi, teman-teman saya malah masih melajang," sungutnya.
Saya hanya tersenyum manis pada Lana.
Beberapa saat kemudian Made masuk ke ruangannya, dengan wajah kaget yang berhasil dia tutupi.
Saya buru-buru berdiri, "Pak Made, ini Ibu Lana sudah menunggu bapak dari setengah jam lalu. Saya tinggal dulu ya, Bu Lana, Pak Made, jika butuh sesuatu saya ada di meja saya."
"Eh siapa nama kamu tadi?" tanya Lana tiba-tiba.
"Rumaya, Bu," jawab saya.
"Rum, bisa nggak kamu nggak duduk di tempatmu dulu. Maksud saya, pindah duduk dulu sebentar ya, kan kamu didepan pintu banget tuh," ucapnya.
Saya kaget. Lana yang classy begini ternyata gaya bicaranya otoriter kampungan.
Saya tersenyum manis, "oh baik, Bu. Mari."
Malam ini saya betul-betul ingin tertawa sekeras-kerasnya. Mana Lana yang sering di ceritakan oleh koran dan media lokal soal gayanya yang anggun, sikapnya yang baik hati dan perhatian pada kondisi sosial. Mana Lana yang amat disayangi Made karena seluruh sifat baiknya yang tidak ada pada saya? Mana?
Saya kembali minum teh saya yang sudah hampir dingin. Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta Pusat. Saya duduk di ruang tengah apartemen saya sambil menyalakan TV yang sama sekali tidak saya tonton.
Made keluar dari kamar saya, dengan celana pendek tanpa baju yang menutupi bagian atas tubuhnya yang tegap.
Tersenyum pada saya yang juga tersenyum ke arahnya. Made yang mulai saya sayangi dengan amat dalam.
Saya merapatkan sweater saya, "dingin loh ini, kamu shirtless begitu."
"Saya lagi panas," jawabnya sambil terkekeh.
Ia kecup bibir saya sebentar, lalu mengambil teh saya dan membawanya ke dapur untuk ditambahkan air hangat.
"Saya boleh tanya sesuatu, De?" tanya saya tanpa melihatnya.
Ia berjalan dari dapur sambil menatap saya dan mengangguk.
Ia minum teh dari cangkir itu lalu menaruhnya di meja. Sekarang, ia siap menjawab semua pertanyaan saya, mendengarkan segala penuturan saya;
"Kenapa Lana nggak mau punya anak?" tanya saya.
"Itu bahasa lain dari, kenapa saya mau dia punya anak, ya?" balasnya.
Saya diam.
"Dia nggak suka punya anak di usia yang menurutnya masih muda. 25 tahun menurut saya bukan usia muda, ya kan, Rum?" jelasnya.
Saya mengangguk.
"Lalu?"
"Kenapa kamu mau dia punya anak?" tanya saya lagi.
"Agar setidaknya, saya punya tempat buat melabuhkan rasa sayang saya. yang mana rasa sayang saya ke Lana sudah terkikis habis," jawabnya.
Saya tertawa kencang.
"Kenapa kamu?" tanya Made.
"Saya suka saat hati kamu bergerak untuk keluargamu, De, sekalipun saya bukan bagian dari itu. Saya senang kamu nggak lagi sayang sama perempuan itu, saya senang kamu mau dia punya anak dari kamu karena saya juga bener-bener nggak suka sama Lana," jawab saya, ngelantur.
Made mengerutkan alis.
"Mana Lana yang diagungkan media sebagai wanita anggun dari seorang workaholic kaya raya seperti kamu? Mana? Dia luar biasa kampungan, Made. Maaf saya jahat sama istri kamu," jelas saya, sambil tersenyum.
"Lana memang begitu, saya baru sadar. Saya kira dia penyayang, ternyata dia otoriter dan tidak punya hati," lanjut Made.
Saya mengangguk, "betul."
"Awalnya, saya kira kamu yang punya sifat itu. Kamu yang nggak punya hati untuk disakiti maupun untuk dicintai, tapi saya salah, kamu punya segala jenis hati untuk apapun. Kamu punya perasaan yang saya harus untuk menjaganya. Kamu itu murni perempuan yang saya cari, Rumaya, tapi saya terlambat menemukan kamu," jelasnya.
Saya diam.
Made menatap saya.
"Kamu tau ada pepatah soal lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali?" tanya saya.
"Tau."
Saya mengangguk.
"Rasanya saya mau menerjangmu," ucapnya, lalu memeluk saya, menggelitik saya sampai suara teriakan lepas saya menembus hujan, angin dan petir di luar jendela.
"De," panggil saya.
Dia diam dan memperhatikan saya.
"Bagaimana jika tempat untuk melabuhkan rasa sayangmu itu, biar saya yang hadirkan?" tanya saya.
Made terperanjat, "maksudmu?"
"Maksudku?" tanya saya sambil tersenyum.
Made tersenyum, "saya yakin kamu akan menolong saya, selalu."
Saya bahkan berniat selalu menggenapi segala susah dan senangmu, Made.
Made mengecup bibir saya, lama. Saya membalasnya. Sudah saya bilang, saya selalu ingin menggenapinya agar dirinya tak pernah ganjil dan sendiri.
Dia melepas kecupannya kepada saya.
"Saya ingin selalu bersama kamu,"
"Ceraikan Lana?"
Made terperanjat, "saya yakin kamu akan meminta itu."
Saya tersenyum, "saya cuma minta, tidak dituruti juga tak apa."
Made tersenyum, "tapi saya ingin menuruti semua pintamu, bagaimana?"
Saya hanya mengangguk.
Kecupannya lagi-lagi terasa di bibir saya, di pikiran saya, juga di hati saya.
Pelan-pelan suara hujan tak lagi terdengar.
Suara detak kami yang melantun dalam segala eksistensi yang kami bangun sendiri.
'Saya selalu sayang kamu'
ucapan saya mengudara.
ke langit yang sedang hujan.
Sudirman Mansion
Pukul 00.30
Hujan
Rasanya saya terbang saat Made bilang bahwa dirinya akan tinggal dengan saya beberapa waktu sampai pertengkaran dia dan istrinya mereda.
Saya juga masih ingat jelas saat saya bertemu dengan istrinya yang mukanya geram siang tadi, mendesak saya agar memberitau Made yang sedang meeting dengan beberapa kepala cabang kantor kami.
Saat itu, saya hanya tersenyum, membuatnya merasa nyaman dan datang sebagai bidadari bagi istri atasan saya.
"Mohon maaf sekali, Bu Lana, tapi untuk sekarang Bapak Made tidak bisa diganggu. Ibu bisa menunggu di ruangannya jika Ibu mau, sambil saya antarkan teh dan camilan buat Ibu. Bagaimana?" ucap saya waktu itu.
Lalu, tanpa disangka, Lana malah menjawab, "sekalian temani saya bisa?"
Ya, I will Lana, sekalipun kalimatmu seperti perintah bukan permintaan tolong, sekalipun kalimatmu tidak lebih dulu menanyakan apakah saya sibuk atau tidak.
Akhirnya saya datang untuk menemaninya dengan dua cangkir teh dan satu kotak bolu dari Made untuk saya tadi pagi.
"Hari ini Pak Made luar biasa sibuk, Bu. Masalahnya, perusahaan kita lagi krismon, parah deh," saya membuka perbincangan.
Bu Lana mengangguk sambil minum tehnya, "iya sih, beberapa hari ini dia juga stress. Tapi anehnya dia juga mau nambah stress dengan mau kami punya anak. Saya bingung."
Jadi masalahnya adalah Made ingin punya anak dari Lana. Baik, Made, saya tidak apa-apa, itu sepenuhnya adalah hakmu.
Saya tersenyum kepada Lana, "loh? Malah bagus dong, Bu, biar ada hiburan."
"Saya nggak mau, ribet, saya ini masih muda. Masa masih 25 tahun udah gendong bayi, teman-teman saya malah masih melajang," sungutnya.
Saya hanya tersenyum manis pada Lana.
Beberapa saat kemudian Made masuk ke ruangannya, dengan wajah kaget yang berhasil dia tutupi.
Saya buru-buru berdiri, "Pak Made, ini Ibu Lana sudah menunggu bapak dari setengah jam lalu. Saya tinggal dulu ya, Bu Lana, Pak Made, jika butuh sesuatu saya ada di meja saya."
"Eh siapa nama kamu tadi?" tanya Lana tiba-tiba.
"Rumaya, Bu," jawab saya.
"Rum, bisa nggak kamu nggak duduk di tempatmu dulu. Maksud saya, pindah duduk dulu sebentar ya, kan kamu didepan pintu banget tuh," ucapnya.
Saya kaget. Lana yang classy begini ternyata gaya bicaranya otoriter kampungan.
Saya tersenyum manis, "oh baik, Bu. Mari."
Malam ini saya betul-betul ingin tertawa sekeras-kerasnya. Mana Lana yang sering di ceritakan oleh koran dan media lokal soal gayanya yang anggun, sikapnya yang baik hati dan perhatian pada kondisi sosial. Mana Lana yang amat disayangi Made karena seluruh sifat baiknya yang tidak ada pada saya? Mana?
Saya kembali minum teh saya yang sudah hampir dingin. Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta Pusat. Saya duduk di ruang tengah apartemen saya sambil menyalakan TV yang sama sekali tidak saya tonton.
Made keluar dari kamar saya, dengan celana pendek tanpa baju yang menutupi bagian atas tubuhnya yang tegap.
Tersenyum pada saya yang juga tersenyum ke arahnya. Made yang mulai saya sayangi dengan amat dalam.
Saya merapatkan sweater saya, "dingin loh ini, kamu shirtless begitu."
"Saya lagi panas," jawabnya sambil terkekeh.
Ia kecup bibir saya sebentar, lalu mengambil teh saya dan membawanya ke dapur untuk ditambahkan air hangat.
"Saya boleh tanya sesuatu, De?" tanya saya tanpa melihatnya.
Ia berjalan dari dapur sambil menatap saya dan mengangguk.
Ia minum teh dari cangkir itu lalu menaruhnya di meja. Sekarang, ia siap menjawab semua pertanyaan saya, mendengarkan segala penuturan saya;
"Kenapa Lana nggak mau punya anak?" tanya saya.
"Itu bahasa lain dari, kenapa saya mau dia punya anak, ya?" balasnya.
Saya diam.
"Dia nggak suka punya anak di usia yang menurutnya masih muda. 25 tahun menurut saya bukan usia muda, ya kan, Rum?" jelasnya.
Saya mengangguk.
"Lalu?"
"Kenapa kamu mau dia punya anak?" tanya saya lagi.
"Agar setidaknya, saya punya tempat buat melabuhkan rasa sayang saya. yang mana rasa sayang saya ke Lana sudah terkikis habis," jawabnya.
Saya tertawa kencang.
"Kenapa kamu?" tanya Made.
"Saya suka saat hati kamu bergerak untuk keluargamu, De, sekalipun saya bukan bagian dari itu. Saya senang kamu nggak lagi sayang sama perempuan itu, saya senang kamu mau dia punya anak dari kamu karena saya juga bener-bener nggak suka sama Lana," jawab saya, ngelantur.
Made mengerutkan alis.
"Mana Lana yang diagungkan media sebagai wanita anggun dari seorang workaholic kaya raya seperti kamu? Mana? Dia luar biasa kampungan, Made. Maaf saya jahat sama istri kamu," jelas saya, sambil tersenyum.
"Lana memang begitu, saya baru sadar. Saya kira dia penyayang, ternyata dia otoriter dan tidak punya hati," lanjut Made.
Saya mengangguk, "betul."
"Awalnya, saya kira kamu yang punya sifat itu. Kamu yang nggak punya hati untuk disakiti maupun untuk dicintai, tapi saya salah, kamu punya segala jenis hati untuk apapun. Kamu punya perasaan yang saya harus untuk menjaganya. Kamu itu murni perempuan yang saya cari, Rumaya, tapi saya terlambat menemukan kamu," jelasnya.
Saya diam.
Made menatap saya.
"Kamu tau ada pepatah soal lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali?" tanya saya.
"Tau."
Saya mengangguk.
"Rasanya saya mau menerjangmu," ucapnya, lalu memeluk saya, menggelitik saya sampai suara teriakan lepas saya menembus hujan, angin dan petir di luar jendela.
"De," panggil saya.
Dia diam dan memperhatikan saya.
"Bagaimana jika tempat untuk melabuhkan rasa sayangmu itu, biar saya yang hadirkan?" tanya saya.
Made terperanjat, "maksudmu?"
"Maksudku?" tanya saya sambil tersenyum.
Made tersenyum, "saya yakin kamu akan menolong saya, selalu."
Saya bahkan berniat selalu menggenapi segala susah dan senangmu, Made.
Made mengecup bibir saya, lama. Saya membalasnya. Sudah saya bilang, saya selalu ingin menggenapinya agar dirinya tak pernah ganjil dan sendiri.
Dia melepas kecupannya kepada saya.
"Saya ingin selalu bersama kamu,"
"Ceraikan Lana?"
Made terperanjat, "saya yakin kamu akan meminta itu."
Saya tersenyum, "saya cuma minta, tidak dituruti juga tak apa."
Made tersenyum, "tapi saya ingin menuruti semua pintamu, bagaimana?"
Saya hanya mengangguk.
Kecupannya lagi-lagi terasa di bibir saya, di pikiran saya, juga di hati saya.
Pelan-pelan suara hujan tak lagi terdengar.
Suara detak kami yang melantun dalam segala eksistensi yang kami bangun sendiri.
'Saya selalu sayang kamu'
ucapan saya mengudara.
ke langit yang sedang hujan.
Building Us
Lagu Erase milik Copeland terputar--
Setengah tiga dini hari--
Sudirman Mansion, Jakarta Pusat--
Saya sudah sejak lama tau, bahwa saya dan Made bukan apa-apa selain dua orang yang merasa kosong di satu sisi dalam diri.
Saya adalah asisten manajer keuangan di perusahaan multinasional, dan Made adalah manajer keuangannya.
Umur saya 26 tahun, sedangkan dia berumur 31 tahun.
Hubungan saya dan dia hanya terjadi di kamar, setelah pulang kantor, dan diantara kemacetan Jakarta. Atau saat dia datang ke rumah saya membawa satu kotak Pizza Hut di hari minggu.
Made, nama lengkapnya adalah Made Sukma Prasasta, orang Bali yang tidak percaya Tuhan atau agama mana pun. Namun sayangnya malah percaya sepenuhnya kepada saya.
Tapi, dia sayang dengan ketiga perempuan di hidupnya; ibunya, istrinya, dan saya.
Satu hal yang bikin saya heran, rasa sayangnya dicurahkan kepada saya, Rumaya, perempuan yang entah dia anggap apa. Kenapa?
Malam hujan di beberapa bulan yang lalu, untuk pertama kalinya Made mengirimi saya email yang bukan soal pekerjaan. Begini;
Made:
"Ada sekitar 150 orang pekerja di kantor ini, tapi kenapa cuma kamu dan saya yang lembur?"
Saya:
"Lagi krisis moneter Pak, biasa deh keuangan jadi ribet. Hehe."
Made:
"Saya antar kamu pulang boleh?"
