kadang, dari ribuan jiwa yang bersemayam di berbagai raga membuat masing-masing dari kami buyar. kami tidak bisa beradaptasi dengan jiwa A, atau terlalu takut dengan jiwa C, bahkan terlalu kasihan tapi sebenarnya tidak bisa begitu pada jiwa B.
sore ini waktunya untuk terserah. terserah pada siapa jiwamu akan berlabuh, pada apa jiwamu akan bersemayam. tentu saja, jiwaku juga begitu.
malam ini aku tahu jiwaku bersemayam dalam raga seorang gadis cantik dengan blus selutut berwarna hijau. jiwaku bersemayam gelisah di sana, pasalnya, gadis ini tidak memiliki sesuatu yang bisa membuat jiwaku melihat. gadis ini buta. tapi gadis ini tidak tuli juga tidak bisu.
"selamat malam," sapa jiwaku.
gadis itu tersenyum, mudah-mudahan jiwaku adalah yang mempengaruhinya untuk tersenyum.
suasana hatinya baik, hatinya bersih tapi tak tenang. sebelum jiwaku datang, sepertinya ruang untuk jiwa kosong karena di sana sangat berdebu.
"hei gadis buta gila!" teriak sebuah suara. jiwaku tidak bisa melihat siapa yang berteriak, gadis ini buta.
gadis ini tersenyum, diiringi tawa mengejek orang yang berteriak.
"aku ini gila, aku ini buta. tapi bukankah aku ini sangat cantik?" gadis itu berbicara .
oh dia bicara pada siapa? pada jiwaku?
"aku ini tak punya jiwa sebelum kamu, ruang untuk jiwaku ini kosong. ah tidak, ruang itu diisi oleh olok-olok jiwa yang lain"
kasihan sekali dirimu.
"aku mengenaskan. tapi setidaknya sekarang aku memilikimu. tolong jangan tinggalkan aku."
oh jiwaku tersentuh. oh betapa menderitanya raga gadis itu tanpa jiwa. oh jiwaku memilih bersemayam di sana.
tentu saja boleh.
ragaku telah diisi oleh jiwa yang lain.
tapi jiwaku, baik-baiklah di sana. selamat tinggal
Sabtu, 14 Februari 2015
Selasa, 10 Februari 2015
dua anak di panti asuhan
Setiap pulang sekolah, sewaktu SMP dulu, aku sering berkunjung ke panti asuhan. awal aku ke sana adalah untuk mengunjungi perpustakannya yang menyediakan novel-novel fiksi, tidak seperti perpustakaan di sekolahku yang isinya hanya buku pelajaran membosankan.
Lama-kelamaan aku mulai beradaptasi dengan anak-anak panti asuhan di sana. sampai pada akhirnya aku mulai terbiasa berkunjung ke sana dan bermain dengan anak-anak di panti asuhan itu.
Sepulang sekolah biasanya aku bermain sampai hampir maghrib. dan jika uang sakuku selama seminggu sudah cukup untuk membeli jajanan untuk teman-teman di sana, aku akan membeli beberapa jajanan di sekolahku dan ku bawa ke sana.
Aku punya teman di sana, namanya Ani dan Onan. Ani lebih muda dua tahun dariku, sedangkan Onan lebih tua setahun dariku. kami berteman cukup baik, aku menyukai mereka karena mereka sepertinya benar-benar tulus berteman denganku.
Suatu sore, aku dan Ani sedang duduk di halaman dengan beralaskan sandal Ani. kami menunggu Onan pulang sekolah.
"Aku ingin pergi dari sini," ucap Ani tiba-tiba.
"Kenapa?" tanyaku.
Ani melemparkan batu kecil ke arah ayam yang sedang jalan bergerombol, "mereka memandangku rendah, Tih. mereka yang ada di sekolah."
Aku paham, aku benar-benar paham. tapi apakah dia punya tujuan untuk pergi?
"mereka memanggilku yatim," tambah Ani.
aku menoleh, "benarkah?"
Ani mengangguk sambil tersenyum, "apa rasanya memiliki orangtua?"
"biasa saja."
Ani menoleh kepadaku, "apa arti kebahagiaan bagimu?"
apa? aku sudah hidup tiga belas tahun dan belum mengerti apa itu kebahagiaan. akhirnya aku menggeleng.
