Kamis, 24 Desember 2015

Email dari Are di Budapest




[Senin, 06.10 sampai seterusnya]

Pagi itu, Re, aku menerima sebuah email baru darimu yang ada di Budapest. Pagi itu pula aku berani mengabaikan semua laporan keuangan yang sudah menjerit ingin kuperiksa sebelum pertemuan nanti siang…
Emailmu begini, Areno…
Untuk; Ratih, temanku dari segala arti teman
Perihal; bertanya
Temanku Ratih,
Aku ingin bertanya sesuatu untuk permulaan emailku, sayang, sudahkah kamu merindukan aku? Sebab segala rinduku yang berupa penantian akan temu denganmu sudah menumpuk didadaku dan tak peduli walau aku memaksa menghentikan pembelian tiket dari sini ke Indonesia. Aku bercanda, belum, aku belum rindu kamu, sama sekali belum. Aku juga belum berpikir tentang penerbangan melelahkan itu. Aku hanya cinta kamu, belum rindu
Aku sudah lupa bagaimana kita berbicara ringan tentang novel kesukaanmu atau film-film dan musik-musik kesukaan kita. Aku juga sudah lupa hal apa yang kamu tidak suka dan aku sangat menggilainya. Tapi, Ratih, beruntungnya aku belum lupa bahwa aku punya kamu dan seluruh hatimu (soal hatimu ini aku yakin), aku tak akan lupa.
Ratih, aku ingin bertanya, ini serius dan aku butuh jawabannya segera.
Ratih, apa arti cinta bagimu? Apa kamu mati-matian tidak mengharapkan perpisahan dari hubungan percintaan kita? Atau kamu realistis lalu memandang lurus pada lajur kehidupan yang bahkan tak selalu lurus seperti pandanganmu? Mengapa kamu memilih aku? Mengapa kamu menaruh hatimu kepadaku tanpa persetujuanku sebelumnya? Apakah dulu engkau seyakin itu dengan aku? Apakah dulu engkau seyakin itu dengan cinta? Atau malah sampai detik ini pun kamu masih yakin akan cinta?
Dan, sayangku, sudahkah kamu siap jika suatu hari kita berpisah? Apa persiapanmu?
Aku hanya bertanya, Ratih, dan jangan jadi ragu akan perasaanku kepadamu karena pertanyaan-pertanyaan diatas.
Dan, apa kamu baik? Bagaimana jantungmu? Sehat? Aku harap begitu.
Dan saat ini, selesai menulis email ini, aku rindu kamu, rindu sekali.
-Are.

Saat itu aku tercenung dan kaget, Re, jika kamu mau tau. Tapi lalu aku tersenyum dan senang. Hubungan ini, aku dan kamu, kita, bukan hanya tentang cinta dan ketidaksadarannya. Bukan hanya tentang ketidakmasukakalan cinta yang impulsif dan hanya tentang rasa. Aku butuh segala pikiranmu yang lalu melebur dan menjadi satu dengan segala pikiranku. Aku butuh itu, Re, butuh…
Maka segera aku balas emailmu begini…
Untuk; Are, separuhnya aku
Perihal; menjawab
Areno sayangku,
Mula-mula aku ingin menjawab tentang keadaanku. Jantungku mulai tidak baik, mungkin karena degup-degup aneh saat menerima emailmu. Mungkin karena aku jatuh cinta terlalu dalam padamu. Aku tidak bercanda, Re.
Are, aku senang kamu bertanya begini padaku. Aku butuh segala pikiranmu itu, Re, bahkan aku butuh segala keraguanmu kepadaku kalau ada. Karena aku ingin cinta kita masuk akal dan bukan hanya tentang kata-kata magismu yang membuat aku bahagia.
Re, aku ingin benar-benar jatuh saat mencintaimu. Lalu akan ada titik terjatuh dimana aku akan hampa dan bertanya pada diriku, benarkah aku mencintaimu? Atau aku hanya ingin jatuh dan mencapai titik itu lalu terlena. Tidak Re, aku tak mau. Aku ingin mencintaimu dengan fatal, sampai tak ada lagi yang perlu aku risaukan tentang cinta kita. Sampai aku hanya tau kamu paham betul aku dengan segala pikiran dan keraguanku.
Re, aku juga ingin mencintaimu secara sadar. Aku ingin sadar akan apa yang aku rasakan. Jiwaku tak ingin terpejam sekalipun mataku lurus menatapmu. Aku ingin sadar dalam mencintaimu, lalu menerjemahkan segala rasa dengan kerasionalanku yang benar-benar bangun. Re, aku tak ingin terlelap dalam cintamu. Aku ingin sadar saat merasakan kamu dan cintamu.
Aku senang aku tak memahami definisi mutlak tentang cinta, aku senang. Tapi aku bisa mendefinisikan secara jelas bagaimana definisi dan alur cintaku kepadamu. Aku bukannya cinta tanpa alasan, Re. Aku tau alur cintaku ini, aku tau alasan, resiko, definisi, konsep, segalanya tentang cintaku kepadamu. Sebab sebuah konsep akan selamanya hampa tanpa ada tujuan dan penyebab. Aku punya segalanya yang kamu tanyakan, Re, tapi ada beberapa tanyamu yang tak ingin ku jawab secara jelas dan tepat sasaran. Aku ingin kamu definisikan semua dari tulisanku kepadamu ini. Aku ingin kamu terjemahkan aku.
Aku butuh pikiranmu, Re, butuh. Aku ingin pikiranmu melebur bersama pikiranku. Aku butuh pikiranmu yang menyatu dengan punyaku. Bukan, bukan tentang persepsi, tapi pengertian bersama tentang kamu dan aku. Aku tak pernah buru-buru ingin perpisahan, biarlah senang dulu lalu terbang dan jatuh, saat jatuh itu aku mau kita sama-sama bertanya pada diri kita. Bukan, bukan tentang baik-buruknya, karena kamu tau kita tak hidup untuk sesuatu itu. bertanya tentang mampukah kita untuk sadar kembali dan menelusuri kronologi cinta kita dari awal. Haruskah berakhir perpisahan atau pelukan (kembali). Haruskah mengulang untuk kembali jatuh lagi dan mendefinisikan kembali segala rasa.
Aku belum jatuh sejatuh-jatuhnya, Re. Semua rasa dan tanyaku masih kusimpan dan aku bagi sedikit denganmu, karena aku tau kamu adalah satu yang mampu berbaur denganku. Karena aku belum ingin disiksa dengan kenyataan dan secara gamblang menyentuh sebuah ironi. Tidak, aku ingin terbang dulu lalu jatuh sejatuh-jatuhnya.
Dan, Re, tak ada yang aku yakini selain ketidakyakinan itu sendiri. Aku penikmat, Re, yang tak bisa yakin dengan sungguh-sungguh lalu memutuskan. Aku butuh sesuatu yang nanti memutuskan. Kendali semua yang bergerak di sekelilingku bukan padaku, aku hanya penikmat yang tiba-tiba bisa disuruh jatuh lalu bertanya dan berpikir. Tapi aku ingin sepenuhnya sadar dan masuk akal, Re, bukan penikmat yang terpejam jiwanya.
Makanya, aku butuh pikiranmu, aku butuh kamu Re.
Tak akan kusesali bila pada akhirnya semua ini hanya kesemuan, tapi rasa ini sudah mengkristal indah tak ingin kuhapus sekalipun kamu sudah terhapus dari hidupku.
Tak apa, Re, tak apa, semuanya akan indah pada waktunya. Nikmati saja, kita hanya penikmat.
Dan, Areno, aku rindu kamu. Cepat pulang ya dari Budapest
-Ratih

Segera aku kirim emailmu tanpa ada keraguan atas semua isinya. Aku ingin kamu membalasnya segera, Re.
Lalu sekitar 15 menit kemudian, layar laptop berkedip sekali dan menampilkan pemberitahuan email masuk darimu.
Untuk; Ratih, separuhnya aku di Indonesia
Perihal; terimakasih, semoga jantungmu baik
Inilah kamu yang aku cintai secara sadar dan masuk akal, Ratih…
Bukankah keyakinan terbesar adalah kepada ketidakyakinan itu sendiri? Memang begitulah adanya di dunia ini.
Lalu bukankah kepastian terbesar adalah ketidakpastian itu sendiri? Ya, jelas begitu.
Aku akan pulang sebentar lagi, aku sudah tak mau melacurkan waktuku disini. Aku kangen kamu.
-Are


Aku membalasnya.
Untuk; Are yang di Budapest
Perihal; aku juga kangen kamu
Ketidakyakinan dan ketidakpastian adalah sesuatu yang mengelilingi aku saat ini.
Melacurkan waktu? Sesungguhnya kamu pelacur sejati disana. Sebab ada tiga macam pelacur sejati, yaitu yang melacurkan waktu, jiwa atau jati diri. Kamu salah satunya, Re, tapi aku tetap cinta kamu.
Aku juga kangen, sampai bertemu segera. Dan tidurlah lagi, disana masih terlalu malam, bukan?
-Ratih

Sampai bertemu disini, Re. Aku sudah rindu sekali. Dan semoga segalanya berakhir seperti yang aku harapkan.

Jumat, 18 Desember 2015

Wajah Rindu

Aku terbaring
Dalam tubuh ringkih ini tersampir rindu
Dalam jiwa jenuh ini tersangkut rindu
Wajah ini tirus dengan warna pasi
Sengaja tak pakai gincu agar tak jadi rancu

Aku terbaring
Raga ringkih ini kaku
Mendekam rindu yang membuat pilu
Teko berbunyi
Air sudah panas
Aku ingin jumpa denganmu saja

Tak ada teh sore dalam kesendirian
Hanya mampu melukai dan dilukai rindu
Andai pipi ini diwarnai sedikit
Tak akan pilu sore melirikku
Tapi Rancu yang dipahat gugup

Apa aku benar sedang rindu?
Atau hanya rindu palsu jalang murahan?
Yang dihargai beberapa dolar
Dan bercinta hingga dihinggapi hampa

Apa aku benar perempuan yang sedang rindu?
Pada siapa?
Hingga tak pakai gincu
Hingga tak memoles pipi

Apa rindu begitu suci?
HIngga hilang binar dalam raut
Bahkan tubuh ini kaku
Hanya tersampir rindu
Tak bisa berusaha jumpa

Tapi, aku rindu!

Sabtu, 12 Desember 2015

Mum!

"Mum, Mum kau dengar tidak? Mum! Pokoknya aku mau seorang ayah, Mum. Mum apa kau tuli?!" ucap Mia.
Astaga Mia, apa kau tahu bagaimana menyesakkannya kata-katamu buatku?
"Mia, ada apa? Apa kau mencoba membunuhku dengan perkataanmu?"
"Teman-temanku punya seorang ayah dan mereka bahagia, mereka sering pergi berlibur dengan ayah mereka. Dihidupku hanya ada kau, Mum, dan laptop busukmu!" ucap Mia.
"aku ingin pergi ke kamar, terserah padamu," ucapku lalu pergi.

aku masih ingat kata-kata Mia semalam. Tapi entahlah, aku bahkan tak berani kembali ke London, menemui Alex dan bilang bahwa Mia adalah anaknya. Tapi Mia berhak tau siapa ayahnya. Ah sudahlah, anak itu hanya mencari perhatianku. Ini akhir tahun dan pekerjaanku menumpuk.

Tiba-tiba Mia sudah berdiri di pintu ruangan kantorku dengan muka masam.
"Kau kemari dengan siapa, sayang?" tanyaku menghampirinya.
Ia menghela napas. Wajah cantiknya cemberut dan memerah karena marah. Alis anak ini mengingatkanku pada Alex, selalu, selain itu semua yang ada pada dirinya adalah seperti aku.
"Mum, kenapa kau nggak angkat telponku? Aku menelpon Eda dan dia menjemputku. Kau harus berterimakasih padanya, dia ada di mejanya. Mum, Eda baik sekali, ya," ucapnya panjang lebar.
Anak ini sungguh cerewet.
"Mia, maafkan aku. Tapi ada beberapa laporan yang harus aku baca, lagian dari tadi ponselku mati. Lalu kenapa kau tak minta Eda untuk mengantarmu ke rumah?"
"Aku lapar, Mum. Lagian apa apartemen jelek kita masih bisa disebut rumah?" tanyanya.
Aku menghela napas, "hanya karena warnanya pink dan kau tak mau menyebutnya rumah. Ayolah Mia, itu apartemen mahal di kota ini,"
"Baiklah Mum, aku lapar,"
"Pesan sup dan kentang atau apapun di McDonald's, antar kemari. Aku ingin kentang yang banyak ya," ucapku.
"Mum, kau menyebalkan. Tapi oke, aku akan telpon. Apapun yang aku mau ya?" balas Mia.
Aku tersenyum, "tentu saja tuan putri, tentu saja."

"Apa yang kau kerjakan Mum?" tanya Mia setelah ia selesai menelpon.
"Entahlah. Aku cuma cari uang untuk kita. Mia apa kau sudah memikirkan perayaan natal untuk kita berdua?" jawabku sambil tetap fokus pada laptopku.
"Tidak, aku sungguh tidak mau natal kali ini. Tapi kalau kau sudah menyiapkan uang untuk perayaan itu, bagaimana kalau kau membeli laptop baru saja? Aku muak dengan laptop busukmu, Mum," balas Mia, tajam seperti biasa.
"Mia apa kau mau terus menjahatiku? Apa aku berbuat salah padamu?" tanyaku, kali ini meninggalkan laptopku dan fokus pada bocah kelas tiga SD di depanku, dia anakku... oh sungguh.
"Mum, apa aku enggak punya ayah?" tanyanya serius.
"Kau nggak punya ayah, lalu apa masalahnya. Semua orang hidup baik dengan atau tanpa ayah," jawabku.
"Baiklah aku hanya punya dirimu," jawabnya.
"itu bagus." aku tersenyum.
"Nanti kalau jadi seorang ibu, aku nggak mau jadi ibu yang kayak Mum," ucap Mia termenung.
baiklah Mia, baiklah, aku memang bukan ibu yang baik.
aku mengangkat alis, "benarkah?"
"well, Mum, apa kau nggak sadar kalau kau itu menyebalkan? aku memang menyayangimu, sih, tapi kau menyebalkan. walaupun kau masak untukku, menyiapkan bekal makan, mengepang rambutku dengan begitu indah, tapi kau tetap nggak ngerti aku," jelasnya.
astaga benarkah itu?
"Mia dengarkan aku, aku tak ingin membuat semua ini seberti drama animasi yang sedih. aku ingin kau mengerti aku, lalu kau akan ngerti juga bagaimana aku selalu mencoba mengerti kau yang tidak stabil, oke? dengarkan." ucapku, sambil menatapnya.
"Mum, tapi habis ini aku ingin bilang sesuatu, boleh?"
"ya, tentu saja. dengarkan aku dulu. Aku sudah hidup susah semenjak aku tau aku hamil dirimu tanpa ada ayahmu. Lalu kau lahir dan jadi gadis kecil menyebalkan yang tinggal di apartemen pink-ku. Lalu, Mia, tiba-tiba aku hanya ingin dirimu ada didekatku, kau seperti obat penenang bagiku. Tapi saat kau marah, aku terpaksa meminum pil-pil yang membuatku tidur. Mia, aku ini Mum-mu, suka atau tidak memang sudah begitu. Aku berkali-kali mencoba menyayangimu, Mia, dan memang aku sayang padamu, aku hanya tak tau caranya agar kau mengerti." ucapku panjang lebar, aku tak ingin menangis.
"baiklah aku mengerti, Mum. Dan sekarang aku sepakat akan mencoba mengerti dirimu juga,"
"bagus" ucapku lega.
"apa yang ingin kau katakan tadi?" tanyaku, kali ini semuanya lebih ringan.
"apa kau bisa datang ke acara sekolahku pada hari Ibu? katanya kita akan memberi bunga untuk ibu kita. apa aku harus meminta Eda yang datang seperti tahun lalu?" tanya Mia, bergetar suaranya.
"tidak, aku yang akan datang,"
"itu bagus"
"apa kau mau ikut aku untuk perayaan natal di London? mungkin kita bisa mencoba merencanakan untuk bertemu dengan ayahmu,"
"Mum, jangan bercanda,"
"aku serius"
"jadi ayahku benar-benar orang London ya? London dan Indonesia jauh, kenapa kau meninggalkannya, Mum? kenapa kau memisahkan kami?" tanyanya.
"oh ayolah Mia, ini tawaran bagus, jangan merusaknya,"
"baiklah Mum, aku mau, sangat mau!" jawabnya lalu memelukku.
"siapa nama ayahku?"
"Alex, Alex Dawson,"
"bagus, namanya bagus,"

baiklah Mia, ini rencana kita. nggak tahu nanti berakhir seperti apa.

