Hari itu Matt, aku datang dari New York ke Texas hanya untuk
bertemu denganmu. Kau Matt, seseorang yang beberapa waktu lalu bertemu denganku
di chat room stranger, lalu masuk ke kontak emailku, lalu hubungan kita indah
begitu saja tanpa adanya kenyataan. Kau mulai menelponku siang dan malam, aku
pun sebaliknya.
Aku yang bekerja sebagai akuntan di perusahaan besar, mulai
punya mimpi untuk bisa hidup bersamamu di peternakanmu di Texas. Kau punya
ladang jagung yang subur dan kau bilang kau adalah pemasok jagung di seluruh
Kanada. Aku bangga Matt, entah kenapa begitu. Lalu kau bilang, kau punya
peternakan domba yang bulunya selalu diincar oleh beberapa produsen baju, yang
walaupun tidak terlalu terkenal.
Tapi Matt, hidupmu begitu damai, begitu sederhana, dan aku
tiba-tiba saja bermimpi ingin hidup denganmu. Bahagia di Texas.
Saat itu aku sampai di Texas siang hari, dan aku mulai
mencari motel. Aku mulai menghubungimu yang sebelumnya sudah tahu aku akan
datang ke Texas, tapi kau bahkan berkali-kali menolak panggilanku. Ada apa
Matt? Ada apa denganmu?
Aku mengirimimu alamat motelku dan meminta kau datang malam
hari. Dan betapa bahagianya aku saat kau datang, Matt, walaupun wajah tampanmu
itu sangat pucat. Matt, tahukah kau? Ini pertemuan pertama kita, aku bertemu
dengan stranger yang kutemui di chat room, yang mengirimiku email, yang sering
menelponku. Matt, akhirnya aku bertemu denganmu, dan kau harus tahu bahwa saat
itu aku bahagia.
“Halo, Lucy,” katamu, tersenyum.
“Hai Matt!” aku gembira, sungguh.
“Aku pikir kita tak akan bertemu secepat ini, tapi aku
bahagia,” ucapmu, datar.
Aku berpikir, pertemuan ini tak membuatmu bahagia. Tapi aku
ingin bahagia, aku tak bisa menolak betapa hatiku buncah saat menatapmu.
“Kau baik-baik saja Matt? Aku pikir kau sedang tidak sehat,
wajahmu pucat,” ucapku.
“Aku baik, Lucy, jangan khawatir. Mungkin aku terlalu
senang,” ucapmu dengan senyum yang ternyata lebih menawan dibanding di foto.
Tapi, ada sesuatu disana Matt, di dalam matamu. Ada ragu,
ada penolakan, ah entahlah, tapi matamu sendu sedikit.
“Kau sudah makan malam? Bagaimana jika kita makan malam? Aku
lumayan lapar,” ucapku.
Matt mengangguk, dan kita masuk ke dalam café di samping
motel. Kita makan malam dalam diam. Sungguh, aku tak tahu ini tepat atau tidak
bagi kita.
Lalu setelah makan, kau langsung ingin pulang. Kau kenapa
Matt? Kenapa terburu-buru?
“Lucy, aku harus segera pulang. Ibuku sendirian dirumah.
Well, jika kau mau datang ke tempatku, ini alamatnya, kau bisa naik taksi. Ah
tidak, sebaiknya kau naik taksi, karena sedikit sulit jika harus naik bus,”
ucapmu panjang lebar.
Aku hanya mengangguk dan menerima kertas alamat yang dia
tulis di tisu makan.
Lalu Matt, kau mengusap pipiku lalu mencium bibirku.
Matt, aku tidak menemukan ragu dalam ciumanku, benarkah aku
Matt?
Ini ciuman rindu, yang bahkan tanpa sadar aku pun rindu
padamu. Entah rindu macam apa, tapi aku benar-benar rindu padamu. Aku ingin kau
terus menciumku, aku ingin begitu, tapi lalu kau berhenti dan melepasnya.
“sampai bertemu besok Lucy, terimakasih untuk malam yang
indah ini,” ucapmu, lalu tersenyum dan naik ke mobilmu dan pergi.
