Selasa, 26 April 2016

Engkau



Wahai engkau yang di sana
Yang hanya dibatasi selapis dimensi tipis
Antara si kaya dan miskin
Aku Tuan Putri,
telah jatuh cinta pada rakyat jelata
Yang menurut dunia tak berselera

Napasku berhembus
Gusar oleh hasrat saat lihat peluhmu
Luluh oleh cinta saat dengar senandungmu
Diriku terbang lintasi ribuan negri
Bertanya
Tak sucikah aku dan cintaku?

Wahai engkau
Yang buatku jatuh cinta lalu putus asa
Wahai engkau
Yang tapaki dimensi nyata sedangkan aku fana
Wahai engkau
Lelaki bau jerami yang dicintai Tuan Putri

Biarkan aku rebah pada dadamu
Biarkan aku lepaskan hasrat dalam pagutmu
Biarkan aku serahkan gusar pada dekapmu

Dan mari, kita lepaskan selapis batasan dimensi
Lewat ribuan seloki dan araknya
Di istal dekat gubukmu

Jumat, 22 April 2016

Perkara Jatuh Cinta Lalu Sedih

Aku mulai benci hujan semenjak ia membasahi kusen jendelaku dengan rintiknya
Sama seperti aku yang mulai membencimu semenjak kamu mulai membasahi tengah hatiku dengan air mata
Mungkin memang benar, jatuh cinta artinya bersepakat dengan rasa sakit
Kita hanya terbuai dengan kata magis itu
Bahkan sekarang, aku seperti daun yang tertiup angin lalu jatuh kepada entah

Aku mulai benci untuk peduli
Aku mulai benci untuk peka
Aku mulai benci membuat puisi manis
Aku mulai benci mendengarkan lagu-lagu Banda Neira atau Fiersa Besari
Aku muak dengan penyair dan musisi penuh cinta
Tapi apakah pantas aku menyalahkan mereka?
Mereka berusaha membuat cinta yang magis itu sebagai perkara indah
Bukan beriringan dengan sedih

Entah
Mungkin aku seperti bus tanpa supir
Seperti kereta tanpa masinis
Seperti pesawat tanpa pilot
Seperti kapal pesiar tanpa si kapten
Aku ini aku tanpa kamu
Entah

Lalu haruskah aku menyalahkan jatuh cintaku padamu?
Tidak seharusnya
Karena tiap orang tak tahu akan jatuh cinta pada siapa
Tapi kebodohan membuat aku tak sanggup menahanmu tinggal di sisiku
Kelemahan tak sanggup membuatku memperjuangkanmu

Perkara cintaku ini berakhir sedih
Membuat sejagat tak berdaya
Perkara cintaku ini berakhir sedih
Membuat puisi cinta tak lagi kupuja

Dan sedihku ini pastilah karena kamu
Karena kamu satu-satunya
Satu-satunya untuk aku
Aku dan sedihku ini

