Semalam hujan sudah reda sekitar pukul 9 malam. Menyisakan basah dan bau tanah untuk pagi ini. Entah hari ini gue mau melakukan apa, gue belum tau.
“Kris, bisa tolong antar ini ke tetangga sebelah. Kemarin ibu sebelah ngasih kolak pisang, sekarang balas pake bubur kacang hijau ya,” ucap Ibu sambil membawa mangkuk yang mengepul.
“Harum banget nih, Bu. Buat aku masih ada, kan?” balas gue.
Ibu hanya mengangguk-angguk sambil berjalan ke dapur.
Gue menghampiri pagar putih milik tetangga sebelah. Memencet bel berkali-kali namun tidak ada sahutan. Gue hapal bener, tetangga macem gini adalah yang rumahnya kedap suara biar nggak denger kalau ada pengamen atau apapun. Hampir saja gue balik ke rumah, saat suara pintu terbuka dan seseorang keluar.
Oh God, laki-laki, shirtless! Dan masih ngantuk. Dan mukanya pribumi dengan ketampanan seperti Winky Wiryawan. Kaki gue lemas luar biasa.
Dia mengerutkan alis, “cari siapa?”
“Nggg… nggak ini mau balikin mangkok, dari Bu Darwin,” ucap gue, dengan ketepatan yang mengejutkan.
Dia menerima mangkok tersebut sambil tersenyum seadanya dan melengos ke dalam.
Nggak mau bilang makasih nih ke gue? Sialan, ganteng-ganteng nggak sopan.
Gue kembali ke rumah dengan muka masam.
“Kamu kenapa, Kris?” tanya Ibu yang sedang membaca materinya di ruang tengah.
“Tau nggak sih, Bu, tetangga sebelah tuh nggak sopan banget. Udah bukain pintunya lama banget, nggak bilang makasih lagi abis nerima. Ganteng-ganteng nggak sopan ih!” jelas gue sambil menggebu-gebu.
“Orangnya mirip Winky Wiryawan ya? Manis-manis gitu,” tanya Ibu sambil mesam-mesem.
“Ih, beda jauh, Bu,”
“Masa sih? Nggak tau deh Ibu, Ibu taunya yang mirip Si Winky itu,” gumam Ibu.
“Iya sih mirip, sekilas,” ucap gue, mengakui.
Ya iya sih mirip, tapi kayaknya kok jadi beda jauh ya pas liat kepribadiannya.
“Oh berarti bener. Namanya Damar, dia dokter di rumah sakit tempat Ayah, kata Ayah sih anaknya pinter tapi pendiem. Usianya baru 26 tahun loh,” jelas Ibu.
Gue hanya mendengarkan sambil nggak sengaja menghapalkan namanya. Suara mobil Ayah yang datang membuyarkan pekerjaan Ibu. Ibu buru-buru keluar untuk membukakan pintu. Beberapa saat kemudian terlihat Ayah masuk dengan Ibu.
“Ayah kok jam segini udah pulang?” tanya gue, heran. Ini kan belum jam makan siang.
“Ayah mau makan siang di rumah, habis itu balik lagi ke sana bareng Damar,” jawab Ayah sambil menghampiri gue yang sedang duduk.
Gue hanya membentuk huruf O dengan mulut.
“Apa kabar kamu hari ini?” tanya Ayah.
Gue mengedikkan bahu.
“Tadi tuh dia abis ketemu Damar terus marah-marah,” Ibu menceritakan kejadian tadi pada Ayah. Membuat raut muka Ayah berubah-ubah dan diakhiri dengan sedikit tawa.
“Apa mungkin dia baru bangun? Dia habis jaga malam di rumah sakit,” tanya Ayah.
“Bisa jadi, Yah, abis dia keluar nggak pake baju!” jawab gue.
Membuat Ayah dan Ibu saling lirik lalu tertawa terbahak-bahak.
Pipi gue panas.
Akhirnya setelah makan siang, si Damar ini datang kerumah dengan setelan rapi khas seorang dokter. Bener-bener mirip Winky Wiryawan kalau ditambah senyum. Sayangnya, wajah orang ini diam, kaku, tersenyum seadanya. Iya, sayang banget ya.
Ayah dan si Damar sudah berangkat ke rumah sakit. Ibu juga segera berangkat ke tempat kursus setelahnya. Gue sendirian di rumah dan luar biasa bosan.
Dari mulai lihat-lihat rumah, beli cemilan di supermarket, sampai nyiramin mawarnya Ibu. Akhirnya gue memutuskan untuk tidur.
Sepertinya baru beberapa menit tertidur, bel pintu rumah membangunkan gue. Dengan kepala pening, gue membuka pintu rumah dan berjalan ke pagar. Ternyata si Damar.
“Ada apa?” tanya gue.
“Boleh saya masuk?” tanyanya.
Gue mengerutkan alis, lalu menggeleng, “saya di rumah sendiri.”
Dia mengangkat alis.
“Ya iya, kalo nanti kamu ngapa-ngapain saya, gimana? Saya kan nggak kenal kamu, nggak tau kamu orangnya gimana,” jelas gue. Bener-bener deh orang ini, katanya pinter tapi kok begini amat.
Dia tersenyum sedikit, “saya mau ngasih kunci mobil Ayah kamu. Beliau tadi dijemput sama Ibumu, katanya ada teman mereka yang meninggal, jadi mereka kayaknya pulang malam.”
Gue mengangguk, lalu menerima kunci mobil Ayah, “makasih.”
Gue sudah akan berbalik saat dia bicara lagi, “sama saya mau bilang makasih soal bubur kacang hijau tadi pagi.”
Gue mendengus, “gue kira lo bilang makasihnya dalem hati, ternyata emang nggak bilang ya.”
“Maaf, soalnya saya tadi baru nyadar kalau saya shirtless, jadi buru-buru masuk,” balasnya.
And that awkward moment…
Gue mengangguk, lalu berbalik hendak pergi.
“Nama saya Damar,” ucapnya.
Gue berbalik, “saya tau.”
“Nama kamu siapa? Saya belum tau,”
Ya Tuhan, mungkin ini kelihatannya kayak John Lennon berkenalan sama Yoko Ono. It’s 2016, bro.
Gue diam sejenak sambil memandangi dia, lalu menggeleng dan pergi. Gue nggak habis pikir sama cara kuno ini.