Matt, aku rasa aku mencintaimu. Tapi entahlah, aku ingin
ciuman itu lagi.
Pagi sekali aku sudah memesan taksi lewat motelku, dan taksi
itu datang tepat waktu. Aku memberikan alamat Matt dan setengah jam kemudian
aku sudah sampai di rumah yang sederhana, lucu dan asri, dengan peternakan
domba beberapa meter di sebelahnya.
Aku melihat Matt sedang duduk sambil meminum apapun dari
cangkirnya, dia duduk di sebuah ayunan yang terbuat dari tambang dan sederhana.
Ada dua ayunan disana.
“Hai, Matt” panggilku.
“Oh, Lucy. Aku tak mengira kau akan datang sepagi ini, tapi
ini waktu yang tepat untuk minum kopi, kau mau?” balas Matt dengan senyumnya.
Aku mengangguk dan membiarkan ia masuk ke rumahnya. Aku tak
menyangka bahwa Matt yang sering ku telpon malam-malam adalah lelaki dengan
tubuh tinggi tegap bak tentara, wajah seperti artis holywood.
Lalu aku membiarkan hati ini mengalir entah kemana.
“ini kopinya. Kau mau bertemu ibuku? Sebentar lagi dia pasti
datang, dia sedang ke gereja hari ini, mengantar pesanan bunga untuk
pernikahan,” jelas Matt.
Aku tersenyum dan meminum kopiku. “Matt aku rasa pertemuan
kita ini untuk sesuatu kan?”
Matt tertegun, “apa tidak terlalu cepat?”
“Aku sudah bilang Matt, aku tidak suka apapun yang maya dan
fana,” ucapku.
“Masuklah, sepertinya akan turun salju pertama.” Ucap Matt.
Memang, dinginnya begitu menyergap. Sepertinya memang harus
masuk ke dalam rumah Matt.
“Matt apa kita bisa lebih serius tentang hal ini?” tanyaku.
“Hal apa?”
Astaga Matt, “kita, tentang kita.”
“Aku tidak tau, Lucy. Aku pikir kita bisa menjadi teman, ini
baru pertemuan pertama kita,”
“bukankah kita sudah berteman terlalu lama?”
“aku tidak tahu, Lu, aku sungguh tak tahu.” Matt menyerah.
Kali itu aku hanya ingin pergi dan tidak mau membuang waktu
untuk apapun yang maya dan fana. Matt adalah sesuatu itu.
“Matt aku pikir kita harus mulai bersiap, salju sudah turun…
oh maaf aku kira tidak ada siapapun. Halo!” itu suara Ibu Matt yang baru masuk
pintu.
“Halo, aku Lucy, teman Matt,” ucapku memberi salam.
“Oh Lucy, aku tidak pernah mendengar tentangmu. Apa kau
teman SMA Matt? Aku Carol, ibu Matt,” balasnya.
Entah, kata-katanya menyakitiku. Aku memang tak pernah ada dalam
hidup Matt. Ibunya bahkan tak tahu tentang aku. Oh kenapa dia harus tahu? Ya
Tuhan, aku berlebihan, pasti berlebihan tentang ini.
“Tidak Carol, aku... well teman Matt di email,” jawabku.
“oh benarkah? Aku ingin mengenalmu lebih banyak. Dan senang
sekali bisa bertemu langsung denganmu, pasti kau juga senang kan Matt?”
Matt terdiam dan hanya menatap dua perempuan di depannya.
“Tapi sepertinya aku harus pergi. Salju sudah turun dan aku
harus kembali ke New York,” ucapku.
“oh dari New York? Baiklah jika kau mau pergi, mungkin Matt
akan mengantarmu. Aku harus ke dapur.” Lalu dia pergi.
Baiklah Matt, baiklah jika aku tak ada artinya.
“kupikir kau tak perlu mengantarku. Aku pergi, ya. Selamat tinggal,
Matt,” aku membuka pintu.
“Sampai jumpa, Lucy” balas Matt dari pintu.
Aku membalikkan badan dan melambai.
Oh tidak Matt, jangan ‘sampai jumpa’, dan jangan pakai
tatapan itu.
Baiklah, selamat tinggal, Matt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar