Nama saya Asha Lestari, umur saya baru 17 tahun. Saya naik ke kelas 3 SMA semester ini di sebuah SMA favorit.
Disini, saya mau menceritakan tentang keluarga saya, hidup saya, dan diri saya. Lewat blog yang bukan punya saya ini, saya mau numpang cerita. Ide ini berawal ketika saya mulai bercerita pada pemilik blog ini yang punya email dengan kode pos di belakangnya. Dia setuju, tapi dengan syarat bahwa cerita ini akan dia edit seperlunya tanpa sedikit pun mengurangi makna dari cerita ini.
Berawal dari saya yang menemukan alamat email si pemilik blog ini di sebuah akun media sosialnya, saya mulai menulis email ke dia. Saya bercerita tentang keluarga saya yang berantakan, tentang ayah saya yang dulunya merupakan karyawan swasta lalu di PHK. Dulu hidup saya berkecukupan, bisa dibilang dengan harta orangtua yang tidak bisa dibilang kurang, saya menjadi gadis paling disenangi selain karena pintar dan easy going. Waktu itu usia saya masih 13 tahun, saya masih baru masuk ke SMP dan akan memulai masa remaja saya.
Ketika saya percaya bahwa saya mampu menjadi remaja normal dan akan meraih prestasi gemilang di sekolah, ayah saya di PHK.
Seluruh keluarga saya terpuruk. Pasalnya, keluarga saya tidak punya usaha sampingan karena merasa cukup dengan penghasilan ayah seorang. Pesangon ayah saat itu juga tidak cukup untuk membuka usaha yang terbilang untung.
Saat itu saya masih duduk di kelas satu SMP, adik saya kelas satu SD, kakak saya akan menikah tahun itu dan abang saya akan masuk kuliah.
Saya mulai takut, sering gelisah, dan tidak percaya diri. Saya menghindari segala bentuk pergaulan, karena saya tau saya butuh uang untuk itu. Sedangkan saya tidak punya uang. Saya menjadi anak yang pendiam dan kehilangan konsentrasi. Nilai saya di semester pertama membuat saya terkejut saking jeleknya.
Tapi orangtua saya terlalu sibuk untuk peduli. Ibu mulai jualan gado-gado, juga sering menerima pesanan pastel atau lontong isi. Kakak perempuan saya depresi karena tidak jadi menikah, uangnya tiba-tiba tidak ada, lagipula takut jika berhutang. Abang saya tidak jadi kuliah, dia malah jadi sering ke bengkel atau rumah-rumah gelap dekat rumah saya. Adik saya, karena memang pada dasarnya sedikit idiot, makin memusingkan keluarga lewat tingkahnya.
Sedangkan ayah tiba-tiba jadi apatis, seakan keluarganya tidak sedang jatuh miskin. Seakan anak-anaknya baik-baik saja. Seakan dia tidak habis dipecat. Ayah tetap ikut gotong royong di lingkungan, ke masjid, begadang dengan tetangga. Tapi ayah saya bukan lagi orang yang peduli dan penyayang.
Satu orang yang saya percaya saat itu, ibu saya. Ibu menjadi satu-satunya orang yang masih waras. Ibu menjadi satu-satunya kekuatan saya yang masih mau mendengar, melihat, dan merasakan. Ibu menjadi satu-satunya yang berharga, padahal sebelumnya saya tidak begitu dekat dengannya. Saya lebih dekat dengan teman-teman saya di sekolah atau di sekitar rumah.
Abang saya tidak pernah mendengarkan kata-kata siapapun dalam keluarga. Ia bahkan sudah tidak lagi menyapa. Ia hanya tau minta uang, ambil rokok, dan bau alkohol. Hanya sebatas itulah dirinya saat itu.
Kakak saya juga tak bisa diajak bicara. Tatapannya selalu kosong, kadang saya berharap ia meledak berapi-api. Saya berharap ia marah, menangis atau berteriak. Sayangnya dia tak begitu, hingga saya merasa ia hanya bayang.
Adik saya idiot, namun satu-satunya yang bisa mengurusnya adalah saya. Ia sering berkelakuan aneh, seperti pulang dengan babak belur karena dipukuli anak tetangga, mengacak-acak kamar saya, merajuk, bahkan mengamuk sambil memukuli saya. Pada akhirnya saya akan memukulinya sampai ia lemas, anak idiot itu lemas. Lalu merengek pada Ibu, dan berakhir dengan tidur dipeluk Ibu.
Keadaan itu berlangsung sampai umur saya 17 tahun. Tidak ada yang berubah, kecuali kakak saya yang sekarang berdagang pakaian dalam di pasar.
Lalu mungkin kalian ingin tau bagaimana saya membiayai sekolah saya, dan bagaimana saya bisa masuk ke SMA favorit.
Jangan kaget, tapi diri saya ini sudah menjadi budak bagi laki-laki berumur 30 tahun. Ia berkelakuan seperti pacar saya;
"Asha sayang."
"Dear Asha."
"Ashaku yang cantik."
"Sayangku Asha."
Semua itu membuat saya resmi menjadi budaknya yang dijejali dengan omong kosong kasih sayang dan janji-janji selangkangan. Saya tidak mau memberitahu kalian siapa namanya, tidak pula pada pemilik blog ini.
Terserah kalian ingin percaya atau tidak, namun dengan cara itulah saya membiayai hidup saya.
Saya juga tidak akan memberitahu kalian dimana saya bertemu dia, apa saja yang saya lakukan dengannya, kapan biasanya saya bertemu dia, dan bagaimana bisa saya melakukan itu.
Tapi satu hal yang mau saya beritahu, uang adalah hidup, jika tidak punya uang maka tak bisa hidup. Jika kalian tidak setuju, selamat, hidup kalian tidak fokus pada pencarian uang. Hidup kalian sudah cukup baik sehingga uang bukan menjadi masalah bagi kalian. Jika ditanya soal bahagia, saya akan menjawab bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Namun, uang membuat saya baik-baik saja.
Saya juga mau bilang, bahwa saya tidak melulu mengiyakan apa yang diinginkan laki-laki ini. Namun ia akan melulu mengiyakan apa yang diinginkan saya, bahkan berkali-kali ia mengatakan bahwa ia akan menikahi saya kelak. Entah itu omong kosong atau niat tulus. Saya tidak peduli, saya hanya butuh uang.
Lewat cerita ini, saya ingin memberitahu kalian bahwa mungkin, teman-teman kalian menjalani masa sulit seperti saya. Mereka mungkin berhenti untuk mempedulikan omongan kalian, bullying, gosip, penyebaran aib, cacian.
Mereka berhenti untuk mempedulikan kalian, mereka tak peduli apapun yang tidak bisa diuangkan.
Jadi mulai sekarang berhenti untuk mencaci hidup orang lain. Kalian tidak tau apapun dibaliknya. Berhenti mencaci orang-orang yang berdagang di sekolah, yang tidak pernah mengganti sepatunya, yang tidak pernah aktif di ekskul apapun, yang tidak terlihat di sosial media manapun, yang tidak bergaul terlalu banyak. Berhenti mencaci mereka.
Karena saya, Asha, adalah satu contoh nyata dari kehidupan seperti mereka.
Saya ini, Asha Lestari, bahkan berkali-kali disakiti namun tetap tegar berdiri dan mau berbagi. Berbagi makna kehidupan yang selama ini luput dari tatapan kalian. Saya ini mau memberitahu kalian tentang apa dibalik kehidupan keras seorang remaja, dan apa yang tidak kalian ketahui tapi selalu kalian caci.
Teman-teman, bersyukurlah karena kalian tidak seperti saya. Bersyukurlah karena kalian bisa tidak seperti saya. Bersyukurlah karena hidup dalam keluarga yang waras. Bersyukurlah karena sedang bersama laki-laki baik.
Dan bersyukurlah karena saat ini kalian baik-baik saja, entah esok lusa.
-Asha Lestari
Jumat, 10 Juni 2016
Sabtu, 04 Juni 2016
Gadisku Mia #Mum
"Apa kau nggak berniat meminta maaf padaku? Pada Felix? Pada gurumu?" tanyaku pada Mia yang duduk diam di sampingku, mataku lurus menatap jalanan didepanku.
Mia tetap diam.
"Kau dengar aku, Mia?" tanyaku.
"Kau dengar suara hatiku, Mum?" balasnya
Oh astaga. Aku tidak menyangka bahwa memiliki anak perempuan manis seperti Mia bisa sangat merepotkan, bahkan aku seperti memiliki anak laki-laki yang suka bertengkar.
Hari ini aku dipanggil oleh kepala sekolah Mia yang mengatakan bahwa Mia baru saja melakukan perbuatan tidak terpuji kepada temannya, Felix. Aku datang ke sekolah, dan aku akhirnya tau bahwa Mia baru saja melemparkan cat air ke wajah Felix, dan sialnya mengenai matanya. Mata Felix iritasi, orangtuanya dipanggil lalu memarahi Mia habis-habisan. Aku baru saja akan mengasihani gadisku kalau ia tidak berkata begini pada orangtua Felix;
"Harusnya kau didik putramu cara berkenalan dengan gadis cantik kayak aku. Felix menggodaku karena aku nggak punya ayah, tapi kata teman-temanku dia hanya mencoba untuk bermain sama aku," begitu kata Mia.
Sialan anak ini, siapa sih yang suka memuji dirinya cantik?
"Mum tenang aja, nanti Felix akan minta maaf sama aku," ucap Mia tiba-tiba.
"Bisa kau jelaskan kenapa kau seyakin itu?"
"Karena aku cantik, semua anak disekolah mau main sama aku, Felix juga begitu,"
Aku mendecak, "tidak ada yang mau main dengan gadis yang melempar cat air ke wajah temannya."
"Karena aku pemberani, Mum, dia sudah menjahiliku," balas Mia.
Bagaimana caranya aku berdamai dengan orangtua Felix? Bagaimana aku meyakinkan orangtua lain bahwa Mia sebenarnya hanya gadis yang merasa pemberani? Bagaimana jika Felix akan sakit parah? Bagaimana aku mempertanggungjawabkan kelakuan gadisku ini?
"Kau tau Mia? Orangtua lain akan melarang anak mereka untuk bermain denganmu," ucapku sebelum keluar dari mobil dan memasuki apartemenku.
Malam harinya, aku memasak untuk Mia, dia tidak keluar kamar seharian, asik bermain video game sambil memakan tortilla chips milikku.
"Mia, makan malam sudah siap!" teriakku dari dapur.
Mia keluar kamar.
"Aku ingin bicara denganmu," ucapku.
"Nggak boleh bicara sambil makan, Mum," balasnya.
Aku hanya mengangguk, lalu mulai menyajikan steak ikan tuna dan salad buncis beserta jagung dan selada.
Kami makan dalam diam, Mia bahkan makan terlalu banyak malam ini. Aku tak ingin melarangnya, mungkin ia sudah tau cara meredakan penatnya. Diam-diam aku tau, dia khawatir akan keadaan Felix.
Selesai makan, Mia mencuci piringnya sedangkan aku membuat sirup jeruk yang diberi potongan nata de coco.
"Sudah," ucap Mia sambil mengelap tangannya di serbet dapur.
"Katakan padaku, apa kau khawatir pada Felix?" tanyaku.
Mia mengangguk, "catnya terlalu banyak."
Mia mulai menangis. Airmatanya keluar deras, namun tubuhnya tak berguncang. Matanya fokus menatapku.
"Kau mau minta maaf padanya? Pada orangtuanya?" tanyaku.
Mia mengangguk lagi, "aku juga mau berteman dengannya."
"Aku ingin tanya, memangnya bagaimana dia meledekmu? Maksudku, seperti apa kata-katanya," tanya Mia.
"Dia bilang mungkin Mum sebatang kara dan punya aku tiba-tiba, dia bilang aku menyedihkan tanpa ayah. Dia juga menyombongkan ayahnya," ucap Mia, tangisannya mulai mereda.
Aku tertawa terbahak-bahak, "dasar bodoh. Bagaimana mungkin aku bisa punya kau tiba-tiba? Setiap perempuan pasti punya lelaki agar bisa punya bayi. Setiap bayi pasti punya ayah, entah dimana pun ayahnya itu. Kau pemberani tapi bodoh, Mia."
Mia ikut tertawa, "aku nggak suka Mum dibilang sebatang kara."
"Bagus," ucapku sambil meraihnya ke pangkuanku.
"Mum, maafkan aku, aku nggak akan nakal lagi, Mum," ucap Mia.
"Kau janji?"
Mia mengangguk.
"Baik, kalau begitu apa yang akan kau katakan pada Felix? Besok kita akan menjenguknya,"
"Aku akan bilang bahwa setiap anak pasti punya ayah dimana pun ayahnya, karena setiap perempuan harus punya lelaki agar bisa punya bayi," ucap Mia.
"Mungkin Felix nggak akan mengerti kata-katamu soal bayi," ucapku, khawatir bahwa anak kecil seperti Felix tidak bisa menangkap maksud perkataan gadisku yang cerdas.
"Aku juga nggak mengerti sih," ucap Mia dengan alis berkerut.
Dasar bodoh, aku kira dia mengerti penjelasanku. Rasanya aku ingin tertawa.
"Aku kira kau mengerti," ucapku sambil tertawa.
Mia menggeleng, "maksudnya apa sih Mum? Memangnya ada apa diantara laki-laki dan perempuan?"
"Ada takdir Tuhan," jawabku.
"Berarti aku ini takdir antara kau dan Alex?" tanya Mia.
"Ya, semacam itu. Nanti saat kelas dua SMP kau akan mengerti. Jadi sekarang anggaplah seperti itu,"
Mia mengangguk-angguk, "tidak terlalu rumit. Mungkin Felix akan mengerti."
Aku menghembuskan napas, "Felix nggak secerdas dirimu. Jangan bicara soal itu, bilang saja bahwa kau punya ayah tapi nggak tau dimana."
Mia mengangguk.
"Baik, kita akan menjenguknya pagi sekali, soalnya aku harus berangkat kerja. Dan, berhubung kau sedang diliburkan sementara oleh sekolahmu, bagaimana jika kau membersihkan rumah selagi aku bekerja?" ucapku.
"Kau memanfaatkanku," balas Mia.
Aku mencibir, "anggap saja agar kau bisa aku maafkan."
Mia mengangguk lemah.
Aku menciumnya lalu menurunkannya dari pangkuanku.
"Jangan lupa berdoa agar Felix baik-baik aja," ucapku.
"Mum juga harus berdoa agar aku baik-baik aja,"
"Selalu," balasku.
Mia tetap diam.
"Kau dengar aku, Mia?" tanyaku.
"Kau dengar suara hatiku, Mum?" balasnya
Oh astaga. Aku tidak menyangka bahwa memiliki anak perempuan manis seperti Mia bisa sangat merepotkan, bahkan aku seperti memiliki anak laki-laki yang suka bertengkar.
Hari ini aku dipanggil oleh kepala sekolah Mia yang mengatakan bahwa Mia baru saja melakukan perbuatan tidak terpuji kepada temannya, Felix. Aku datang ke sekolah, dan aku akhirnya tau bahwa Mia baru saja melemparkan cat air ke wajah Felix, dan sialnya mengenai matanya. Mata Felix iritasi, orangtuanya dipanggil lalu memarahi Mia habis-habisan. Aku baru saja akan mengasihani gadisku kalau ia tidak berkata begini pada orangtua Felix;
"Harusnya kau didik putramu cara berkenalan dengan gadis cantik kayak aku. Felix menggodaku karena aku nggak punya ayah, tapi kata teman-temanku dia hanya mencoba untuk bermain sama aku," begitu kata Mia.
Sialan anak ini, siapa sih yang suka memuji dirinya cantik?
"Mum tenang aja, nanti Felix akan minta maaf sama aku," ucap Mia tiba-tiba.
"Bisa kau jelaskan kenapa kau seyakin itu?"
"Karena aku cantik, semua anak disekolah mau main sama aku, Felix juga begitu,"
Aku mendecak, "tidak ada yang mau main dengan gadis yang melempar cat air ke wajah temannya."
"Karena aku pemberani, Mum, dia sudah menjahiliku," balas Mia.
Bagaimana caranya aku berdamai dengan orangtua Felix? Bagaimana aku meyakinkan orangtua lain bahwa Mia sebenarnya hanya gadis yang merasa pemberani? Bagaimana jika Felix akan sakit parah? Bagaimana aku mempertanggungjawabkan kelakuan gadisku ini?
"Kau tau Mia? Orangtua lain akan melarang anak mereka untuk bermain denganmu," ucapku sebelum keluar dari mobil dan memasuki apartemenku.
Malam harinya, aku memasak untuk Mia, dia tidak keluar kamar seharian, asik bermain video game sambil memakan tortilla chips milikku.