Rabu, 20 April 2016

Orangtua

Gue remaja perempuan hampir 18 tahun, tinggal di Bekasi sampai dua minggu setelah UN ini. Bukan, bukan berarti gue mau cerita tentang kegalauan gue dan laki-laki tai kucing yang baru mimpi basah. Bukan, jelas bukan. Gue sedikit berbeda dengan remaja kebanyakan, atau bisa dibilang otak kecil gue nggak mampu untuk menciptakan memori imut bersama laki-laki. Entah.
Gue mau cerita tentang orangtua gue. Gue dua bersaudara, gue anak kedua dan punya kakak perempuan yang manis dan masih sekolah. Sayangnya, kecenderungan kakak gue yang manis ini adalah menghabiskan uang orangtua gue, sayangnya. Namun, berbeda dengan gue yang otaknya kecil dan cuma suka masak atau kongkow nggak jelas, kakak perempuan gue lebih besar otaknya dan berorientasi masa depan. Dia orang yang punya sistem sempurna, sekalipun borosnya amit-amit.
Dan, gue punya Mama dan Papa yang sayangnya nggak pernah mengerti gue. Sayangnya lagi.
Jadi ketika gue tanya apa yang mereka mau dari gue, mereka menjawab;
"Mama tuh mau kamu kayak kakak. Belajar, main, shopping, punya rencana. Kamu tuh nggak teratur, sayang, seenaknya," itu kata Mama.
Well, Ma, bisa nggak hilangkan kata 'sayang' disitu. Kalau Mama ngomong gitu, it's mean that Mama nggak sayang sama aku.
Enggak, gue nggak ngomong gitu ke Mama, gue diem aja. Cukup bayangin aja, kalo gue ngomong gitu ke Mama, maka balasan Papa adalah;
"Kamu kalau ngomong yang sopan! Memangnya Papa sama Mama pernah ngajarin kamu ngomong nggak sopan gitu?! Hah?!"
Papa orang Batak yang lama tinggal di Jakarta. Jadi yang tersisa dari bataknya hanyalah nada bicara yang keras, padahal harusnya banyak sisi dari orang Batak yang gue suka. Tapi sisi yang tersisa dalam diri Papa bukan salah satunya.
And see, gue nggak mau ngomong kasar ke Mama, bukan karena nggak berani, tapi lebih karena apa yang akan Papa balas ke gue. Dan itu benar-benar bikin gue muak, muak banget.
Seharusnya Papa sadar bahwa yang membuat anak-anaknya bicara kasar adalah dirinya. Karena nada bicara Papa yang kasar, karena bentakan-bentakan Papa saat sebenarnya kami hanya bicara biasa saja. Dan karena, khususnya dalam kasus gue, Papa selalu kontra sama apapun yang gue sampaikan. Begitu. Jadi bisa lo bayangkan, bagaimana mulut gue harus benar-benar gue jaga biar orang lain nggak tersakiti, seperti gue yang selalu tersakiti kalau Papa nggak menjaga mulutnya.
Kelihatannya, gue nggak bersyukur ya karena masih punya orangtua? Ya, kan? Oh well, lo harus cicipi dulu tinggal bersama kedua orangtua gue, baru lo tau apa arti 'bersyukur' yang sebenarnya. Disamping mereka adalah orangtua gue, kami adalah individu yang berbeda. Dimana setiap individu hidup untuk mencapai tujuan dan menyelamatkan diri. Gue pun begitu;
"Sayang, Mama mau kamu berhenti merokok. Kamu kan cewek, nggak bermoral kelihatannya kalau kamu merokok," itu kata Mama saat ngeliat gue duduk di jendela kamar sambil berasap-asap ria.
"Mama tau nggak kalau aku merokok karena apa? Karena Papa juga merokok, Ma," jawab gue.
"Tapi kamu nggak harus mencontoh yang jelek-jelek. Kamu contoh dong Papa yang bertekad keras, Papa yang berani, Papa yang mampu mengatasi masalah. Yang jelek-jelek itu ya nggak usah kamu ikutin," kata Mama, lembut. Kebetulan Mama orang Solo, yang mengukir sejarah baru di kampungnya karena kepentok sama orang Batak.
"Aku nggak tau mana yang buruk dan baik. Bukan aku yang harus memilah mana yang boleh dicontoh atau engga, tapi Papa yang harus memilah mana yang harusnya ditunjukin ke anaknya, mana yang engga," jawab gue. Lalu membuang puntung rokok gue ke asbak, pergi dari Mama. Beliau cuma bisa menghembuskan napas. Itu cara menyelamatkan diri dari racauan orangtua gue yang suka ngelantur menyalahkan gue.

Biasanya, kalau nggak sekolah, gue mulai nongkrong di warteg punya kakaknya temen gue dari pagi sampe sore. Warteg sederhana yang teh manisnya jempolan. Biasanya gue bantuin masak disana, sampai diusir-usir sama kakaknya temen gue yang nggak suka liat gue bolos. Yeah, otak kecil gue nggak bisa keseringan sekolah, takut overload.
Tapi seringnya, kakak perempuan gue yang manis suka mergokin gue di warteg itu, atau kalau malam di angkringan sambil minum wedang jahe dan jajan rokok. Biasanya kakak gue langsung narik gue ke mobilnya, dan nangis sambil ceramah sampai depan pagar rumah kami. Hebat ya dia, kok kuat ceramah sambil sesenggukan gitu ke gue yang bahkan nggak dengerin.
"Kamu tuh jangan gini. Kasian Papa sama Mama kalau ngeliat kamu nakal begini. Kamu sama aja ngancurin hidup kamu sendiri," pasti begitu dia ngomongnya.
"Gue sampe hafal loh omongan lo, keseringan mergokin gue sih lo. Gue begini nih, lo pikir kenapa? Karena apa karena siapa? Ya karena mereka, siapa lagi kan? Gue tuh cuma dipengaruhi sama mereka," balas gue. Mencoba membuat kakak gue ini mengerti sesuatu, yang selama ini seringnya dia tolak untuk mengerti.
"Mereka nggak mempengaruhi kamu. Mana ada orangtua yang mempengaruhi kejelekan ke anaknya?" balas kakak gue.
"Mungkin karena gue kalo dirumah makan yang haram mulu kali ya, jadi nakal begini," balas gue sambil mendengus.
Kakak gue terkesiap, "kamu ngomong apa sih? Kamu tuh nggak boleh ngomong gitu! Kamu kira mereka cari uang buat siapa? Ya buat kamu, buat aku. Kamu kok bisa-bisanya ngomong gitu!"
"Kak, lo bukannya nggak tau kan kalo Papa itu korupsi besar-besaran di DPRD, hm? Itu hal lumrah, gue tau, nggak ada anggota dewan yang suci. Tapi gue jijik kak, bahkan gue jijik sama Papa gue sendiri," jelas gue, tenang. Kalo dibentak, kakak gue bisa nangis, bahaya.
"Papa kayak gitu buat kita, cuma buat kita. Papa nggak akan kayak gitu kalo dia nggak punya mimpi buat bikin hidup anaknya layak," kakak gue mulai bengong-bengong nangis. Aduh.
"Dan lo pikir caranya bener? Lo tau nggak bahkan dengan duit haram, bisa bikin hidup ancur, anak istri nggak bener. Tuhan itu punya balasan buat manusia. Dan gue adalah balasan dari Tuhan buat Papa," gue mulai serius. Bayangin, mobil udah berhenti gitu aja dipinggir jalan, dan gue harus menyadarkan kakak gue.
"Tapi Papa tetep sayang sama kamu, dia tetep Papa kamu apapun kesalahan yang dia lakuin, dia tetep Papa,"
"Emangnya gue yang mau jadi anak Papa? Kalo bisa milih sih, mending gue jadi anak Pak Darmo supir Papa," balas gue enteng.
"Nyatanya engga, kan?"
"Iya, nyatanya gue lahir di keluarga Bapak Halim Lubis si koruptor dan Ibu Runi Ambarwati si pengurus asosiasi yang suka mangkir. Dan lo mengharapkam gue jadi anak baik? Gue aja sampe nggak habis pikir, gimana bisa lo jadi anak yang manis gini di tengah keluarga yang antah-berantah!"
Iya, nyatanya begitu. Dan sumpah demi apapun, gue nggak pernah berniat membangun keluarga kaya yang tersistem dengan uang. Gue mau keluarga yang sederhana, bukan kayak keluarga gue. Dan kalau mau jadi orangtua nanti, gue nggak mau jadi seperti Papa atau Mama.
Nyatanya Mama adalah anggota asosiasi peduli lingkungan hidup yang sukanya cuma ngambil tur atau acara jalan-jalan yang katanya survei. Tapi Mama nggak pernah benar-benar peduli lingkungan. Mama suka pulang malam atau malah nggak pulang karena kongkow sama temen-temennya. Mama lebih suka hidup yang dipandang baik luarnya oleh semua orang, dibanding hidup yang kebaikannya mengakar dari dalam sekalipun luarnya nggak penuh pencitraan. Mama suka citra yang bagus didepan orang-orang, dibanding citra yang bagus didepan anak-anaknya.
Lalu Papa adalah koruptor yang bahkan nggak peduli pendapat anaknya. Papa bukan contoh yang baik, bukan.
Dan gue mana bisa hidup baik di tengah keluarga yang begini. Gue yang pemikirannya selalu terlalu dalam sampai pemikiran itulah yang akhirnya menjebloskan gue ke dalam dilema gue sendiri. Dilema apakah ini semua harus disyukuri atau diadukan. Dilema apakah ini harus dielu-elukan ataukah dipertanyakan diam-diam.
Sebagai orangtua yang menuntut gue agar menjadi baik, harusnya mereka juga menunjukkan kebaikan kepada gue. Bukannya melakukan kejahatan seakan itu lumrah untuk dilakukan. Mereka menuntut gue, namun tidak memberi pengertian pada gue. Mereka ingin gue menurut, namun tak beri contoh yang baik agar gue bisa mengikuti.
Bicara soal orangtua, mungkin diluar sana banyak anak-anak yang sedih karena orangtuanya bercerai, meninggal, sakit, atau apapun. Namun percayalah, lahir didalam keluarga kaya dan punya orangtua bobrok adalah masalah yang pahit. Gue hampir nggak bisa membedakan mana benar atau salah, semua abu-abu dengan segala kilatan kemunafikan.
Dan gue hampir lupa bagaimana bahagia itu. Karena semua disekeliling gue, orang-orang yang tidak bahagia ini, selalu memakai topeng kebahagiaan yang membuatnya rancu. Yang membuat gue hampir percaya, namun sudah puluhan kali memikirkan ulang, gue memang harus bertanya apa itu bahagia.
Gue sampai lupa bahwa sebenarnya ada hubungan batin antara anak dan orangtuanya. Gue lupa karena selama ini, yang gue tau adalah kami ini individu yang berbeda dan punya kepentingan yang berbeda pula. Gue dan orangtua gue nggak punya hubungan batin itu, yang tersisa hanya darah yang katanya kental. Entah bagaimana dengan kakak gue.
Well, sudah terlalu malam. Gue harus membawa kakak gue pulang, tanpa tergores sedikitpun, terutama hatinya. Gue nggak mau, seseorang yang manis dan baik hati ini terluka dengan kemunafikan dan linglung karena kebingungan. Kakak gue harus jauh dari kedua hal itu, kedua hal yang selama ini menggelayuti gue.
"Ayo kita pulang, Mama nanti nyariin lo," ajak gue.
"Kayaknya malam ini Mama nggak pulang lagi. Kaya kemarin dan dua hari lalu," jawabnya.
Oh dia sudah sadar rupanya bagaimana Mama tersayangnya itu.
"Kadang gue mai ngerasain pulang pagi, kaya yang sering lo lakuin," ucapnya sambil tertawa sedikit.
Gue menyalakan rokok lalu membuka jendela mobil. Sambil menghembuskan asapnya, gue bilang, "jangan, lo orang baik-baik."
Kira-kira, orang baik-baik macam apa kakak gue ini yang lahir di keluarga munafik?
Namun gue sadar, mungkin dia membentuk pribadinya sendiri dan mampu membangun kebaikan itu dalam dirinya. Mungkin.
Nggak seperti gue, yang bukan hanya badannya yang dilahirkan seperti orangtua gue, namun juga sifatnya yang merupakan kombinasi terburuk dari keduanya.
Bagaimanapun, seorang anak adalah hasil dari orangtua, entah itu sifat atau raganya. Ia dibentuk oleh orangtua, entah itu buruk atau baik, itulah hasilnya.
Lalu harusnya orangtua bercermin dan berkata, sudahkah aku baik untuk menjadikan anakku baik pula?
Sayangnya, orangtua gue nggak suka bercermin. Sayangnya.

Minggu, 17 April 2016

My Cancer

Mungkin begitu manis saat membaca kisah romantis dengan penyakit kanker didalamnya. Seperti bagaimana yang ditulis John Green atau Nicholas Sparks, mereka begitu indah dengan kisah cinta kanker yang manis sekaligus ajaib.
Tapi bagaimana jika aku menulis kisahku sendiri? Kankerku sendiri. Aku, perempuan berumur hampir 18 tahun dan baru selesai UN, pengidap kanker pankreas stadium akhir. Juga sedang makan apel saat menulis ini.
Mungkinkah kalian, akan menganggap ini seajaib kisah yang ditulis John Green dalam The Fault in Our Stars, atau semanis kisah Landon dan Jamie yang ditulis Nicholas Sparks dalam A Walk to Remember?
Kenyataannya tidak. Hanya ada pil-pil yang membungkus harapan sembuh, padahal bodoh jika masih berharap. Kenyataannya adalah, secepat itulah kankerku berkembang. Kalau Steve Jobs wafat 7 tahun setelah didiagnosis kanker pankreas, ajaibnya aku mungkin akan mati dua bulan lagi dan itu berarti kurang dari 5 tahun setelah didiagnosis kanker. Kenyataannya adalah, kankerku sangat ganas, dan aku tak punya kendali pada tubuhku, kanker menjajahku. Tapi orang-orang tak akan mengira aku mengidap kanker, karena aku memang dilahirkan dengan tubuh luar biasa kurus, pipi tidak berisi dan wajah yang tak pernah berbinar segar. Aku dilahirkan menyedihkan, namun itu membuatku bisa menyembunyikan penyakitku dari orang-orang.
Maksudku lumayan tersembunyi. Karena faktanya, tiap kali aku minum obat disekolah, itu membuat beberapa temanku penasaran obat apa itu, aku sakit apa, dan sebagainya. Menyedihkan saat aku jujur, jadi aku berbohong kalau aku tidak tahu itu apa dan hanya meminumnya karena ibuku. Untungnya, mereka percaya, dan hanya terus begitu sampai kami berpisah setelah UN. Ibu mengerti bahwa dibanding rasa sakit saat dikemo dan wajah yang jelek setelah itu, aku lebih baik bersenang-senang dan bersikap tidak peduli. Dan memang itulah yang aku lakukan ditengah-tengah rasa sakit yang melandaku mulai dari perut dan pencernaan sampai seluruh tubuhku bahkan ujung jariku.
Itu tidaklah penting dibanding seluruh kepura-puraanku diluar rumah. Aku aktif di sekolah, mengumpat jika marah, berteriak jika kesal, memperhatikan cowok-cowok keren, menulis puisi, belajar memasak, malas belajar. Dan begitulah, aku tetap berperan sebagai remaja bodoh padahal sudah mau mati.
Tapi percayalah, bukan itu poin pentingnya. Sekali aku menyerah untuk hidup normal, saat itulah aku akan terkapar dirumah sakit yang harusnya sebulan tapi hanya kulakukan 3 hari. Aku meyakinkan dokter bahwa orangtuaku pasti tidak bisa membayar biaya rumah sakit, dan pada akhirnya aku juga akan mati selama apapun aku dirawat disana. Jadi dokter membiarkan aku pulang.
Hidupku sesingkat 18 tahun dan semenarik itu dengan kebohongan. Tapi aku punya banyak cara untuk bahagia. Yang aku tidak bisa jelaskan di blog karena nanti orangtuaku akan membacanya. Yang penting dalam hidupku adalah aku, hidup sebagai manusia normal dengan 4 tahun kanker yang menjajahku. Tidak perlu kasihani diriku, aku sudah puas kasihan dengan diriku sendiri.
Karena faktanya, aku menyesal tidak mencari bahagiaku sejak dulu, sejak aku masih benar-benar normal.

Selasa, 12 April 2016

Ngelamun

Jakarta, 15 Juli 2015

Jam habis maghrib sama dengan jam pulang kerja dikali macet dibagi rame-rame. Gue hafal, hafal banget, setelah dari lahir sampe umur 28 tahun begini menetap di ibu kotanya Indonesia. Luar biasa hebat sih, cukup bangga sama diri sendiri.
And for your information, gue ngga menyalahkan kemacetan sama sekali, karena bagaimana pun, gue adalah kemacetan itu sendiri. Jadi, kali ini dengan heroiknya gue pulang dari kantor, langsung sehabis gue melipat mukena selesai sholat Maghrib. Nggak pake nunggu-nunggu jam abis Isya, masa bodo yang penting gue sampai di rumah mertua lebih cepat seperti yang belakangan gue lakukan. Kenapa?

Karena dari beberapa bulan lalu, gue merasa kedua mertua gue udah muncul taring dimulutnya lantaran gue nggak juga berhenti kerja. Mereka ingin gue mengurus anak gue, Rima, dengan baik dan menjadi ibu rumah tangga teladan. Bukannya jadi konsultan pasangan suami-istri yang biasanya rumah tangganya bermasalah, kata mertua lebih baik bangun rumah tangga sendiri yang jelas dan nggak abu-abu kayak sekarang.

Wow, abu-abu ya. Ternyata rumah tangga gue abu-abu, marriage life gue abu-abu (kecuali Rima Hujan yang malah kayak pelangi buat hidup gue).

Suami gue, juga abu-abu. Bukan, tapi bukan abu-abu monyet dan kayak monyet. Suami gue ini beda jauh sama monyet, dia emang nggak ganteng-ganteng amat, tapi kaya-raya banget.
Orang kaya-raya nggak ada yang mirip monyet.

As rich as I want he to be, dia jadi pengusaha hotel dan restoran bintang lima di Bali. Dan, dulu gue segera menerima lamarannya, sebelum dia sadar mungkin gue bukan perempuan yang tepat. Tapi, mungkin kami adalah pasangan yang tepat, mungkin, karena mau berjuang untuk satu sama lain sekaligus mau diperjuangkan.

Gue dan Bas (suami gue) adalah pasangan yang rasional, kami 'menikahi' semua lapisan sosial kami dan baik-baik saja sampai kami memiliki Rima, kebahagiaan kami nomor satu. Kami kira Rima nggak akan menghalangi karir kami, Bas yang bolak-balik Jakarta-Bali, gue yang mengarungi macetnya Jakarta. Lalu kami titip Rima di Ambu, ibu mertua gue, yang judes abis. Dan memang bukan Rima masalahnya, masalahnya adalah Ambu.

Tapi, mungkin Bas adalah laki-laki kaya yang baik plus romantis, yang dalam khayalan remaja gue dulu adalah si future husband. Namun, keromantisan dan kebaikkannya seperti entah. Eksistensinya masih kurang dalam hidup gue dan Rima, dia lebih eksis di majalah SWA.
Dan itulah yang bikin bahagianya gue dan Bas, atau bahagianya gue pribadi seperti abu-abu.
Abu-abu.

Lalu,
Gue jadi teringat seorang senior gue di SMA, seorang cowok dan belum pria. Namun, saat itu pencariannya tentang bahagia, cinta dan hal-hal kecil yang 'abu-abu' dalam hidupnya menjadi ingatan yang saat macet begini terulang di otak kecil gue.

Penetapan hatinya tentang cinta yang lalu mengkhianatinya, lalu mulai kembali berulah pada beberapa hati sebagian besar anak perempuan di sekolah gue. Saat itu gue sadar, laki-laki ini berbeda didalamnya, dan benar saja, ternyata dia mencintai sahabatnya dan takut kehilangan. Kalau Kahlil Gibran pernah bilang, tidak akan pernah ada persahabatan diantara perempuan dan laki-laki, itu jelas tepat sekali untuk kasus senior gue ini. Dan gue bilang ke dia, "saat jatuh cinta, kita harus buru-buru merealisasikannya. Jangan nelangsa nahan cinta yang harusnya bahagia."
Lalu pencarian arti 'ikhlas' oleh senior gue ini. Dengan penjelasan tentang ikhlas dari gue yang bunyinya "we can do nothing" dia nggak juga paham. Sembahyang dengan ikhlas artinya tanpa disuruh, menurutnya, jadi saat disuruh sholat dia merasa gagal untuk sholat dengan ikhlas.

Gue kembali mengulang semua percakapan dan diskusi itu di dalam kepala gue. Saat gue pikir itu cuma omong kosong dari seorang remaja yang akan beranjak dewasa, ternyata memang hanya diputaran itulah kita mencari hakikat sebenarnya dari hidup yang abu-abu ini.

Mungkinkah pikiran gue baru beranjak dewasa saat usia gue udah 28 tahun?

Dan, apakah gue udah bisa menjadikan jawaban gue ke senior gue dulu itu sebagai pandangan hidup gue? Apakah buru-burunya gue dulu saat nerima lamaran Bas adalah perealisasian cinta gue? Apakah gue dulu jatuh cinta sama Bas kayak senior gue yang jatuh cinta sama sahabatnya? Kejamnya, pernahkah gue jatuh cinta sama suami gue yang merupakan future husband gue saat remaja? Pernahkah?
Lalu selama ini, dengan menikahi seluruh lapisan sosialnya suami gue, berdamai dengan Ambu yang judesnya minta ampun, apakah itu yang dinamakan ikhlas? We can do nothing, kan? Lalu apa yang bikin gue bisa seikhlas itu?
Dan, dimana masa 'jatuh cinta'-nya gue? Pernahkah gue jatuh cinta? Apakah hati gue setenang itu, nggak pernah menggebu karena cinta? Karena patah hati? Karena cinta monyet? Ah monyet lagi.

Gue, umur 28 tahun, punya suami dan satu anak, belum pernah jatuh cinta.

Ternyata gue hanya mengikuti tradisi menikah setelah lulus kuliah pada usia 23 tahun. Mendapat future husband yang keromantisan dan kebaikkannya cuma ada kalo dia lagi ada. Mendapat lingkaran kerabat baru dan harus luwes menjalankan beberapa peran dengan topeng yang diberikan langsung oleh mereka; 'si wanita paling bahagia karena nikah dengan pengusaha dan punya anak gadis cantik'. Terus mereka merapal, semoga bahagia selalu ya.

Terus apa arti bahagia sebenarnya? Begini? Kayak yang sedang gue alami ini? Sebatas ini? Begini doang? Terus kenapa orang-orang ribet nyari bahagia? Toh cuma begini, nggak perlu diagung-agungkan, cuma sebatas ini aja kok.
Atau, ternyata bukan ini yang orang-orang cari? Bukan bahagia ini yang mereka cari? Bukan begini seharusnya bahagia? Jangan-jangan, gue juga belum bahagia, namun dibohongi oleh orang-orang yang bilang gue bahagia.

Gue, 28 tahun, seorang konsultan pasangan suami-istri, nggak tahu bahagia. Dibohongi soal bahagia pula.

