[Senin, 06.10 sampai
seterusnya]
Pagi itu, Re, aku
menerima sebuah email baru darimu yang ada di Budapest. Pagi itu pula aku
berani mengabaikan semua laporan keuangan yang sudah menjerit ingin kuperiksa
sebelum pertemuan nanti siang…
Emailmu begini, Areno…
Untuk; Ratih, temanku
dari segala arti teman
Perihal; bertanya
Temanku Ratih,
Aku ingin bertanya sesuatu untuk permulaan emailku, sayang,
sudahkah kamu merindukan aku? Sebab segala rinduku yang berupa penantian akan
temu denganmu sudah menumpuk didadaku dan tak peduli walau aku memaksa
menghentikan pembelian tiket dari sini ke Indonesia. Aku bercanda, belum, aku
belum rindu kamu, sama sekali belum. Aku juga belum berpikir tentang
penerbangan melelahkan itu. Aku hanya cinta kamu, belum rindu
Aku sudah lupa bagaimana kita berbicara ringan tentang novel
kesukaanmu atau film-film dan musik-musik kesukaan kita. Aku juga sudah lupa
hal apa yang kamu tidak suka dan aku sangat menggilainya. Tapi, Ratih,
beruntungnya aku belum lupa bahwa aku punya kamu dan seluruh hatimu (soal
hatimu ini aku yakin), aku tak akan lupa.
Ratih, aku ingin bertanya, ini serius dan aku butuh
jawabannya segera.
Ratih, apa arti cinta bagimu? Apa kamu mati-matian tidak
mengharapkan perpisahan dari hubungan percintaan kita? Atau kamu realistis lalu
memandang lurus pada lajur kehidupan yang bahkan tak selalu lurus seperti
pandanganmu? Mengapa kamu memilih aku? Mengapa kamu menaruh hatimu kepadaku
tanpa persetujuanku sebelumnya? Apakah dulu engkau seyakin itu dengan aku?
Apakah dulu engkau seyakin itu dengan cinta? Atau malah sampai detik ini pun
kamu masih yakin akan cinta?
Dan, sayangku, sudahkah kamu siap jika suatu hari kita
berpisah? Apa persiapanmu?
Aku hanya bertanya, Ratih, dan jangan jadi ragu akan
perasaanku kepadamu karena pertanyaan-pertanyaan diatas.
Dan, apa kamu baik? Bagaimana jantungmu? Sehat? Aku harap
begitu.
Dan saat ini, selesai menulis email ini, aku rindu kamu,
rindu sekali.
-Are.
Saat itu aku tercenung
dan kaget, Re, jika kamu mau tau. Tapi lalu aku tersenyum dan senang. Hubungan
ini, aku dan kamu, kita, bukan hanya tentang cinta dan ketidaksadarannya. Bukan
hanya tentang ketidakmasukakalan cinta yang impulsif dan hanya tentang rasa.
Aku butuh segala pikiranmu yang lalu melebur dan menjadi satu dengan segala
pikiranku. Aku butuh itu, Re, butuh…
Maka segera aku balas
emailmu begini…
Untuk; Are,
separuhnya aku
Perihal; menjawab
Areno sayangku,
Mula-mula aku ingin menjawab tentang keadaanku. Jantungku
mulai tidak baik, mungkin karena degup-degup aneh saat menerima emailmu.
Mungkin karena aku jatuh cinta terlalu dalam padamu. Aku tidak bercanda, Re.
Are, aku senang kamu bertanya begini padaku. Aku butuh
segala pikiranmu itu, Re, bahkan aku butuh segala keraguanmu kepadaku kalau
ada. Karena aku ingin cinta kita masuk akal dan bukan hanya tentang kata-kata
magismu yang membuat aku bahagia.
Re, aku ingin benar-benar jatuh saat mencintaimu. Lalu akan ada
titik terjatuh dimana aku akan hampa dan bertanya pada diriku, benarkah aku
mencintaimu? Atau aku hanya ingin jatuh dan mencapai titik itu lalu terlena.
Tidak Re, aku tak mau. Aku ingin mencintaimu dengan fatal, sampai tak ada lagi
yang perlu aku risaukan tentang cinta kita. Sampai aku hanya tau kamu paham
betul aku dengan segala pikiran dan keraguanku.
Re, aku juga ingin mencintaimu secara sadar. Aku ingin sadar
akan apa yang aku rasakan. Jiwaku tak ingin terpejam sekalipun mataku lurus
menatapmu. Aku ingin sadar dalam mencintaimu, lalu menerjemahkan segala rasa
dengan kerasionalanku yang benar-benar bangun. Re, aku tak ingin terlelap dalam
cintamu. Aku ingin sadar saat merasakan kamu dan cintamu.