Saya:
"Boleh banget, Pak, apalagi kalau sekalian bantu kerjaan saya. Hehehe bercanda, Pak."
Setelah email terakhir saya, Made muncul didepan qubicle saya.
"Pulang yuk, udah terlalu malem," ucapnya.
Saya diam sejenak, "sebentar lagi, Pak, tanggung. Duluan aja gapapa kok, Pak."
Dia tersenyum, "saya tunggu kamu di ruangan saya. Saya antar kamu pulang."
Hari-hari kami setelahnya diisi dengan kerja lembur, pulang dan dinner bersama. Atau bahkan, sampai breakfast bersama.
Mungkin orang-orang bilang, ini yang namanya aksi perselingkuhan. Made yang tidur dengan saya dan mengkhianati istrinya yang cantik jelita.
Tapi, entah bagaimana, bagi kami tidak. Made merasa ini bukan apa-apa, saya juga merasa ini tidak akan jadi apa-apa.
Namun saya sungguh tau, dalam ketiadaan ini, sebenarnya kami mencari eksistensi diri.
Istri Made memang cantik dan berkelas, sopan dan baik hati, namun dia tidak bisa diajak berpikir kritis dan mendalam soal berbagai filosofi hidup. Juga, masakannya tidak enak.
Sedangkan menurut Made, saya adalah orang yang bisa menggenapi semua filosofi dia soal hidup, teman diskusi tentang pemikiran absurdnya. Juga, pasta bikinan saya luar biasa enak menurutnya. Namun, saya tidak cantik, tidak berkelas, tidak sopan dan baik hati.
Tapi sungguh, saya berani sumpah, Made tidak peduli dengan kekurangan saya, dan malah sering bicara soal kekurangan istrinya yang mana memberatkannya.
Tapi lagi, Made tetap menyayangi istrinya.
"Di otak cerdasmu ini, kira-kira lagi mikirin apa?" tanyanya tiba-tiba, sambil merangkul pinggang saya dibawah selimut.
"De, belum mau pulang?" balas saya.
Dia merapatkan badannya pada saya, "Rum, kenapa selalu nyuruh saya pulang. Takut apa kamu sebenarnya, Rum?"
Saya diam sejenak sambil menatap matanya, "saya cuma tanya."
"Rum, kamu takut soal eksistensi hubungan kita ya? Kamu takut hubungan ini mengambil alih semua pikiranmu? Iya?" tanya Made.
"Bukan begitu,"
"Lalu?"
"Tidak ada,"
"Apa isi kepalamu sekarang?"
"Kamu,"
"Bagian mananya saya?"
"Bagian?"
"Ya kamu mikirin apanya saya?"
"Saya mikirin saya ini apanya kamu."
Made diam setelah saya bilang begitu.
Saya juga.
Saya melepas rangkulannya dia pinggang saya.
Namun gantinya, saya sentuh pipinya dan saya tatap matanya.
"Saya cuma mikir aja kok, nggak usah serius gitu. Terserah bagi kamu saya ini apa. Yang penting bagi saya, kamu ini Made," ucap saya.
Saya kecup bibirnya lama dan dalam. Dia membalasnya.
Saya tarik kecupan saya, dan saya lihat ke dalam matanya yang tajam dan jernih.
"Rum," panggilnya.
"Ya?"
"Sentuh dada saya,"
Saya menuruti.
Ada detak cepat disana, ada yang berpacu dalam ketidakyakinan dan berantakan.
"Detak itu punya kamu, Rum," ucap Made.
Saya tersenyum.
"Mungkin, saya sayang dengan istri saya. Namun, mungkin saya jatuh cinta dengan kamu, Rum," akunya.
Dia kecup dahi saya lama.
Dan saya menegang, luar biasa takut dengan jatuh cintanya Made.
"Saya sayang sekali dengan kamu, De,"
Tapi sayang sekali kamu malah jatuh cinta dengan saya.
Langganan:
Postingan (Atom)