Sabtu, 12 Desember 2015

Lucy dan Matt



Hari itu Matt, aku datang dari New York ke Texas hanya untuk bertemu denganmu. Kau Matt, seseorang yang beberapa waktu lalu bertemu denganku di chat room stranger, lalu masuk ke kontak emailku, lalu hubungan kita indah begitu saja tanpa adanya kenyataan. Kau mulai menelponku siang dan malam, aku pun sebaliknya.
Aku yang bekerja sebagai akuntan di perusahaan besar, mulai punya mimpi untuk bisa hidup bersamamu di peternakanmu di Texas. Kau punya ladang jagung yang subur dan kau bilang kau adalah pemasok jagung di seluruh Kanada. Aku bangga Matt, entah kenapa begitu. Lalu kau bilang, kau punya peternakan domba yang bulunya selalu diincar oleh beberapa produsen baju, yang walaupun tidak terlalu terkenal.
Tapi Matt, hidupmu begitu damai, begitu sederhana, dan aku tiba-tiba saja bermimpi ingin hidup denganmu. Bahagia di Texas.
Saat itu aku sampai di Texas siang hari, dan aku mulai mencari motel. Aku mulai menghubungimu yang sebelumnya sudah tahu aku akan datang ke Texas, tapi kau bahkan berkali-kali menolak panggilanku. Ada apa Matt? Ada apa denganmu?
Aku mengirimimu alamat motelku dan meminta kau datang malam hari. Dan betapa bahagianya aku saat kau datang, Matt, walaupun wajah tampanmu itu sangat pucat. Matt, tahukah kau? Ini pertemuan pertama kita, aku bertemu dengan stranger yang kutemui di chat room, yang mengirimiku email, yang sering menelponku. Matt, akhirnya aku bertemu denganmu, dan kau harus tahu bahwa saat itu aku bahagia.
“Halo, Lucy,” katamu, tersenyum.
“Hai Matt!” aku gembira, sungguh.
“Aku pikir kita tak akan bertemu secepat ini, tapi aku bahagia,” ucapmu, datar.
Aku berpikir, pertemuan ini tak membuatmu bahagia. Tapi aku ingin bahagia, aku tak bisa menolak betapa hatiku buncah saat menatapmu.
“Kau baik-baik saja Matt? Aku pikir kau sedang tidak sehat, wajahmu pucat,” ucapku.
“Aku baik, Lucy, jangan khawatir. Mungkin aku terlalu senang,” ucapmu dengan senyum yang ternyata lebih menawan dibanding di foto.
Tapi, ada sesuatu disana Matt, di dalam matamu. Ada ragu, ada penolakan, ah entahlah, tapi matamu sendu sedikit.
“Kau sudah makan malam? Bagaimana jika kita makan malam? Aku lumayan lapar,” ucapku.
Matt mengangguk, dan kita masuk ke dalam café di samping motel. Kita makan malam dalam diam. Sungguh, aku tak tahu ini tepat atau tidak bagi kita.
Lalu setelah makan, kau langsung ingin pulang. Kau kenapa Matt? Kenapa terburu-buru?
“Lucy, aku harus segera pulang. Ibuku sendirian dirumah. Well, jika kau mau datang ke tempatku, ini alamatnya, kau bisa naik taksi. Ah tidak, sebaiknya kau naik taksi, karena sedikit sulit jika harus naik bus,” ucapmu panjang lebar.
Aku hanya mengangguk dan menerima kertas alamat yang dia tulis di tisu makan.
Lalu Matt, kau mengusap pipiku lalu mencium bibirku.
Matt, aku tidak menemukan ragu dalam ciumanku, benarkah aku Matt?
Ini ciuman rindu, yang bahkan tanpa sadar aku pun rindu padamu. Entah rindu macam apa, tapi aku benar-benar rindu padamu. Aku ingin kau terus menciumku, aku ingin begitu, tapi lalu kau berhenti dan melepasnya.
“sampai bertemu besok Lucy, terimakasih untuk malam yang indah ini,” ucapmu, lalu tersenyum dan naik ke mobilmu dan pergi.
Matt, aku rasa aku mencintaimu. Tapi entahlah, aku ingin ciuman itu lagi.

Pagi sekali aku sudah memesan taksi lewat motelku, dan taksi itu datang tepat waktu. Aku memberikan alamat Matt dan setengah jam kemudian aku sudah sampai di rumah yang sederhana, lucu dan asri, dengan peternakan domba beberapa meter di sebelahnya.
Aku melihat Matt sedang duduk sambil meminum apapun dari cangkirnya, dia duduk di sebuah ayunan yang terbuat dari tambang dan sederhana. Ada dua ayunan disana.
“Hai, Matt” panggilku.
“Oh, Lucy. Aku tak mengira kau akan datang sepagi ini, tapi ini waktu yang tepat untuk minum kopi, kau mau?” balas Matt dengan senyumnya.
Aku mengangguk dan membiarkan ia masuk ke rumahnya. Aku tak menyangka bahwa Matt yang sering ku telpon malam-malam adalah lelaki dengan tubuh tinggi tegap bak tentara, wajah seperti artis holywood.
Lalu aku membiarkan hati ini mengalir entah kemana.
“ini kopinya. Kau mau bertemu ibuku? Sebentar lagi dia pasti datang, dia sedang ke gereja hari ini, mengantar pesanan bunga untuk pernikahan,” jelas Matt.
Aku tersenyum dan meminum kopiku. “Matt aku rasa pertemuan kita ini untuk sesuatu kan?”
Matt tertegun, “apa tidak terlalu cepat?”
“Aku sudah bilang Matt, aku tidak suka apapun yang maya dan fana,” ucapku.
“Masuklah, sepertinya akan turun salju pertama.” Ucap Matt.
Memang, dinginnya begitu menyergap. Sepertinya memang harus masuk ke dalam rumah Matt.

“Matt apa kita bisa lebih serius tentang hal ini?” tanyaku.
“Hal apa?”
Astaga Matt, “kita, tentang kita.”
“Aku tidak tau, Lucy. Aku pikir kita bisa menjadi teman, ini baru pertemuan pertama kita,”
“bukankah kita sudah berteman terlalu lama?”
“aku tidak tahu, Lu, aku sungguh tak tahu.” Matt menyerah.
Kali itu aku hanya ingin pergi dan tidak mau membuang waktu untuk apapun yang maya dan fana. Matt adalah sesuatu itu.

“Matt aku pikir kita harus mulai bersiap, salju sudah turun… oh maaf aku kira tidak ada siapapun. Halo!” itu suara Ibu Matt yang baru masuk pintu.
“Halo, aku Lucy, teman Matt,” ucapku memberi salam.
“Oh Lucy, aku tidak pernah mendengar tentangmu. Apa kau teman SMA Matt? Aku Carol, ibu Matt,” balasnya.
Entah, kata-katanya menyakitiku. Aku memang tak pernah ada dalam hidup Matt. Ibunya bahkan tak tahu tentang aku. Oh kenapa dia harus tahu? Ya Tuhan, aku berlebihan, pasti berlebihan tentang ini.
“Tidak Carol, aku... well teman Matt di email,” jawabku.
“oh benarkah? Aku ingin mengenalmu lebih banyak. Dan senang sekali bisa bertemu langsung denganmu, pasti kau juga senang kan Matt?”
Matt terdiam dan hanya menatap dua perempuan di depannya.
“Tapi sepertinya aku harus pergi. Salju sudah turun dan aku harus kembali ke New York,” ucapku.
“oh dari New York? Baiklah jika kau mau pergi, mungkin Matt akan mengantarmu. Aku harus ke dapur.” Lalu dia pergi.
Baiklah Matt, baiklah jika aku tak ada artinya.
“kupikir kau tak perlu mengantarku. Aku pergi, ya. Selamat tinggal, Matt,” aku membuka pintu.
“Sampai jumpa, Lucy” balas Matt dari pintu.
Aku membalikkan badan dan melambai.
Oh tidak Matt, jangan ‘sampai jumpa’, dan jangan pakai tatapan itu.

Baiklah, selamat tinggal, Matt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar