Sabtu, 20 Agustus 2016

The First We... What? #Krisanti

Selesai Sholat Maghrib, gue kelaperan luar biasa dan terlalu takut untuk keluar komplek yang sudah sepi ini. Akhirnya gue menelpon Ibu dan berakhir dengan mendapat saran agar gue meminta Damar mengantar gue makan malam.
Ting!
Whatsapp Ayah;
‘Kris, Ayah sudah minta Damar untuk antar kamu cari makan.’
Gue kaget.
Lalu buru-buru membalas;
‘Ayah!!!!’
‘Nggak perluuuuu. Aduh Ayah (’
Dan Ayah hanya membaca pesan gue tanpa membalasnya.
Bagus.
Dan lebih hebat lagi, bel rumah berbunyi, dan Damar berdiri diluar pagar.
Gue menghampiri sambil membuka pagar, “masuk dulu, saya belum ganti baju.”
“Kamu nggak takut?” tanyanya.
Gue mengerutkan kening, lalu menghembuskan napas, “terserah juga sih kalau mau nunggu di luar.”
Akhirnya dia mengikuti gue masuk. Dia duduk di ruang tamu selagi gue bersiap-siap di kamar. Kira-kira akan makan malam dimana gue? Sepertinya gue juga nggak akan kaget kalau diajak ke KFC lalu take away dan berakhir dengan makan ayam goreng sendirian di rumah. Karena kelihatannya, si Damar ini terlalu nurut perintah, dan perintah Ayah adalah menemani gue cari makan.
Gue keluar dari kamar dan menghampiri Damar yang langsung berdiri dan menatap gue dengan pandangan aneh. Gue baru kali ini mendapati tatapan yang berbeda dari matanya.
“Cantik,” ucapnya.
Hello, gue cuma pakai jeans biru dan kemeja tanpa lengan.
But, my heart is beating.
Gue hanya tersenyum singkat. Karena mungkin itu kebiasaan orang Jogja untuk menunjukkan sopan santun.
Gue dan Damar pergi naik mobilnya. Kita mengarungi jalanan Jogja yang ramai, namun kali ini tidak macet. Gue dan dia sama-sama diam, entah dia yang memang sedang fokus, atau gue yang tiba-tiba kehilangan kemampuan berkomunikasi.
“Suka Italian Food kan?” tanyanya.
Gue mengangguk.
“Kamu ada rencana mau kuliah di sini, ya?” tanya dia lagi.
“Nama saya Krisanti, panggil aja Kris. Dan saya udah lulus kuliah, mau kerja disini,” jawab gue.
“Oh sori, saya kira kamu baru lulus SMA,” balasnya, “habis kepribadianmu…”
“Kurang dewasa?” potong gue.
Dia menggeleng, “masih fresh, belum banyak beban kayaknya.”
Gue tersenyum.

Sebentar lagi, kalau gue sering main sama lo, Damar, sepertinya gue bakal cepat dewasa dan teratur. Kayak elo, dewasa dan teratur.

Namanya Damar #Krisanti

Semalam hujan sudah reda sekitar pukul 9 malam. Menyisakan basah dan bau tanah untuk pagi ini. Entah hari ini gue mau melakukan apa, gue belum tau.
“Kris, bisa tolong antar ini ke tetangga sebelah. Kemarin ibu sebelah ngasih kolak pisang, sekarang balas pake bubur kacang hijau ya,” ucap Ibu sambil membawa mangkuk yang mengepul.
“Harum banget nih, Bu. Buat aku masih ada, kan?” balas gue.
Ibu hanya mengangguk-angguk sambil berjalan ke dapur.
Gue menghampiri pagar putih milik tetangga sebelah. Memencet bel berkali-kali namun tidak ada sahutan. Gue hapal bener, tetangga macem gini adalah yang rumahnya kedap suara biar nggak denger kalau ada pengamen atau apapun. Hampir saja gue  balik ke rumah, saat suara pintu terbuka dan seseorang keluar.
Oh God, laki-laki, shirtless! Dan masih ngantuk. Dan mukanya pribumi dengan ketampanan seperti Winky Wiryawan. Kaki gue lemas luar biasa.
Dia mengerutkan alis, “cari siapa?”
“Nggg… nggak ini mau balikin mangkok, dari Bu Darwin,” ucap gue, dengan ketepatan yang mengejutkan.
Dia menerima mangkok tersebut sambil tersenyum seadanya dan melengos ke dalam.
Nggak mau bilang makasih nih ke gue? Sialan, ganteng-ganteng nggak sopan.

Gue kembali ke rumah dengan muka masam.
“Kamu kenapa, Kris?” tanya Ibu yang sedang membaca materinya di ruang tengah.
“Tau nggak sih, Bu, tetangga sebelah tuh nggak sopan banget. Udah bukain pintunya lama banget, nggak bilang makasih lagi abis nerima. Ganteng-ganteng nggak sopan ih!” jelas gue sambil menggebu-gebu.
“Orangnya mirip Winky Wiryawan ya? Manis-manis gitu,” tanya Ibu sambil mesam-mesem.
“Ih, beda jauh, Bu,”
“Masa sih? Nggak tau deh Ibu, Ibu taunya yang mirip Si Winky itu,” gumam Ibu.
“Iya sih mirip, sekilas,” ucap gue, mengakui.
Ya iya sih mirip, tapi kayaknya kok jadi beda jauh ya pas liat kepribadiannya.
“Oh berarti bener. Namanya Damar, dia dokter di rumah sakit tempat Ayah, kata Ayah sih anaknya pinter tapi pendiem. Usianya baru 26 tahun loh,” jelas Ibu.
Gue hanya mendengarkan sambil nggak sengaja menghapalkan namanya. Suara mobil Ayah yang datang membuyarkan pekerjaan Ibu. Ibu buru-buru keluar untuk membukakan pintu. Beberapa saat kemudian terlihat Ayah masuk dengan Ibu.
“Ayah kok jam segini udah pulang?” tanya gue, heran. Ini kan belum jam makan siang.
“Ayah mau makan siang di rumah, habis itu balik lagi ke sana bareng Damar,” jawab Ayah sambil menghampiri gue yang sedang duduk.
Gue hanya membentuk huruf O dengan mulut.
“Apa kabar kamu hari ini?” tanya Ayah.
Gue mengedikkan bahu.
“Tadi tuh dia abis ketemu Damar terus marah-marah,” Ibu menceritakan kejadian tadi pada Ayah. Membuat raut muka Ayah berubah-ubah dan diakhiri dengan sedikit tawa.
“Apa mungkin dia baru bangun? Dia habis jaga malam di rumah sakit,” tanya Ayah.
“Bisa jadi, Yah, abis dia keluar nggak pake baju!” jawab gue.
Membuat Ayah dan Ibu saling lirik lalu tertawa terbahak-bahak.
Pipi gue panas.
Akhirnya setelah makan siang, si Damar ini datang kerumah dengan setelan rapi khas seorang dokter. Bener-bener mirip Winky Wiryawan kalau ditambah senyum. Sayangnya, wajah orang ini diam, kaku, tersenyum seadanya. Iya, sayang banget ya.
Ayah dan si Damar sudah berangkat ke rumah sakit. Ibu juga segera berangkat ke tempat kursus setelahnya. Gue sendirian di rumah dan luar biasa bosan.
Dari mulai lihat-lihat rumah, beli cemilan di supermarket, sampai nyiramin mawarnya Ibu. Akhirnya gue memutuskan untuk tidur.
Sepertinya baru beberapa menit tertidur, bel pintu rumah membangunkan gue. Dengan kepala pening, gue membuka pintu rumah dan berjalan ke pagar. Ternyata si Damar.
“Ada apa?” tanya gue.
“Boleh saya masuk?” tanyanya.
Gue mengerutkan alis, lalu menggeleng, “saya di rumah sendiri.”
Dia mengangkat alis.
“Ya iya, kalo nanti kamu ngapa-ngapain saya, gimana? Saya kan nggak kenal kamu, nggak tau kamu orangnya gimana,” jelas gue. Bener-bener deh orang ini, katanya pinter tapi kok begini amat.
Dia tersenyum sedikit, “saya mau ngasih kunci mobil Ayah kamu. Beliau tadi dijemput sama Ibumu, katanya ada teman mereka yang meninggal, jadi mereka kayaknya pulang malam.”
Gue mengangguk, lalu menerima kunci mobil Ayah, “makasih.”
Gue sudah akan berbalik saat dia bicara lagi, “sama saya mau bilang makasih soal bubur kacang hijau tadi pagi.”
Gue mendengus, “gue kira lo bilang makasihnya dalem hati, ternyata emang nggak bilang ya.”
“Maaf, soalnya saya tadi baru nyadar kalau saya shirtless, jadi buru-buru masuk,” balasnya.
And that awkward moment…
Gue mengangguk, lalu berbalik hendak pergi.
“Nama saya Damar,” ucapnya.
Gue berbalik, “saya tau.”
“Nama kamu siapa? Saya belum tau,”