Lucy dan Matt



Hari itu Matt, aku datang dari New York ke Texas hanya untuk bertemu denganmu. Kau Matt, seseorang yang beberapa waktu lalu bertemu denganku di chat room stranger, lalu masuk ke kontak emailku, lalu hubungan kita indah begitu saja tanpa adanya kenyataan. Kau mulai menelponku siang dan malam, aku pun sebaliknya.
Aku yang bekerja sebagai akuntan di perusahaan besar, mulai punya mimpi untuk bisa hidup bersamamu di peternakanmu di Texas. Kau punya ladang jagung yang subur dan kau bilang kau adalah pemasok jagung di seluruh Kanada. Aku bangga Matt, entah kenapa begitu. Lalu kau bilang, kau punya peternakan domba yang bulunya selalu diincar oleh beberapa produsen baju, yang walaupun tidak terlalu terkenal.
Tapi Matt, hidupmu begitu damai, begitu sederhana, dan aku tiba-tiba saja bermimpi ingin hidup denganmu. Bahagia di Texas.
Saat itu aku sampai di Texas siang hari, dan aku mulai mencari motel. Aku mulai menghubungimu yang sebelumnya sudah tahu aku akan datang ke Texas, tapi kau bahkan berkali-kali menolak panggilanku. Ada apa Matt? Ada apa denganmu?
Aku mengirimimu alamat motelku dan meminta kau datang malam hari. Dan betapa bahagianya aku saat kau datang, Matt, walaupun wajah tampanmu itu sangat pucat. Matt, tahukah kau? Ini pertemuan pertama kita, aku bertemu dengan stranger yang kutemui di chat room, yang mengirimiku email, yang sering menelponku. Matt, akhirnya aku bertemu denganmu, dan kau harus tahu bahwa saat itu aku bahagia.
“Halo, Lucy,” katamu, tersenyum.
“Hai Matt!” aku gembira, sungguh.
“Aku pikir kita tak akan bertemu secepat ini, tapi aku bahagia,” ucapmu, datar.
Aku berpikir, pertemuan ini tak membuatmu bahagia. Tapi aku ingin bahagia, aku tak bisa menolak betapa hatiku buncah saat menatapmu.
“Kau baik-baik saja Matt? Aku pikir kau sedang tidak sehat, wajahmu pucat,” ucapku.
“Aku baik, Lucy, jangan khawatir. Mungkin aku terlalu senang,” ucapmu dengan senyum yang ternyata lebih menawan dibanding di foto.
Tapi, ada sesuatu disana Matt, di dalam matamu. Ada ragu, ada penolakan, ah entahlah, tapi matamu sendu sedikit.
“Kau sudah makan malam? Bagaimana jika kita makan malam? Aku lumayan lapar,” ucapku.
Matt mengangguk, dan kita masuk ke dalam café di samping motel. Kita makan malam dalam diam. Sungguh, aku tak tahu ini tepat atau tidak bagi kita.
Lalu setelah makan, kau langsung ingin pulang. Kau kenapa Matt? Kenapa terburu-buru?
“Lucy, aku harus segera pulang. Ibuku sendirian dirumah. Well, jika kau mau datang ke tempatku, ini alamatnya, kau bisa naik taksi. Ah tidak, sebaiknya kau naik taksi, karena sedikit sulit jika harus naik bus,” ucapmu panjang lebar.
Aku hanya mengangguk dan menerima kertas alamat yang dia tulis di tisu makan.
Lalu Matt, kau mengusap pipiku lalu mencium bibirku.
Matt, aku tidak menemukan ragu dalam ciumanku, benarkah aku Matt?
Ini ciuman rindu, yang bahkan tanpa sadar aku pun rindu padamu. Entah rindu macam apa, tapi aku benar-benar rindu padamu. Aku ingin kau terus menciumku, aku ingin begitu, tapi lalu kau berhenti dan melepasnya.
“sampai bertemu besok Lucy, terimakasih untuk malam yang indah ini,” ucapmu, lalu tersenyum dan naik ke mobilmu dan pergi.
Matt, aku rasa aku mencintaimu. Tapi entahlah, aku ingin ciuman itu lagi.

Pagi sekali aku sudah memesan taksi lewat motelku, dan taksi itu datang tepat waktu. Aku memberikan alamat Matt dan setengah jam kemudian aku sudah sampai di rumah yang sederhana, lucu dan asri, dengan peternakan domba beberapa meter di sebelahnya.
Aku melihat Matt sedang duduk sambil meminum apapun dari cangkirnya, dia duduk di sebuah ayunan yang terbuat dari tambang dan sederhana. Ada dua ayunan disana.
“Hai, Matt” panggilku.
“Oh, Lucy. Aku tak mengira kau akan datang sepagi ini, tapi ini waktu yang tepat untuk minum kopi, kau mau?” balas Matt dengan senyumnya.
Aku mengangguk dan membiarkan ia masuk ke rumahnya. Aku tak menyangka bahwa Matt yang sering ku telpon malam-malam adalah lelaki dengan tubuh tinggi tegap bak tentara, wajah seperti artis holywood.
Lalu aku membiarkan hati ini mengalir entah kemana.
“ini kopinya. Kau mau bertemu ibuku? Sebentar lagi dia pasti datang, dia sedang ke gereja hari ini, mengantar pesanan bunga untuk pernikahan,” jelas Matt.
Aku tersenyum dan meminum kopiku. “Matt aku rasa pertemuan kita ini untuk sesuatu kan?”
Matt tertegun, “apa tidak terlalu cepat?”
“Aku sudah bilang Matt, aku tidak suka apapun yang maya dan fana,” ucapku.
“Masuklah, sepertinya akan turun salju pertama.” Ucap Matt.
Memang, dinginnya begitu menyergap. Sepertinya memang harus masuk ke dalam rumah Matt.

“Matt apa kita bisa lebih serius tentang hal ini?” tanyaku.
“Hal apa?”
Astaga Matt, “kita, tentang kita.”
“Aku tidak tau, Lucy. Aku pikir kita bisa menjadi teman, ini baru pertemuan pertama kita,”
“bukankah kita sudah berteman terlalu lama?”
“aku tidak tahu, Lu, aku sungguh tak tahu.” Matt menyerah.
Kali itu aku hanya ingin pergi dan tidak mau membuang waktu untuk apapun yang maya dan fana. Matt adalah sesuatu itu.

“Matt aku pikir kita harus mulai bersiap, salju sudah turun… oh maaf aku kira tidak ada siapapun. Halo!” itu suara Ibu Matt yang baru masuk pintu.
“Halo, aku Lucy, teman Matt,” ucapku memberi salam.
“Oh Lucy, aku tidak pernah mendengar tentangmu. Apa kau teman SMA Matt? Aku Carol, ibu Matt,” balasnya.
Entah, kata-katanya menyakitiku. Aku memang tak pernah ada dalam hidup Matt. Ibunya bahkan tak tahu tentang aku. Oh kenapa dia harus tahu? Ya Tuhan, aku berlebihan, pasti berlebihan tentang ini.
“Tidak Carol, aku... well teman Matt di email,” jawabku.
“oh benarkah? Aku ingin mengenalmu lebih banyak. Dan senang sekali bisa bertemu langsung denganmu, pasti kau juga senang kan Matt?”
Matt terdiam dan hanya menatap dua perempuan di depannya.
“Tapi sepertinya aku harus pergi. Salju sudah turun dan aku harus kembali ke New York,” ucapku.
“oh dari New York? Baiklah jika kau mau pergi, mungkin Matt akan mengantarmu. Aku harus ke dapur.” Lalu dia pergi.
Baiklah Matt, baiklah jika aku tak ada artinya.
“kupikir kau tak perlu mengantarku. Aku pergi, ya. Selamat tinggal, Matt,” aku membuka pintu.
“Sampai jumpa, Lucy” balas Matt dari pintu.
Aku membalikkan badan dan melambai.
Oh tidak Matt, jangan ‘sampai jumpa’, dan jangan pakai tatapan itu.

Baiklah, selamat tinggal, Matt.

Minggu, 06 Desember 2015

cinta dan arti di dalamnya

pada cinta dan juga sebuah arti didalamnya;
aku tak pernah paham bagaimana rindu bisa terjadi di kala kedua manusia bahkan belum pernah mencintai

dan ketika dua manusia saling berpagutan mesra bahkan saat kepastian cinta belum hadir diantara keduanya. bahkan ketika kepastian cinta belum hadir dalam hati mereka masing-masing.
apakah pantas menyebut pagutan itu mesra? tapi keduanya mendamba

jika hari dimana keduanya bertemu dan beradu, apakah dunia mengizinkan sepasang cinta terbangun dan coba menapaki rencana?

 apakah pantas sebuah tawa mengalir dari dua senyum yang bahkan sama-sama menyimpan rahasia dan tidak pasti? apakah tawa itu bisa mengalir begitu saja?

jika yang kau maksud cinta adalah sebuah genggaman tangan dan dekapan hati, yang kau maksud cinta adalah pagutan dan dekapan hati, yang kau maksud cinta adalah rindu dan dekapan hati.

Maka cinta adalah sebuah keterikatan antar hati.

Namun, seperti itukah mereka yang tadi bertemu?

 tidak, sebab mereka hanya sepasang rindu yang ingin jumpa
dan tidak didekapnya hati dengan sebuah cinta
karena mencintai adalah takdir hati kedua insan dari Tuhan
dan kupikir, mereka hanya saling mendamba. tak sudi Tuhan memberi takdir cinta bagi keduanya. karena keduanya belum pernah pasti dalam satu dekapan hati.