Lalu gue harus apa? Susah-susah nyari laki-laki yang bisa bikin gue menggebu, patah hati, lalu berbunga, lalu apa? Atau biarkan begini, punya suami sering muncul di SWA, kaya dan romantis, tapi eksistensinya kurang, lalu apa?
Ikhlas, we can do nothing.
Sekalipun ada lubang-lubang hampa dalam hati dan jiwa gue. Sekalipun ada suara-suara yang masih bertanya. Sekalipun ada hati dan jiwa yang masih mencari. Gue nggak bisa ngelakuin apapun. Tapi gue yakin, pengertian ikhlas yang begitu adalah salah. Ikhlas adalah saat gue cuma nyaman dalam melakukan, tanpa dipaksa juga berharap. Gue? Berharap iya, dipaksa iya. Entah berharap apa, dan dipaksa oleh siapa.

Lalu, gimana lubang, suara, jiwa dan hati gue?

Mungkin Bas dan Rima bisa menjadi jawaban atas semua tanya dan juga cari yang masih gue lakuin. Mungkin gue hanya harus membiarkan sesuatu, apapun itu, membuat gue merasa beruntung karena tak lebih jauh mencari dan bertanya.
Entah. Apapun itu, gue membiarkan dia datang.
Sekalipun dia adalah teman kuliah yang dulu gue tolak cintanya.
Eh apaan sih, kok sampe nyambung ke masa kuliah?

By the way, ini macet belum kelar juga ya. Sampai lamunan gue abis.

Jumat, 08 April 2016

Aku dan Mia ke London #Mum

Photo by Wendy Laurel

Baik, aku akan ceritakan pertemuanku dan Mia dengan Alex. Everyone please compliment me and Mia, kami berdua adalah perempuan terkuat sejagat.

Hari itu adalah dua hari setelah Natal, Alex baru menemui kami di hotel. Which was, pada hari Natal aku dan Mia hanya berdua di hotel padahal aku mengundang Alex untuk datang. Well, dua hari setelah natal itu, Alex datang dengan membawa anak anjing untuk Mia, dia bilang itu hadiah Natal dan permintaan maaf karena tidak bisa merayakan Natal bersama kemarin.
Namun, Alex sama sekali tidak meminta maaf padaku. Aku benar-benar terkejut. Seolah-olah menurutnya tidak terjadi apapun pada kami sebelumnya. Seolah-olah Mia hanya anak gadis biasa yang dikecewakannya saat Natal, dan bukannya buah hatinya yang ditinggal olehnya saat masih dalam rahimku. Apapun, kami berdua ini, aku dan Mia, harusnya adalah sesuatu miliknya, bukan hanya dua perempuan biasa yang minta bertemu.
"Jadi, kapan kau akan kembali ke Indonesia?" tanya Alex.
God. Itulah hal pertama yang ditanyakannya padaku.
"Entahlah. Mungkin besok sore atau lusa," jawabku, terkejut dengan ketenangan suaraku.
"Well, aku bisa mengantarmu ke bandara kalau kau mau," ucapnnya, sambil menatap Mia yang penasaran menatap aku dan Alex bicara sangat fasih dalam Bahasa Inggris.
Lalu, "Alex, apakah ini terasa seperti aku dan Mia bukan siapa-siapa? Apakah kau tidak merasa bahwa harusnya kau ada untuk kami?" cecarku.
Alex mengedikkan bahu, "entahlah. Kenyataannya aku sudah menikah dan aku mencintai istriku."
Aku terdiam. Rasanya sakit, namun entah, aku mengambang dalam gamang.
"Aku tidak lagi bicara tentang cinta denganmu," desisku tajam.
"Tapi harusnya kau paham kenyataan!" balasnya.
"Kenyataannya adalah Mia itu anak kandungmu dan kau berhutang tanggung jawab denganku!" jeritku.

"Mum..." bisik Mia, gemetar melihat Mum-nya hilang kendali.

"Mia aku mohon keluarlah dulu. Cari udara segar atau makan waffle di cafe hotel. Mum akan menyusulmu nanti," ucapku.
Lalu Mia keluar dengan membawa mantel dan anak anjing barunya.

"Alex aku mohon, sekalipun aku ini tidak berarti bagimu, namun tataplah Mia. Sayangi dia, Alex," ucapku.
"Bagaimana aku bisa menyayangi anak kecil yang baru saja aku temui setengah jam lalu? Bagaimana aku bisa yakin bahwa dia adalah anak gadisku?" tanya Alex bertubi-tubi.
"Aku sudah menjelaskannya padamu dulu," balasku.
Alex menatapku dalam, "bagaimana aku bisa yakin bahwa kau hanya tidur denganku?"

Cukup Alex, aku muak. Inikah Ayah dari anak gadisku yang baik hati?

"Cukup ALex, sekarang pergilah. Jangan temui aku dan Mia lagi," desisku.
"Kabari aku jika kau akan pergi, aku akan mengantar kalian ke bandara," ucap Alex sebelum keluar kamar.
What the hell it is.

Beberapa saat kemudian Mia masuk, melihatku bersandar pada meja yang tadi menghidangkan teh untuk Alex. Aku belum sempat menangis.
"Mum," panggilnya
"Yes?"
"Anak anjingnya aku berikan ke penjaga pintu hotel. Aku nggak mau bawa dia pulang," ucapnya.
"Kenapa nggak mau?" tanyaku.
Mia menghembuskan napas, "karena pemberinya itu menyebalkan, dan kau kayaknya nggak suka dia."
Salah Mia, dulu aku jatuh cinta pada Alex.
"Laki-laki tadi itu ayahmu, sayang," bisikku.
"Mum, mau tahu nggak? Kau memang menyebalkan dan jahat sama aku. Dan kau juga bodoh karena mengajakku ke London cuma untuk ketemu orang menyebalkan itu," ucap Mia, menohokku dalam.
Aku menghembuskan napas, "Entahlah Mia, aku cuma ingin kau ketemu sama dia."
"Kalau Mum nggak suka, aku juga engga," balas Mia.

Aku mencintaimu Mia.
Lalu aku memeluk gadi kelas tiga SD itu

"Kapan kita pulang? Aku nggak suka disini," ucap Mia.
"Besok mungkin,"
Lalu Mia mengangguk semangat.

Mia adalah satu-satunya yang aku punya saat dunia meninggalkanku sendirian.
Menjadi singlen paren tentunya bukan mimpiku karena mimpi sejak remaja dulu adalah tinggal di rumah mungil bersama anak-anakku dan juga lelaki idamanku. Namun, sekalipun Alex adalah lelaki idamanku, aku juga tak pernah bermimpi untuk hidup bersama pria brengsek yang meninggalkan wanitanya saat sedang hamil anaknya. Tidak, aku bahkan tak pernah memikirkan lelaki seperti itu.
 Aku memilih hidup bersama Mia saja.

"Mum, ngomong-ngomong, dimana sih Mum ketemu dia?" tanya Mia padaku.
Aku jawab, "di London"
"Saat kau sekolah di sini ya?" tanyanya lagi.
Ya, aku bertemu Alex saat aku belajar tentang bisnis di sini. Ayahku punya perusahaan besar di Jakarta dan Ibuku punya beberapa hotel dan rumah makan di Bali. Aku anak tunggal mereka, yang kebetulan sangat pintar dan penurut waktu itu. Sewaktu remaja, aku punya mimpi bertemu pangeran dan bahagia dengannya sampai mati.
Lalu aku bertemu Alex dan sosok pangeran itu ada dalam dirinya. Aku dan Alex hanya bertemu dua kali waktu itu, lalu kami melakukan sesuatu yang seolah-olah benar. Aku seperti berlabuh waktu itu dan mengira, inilah akhir pencarianku, sudah kutemukan pangeranku.
Namun setelahnya, aku hanya merasa mimpi beserta pangerannya adalah omong kosong. Saat diberitahu aku hamil, Alex pergi entah ke bagian mana dari London. Aku memulai untuk mati, semua rencana tersusun namun Mia yang ada di perutku seperti sudah menyayangi ibunya.
Mia menghidupkan aku.
Lalu aku pulang ke Indonesia, dan duniaku berubah. Tak satu pun menerimaku. Tidak ada lagi ayah yang hebat dan ibu kaya raya, tidak ada gemerlap lagi dalam hidupku. Semua seperti hilang, bahkan diriku yang pintar juga penurut. Dunia meninggalkan aku.
Tapi lalu bersama Mia, aku menemukan kebenaran yang mungkin terlewat sebelumnya. Aku mulai membentuk hidup dengannya, hidup baik dan damai di apartemen kecil warna pink di Jakarta. Walaupun terkadang ada pertengkaran karena lidah tajamnya, namun aku memang menginginkan itu.
Aku berhutang banyak pada Mia, anak gadisku.

"Mum, aku bertanya," Mia membuyarkan lamunanku.
"Ya, waktu aku sekolah bisnis disini. Sudahlah, tak ada gunanya bicara tentang itu. Kau ingin makan malam apa?"
"Ayo kita keluar, sambil mencari oleh-oleh buat Eda," ajaknya semangat.
"Baiklah tuan putri," jawabku.
"Oh Mum! Kali ini aku akan mentraktirmu es krim!" ucap Mia.
"Apa kau membawa uang?"
"Aku sudah menabung untuk Natal dan London kita. Ayo kita senang-senang!"

Dan kami berdua menemukan bahagia kami sendiri.