Ya Tuhan, mungkin ini kelihatannya kayak John Lennon berkenalan sama Yoko Ono. It’s 2016, bro.
Gue diam sejenak sambil memandangi dia, lalu menggeleng dan pergi. Gue nggak habis pikir sama cara kuno ini.

Mulai #Krisanti

Tadinya, gue nggak yakin kalau Jogjakarta sudah semewah ini. 2009 silam, terakhir kali gue kemari, Jogja masih sederhana, terlihat lugu dengan jam malamnya yang tanpa gemerlap. Masih polos, tanpa hiruk-pikuk yang sekarang terlihat abadi.

Jogja tahun 2016 ini ramai sentosa…

Gue sampai di Stasiun Tugu pukul 5 sore, keluar dari stasiun dan naik taksi mengarungi kemacetan Jogja. Gue kira, hanya becak dan bule yang berlalu-lalang, ternyata juga para muda-mudi yang mau pulang.
Ditambah hujan sore ini, Jogja semakin macet parah. Walaupun dari Tugu ke rumah Ayah dan Ibu hanya sekitar 15 menit, nyatanya sudah setengah jam dan gue masih di taksi. Jogja nggak ada bedanya dengan Jakarta, Bekasi, Depok dan sekitarnya.
Dan gue menyesali keputusan gue untuk datang kesini.
Ting!
Whatsapp Ayah;
‘Sudah dimana, Kris? Kok lama bener.’
Gue membalas;
‘Aku masih di taksi, Ayah. Macet parah huhu.’
Ayah membalas;
‘Ya sudah hati-hati, putriku. Ibu sudah nyeduh wedang jahe nih hehe’
Balasan Ayah sukses membuat gue tersenyum sekaligus rindu. Penyesalan beberapa menit yang lalu langsung hilang.

Gue, Krisanti Kusuma Wardhani, perempuan berumur 22 tahun dan baru lulus dari sebuah universitas negri di Surabaya, ceritanya lagi kangen orangtua. Sudah 4 tahun gue kuliah di Surabaya, tinggal sendirian dan hanya ditemani oleh hebohnya pergaulan. Tiba-tiba memutuskan untuk berkarir di Jogja, dekat Ayah dan Ibu yang juga baru pindah dari Jakarta. Gue sudah melamar ke beberapa perusahaan media cetak dan penerbitan di Jogja sebagai editor, namun sampai sekarang lamaran tersebut belum ada kabar. Tapi karena gue keburu kangen Ayah dan Ibu, jadilah secara impulsif gue pindah ke Jogja.
Ayah dan Ibu baru pindah ke Jogja beberapa bulan lalu. Pekerjaan Ayah sebagai dokter menuntutnya untuk pindah ke rumah sakit cabang Jogja, entah karena alasan apa gue belum tahu pasti. Lalu mengikut Ayah, Ibu yang berprofesi sebagai guru bahasa inggris di sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris ternama minta dimutasi ke Jogja. Jadilah mereka sepakat untuk pindah ke sebuah komplek perumahan di Jogja.
Lamunan gue berakhir saat taksi berhenti didepan sebuah rumah sederhana berwarna krem dan coklat dengan nomor rumah tergantung dekat kotak pos di pagar.
“Yang ini mbak?” tanya sopir taksi.
Gue terdiam sejenak, “sebentar ya, Pak.”
Gue turun dari taksi, namun, sebelum mencapai pintu pagar, Ayah dan Ibu sudah lebih dulu keluar sambil tersenyum. Ayah membawa payung lalu menjemput gue.
Setelah barang bawaan gue diturunkan dari taksi, gue masuk ke rumah.

Selamat menempuh hidup baru, Krisanti.