Minggu, 01 Desember 2013

Di Penghujung Senja

kelabu, dimana jingga sudah tak berbahasa
lalu hujan membuat senandung elegi menyayat hati
langit terlihat sumbing kali ini
menghantarkan angin desember tak berbelas kasih
menyiulkan doa tapi merana juga

ada yang menorehkan duka dihati perempuan yang berjalan itu
tapi si penoreh duka itu pergi tanpa menoleh lagi
dan perempuan itu tidak pernah marah
hanya berduka
berduka

sebuah romansa klasik pernah dirasakannya
tapi luka ambigu lebih berdengung di hati juga benaknya
lalu tangan waktu dengan sengaja mengulangnya
dan suara merana kembali menghabiskan tenaganya

senja sudah hampir usai
menampakan garis hitam tanda malam akan datang
dewi malam mulai nampak
kembali menjadi primadona malam

dan perempuan itu masih punya beratus-ratus kenangan lugas tentang duka

kamu seharusnya pantas menghuni suatu masa dimana kenangan berwarna sephia


Sabtu, 30 November 2013

Perang Kita

Jika setetes darah adalah damai, aku rela menumpahkan semua darahku
Senja ini, kita dibelenggu oleh keinginan kuat untuk menang
Dibalut temaram jingga, kita menyatu dalam jubah keberanian
'sampai mentari di barat, jika kita belum menang aku tak akan menyudahinya.' ucapmu.
Aku bertanya-tanya, lalu bagaimana jika kita kalah?
Tapi saat itu juga aku tahu, kita tak mungkin kalah

Aku, kau, kita, menyatu di medan perjuangan dengan napas satu-satu
Menerjang lawan demi kawan
Menghunus pedang demi menang

Saat darah mereka tumpah bukan untuk damai
Saat itu angin membawa do'a kita kepada-Nya
Saat itu pula kemenangan mendekati kita
Kau dengar? Sayup-sayup dengungan kemenangan?
Aku mendengarnya. Kau mendengarnya. Kita mendengarnya

Aku mulai melihat senyuman gembira di bibirmu
Dan aku tak pernah lupa,
bagaimana kawan kita menari di bawah terbenamnya mentari
Aku tahu, kita akan menang

Jika setetes darah adalah damai, aku rela menumpahkan semua darahku

Jumat, 29 November 2013

Dalam Maharana

Ketika manusia disakiti
Ketika si tamu hanya mengamati
Ketika alunan elegi menyayat hati
Ketika...
Ketika Sang Pahlawan berani mati
Sang Pahlawan bergerak maju
Dengan napas satu-satu
Dengan nyawa yang semakin tersapu
Dan tamengnya sudah mulai beradu
Kita saksikan, pedangnya sedang menghunus jantung si tamu
Sang Pahlawan dalam maharana
Yang menghasilkan seonggok daging tak bernyawa
Yang eksistensinya paling sempurna
Yang berani mati untuk merdeka
Yang menghilang di penghujung senja tanpa kata

Untuk Kekasihku

wahai kekasihku, aku ingin bersamamu selamanya
Beribu kali aku menuliskan puisi cinta untukmu
Beribu kali juga aku menulis lagu cinta untukmu
Dan, beribu kali pula aku menulis cinta di benakku
Dan jika kau ingin tahu, aku selalu ingin kau memuja tulisanku
Aku, selalu menginginkan itu, sayang

Mungkin angkara bisa murka
Tapi kasih tidak begitu
Mungkin kata bisa berdusta
 Tapi aksara tidak begitu
Sayang, percayalah pada aksara yang aku susun untukmu

Aku selalu berharap dapat menyeduh kopi pagi untukmu
Selalu ingin menggenggam erat tanganmu di penghujung senja
Selalu ingin mensejajarkan langkahmu di pinggiran kota
Aku selalu ingin ada didekatmu, sayang

Andai Tuhan tidak mengambil nyawaku terlebih dahulu
Andai aku tidak meminta takdir ambigu membimbingku pada pisau
Andai pisau itu tidak menyentuh jantungku
Andai...
Andai aku selalu percaya kau mencintaiku
Andai saja, aku tidak mati!

Terimakasih karena pernah menjadi milikku
Terimakasih karena pernah mencintaiku
Terimakasih karena menangis tersedu di upacara pemakamanku
Terimakasih, sayang

Dan maafkan aku,
Atas segalanya

Kepada Asap Rokok

kepada asap rokok, bawalah aku bersamamu
Aku kembali menghisap rokok 234 yang tinggal berapa batang dibungkusnya
Kembali teringat semua masalah yang menimpaku hari ini
Masalah yang tidak aku bayangkan saat mengikat tali sepatu pagi tadi
Aku meneguk wine yang tinggal setengah gelas, lalu menuang lagi dari botolnya
'persetan dengan dokumen itu' racauku.
Seseorang duduk didepanku. Laki-laki
'mau apa kau? membantuku kembali ke masa lalu?'
Dia menyulut sebatang rokok
Menghisapnya sepenuh hati
'jangan bodoh.' ucapnya.
Aku tidak mempedulikannya lagi
Aku mengingat lagi semua masalahku
Sahabatku merebut kekasihku yang semalam baru saja mengatakan tidak akan meninggalkanku
Dokumen yang harus diserahkan kepada atasanku hari ini tiba-tiba saja hilang, dan aku akhirnya dipecat
Dompetku hilang di kereta ekonomi
Dan sekarang, saat aku membutuhkan rokok, tak ada satu batang pun di bungkusnya
Laki-laki didepanku menyodorkan rokoknya
Aku mengambilnya sambil bergumam 'terimakasih'
'begitu banyak masalah hari ini?' tanyanya.
'kelihatannya? aku dipecat, pacarku diambil oleh sahabatku, dan dompetku hilang' jawabku
Dia menenggak wine-ku
Lagu Crooked G-Dragon menghidupkan bar ini
'aku kehilangan Tuhan-ku' balasnya
'apa? hey, dengar, Tuhan tak akan pernah hilang sekallipun tidak terlihat' balasku
Aku merasa hampa sekarang
Tuhan? Hilang? Aku.... ah entahlah
Jika laki-laki didepanku gila, aku akan menganggap apa yang diucapkannya benar
'lihatlah asap rokok ini, dia hilang lambat laun. Tuhan juga begitu' racaunya lagi
'jangan samakan Tuhan dengan asap rokok, berengsek!' balasku, tegas tapi kosong
Dia menenggak habis wine dibotolku
'kepada asap rokok, bawalah aku bersamamu' ucapnya berulang kali
'sinting!' bentakku
Lalu aku meninggalkan bar ini

'kepada asap rokok, bawalah aku bersamamu'
'kepada asap rokok, bawalah aku bersamamu'
'kepada asap rokok, bawalah aku bersamamu'
Kata-kata lelaki itu masih terngiang dibenakku

'kepada asap rokok, bawalah aku bersamamu' ucapku, sambil memberhentikan taksi
 

Kamis, 28 November 2013

Kematianmu

sebuah penantian panjang dimana tak ada yang datang
kau telah pergi meninggalkanku
meninggalkan dunia indah ini
aku tahu kau tak bersalah
aku tahu. sangat tahu
justru aku yang bersalah
aku yang meninggalkanmu lebih dulu
sampai akhirnya kau yang meninggalkanku
kau pergi lebih jauh
bahkan untuk selamanya
aku yang bersalah
tentu saja
pohon tempat kita bergurau pun tahu itu
maafkan aku

tapi aku terpenjara disini
diantara kematianmu
aku ingin menyusulmu
tapi mereka bilang...
'itu tidak perlu. karena sebenarnya dia masih tetap disampingmu'
dimana?
aku mencari sampai ujung dunia
tapi kau tak ada
kematianmu adalah sebuah kenyataan

kenapa? kenapa kau pergi?
pergi meninggalkan aku
meninggalkan milyaran kenangan kita
meninggalkan ribuan mimpi kita
sampai saat ini, kau masih dalam kalbuku
dan kau tahu? aku masih menginginkanmu

sekarang
tidak ada lagi candaan darimu
tidak ada lagi sebuah semangat dimana aku baru membuka mataku dari tidurku
tidak ada lagi setangkai mawar putih yang kau ambil dari kebun ibumu

aku pernah mengatakan ini bukan
'kau sangat tampan. dan aku mencintaimu'
dan tanganmu terulur untuk mengusap kepalaku
'aku tahu itu. dan aku juga mencintaimu gadis kecil yang tengil' balasmu sambil tertawa
aku menginginkannnya lagi saat ini

sebuah kenyataan pahit dimana aku baru sadar bahwa aku mencintaimu, aku menyayangimu
terimakasih sudah hadir dalam hidupku
dan memberiku setangkai mawar itu

Seperti

Aku tanpa cintamu
Seperti malam tanpa bintang
Seperti aksara tak bermaksud
Seperti lukisan tak terlukis
Seperti anai-anai beterbangan

Aku yang merindumu
Seperti air yang merindu muara
Seperti pujangga mencari kata
Seperti puisi tak tertulis
Seperti dusta mencari fakta

Aku yang mencintaimu
Seperti musik mencintai suara
Seperti angin mencintai desau
Seperti dendam dengan luka
Seperti lembayung menutup senja

Aku bersamamu
Seperti sabda yang berkata
Seperti cermin dengan bayangannya
Seperti riuh disebab gaduh
Seperti tangis dan air mata

Seperti puisi ini

Rabu, 27 November 2013

Di sudut kedai itu...

Disudut kedai itu
Kala malam itu
Aku menuangkan segelas alkohol agar dapat bercerita pada malam
Kau masih duduk didepanku
Mendengarkan segala yang aku racaukan
Dengan tatapan datar
Entah mengerti atau tidak

Tapi setelah sekian lama kau hanya diam
Kau pun berbicara
'Adakah kau tahu? Rasa sakit bukan pada dirimu saja. Bukan pada hati saja. Tapi pada naluri, jiwa dan raga. Jika kau merasa sakit hati saja, itu belum seberapa.'
Lalu kau menuangkan segelas alkohol untuk dirimu sendiri
Meminumnya.
Tapi tidak meracau sepertiku
Aku bertanya,
'Bagaimana bisa kau bicara seperti tadi sedangkan setelah meminum alkohol kau tidak berkata apa-apa?'
Kau tersenyum
'Aku tidak tahu dimana letak sakitnya. Bukan pada hati, naluri, jiwa ataupun raga. Aku tidak tahu rasa sakit itu ada dimana.' ucapmu
Aku mendengus
'Rasa sakit itu ada pada pikiranmu. Sehingga kau tidak bisa berpikir.' ucapku
Lalu pergi

Proses Bertemu Hati yang Merah

Sebenarnya hanya celoteh kosong yang terdengar
Tapi bagaikan oase ditengah Gurun Sahara
Mengabaikan jarak agar dekat
Dan berusaha untuk ikut berceloteh kosong

Euforia melanda
Tapi cinta lebih terdengar berkumandang

Diatas mayapada ini
Terjatuh pada sebuah lubang yang tak jelas berwarna apa
Antara ilusi, mimpi atau dusta
Semua jadi tak nyata
Maya
Hingga akhir hanya akan seperti itu

Celoteh, euforia, cinta dan lubang itu
adalah seperangkat proses yang harus dijalani saat akan bertemu hati yang merah