jika manusia diciptakan untuk terluka, tidak ada yang patut dipikirkan tentang masa depan. kelak dirimu akan tewas tak tertahankan oleh luka. terburu-buru, atau lambat laun.
Aku tidak terlahir dari rahim seorang wanita pemetik anggur, dan tidak terlahir sebagai anak seorang kesatria pemberani. Aku bukan seseorang yang diciptakan untuk bermimpi lalu meraihnya. Bahkan bulan, dan sinarnya tahu itu. Aku bukan yang terbangun dengan gaun dan wangi tubuh seorang putri. Dan aku, takdirku sudah disematkan di belakang telingaku.
Pada malam-malam yang semu, kematian menjadi bayangan yang semakin pekat. Ia tidak dapat sirna. Ia siap menorehkan luka. Kematian ditakdirkan untuk melukai, untuk mengambil, untuk membuat sesuatu menghilang. Tapi dalam kisah yang diceritakan purnama padaku, kematian adalah aku. Aku yang ditakdirkan untuk melukai, mengambil, dan membuat sesuatu menghilang.
Ada masanya, aku menjadi cantik. Tapi hanya sebagai wanita penggoda di sebuah kedai minum, bukan sebagai seorang putri. Aku bukan ditakdirkan menjadi wanita lugu dan bertemu pangeran lalu menikah dan bahagia. Aku ditakdirkan untuk menghirup nyawa dari seorang manusia yang terluka dan ditakdirkan mati. Ingatlah, aku kematian.
Dalam desirnya 500 bulan, yang seiring waktu bercerita dikala aku khawatir, kematian adalah hal yang terlalu pasti dan meyakinkan. Tidak ada yang bisa menandingi pastinya kematian. Tapi, dikala aku melihat berbagai perang dan pernikahan, aku berada di tengah dilema kalbuku sendiri. Saat itu aku merana.
Bahkan aku ikut berperang. Hanya bersemayam dalam pedang-pedang ganas yang mengaku suci. Aku bersemayam, untuk menyentak nadi sampai berhenti, menohok jantung sampai tak lagi ada detaknya. Lalu aku akan diam-diam menghirup nyawa manusia-manusia yang memang telah diciptakan untuk terluka. Terserah ia sudah memikirkan masa depannya atau belum. Aku hanya kematian, yang ditakdirkan untuk melukai. Aku hanya bekerja sama dengan luka, yang menewaskan dengan terburu-buru, atau lambat laun.
Aku tak pernah berani berbisik tentang cinta, kepada siapapun, termasuk kepada diriku sendiri, terutama kepada diriku sendiri. Purnama lagi-lagi bercerita tentang cinta yang bisa membunuh, sedangkan aku kekal dan tak dapat terbunuh. Aku tidak dipasangkan untuk cinta, untuk bercinta, untuk mencintai.
Sembari aku berjalan-jalan di musim gugur tahun 1876 kala semua orang terlihat baik-baik saja dengan perang dan pernikahan yang berlangsung terus-menerus. Aku kesepian. Aku melihat hutan yang asri dan gemuruh meriam di sisi yang lain. Aku tertawa dalam sepi, inikah yang akan aku alami? Sepi inikah yang akan selalu ku rasakan? Aku kematian yang berkuasa, apalagi yang aku inginkan?
Lalu, tepat dalam desir 500 bulan, aku termenung. Desir 500 bulan yang menemaniku. Desir 500 bulan yang abadi, seperti diriku. Aku ingin malam tak lagi semu, agar aku dapat mendengar desir 500 bulan yang menjadi temanku, yang sering bercerita padaku.
Kemudian, dalam Desir 500 Bulan, aku dan malam menjadi abadi bersama bulan.