Aku senang aku tak memahami definisi mutlak tentang cinta,
aku senang. Tapi aku bisa mendefinisikan secara jelas bagaimana definisi dan
alur cintaku kepadamu. Aku bukannya cinta tanpa alasan, Re. Aku tau alur
cintaku ini, aku tau alasan, resiko, definisi, konsep, segalanya tentang
cintaku kepadamu. Sebab sebuah konsep akan selamanya hampa tanpa ada tujuan dan
penyebab. Aku punya segalanya yang kamu tanyakan, Re, tapi ada beberapa tanyamu
yang tak ingin ku jawab secara jelas dan tepat sasaran. Aku ingin kamu definisikan
semua dari tulisanku kepadamu ini. Aku ingin kamu terjemahkan aku.
Aku butuh pikiranmu, Re, butuh. Aku ingin pikiranmu melebur
bersama pikiranku. Aku butuh pikiranmu yang menyatu dengan punyaku. Bukan,
bukan tentang persepsi, tapi pengertian bersama tentang kamu dan aku. Aku tak
pernah buru-buru ingin perpisahan, biarlah senang dulu lalu terbang dan jatuh,
saat jatuh itu aku mau kita sama-sama bertanya pada diri kita. Bukan, bukan
tentang baik-buruknya, karena kamu tau kita tak hidup untuk sesuatu itu. bertanya
tentang mampukah kita untuk sadar kembali dan menelusuri kronologi cinta kita
dari awal. Haruskah berakhir perpisahan atau pelukan (kembali). Haruskah
mengulang untuk kembali jatuh lagi dan mendefinisikan kembali segala rasa.
Aku belum jatuh sejatuh-jatuhnya, Re. Semua rasa dan tanyaku
masih kusimpan dan aku bagi sedikit denganmu, karena aku tau kamu adalah satu
yang mampu berbaur denganku. Karena aku belum ingin disiksa dengan kenyataan
dan secara gamblang menyentuh sebuah ironi. Tidak, aku ingin terbang dulu lalu
jatuh sejatuh-jatuhnya.
Dan, Re, tak ada yang aku yakini selain ketidakyakinan itu
sendiri. Aku penikmat, Re, yang tak bisa yakin dengan sungguh-sungguh lalu
memutuskan. Aku butuh sesuatu yang nanti memutuskan. Kendali semua yang bergerak
di sekelilingku bukan padaku, aku hanya penikmat yang tiba-tiba bisa disuruh
jatuh lalu bertanya dan berpikir. Tapi aku ingin sepenuhnya sadar dan masuk
akal, Re, bukan penikmat yang terpejam jiwanya.
Makanya, aku butuh pikiranmu, aku butuh kamu Re.
Tak akan kusesali bila pada akhirnya semua ini hanya kesemuan,
tapi rasa ini sudah mengkristal indah tak ingin kuhapus sekalipun kamu sudah
terhapus dari hidupku.
Tak apa, Re, tak apa, semuanya akan indah pada waktunya.
Nikmati saja, kita hanya penikmat.
Dan, Areno, aku rindu kamu. Cepat pulang ya dari Budapest
-Ratih
Segera aku kirim
emailmu tanpa ada keraguan atas semua isinya. Aku ingin kamu membalasnya
segera, Re.
Lalu sekitar 15 menit
kemudian, layar laptop berkedip sekali dan menampilkan pemberitahuan email
masuk darimu.
Untuk; Ratih,
separuhnya aku di Indonesia
Perihal; terimakasih,
semoga jantungmu baik
Inilah kamu yang aku cintai secara sadar dan masuk akal,
Ratih…
Bukankah keyakinan terbesar adalah kepada ketidakyakinan itu
sendiri? Memang begitulah adanya di dunia ini.
Lalu bukankah kepastian terbesar adalah ketidakpastian itu
sendiri? Ya, jelas begitu.
Aku akan pulang sebentar lagi, aku sudah tak mau melacurkan
waktuku disini. Aku kangen kamu.
-Are
Aku membalasnya.
Untuk; Are yang di
Budapest
Perihal; aku juga
kangen kamu
Ketidakyakinan dan ketidakpastian adalah sesuatu yang
mengelilingi aku saat ini.
Melacurkan waktu? Sesungguhnya kamu pelacur sejati disana. Sebab
ada tiga macam pelacur sejati, yaitu yang melacurkan waktu, jiwa atau jati
diri. Kamu salah satunya, Re, tapi aku tetap cinta kamu.
Aku juga kangen, sampai bertemu segera. Dan tidurlah lagi,
disana masih terlalu malam, bukan?
-Ratih
Sampai bertemu disini,
Re. Aku sudah rindu sekali. Dan semoga segalanya berakhir seperti yang aku
harapkan.
*emottepuktangan*
BalasHapusHehe :D jadi malu ah ditepuktanganin sama blogger
BalasHapus