"kebahagiaan bagiku adalah saat kamu membawa somay kemari untukku," ucap Ani.
Apa sesederhana itu? lalu jika sesederhana itu, mengapa aku tidak bisa mengingat apa kebahagiaan untukku.
"aku selalu bahagia saat kamu datang, saat Onan menjemputku dari toko ikan tempatku bekerja," lanjut Ani.
"apa sesederhana itu, Ani?" tanyaku.
Ani menggeleng, rambut merahnya terkena matahari sore, "bukan sesederhana itu, hanya itu. ya, hanya itu bahagiaku. yang kamu bilang sederhana itu, aku artikan sebagai bahagiaku."
"Aku tak paham, Ani."
"Onan akan menjelaskannya padamu. lihat, dia datang."
Onan datang dengan seragam SMP yang sudah kumal dibanding punyaku. rambut hitam legamnya yang menyentuh kerah bajunya terlihat basah oleh keringat.
"hai Onan, kenapa hari ini pulang lama sekali?" tanya Ani.
"aku bermain bola dulu tadi, aku akan mandi sebentar. jangan pergi dulu Ratih, aku membawa sesuatu untuk kalian."
beberapa saat kami menunggu Onan keluar rumah dalam hening. pikiranku masih memikirkan apa itu bahagia. tepatnya apa itu bahagia bagiku.
"lihat apa yang dibawanya," ucap Ani sambil mengedikkan dagu ke arah Onan yang baru keluar dari rumah.
Aku melihat Onan dengan senyum sumringahnya. mungkin itu bahagia, entahlah. ditangan kanannya terdapat dua plastik yang membungkus sesuatu yang berwarna-warni.
"apa itu?" tanya Ani.
Onan memberikan Ani satu plastik dan aku satu plastik. ternyata jepit rambut.
"Jadi, hari ini kalian sedang membicarakan apa?" tanya Onan
"bahagia. apa itu bahagia?" balasku sambil memakai jepit rambut itu di rambutku.
Onan tertawa, "kenapa mengartikannya terlalu dalam? sederhana saja."
"justru itu Onan, Ratih tidak mengerti sekali pun sederhana. coba kamu jelaskan," ucap Ani.
"kebahagiaan itu sesuatu yang membuatmu tersenyum." ucap Onan.
"kadang kalau sedih, aku tetap tersenyum, kalian tau itu." balasku sambil meraba jepit rambutku, "apa sudah pas letaknya, Ani?"
Ani mengangguk, "kamu selalu terlihat lebih cantik dari aku."
"dia memang terlihat cantik, terutama karena hatinya, Ani." tambah Onan.
aku tersipu, "terimakasih"
"apa kamu senang kami berkata begitu?" tanya Onan.
aku mengangguk malu.
"itu kebahagiaanmu, Tih."
aku mengerutkan alis, "apa hanya karena itu?"
"coba kamu pahami lagi."
"sejujurnya, aku selalu senang jika berkunjung kemari, selalu senang jika semua anak yang ada disni menyukai jajanan yang ku bawa, selalu senang jika kalian berdua mau menerima cerita-ceritaku," jelasku.
"nah, berarti itulah kebahagiaanmu," ucap Ani.
"benarkah?"
"entahlah, kamu yang merasakannya," jawab Onan sambil tertawa.
benarkah? sepertinya begitu. aku selalu senang jika datang kemari. mungkin disinilah letak kebahagiaanku, mungkin beginilah kebahagiaanku.
"sepertinya memang begitu bahagiaku."
mereka berdua tertawa.
"lagipula kita semua ini dalam masa mencari kebahagiaan. tapi tidak ada kebahagiaan yang abadi selain di surga." Onan berkata.
"benarkah? memangnya begitu ya?" tanyaku.
"dia hanya mengutip kata-kata ibu asrama" ucap Ani sambil tertawa.
"lalu mengapa kamu ingin pergi dari sini?" tanyaku pada Ani.
"apa Ani bilang begitu? kenapa?"
"seperti yang kau bilang tadi, kita semua kan sedang dalam masa mencari kebahagiaan."
"Ani, sebenarnya tidak ada yang abadi, jika kau dapat satu kau akan kehilangannya dan mendapatkan kebahagiaan yang lain, lalu kehilangannya lagi, begitu seterusnya. Tuhan tidak akan membiarkanmu benar-benar kehilangan kebahagiaan." jelas Onan.
"tapi aku sekarang memang sedang kehilangannya, Onan"
"kamu hanya tidak menyadari keberadaannya, Ani." balas Onan lagi.
mungkin memang beginilah bahagia. sederhana, dan memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. aku coba maknai semua hal sederhana yang menyenangkan, mungkin di sanalah terdapat makna bahagia.
untuk Ani dan Onan, terimakasih.
Lama-kelamaan aku mulai beradaptasi dengan anak-anak panti asuhan di sana. sampai pada akhirnya aku mulai terbiasa berkunjung ke sana dan bermain dengan anak-anak di panti asuhan itu.
Sepulang sekolah biasanya aku bermain sampai hampir maghrib. dan jika uang sakuku selama seminggu sudah cukup untuk membeli jajanan untuk teman-teman di sana, aku akan membeli beberapa jajanan di sekolahku dan ku bawa ke sana.
Aku punya teman di sana, namanya Ani dan Onan. Ani lebih muda dua tahun dariku, sedangkan Onan lebih tua setahun dariku. kami berteman cukup baik, aku menyukai mereka karena mereka sepertinya benar-benar tulus berteman denganku.
Suatu sore, aku dan Ani sedang duduk di halaman dengan beralaskan sandal Ani. kami menunggu Onan pulang sekolah.
"Aku ingin pergi dari sini," ucap Ani tiba-tiba.
"Kenapa?" tanyaku.
Ani melemparkan batu kecil ke arah ayam yang sedang jalan bergerombol, "mereka memandangku rendah, Tih. mereka yang ada di sekolah."
Aku paham, aku benar-benar paham. tapi apakah dia punya tujuan untuk pergi?
"mereka memanggilku yatim," tambah Ani.
aku menoleh, "benarkah?"
Ani mengangguk sambil tersenyum, "apa rasanya memiliki orangtua?"
"biasa saja."
Ani menoleh kepadaku, "apa arti kebahagiaan bagimu?"
apa? aku sudah hidup tiga belas tahun dan belum mengerti apa itu kebahagiaan. akhirnya aku menggeleng.
"kebahagiaan bagiku adalah saat kamu membawa somay kemari untukku," ucap Ani.
Apa sesederhana itu? lalu jika sesederhana itu, mengapa aku tidak bisa mengingat apa kebahagiaan untukku.
"aku selalu bahagia saat kamu datang, saat Onan menjemputku dari toko ikan tempatku bekerja," lanjut Ani.
"apa sesederhana itu, Ani?" tanyaku.
Ani menggeleng, rambut merahnya terkena matahari sore, "bukan sesederhana itu, hanya itu. ya, hanya itu bahagiaku. yang kamu bilang sederhana itu, aku artikan sebagai bahagiaku."
"Aku tak paham, Ani."
"Onan akan menjelaskannya padamu. lihat, dia datang."
Onan datang dengan seragam SMP yang sudah kumal dibanding punyaku. rambut hitam legamnya yang menyentuh kerah bajunya terlihat basah oleh keringat.
"hai Onan, kenapa hari ini pulang lama sekali?" tanya Ani.
"aku bermain bola dulu tadi, aku akan mandi sebentar. jangan pergi dulu Ratih, aku membawa sesuatu untuk kalian."
beberapa saat kami menunggu Onan keluar rumah dalam hening. pikiranku masih memikirkan apa itu bahagia. tepatnya apa itu bahagia bagiku.
"lihat apa yang dibawanya," ucap Ani sambil mengedikkan dagu ke arah Onan yang baru keluar dari rumah.
Aku melihat Onan dengan senyum sumringahnya. mungkin itu bahagia, entahlah. ditangan kanannya terdapat dua plastik yang membungkus sesuatu yang berwarna-warni.
"apa itu?" tanya Ani.
Onan memberikan Ani satu plastik dan aku satu plastik. ternyata jepit rambut.
"Jadi, hari ini kalian sedang membicarakan apa?" tanya Onan
"bahagia. apa itu bahagia?" balasku sambil memakai jepit rambut itu di rambutku.
Onan tertawa, "kenapa mengartikannya terlalu dalam? sederhana saja."
"justru itu Onan, Ratih tidak mengerti sekali pun sederhana. coba kamu jelaskan," ucap Ani.
"kebahagiaan itu sesuatu yang membuatmu tersenyum." ucap Onan.
"kadang kalau sedih, aku tetap tersenyum, kalian tau itu." balasku sambil meraba jepit rambutku, "apa sudah pas letaknya, Ani?"
Ani mengangguk, "kamu selalu terlihat lebih cantik dari aku."
"dia memang terlihat cantik, terutama karena hatinya, Ani." tambah Onan.
aku tersipu, "terimakasih"
"apa kamu senang kami berkata begitu?" tanya Onan.
aku mengangguk malu.
"itu kebahagiaanmu, Tih."
aku mengerutkan alis, "apa hanya karena itu?"
"coba kamu pahami lagi."
"sejujurnya, aku selalu senang jika berkunjung kemari, selalu senang jika semua anak yang ada disni menyukai jajanan yang ku bawa, selalu senang jika kalian berdua mau menerima cerita-ceritaku," jelasku.
"nah, berarti itulah kebahagiaanmu," ucap Ani.
"benarkah?"
"entahlah, kamu yang merasakannya," jawab Onan sambil tertawa.
benarkah? sepertinya begitu. aku selalu senang jika datang kemari. mungkin disinilah letak kebahagiaanku, mungkin beginilah kebahagiaanku.
"sepertinya memang begitu bahagiaku."
mereka berdua tertawa.
"lagipula kita semua ini dalam masa mencari kebahagiaan. tapi tidak ada kebahagiaan yang abadi selain di surga." Onan berkata.
"benarkah? memangnya begitu ya?" tanyaku.
"dia hanya mengutip kata-kata ibu asrama" ucap Ani sambil tertawa.
"lalu mengapa kamu ingin pergi dari sini?" tanyaku pada Ani.
"apa Ani bilang begitu? kenapa?"
"seperti yang kau bilang tadi, kita semua kan sedang dalam masa mencari kebahagiaan."
"Ani, sebenarnya tidak ada yang abadi, jika kau dapat satu kau akan kehilangannya dan mendapatkan kebahagiaan yang lain, lalu kehilangannya lagi, begitu seterusnya. Tuhan tidak akan membiarkanmu benar-benar kehilangan kebahagiaan." jelas Onan.
"tapi aku sekarang memang sedang kehilangannya, Onan"
"kamu hanya tidak menyadari keberadaannya, Ani." balas Onan lagi.
mungkin memang beginilah bahagia. sederhana, dan memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. aku coba maknai semua hal sederhana yang menyenangkan, mungkin di sanalah terdapat makna bahagia.
untuk Ani dan Onan, terimakasih.
Sabtu, 07 Februari 2015
sebelum surya lelah meraja
Tegap indah tak terjangkau
Itulah dirimu
Tak terjangkau oleh siapa pun, tak juga olehku
Berhentilah aku pada tatapan jernihmu
Berkhayal absurd tentang cinta juga nikmatnya
Seperti mentari meraja di wajahmu
Aku melihat sinar mempesona itu
Puisi ini tak mampu menjelaskan
Tak juga aku
Aku hanya menatap indahmu dengan bisu
Tak perlu beri aku kuas dan kanvas
Sebab indahmu hanya pada dirimu
Tidak pada kanvas kusamku
Berhentilah aku saat jantung ini berdegup kencang
Berhentilah aku memandangimu-
saat kau tiba-tiba pergi menjauh
Bahkan sebelum surya lelah meraja
Itulah dirimu
Tak terjangkau oleh siapa pun, tak juga olehku
Berhentilah aku pada tatapan jernihmu
Berkhayal absurd tentang cinta juga nikmatnya
Seperti mentari meraja di wajahmu
Aku melihat sinar mempesona itu
Puisi ini tak mampu menjelaskan
Tak juga aku
Aku hanya menatap indahmu dengan bisu
Tak perlu beri aku kuas dan kanvas
Sebab indahmu hanya pada dirimu
Tidak pada kanvas kusamku
Berhentilah aku saat jantung ini berdegup kencang
Berhentilah aku memandangimu-
saat kau tiba-tiba pergi menjauh
Bahkan sebelum surya lelah meraja
lelaki bermata jenaka
pernahkah kamu terpaku pada pandangan pertama saat kamu melihat seseorang? aku pernah. aku bertemu dengannya 6 jam lalu, sepertinya tak perlu ku sebutkan dimana tempat kami bertemu.
saat itu aku terpaku pada hidung mancungnya yang menawan (menurutku). apakah aku harus mengaku padamu bahwa aku tergila-gila pada hidung mancung seorang lelaki? oke, aku mengaku. tatapanku berhenti cukup lama di hidungnya, lalu beralih pada tatapan matanya yang sungguh jenaka. lalu tatapanku teralihkan oleh senyum miringnya yang mempesona.
I'm going crazy. ah
"hai" itu kata pertama yang keluar dari mulutnya. oh apakah ia bicara padaku? ternyata memang bicara padaku. aku tidak tahu harus berkata apa. aku butuh juru bicara sekarang.
"oh eh hai hai" aku membalas. dasar bodoh. idiot. astaga.
"sedang apa?" tanyanya.
sedang memandangimu, batinku.
"berdiri" lagi-lagi aku membalas dengan bodoh. astaga apakah aku seidiot ini? otakku tidak berfungsi dengan baik sepertinya.
dia tertawa. tawa jenaka dan renyah dan ringan dan mempesona dan membuat nyaman dan... astaga dia sangat tampan. oh ternyata itu kesimpulannya, dia sangat tampan dengan semua yang ada pada dirinya.
"maksudku, aku memang sedang berdiri saja. sebenarnya, emm uh ini emm menunggu teman" aku menambahkan. sebenarnya aku tidak perlu gagap begitu.
dia berusaha behenti tertawa, lalu bicara padaku dengan sisa tawa dan senyumnya. "sudah lebih dari setengah jam? benarkah menunggu temanmu?"
tidak, aku tidak tahu menunggu siapa, aku hanya berdiri di sini. dan ketika kau datang, aku ingin berdiri di sini sampai setengah jam berikutnya, lalu berikutnya lagi, lalu seribu jam lagi, tentu saja dengan adanya dirimu di sini, batinku menjawab. tunggu, apa dia memperhatikanku dari tadi?! astaga memang iya dia memperhatikanku, pasti memperhatikanku! buktinya dia tahu aku sudah setengah jam di sini.
jelas tidak bodoh, memangnya semenarik apa dirimu? memangnya siapa dirimu, jawab iblis kecil di dalam hatiku. uh benar juga.
"uh? ya, dia lama sekali" jawabku. sungguh aku bingung.
"bilang pada temanmu kau sudah pulang" ucapnya. kali ini tanpa senyum, tapi matanya masih saja jenaka.
"uhm, tapi aku belum akan pulang. aku masih bisa sabar menunggunya" balasku.
"aku ingin mengajakmu pulang" ucapnya dengan senyum yang (ingat masih mempesona!) tersungging di bibirnya.
apa? tunggu, aku salah dengar. mungkin aku disuruh pulang olehnya karena aku merupakan sampah bagi pemandangannya, tapi bukan dengan dia yang mengajakku pulang. tapi aku mendengar dia berkata ingin mengajakku pulang, tapi jelas tidak mungkin. dasar idiot.
"apa?" akhirnya aku bertanya. untuk memastikan saja. atau untuk berkhayal dia mengajakku pulang?
dia menarik tanganku. oh apa-apaan ini? oh oke, ini menyenangkan, tangannya ada di pergelangan tanganku. tangannya besar dan hangat, dan nyaman, dan sepertinya akan pas jika kami saling menggenggam.
oh ini arah menuju parkiran. oh itu motornya, motor merah yang selalu keren jika ditumpanginya.
"kita mau kemana?" tanyaku setelah kami berhenti di samping motornya.
"pulang" jawabnya. lalu ia menaiki motornya, menyalakannya.
oh apa aku harus naik di belakangnya? atau tidak? apa dia ingin aku naik? apakah maksudnya adalah aku di ajaknya pulang bersama?
"apa aku harus naik?" mulut dan otak idiot ini menyuarakan pertanyaan batinku.
dia tertawa, " dasar bodoh, tentu saja, cepat"
dengan terburu-buru aku naik di belakangnya. lalu dia melajukan motornya.
oh ini nyaman ternyata. apa aku boleh memeluknya? lalu apa yang akan terjadi ya? oh tidak tidak, jangan.
"motorku terlalu luas ya sampai kau duduk terlalu jauh dariku?" tanyanya dengan senyum menawan yang aku lihat dari kaca spion motornya.
apa aku harus duduk dekat dengannya? bolehkah? ah aku tidak peduli, aku ingin duduk 'terlalu' dekat dengannya.
"berpeganganlah padaku"
"padamu?"
"pada siapa lagi?"
oke berpegangan padanya. astaga aku menyukai ini. ini nyaman, ini luar biasa.
lalu sepertinya, saat itu, aku jatuh cinta. tapi apakah cinta akan baik-baik saja untukku?
-bersambung-
saat itu aku terpaku pada hidung mancungnya yang menawan (menurutku). apakah aku harus mengaku padamu bahwa aku tergila-gila pada hidung mancung seorang lelaki? oke, aku mengaku. tatapanku berhenti cukup lama di hidungnya, lalu beralih pada tatapan matanya yang sungguh jenaka. lalu tatapanku teralihkan oleh senyum miringnya yang mempesona.
I'm going crazy. ah
"hai" itu kata pertama yang keluar dari mulutnya. oh apakah ia bicara padaku? ternyata memang bicara padaku. aku tidak tahu harus berkata apa. aku butuh juru bicara sekarang.
"oh eh hai hai" aku membalas. dasar bodoh. idiot. astaga.
"sedang apa?" tanyanya.
sedang memandangimu, batinku.
"berdiri" lagi-lagi aku membalas dengan bodoh. astaga apakah aku seidiot ini? otakku tidak berfungsi dengan baik sepertinya.
dia tertawa. tawa jenaka dan renyah dan ringan dan mempesona dan membuat nyaman dan... astaga dia sangat tampan. oh ternyata itu kesimpulannya, dia sangat tampan dengan semua yang ada pada dirinya.
"maksudku, aku memang sedang berdiri saja. sebenarnya, emm uh ini emm menunggu teman" aku menambahkan. sebenarnya aku tidak perlu gagap begitu.
dia berusaha behenti tertawa, lalu bicara padaku dengan sisa tawa dan senyumnya. "sudah lebih dari setengah jam? benarkah menunggu temanmu?"
tidak, aku tidak tahu menunggu siapa, aku hanya berdiri di sini. dan ketika kau datang, aku ingin berdiri di sini sampai setengah jam berikutnya, lalu berikutnya lagi, lalu seribu jam lagi, tentu saja dengan adanya dirimu di sini, batinku menjawab. tunggu, apa dia memperhatikanku dari tadi?! astaga memang iya dia memperhatikanku, pasti memperhatikanku! buktinya dia tahu aku sudah setengah jam di sini.
jelas tidak bodoh, memangnya semenarik apa dirimu? memangnya siapa dirimu, jawab iblis kecil di dalam hatiku. uh benar juga.
"uh? ya, dia lama sekali" jawabku. sungguh aku bingung.
"bilang pada temanmu kau sudah pulang" ucapnya. kali ini tanpa senyum, tapi matanya masih saja jenaka.
"uhm, tapi aku belum akan pulang. aku masih bisa sabar menunggunya" balasku.
"aku ingin mengajakmu pulang" ucapnya dengan senyum yang (ingat masih mempesona!) tersungging di bibirnya.
apa? tunggu, aku salah dengar. mungkin aku disuruh pulang olehnya karena aku merupakan sampah bagi pemandangannya, tapi bukan dengan dia yang mengajakku pulang. tapi aku mendengar dia berkata ingin mengajakku pulang, tapi jelas tidak mungkin. dasar idiot.
"apa?" akhirnya aku bertanya. untuk memastikan saja. atau untuk berkhayal dia mengajakku pulang?
dia menarik tanganku. oh apa-apaan ini? oh oke, ini menyenangkan, tangannya ada di pergelangan tanganku. tangannya besar dan hangat, dan nyaman, dan sepertinya akan pas jika kami saling menggenggam.
oh ini arah menuju parkiran. oh itu motornya, motor merah yang selalu keren jika ditumpanginya.
"kita mau kemana?" tanyaku setelah kami berhenti di samping motornya.
"pulang" jawabnya. lalu ia menaiki motornya, menyalakannya.
oh apa aku harus naik di belakangnya? atau tidak? apa dia ingin aku naik? apakah maksudnya adalah aku di ajaknya pulang bersama?
"apa aku harus naik?" mulut dan otak idiot ini menyuarakan pertanyaan batinku.
dia tertawa, " dasar bodoh, tentu saja, cepat"
dengan terburu-buru aku naik di belakangnya. lalu dia melajukan motornya.
oh ini nyaman ternyata. apa aku boleh memeluknya? lalu apa yang akan terjadi ya? oh tidak tidak, jangan.
"motorku terlalu luas ya sampai kau duduk terlalu jauh dariku?" tanyanya dengan senyum menawan yang aku lihat dari kaca spion motornya.
apa aku harus duduk dekat dengannya? bolehkah? ah aku tidak peduli, aku ingin duduk 'terlalu' dekat dengannya.
"berpeganganlah padaku"
"padamu?"
"pada siapa lagi?"
oke berpegangan padanya. astaga aku menyukai ini. ini nyaman, ini luar biasa.
lalu sepertinya, saat itu, aku jatuh cinta. tapi apakah cinta akan baik-baik saja untukku?
-bersambung-
Rabu, 04 Februari 2015
(seperti) tidak ada pilihan
Bu, bagaimana jika kematian adalah cara terbaik untuk berdamai dengan hidup?, kali itu aku lancang bertanya pada Ibu. Tapi untuk kali itu , aku memikirkan pertanyaanku sekalipun Ibu memukulku karena bertanya begitu. Bukankah hidup ini, selalu bertolak dengan keinginan kita yang selalu berlebihan? Lalu terjadilah perdebatan antara idealisme dan realita yang ada.
Dan kita, kenapa tidak pergi saja? Menghindari perdebatan yang terjadi. Meninggalkan kehidupan yang toh juga membuat lelah karena penuh pertentangan dan ketidaksesuaian. Kenapa tidak memilih kematian? Itu pertanyaanku pada semua orang yang lebih memilih bertahan hidup ketimbang kematian yang senyap, termasuk aku.
Kata Ibu, jika bisa menetapkan kematianmu sendiri, semua orang akan dengan senang hati menjalani hidup, toh sewaktu-waktu bisa pergi jika lelah. Tapi nyatanya, jika mengakhiri hidupmu sendiri, itu adalah dosa besar.
Lalu apakah semua ini takdir? Kehendak Tuhan? Tapi mengapa seberat ini? Mengapa tidak sesuai dengan keinginan kita? Mengapa menetapkan kehidupan kita tapi tanpa persetujuan kita?
Aku baru ingat, Tuhan tidak pernah salah.
Dan kita, kenapa tidak pergi saja? Menghindari perdebatan yang terjadi. Meninggalkan kehidupan yang toh juga membuat lelah karena penuh pertentangan dan ketidaksesuaian. Kenapa tidak memilih kematian? Itu pertanyaanku pada semua orang yang lebih memilih bertahan hidup ketimbang kematian yang senyap, termasuk aku.
Kata Ibu, jika bisa menetapkan kematianmu sendiri, semua orang akan dengan senang hati menjalani hidup, toh sewaktu-waktu bisa pergi jika lelah. Tapi nyatanya, jika mengakhiri hidupmu sendiri, itu adalah dosa besar.
Lalu apakah semua ini takdir? Kehendak Tuhan? Tapi mengapa seberat ini? Mengapa tidak sesuai dengan keinginan kita? Mengapa menetapkan kehidupan kita tapi tanpa persetujuan kita?
Aku baru ingat, Tuhan tidak pernah salah.
Sore Tadi
Sore tadi ada yang pergi
Diiringi rintik hujan dia kembali pada-Nya
Langit mendung seperti para pelayat
Seakan turut berduka
Tuhan tak membiarkannya menikmati hujan sore itu
Membawanya ke pangkuan-Nya
Redup tatapan keluarganya
Seperti lampu jalanan yang malu-malu terang
Diiringi rintik hujan dia kembali pada-Nya
Langit mendung seperti para pelayat
Seakan turut berduka
Tuhan tak membiarkannya menikmati hujan sore itu
Membawanya ke pangkuan-Nya
Redup tatapan keluarganya
Seperti lampu jalanan yang malu-malu terang
Langganan:
Postingan (Atom)