suatu hari, mungkin kau akan temukan aku bunuh diri
tergantung di langit-langit kamar dengan seutas tali
kau menemukan aku dalam bisu
wajahku pucat, wajahmu mungkit kaget. entah
ada garis air mata di pipiku
ada kitab di atas meja yang masih terbuka
aku habis membacanya--
meminta ampunan kepada-Nya tentang dosa ini dan dosa yang lain
semua itu latar aku bunuh diri
di bawah kakiku yang menggantung, akan kau temukan surat
surat untukmu, untuk ayah, untuk ibu, untuk pacarku, untuk saudaraku
surat untuk semua orang yang sepertinya mencintaiku
berisi permohonan maafku dan keberatanku selama hidup dengan mereka
suratnya terbuka, tidak aku masukan dalam amplop
suratnya ada titik-titik air mataku
suratnya hampir basah air mata
di hari kemudian setelah itu,
kau mungkin tak akan pernah lagi mendengar keluhanku tentang hidup yang tak adil
atau mendengar jeritanku di ruang pemasunganku
atau mendengar ocehanku yang gila
atau mendengar tangisku yang menyesakkan
kau tak akan lagi mendengar apapun dariku
aku sudah tak bisa menyampaikan, tak akan lagi bisa
di hari kemudian setelah itu,
kau tak akan bisa lagi melihatku
kecuali dalam mimpi-mimpi burukmu
yang akan membuatmu bangun dengan berkeringat dan linangan air mata
temanku sayang, aku rindu
tapi apa kau menyesal telah bersekongkol dengan semua orang yang aku cintai?
menyesal telah ikut memasungku dalam ruangan gelap yang laintainya dingin?
apa kau menyesal?
karena waktu itu, aku pernah melihat sakit di matamu
waktu aku menjerit di sel-sel rumah sakit jiwa
temanku sayang, apa boleh aku datang lagi di mimpimu?
dan bertanya tentang kalung ketenangan yang kau berikan
temanku sayang, aku ini tidak gila
aku hanya suka mengeluh dan berapi-api
aku akan datang ke mimpimu untuk menjelaskannya
karena yang aku percayai hanya dirimu
yang aku sayang hanya dirimu
bukan keluargaku atau pacarku
yang aku percaya adalah kau, temanku
temanku sayang, semoga bahagia dalam hidupmu
tidak seperti aku yang dipasung lalu bunuh diri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar