Ada satu waktu saya bermonolog dengan diri saya sendiri di suatu ruang teh, sore-sore.
mengapa orang-orang menyebut saya jahat?
karena tak seorang pun melihat kebaikanmu
ah, kebaikan tak perlu diumbar, kan?
betul, hanya aku yang tau betapa baiknya kamu. hahaha
hehe, kamu kan saya juga. lalu kenapa sih teman-teman saya melakukan kebaikan pada seseorang, tapi jika orang itu tak baik kembali pada mereka, mereka mengeluh? saya juga begitu sih kadang-kadang, enak saja sudah ta' baikin, orang itu malah jahat.
memangnya, saat kamu berbuat jahat pada seseorang, kamu peduli pada kebaikannya kepadamu?
jelas engga, pokoknya ya saya jahat aja sama dia.
lalu kenapa kamu peduli pada kejahatan orang lain saat kamu berbuat baik kepada orang tersebut?
ya jelas, wong udah aku baikin, kok ngebalesnya malah begitu.
hahaha, lucu. mungkin orang yang kamu jahatin lebih mulia dari pada kamu, dia tetap, seenggaknya, sedikit berbuat baik padamu, padahal kamu jahat.
ya terserah aku tho mau jahat sama dia atau gimana? terserah dia mau baik ke aku atau balik jahat ke aku
ah, itu dia. KAMU BAIK KE DIA, YA TERSERAH DIA MAU BAIK KE KAMU ATAU BALAS KAMU DENGAN KEJAHATAN, URUSAN DIA, YANG PENTING KAMU BAIK SAMA DIA
jadi, AKU JAHAT KE DIA, YA URUSAN DIA MAU JAHAT BALIK KE AKU ATAU MALAH BAIKIN AKU. gitu bukan?
MANTAP! hehehe
hah, tapi ya kalo ada yang jahatin aku, ya aku balik jahat ke dia lah
jadi kalo ada yang baik ke kamu, ya kamu baik balik ke dia lah. hahaha
ah kamu gak paham
kamu yang belum paham. apa-apa kok diambil yang enaknya di kamu aja. dasar, nggak adil
ah yowes lah! urusan masing-masing mau jahat atau baik. pokoknya aku baik ke dia, terserah gimana dia ke aku, aku jahat ke dia, terserah gimana dia ke aku. sa'karep'e dewe lah!
-Ruang Teh Sendiri, jalan Minang no.43-
Sabtu, 26 September 2015
Sabtu, 19 September 2015
Temu Kangen
Pagi-pagi aku bangun, dingin. Ini Bandung, beda sama sekali dengan 10 tahun silam, saat aku meninggalkannya. Bandung, 10 tahun setelah aku meninggalkannya...
Jam 10 tepat...
Aku jalan kaki, lalu naik bus. Sudah pangling dengan jalanan kota Bandung, setelah lama menetap di jogja untuk kuliah lalu kerja. Aku ambil cuti dua hari untuk ke Bandung, untuk sebuah pertemuan eksekusi mungkin. Bukan, bukan eksekusi tubuh, eksekusi perasaan.
Tapi aku berharap, tak ada eksekusi perasaan. Ini hanya Temu Kangen, yang semoga berakhir indah
Jam 10.15...
Aku mampir di toko buku milik Koh Teng yang dulu sering aku datangi waktu SMA. Koh Teng sudah sangat tua sekarang, ada yang membantunya di toko bukunya, seorang anak laki-laki, mungkin masih SMP.
"Koh Teng, saya beli buku ini, berapa?" tanyaku sambil menunjukkan buku Arloji karangan Sapardi Djoko Damono.
Koh Teng menatapku, lalu bilang; "lima belas, lima belas untuk yang balik lagi ke Bandung."
Aku terkejut, "Koh Teng ingat saya?"
"Kumala Tardi, cucu tentara itu kan? yang rumahnya mewah, di ujung jalan ini"
"Mala!"
"Mala. Datang lagi ke Bandung, untuk apa? Bandung tak sejiwa lagi dengan kita yang meninggalkannya, betul?"
Aku tertawa, "Bandung masih menyimpan rahasiaku, Koh!"
"Oke, oke, sekarang pergilah, tidak perlu kau bayar buku bekas itu."
"Benar, Koh?"
Koh Teng mengangguk sambil menyeruput kopi hitamnya.
Ah Koh Teng dan toko bukunya, kenangan lagi dari Bandungku.
Jam 10.27...
Aku sampai di kedai Tempo Dulu, yang sering aku datangi untuk kencan denganmu dulu. 10 tahun silam, berarti 2004, kedai ini saksi perasaanku padamu.
Aku memesan kopi, kopi lagi, kopi terus. Kali ini aku pilih Latte, tidak kopi Bali seperti biasanya. Lalu aku memesan donat yang dibakar, yang aku tahu kamu adalah pecintanya.
Aku bayar pesananku, lalu aku duduk di salah satu kursi rotan dan meja kayu yang dihiasi setangkai mawar merah.
Aku mulai menunggumu.
Aku datang 30 menit dari waktu perjanjian.
Aku mengeluarkan surat-surat darimu. Dengan kertas kekuningan dan bau kenangan. 2004, aku masih jadi siswi SMA malu-malu yang polos dan berpikir lambat.
2005 itu, kita, aku dan kamu masih jadi teman sekelas yang pada masanya masih berpacaran.
Ada satu surat, surat pertama darimu, nama pengirimnya; Lidah Kucing. begini:
kalau kakekmu bawa senapan, aku hampiri dia dengan berani
lalu aku ajak kenalan, hah siapa tau aku dapat cucunya yang cantik.
halo Mala...
aku tersenyum. kala itu kita masih remaja. yang cuma tau telepon genggam cuma untuk orangtua kita yang dewasa juga kaya.
Ada satu surat, surat keberapa entah. kamu tidak menulis nomor suratnya:
Halo... halo mala... kelak jadi kenangan
sudah lama beta... tidak berjumpa dengan kau...
ah mala, aku tak pandai bikin lagu. ayo, kita kencan saja besok minggu.
aku ingat, surat itu kamu kasih waktu hari Sabtu, pulang sekolah.
Ada kenangan-kenangan indah bersamamu saat SMA. Aku tidak akan lupa pastinya. Kelak, jika tak bisa bersatu, aku ingin bilang terimakasih pernah menghias masa SMA-ku dengan manisnya cinta.
ah, ada satu surat lagi, suratnya romantis:
Mala, cucu tentara, dari keluarga Tardi yang kaya raya. Mala, aku jatuh cinta padamu hari ini, esok, dan selamanya! Mala, bilang aku kalo aku ga romantis, kelak Bandung akan jadi yang paling romantis bagi kamu, eh asal kamunya sama aku hehe.
Mala, anjingmu galak, tapi aku suka kamu, kamu nggak galak hehehe.
Mala, sekarang aku serius, kelak aku akan menikah denganmu dan cintaku bukan cinta bocah anak SMA saja.
Mala, aku cinta kamu pokoknya! Selamat liburan!
-Lidah Kucing.
Aku tersenyum dan hampir menangis. Ah, akankah sama jika kita bertemu lagi...
Jam 11.06...
TING!!
pintu kedai terbuka
Ada kamu, Ali
Ali Huda Pradikta
Ali-nya aku
Aku tau, kali ini, kita akan tetap bersama, selamanya.
sebab senyumanmu, dan senyumanku bersatu.
dan kenangan-kenangan tentang kita di masa SMA kembali bergerilya di benakku.
"Ali, aku rindu,"
"Mala, aku kangen,"
Kau tau, Ali? Saat itu kamu sangat tampan dengan kemeja biru yang digulung sebatas siku.
Ah, itu undakan kedua, sebelum undakan ketiga yang pada tanggal 17 Desember 2014, kita menikah.
"Mala, jika Tuhan ijinkan, aku tidak akan melepaskanmu barang sebentar saja, tapi Tuhan punya cara lebih indah untuk mempersatukan kita lagi," kata Ali pada hari itu, di kedai itu.
Ah, temu kangen yang sempurna
Ah, Bandung selalu punya rasa untuk mereka yang berperasaan.
Jam 10 tepat...
Aku jalan kaki, lalu naik bus. Sudah pangling dengan jalanan kota Bandung, setelah lama menetap di jogja untuk kuliah lalu kerja. Aku ambil cuti dua hari untuk ke Bandung, untuk sebuah pertemuan eksekusi mungkin. Bukan, bukan eksekusi tubuh, eksekusi perasaan.
Tapi aku berharap, tak ada eksekusi perasaan. Ini hanya Temu Kangen, yang semoga berakhir indah
Jam 10.15...
Aku mampir di toko buku milik Koh Teng yang dulu sering aku datangi waktu SMA. Koh Teng sudah sangat tua sekarang, ada yang membantunya di toko bukunya, seorang anak laki-laki, mungkin masih SMP.
"Koh Teng, saya beli buku ini, berapa?" tanyaku sambil menunjukkan buku Arloji karangan Sapardi Djoko Damono.
Koh Teng menatapku, lalu bilang; "lima belas, lima belas untuk yang balik lagi ke Bandung."
Aku terkejut, "Koh Teng ingat saya?"
"Kumala Tardi, cucu tentara itu kan? yang rumahnya mewah, di ujung jalan ini"
"Mala!"
"Mala. Datang lagi ke Bandung, untuk apa? Bandung tak sejiwa lagi dengan kita yang meninggalkannya, betul?"
Aku tertawa, "Bandung masih menyimpan rahasiaku, Koh!"
"Oke, oke, sekarang pergilah, tidak perlu kau bayar buku bekas itu."
"Benar, Koh?"
Koh Teng mengangguk sambil menyeruput kopi hitamnya.
Ah Koh Teng dan toko bukunya, kenangan lagi dari Bandungku.
Jam 10.27...
Aku sampai di kedai Tempo Dulu, yang sering aku datangi untuk kencan denganmu dulu. 10 tahun silam, berarti 2004, kedai ini saksi perasaanku padamu.
Aku memesan kopi, kopi lagi, kopi terus. Kali ini aku pilih Latte, tidak kopi Bali seperti biasanya. Lalu aku memesan donat yang dibakar, yang aku tahu kamu adalah pecintanya.
Aku bayar pesananku, lalu aku duduk di salah satu kursi rotan dan meja kayu yang dihiasi setangkai mawar merah.
Aku mulai menunggumu.
Aku datang 30 menit dari waktu perjanjian.
Aku mengeluarkan surat-surat darimu. Dengan kertas kekuningan dan bau kenangan. 2004, aku masih jadi siswi SMA malu-malu yang polos dan berpikir lambat.
2005 itu, kita, aku dan kamu masih jadi teman sekelas yang pada masanya masih berpacaran.
Ada satu surat, surat pertama darimu, nama pengirimnya; Lidah Kucing. begini:
kalau kakekmu bawa senapan, aku hampiri dia dengan berani
lalu aku ajak kenalan, hah siapa tau aku dapat cucunya yang cantik.
halo Mala...
aku tersenyum. kala itu kita masih remaja. yang cuma tau telepon genggam cuma untuk orangtua kita yang dewasa juga kaya.
Ada satu surat, surat keberapa entah. kamu tidak menulis nomor suratnya:
Halo... halo mala... kelak jadi kenangan
sudah lama beta... tidak berjumpa dengan kau...
ah mala, aku tak pandai bikin lagu. ayo, kita kencan saja besok minggu.
aku ingat, surat itu kamu kasih waktu hari Sabtu, pulang sekolah.
Ada kenangan-kenangan indah bersamamu saat SMA. Aku tidak akan lupa pastinya. Kelak, jika tak bisa bersatu, aku ingin bilang terimakasih pernah menghias masa SMA-ku dengan manisnya cinta.
ah, ada satu surat lagi, suratnya romantis:
Mala, cucu tentara, dari keluarga Tardi yang kaya raya. Mala, aku jatuh cinta padamu hari ini, esok, dan selamanya! Mala, bilang aku kalo aku ga romantis, kelak Bandung akan jadi yang paling romantis bagi kamu, eh asal kamunya sama aku hehe.
Mala, anjingmu galak, tapi aku suka kamu, kamu nggak galak hehehe.
Mala, sekarang aku serius, kelak aku akan menikah denganmu dan cintaku bukan cinta bocah anak SMA saja.
Mala, aku cinta kamu pokoknya! Selamat liburan!
-Lidah Kucing.
Aku tersenyum dan hampir menangis. Ah, akankah sama jika kita bertemu lagi...
Jam 11.06...
TING!!
pintu kedai terbuka
Ada kamu, Ali
Ali Huda Pradikta
Ali-nya aku
Aku tau, kali ini, kita akan tetap bersama, selamanya.
sebab senyumanmu, dan senyumanku bersatu.
dan kenangan-kenangan tentang kita di masa SMA kembali bergerilya di benakku.
"Ali, aku rindu,"
"Mala, aku kangen,"
Kau tau, Ali? Saat itu kamu sangat tampan dengan kemeja biru yang digulung sebatas siku.
Ah, itu undakan kedua, sebelum undakan ketiga yang pada tanggal 17 Desember 2014, kita menikah.
"Mala, jika Tuhan ijinkan, aku tidak akan melepaskanmu barang sebentar saja, tapi Tuhan punya cara lebih indah untuk mempersatukan kita lagi," kata Ali pada hari itu, di kedai itu.
Ah, temu kangen yang sempurna
Ah, Bandung selalu punya rasa untuk mereka yang berperasaan.
Langganan:
Postingan (Atom)