"Mia, makan malam sudah siap!" teriakku dari dapur.
Mia keluar kamar.
"Aku ingin bicara denganmu," ucapku.
"Nggak boleh bicara sambil makan, Mum," balasnya.
Aku hanya mengangguk, lalu mulai menyajikan steak ikan tuna dan salad buncis beserta jagung dan selada.
Kami makan dalam diam, Mia bahkan makan terlalu banyak malam ini. Aku tak ingin melarangnya, mungkin ia sudah tau cara meredakan penatnya. Diam-diam aku tau, dia khawatir akan keadaan Felix.
Selesai makan, Mia mencuci piringnya sedangkan aku membuat sirup jeruk yang diberi potongan nata de coco.
"Sudah," ucap Mia sambil mengelap tangannya di serbet dapur.
"Katakan padaku, apa kau khawatir pada Felix?" tanyaku.
Mia mengangguk, "catnya terlalu banyak."
Mia mulai menangis. Airmatanya keluar deras, namun tubuhnya tak berguncang. Matanya fokus menatapku.
"Kau mau minta maaf padanya? Pada orangtuanya?" tanyaku.
Mia mengangguk lagi, "aku juga mau berteman dengannya."
"Aku ingin tanya, memangnya bagaimana dia meledekmu? Maksudku, seperti apa kata-katanya," tanya Mia.
"Dia bilang mungkin Mum sebatang kara dan punya aku tiba-tiba, dia bilang aku menyedihkan tanpa ayah. Dia juga menyombongkan ayahnya," ucap Mia, tangisannya mulai mereda.
Aku tertawa terbahak-bahak, "dasar bodoh. Bagaimana mungkin aku bisa punya kau tiba-tiba? Setiap perempuan pasti punya lelaki agar bisa punya bayi. Setiap bayi pasti punya ayah, entah dimana pun ayahnya itu. Kau pemberani tapi bodoh, Mia."
Mia ikut tertawa, "aku nggak suka Mum dibilang sebatang kara."
"Bagus," ucapku sambil meraihnya ke pangkuanku.
"Mum, maafkan aku, aku nggak akan nakal lagi, Mum," ucap Mia.
"Kau janji?"
Mia mengangguk.
"Baik, kalau begitu apa yang akan kau katakan pada Felix? Besok kita akan menjenguknya,"
"Aku akan bilang bahwa setiap anak pasti punya ayah dimana pun ayahnya, karena setiap perempuan harus punya lelaki agar bisa punya bayi," ucap Mia.
"Mungkin Felix nggak akan mengerti kata-katamu soal bayi," ucapku, khawatir bahwa anak kecil seperti Felix tidak bisa menangkap maksud perkataan gadisku yang cerdas.
"Aku juga nggak mengerti sih," ucap Mia dengan alis berkerut.
Dasar bodoh, aku kira dia mengerti penjelasanku. Rasanya aku ingin tertawa.
"Aku kira kau mengerti," ucapku sambil tertawa.
Mia menggeleng, "maksudnya apa sih Mum? Memangnya ada apa diantara laki-laki dan perempuan?"
"Ada takdir Tuhan," jawabku.
"Berarti aku ini takdir antara kau dan Alex?" tanya Mia.
"Ya, semacam itu. Nanti saat kelas dua SMP kau akan mengerti. Jadi sekarang anggaplah seperti itu,"
Mia mengangguk-angguk, "tidak terlalu rumit. Mungkin Felix akan mengerti."
Aku menghembuskan napas, "Felix nggak secerdas dirimu. Jangan bicara soal itu, bilang saja bahwa kau punya ayah tapi nggak tau dimana."
Mia mengangguk.
"Baik, kita akan menjenguknya pagi sekali, soalnya aku harus berangkat kerja. Dan, berhubung kau sedang diliburkan sementara oleh sekolahmu, bagaimana jika kau membersihkan rumah selagi aku bekerja?" ucapku.
"Kau memanfaatkanku," balas Mia.
Aku mencibir, "anggap saja agar kau bisa aku maafkan."
Mia mengangguk lemah.
Aku menciumnya lalu menurunkannya dari pangkuanku.
"Jangan lupa berdoa agar Felix baik-baik aja," ucapku.
"Mum juga harus berdoa agar aku baik-baik aja,"
"Selalu," balasku.
Langganan:
Postingan (Atom)