Sabtu, 05 Maret 2016

Kematian Baba



Baba pergi tepatnya pada 5 Februari 2008. Waktu itu sore saat aku sedang merapikan meja kerja, akan pulang. Sore itu gerimis, jalanan macet, tapi aku tak mau menunda kepulangan ke rumah.
Lalu, Dewa, seorang sahabatku sejak SMA sekaligus tetanggaku, datang. Dewa bilang, “bisa pulang sekarang kan?”
“ya, ada apa? Kok lo buru-buru, pucat pula,” ucapku sambil membawa tas yang sudah rapi.
Dewa mengajakku duduk di sofa ruanganku, “Baba… baba pergi.”
Alisku mengerut heran, “pergi? Kemana? Sendiri?”
Dewa menggeleng, “Baba meninggal.”
Wajahku kaku. Air mata pun tak mampu turun. Aku hanya menatap Dewa dengan tegas, entah apa maksudnya. Tapi aku sepenuhnya sadar, namun mati rasa.
“Ayo pulang, Dewa,” ajakku pada Dewa. Lalu dengan begitu saja Dewa membawaku pulang, aku tak tahu.
Saat sudah sampai rumah, rumahku ramai. Banyak tetangga dan saudara kami yang datang, beberapa kerabat Baba yang kukenal juga mulai berdatangan. Beberapa temanku juga sudah ada yang datang. Aku datang terlalu terlambat, jalanan macet dan aku hanya… tak tahu.
Aku melihat Baba ditutup kain. Mama datang, bersimpuh di samping Baba.
Aku berjalan mendekati jenazah Baba. Hatiku seperti ditarik lalu diremas dengan kencang, seperti akan hancur.
“Baba,” panggilku.
Mama menoleh kearahku, lalu memelukku, “oh anakku… anakku. Jantungnya… jantungnya menyakitinya.”
“Baba,” panggilku sekali lagi. Baba hanya diam terpejam. Baba tak mungkin menyahutku.
Lalu aku diam disamping Baba, sambil merapalkan doa kepada Tuhan untuk membahagiakan Baba disana.
Dewa disampingku. Merangkul pundakku. Lama sekali kami dalam posisi ini; aku, Mama dan Dewa, hanya melihat Baba sambil diam. Mama terisak perlahan, terus dan terus, sekalipun mereka telah lama bercerai, aku paham betul rasa kehilangan yang dirasakan Mama.
Lama-kelamaan para pelayat pergi karena hari sudah malam. Hanya beberapa saudara yang berada di ruang keluarga, sedangkan kami bertiga di kamar. Mama keluar, meninggalkan aku dan Dewa bersama Baba.
“Dewa, gue satu-satunya anak Baba. Baba sudah lama pensiun dan bahagia melihat gue bekerja dan berguna. Gue juga bahagia punya Baba, lo tau itu kan?”
“Baba juga bahagia punya elo,” balas Dewa. Tangannya berada diatas pangkuannya. Kami duduk bersimpuh hingga mati rasa.
“Waktu itu Baba bilang sayang sama gue, dia juga bilang, kalau dia wafat dia mau gue lah yang terakhir dilihatnya, bukan orang lain. Dewa, harusnya hari ini gue nggak kerja, Wa. Gue harusnya tetap dirumah,” aku terisak. Dadaku sakit.
Aku menangis. Menangis kencang. Baba semalam mengeluh sakit padaku, namun kukira itu hanya masuk angin. Tapi Baba ternyata tidak masuk angin. Lalu pagi itu Baba pergi karena serangan jantung.
“Ya Tuhan, Dewa, gue harusnya dirumah sama Baba. Gue harusnya jadi orang yang terakhir dilihatnya. Harusnya gue tau kalau Baba sakit. Baba… Baba…” aku menangis pilu. Siapapun yang mendengarnya akan merasa pilu juga.
Semua orang tau, aku adalah putri yang paling disayanginya setelah Mama dan dia bercerai. Aku adalah satu-satunya yang dia punya begitupun sebaliknya.
“Baba… aku mohon bangun. Baba aku minta maaf, Baba dengarkan aku,” dengan napas satu-satu aku bicara dengan Baba yang matanya tak akan pernah terbuka lagi untuk dunia.
“Tenanglah… tenang,” ucap Dewa sambil mengusap bahuku.
“Harusnya gue tau ini, Dewa.”
“Kita gak pernah tau kapan mau menerkam, dia hanya selalu mengintai,” balas Dewa.
“Tapi dia Babaku!” jeritku.
Aku menangis terus, airmata rasanya tak berhenti. Aku kehilangan Babaku.
Baba, jika Tuhan izinkan aku tau kapan maut menjemputmu, saat itu, aku akan datang dan bukannya menjadi orang terakhir yang pulang.
Jika Baba pernah salah padaku, percayalah aku lebih banyak melakukannya. Aku tau aku bukanlah Mama yang spesial di hatimu, namun aku percaya aku tetaplah putrimu tersayang.
Lalu, Baba, sekeras apapun aku mencari, tak pernah ada lelaki yang serupa denganmu. Baba tetap menjadi juara dalam hatiku.
Baba, bersama-sama kita lewati badai tanpa Mama. Namun aku sudah selesai belajar darimu, aku harus berjuang sendiri sekarang, Baba. Tanpamu disampingku.
Jika Baba bukan ayahku, aku tak tau bisakah aku bersandar pada yang lain. Baba adalah sandaranku, lalu tiba-tiba bisa menjadi temanku sekaligus lawan bermain catur buatku.
 
Baba, jika Baba mau tau sebesar apa aku mencintai Baba, tolong lihatlah mataku. Hanya ada satu cinta tergambar disana, cinta untukmu, Baba.
Cinta untukmu, Baba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar