Baba pergi tepatnya pada 5 Februari 2008. Waktu itu sore
saat aku sedang merapikan meja kerja, akan pulang. Sore itu gerimis, jalanan
macet, tapi aku tak mau menunda kepulangan ke rumah.
Lalu, Dewa, seorang sahabatku sejak SMA sekaligus
tetanggaku, datang. Dewa bilang, “bisa pulang sekarang kan?”
“ya, ada apa? Kok lo buru-buru, pucat pula,” ucapku sambil
membawa tas yang sudah rapi.
Dewa mengajakku duduk di sofa ruanganku, “Baba… baba pergi.”
Alisku mengerut heran, “pergi? Kemana? Sendiri?”
Dewa menggeleng, “Baba meninggal.”
Wajahku kaku. Air mata pun tak mampu turun. Aku hanya
menatap Dewa dengan tegas, entah apa maksudnya. Tapi aku sepenuhnya sadar,
namun mati rasa.
“Ayo pulang, Dewa,” ajakku pada Dewa. Lalu dengan begitu
saja Dewa membawaku pulang, aku tak tahu.
Saat sudah sampai rumah, rumahku ramai. Banyak tetangga dan
saudara kami yang datang, beberapa kerabat Baba yang kukenal juga mulai
berdatangan. Beberapa temanku juga sudah ada yang datang. Aku datang terlalu
terlambat, jalanan macet dan aku hanya… tak tahu.
Aku melihat Baba ditutup kain. Mama datang, bersimpuh di
samping Baba.
Aku berjalan mendekati jenazah Baba. Hatiku seperti ditarik
lalu diremas dengan kencang, seperti akan hancur.
“Baba,” panggilku.
Mama menoleh kearahku, lalu memelukku, “oh anakku… anakku. Jantungnya…
jantungnya menyakitinya.”
“Baba,” panggilku sekali lagi. Baba hanya diam terpejam.
Baba tak mungkin menyahutku.
Lalu aku diam disamping Baba, sambil merapalkan doa kepada
Tuhan untuk membahagiakan Baba disana.
Dewa disampingku. Merangkul pundakku. Lama sekali kami dalam
posisi ini; aku, Mama dan Dewa, hanya melihat Baba sambil diam. Mama terisak
perlahan, terus dan terus, sekalipun mereka telah lama bercerai, aku paham
betul rasa kehilangan yang dirasakan Mama.
Lama-kelamaan para pelayat pergi karena hari sudah malam. Hanya
beberapa saudara yang berada di ruang keluarga, sedangkan kami bertiga di
kamar. Mama keluar, meninggalkan aku dan Dewa bersama Baba.
“Dewa, gue satu-satunya anak Baba. Baba sudah lama pensiun dan
bahagia melihat gue bekerja dan berguna. Gue juga bahagia punya Baba, lo tau
itu kan?”
“Baba juga bahagia punya elo,” balas Dewa. Tangannya berada
diatas pangkuannya. Kami duduk bersimpuh hingga mati rasa.
“Waktu itu Baba bilang sayang sama gue, dia juga bilang,
kalau dia wafat dia mau gue lah yang terakhir dilihatnya, bukan orang lain. Dewa,
harusnya hari ini gue nggak kerja, Wa. Gue harusnya tetap dirumah,” aku terisak.
Dadaku sakit.
Aku menangis. Menangis kencang. Baba semalam mengeluh sakit
padaku, namun kukira itu hanya masuk angin. Tapi Baba ternyata tidak masuk
angin. Lalu pagi itu Baba pergi karena serangan jantung.
“Ya Tuhan, Dewa, gue harusnya dirumah sama Baba. Gue harusnya
jadi orang yang terakhir dilihatnya. Harusnya gue tau kalau Baba sakit. Baba…
Baba…” aku menangis pilu. Siapapun yang mendengarnya akan merasa pilu juga.
Semua orang tau, aku adalah putri yang paling disayanginya
setelah Mama dan dia bercerai. Aku adalah satu-satunya yang dia punya begitupun
sebaliknya.
“Baba… aku mohon bangun. Baba aku minta maaf, Baba dengarkan
aku,” dengan napas satu-satu aku bicara dengan Baba yang matanya tak akan
pernah terbuka lagi untuk dunia.
“Tenanglah… tenang,” ucap Dewa sambil mengusap bahuku.
“Harusnya gue tau ini, Dewa.”
“Kita gak pernah tau kapan mau menerkam, dia hanya selalu
mengintai,” balas Dewa.
“Tapi dia Babaku!” jeritku.
Aku menangis terus, airmata rasanya tak berhenti. Aku kehilangan
Babaku.
Baba, jika Tuhan izinkan aku tau kapan maut menjemputmu,
saat itu, aku akan datang dan bukannya menjadi orang terakhir yang pulang.
Jika Baba pernah salah padaku, percayalah aku lebih banyak melakukannya. Aku tau aku bukanlah Mama yang spesial di hatimu, namun aku percaya aku tetaplah putrimu tersayang.
Lalu, Baba, sekeras apapun aku mencari, tak pernah ada lelaki yang serupa denganmu. Baba tetap menjadi juara dalam hatiku.
Baba, bersama-sama kita lewati badai tanpa Mama. Namun aku sudah selesai belajar darimu, aku harus berjuang sendiri sekarang, Baba. Tanpamu disampingku.
Jika Baba bukan ayahku, aku tak tau bisakah aku bersandar pada yang lain. Baba adalah sandaranku, lalu tiba-tiba bisa menjadi temanku sekaligus lawan bermain catur buatku.
Baba, jika Baba mau tau sebesar apa aku mencintai Baba,
tolong lihatlah mataku. Hanya ada satu cinta tergambar disana, cinta untukmu,
Baba.
Cinta untukmu, Baba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar