Selasa, 31 Mei 2016

About Oni

Hari Rabu ini, Oni dateng pagi banget ke apartemen gue. Kayaknya dia lupa bahwa semalem kita dan beberapa orang dari manajemen pulang jam setengah tiga dari New York. Peragaan busana, sekalian bertemu teman lamanya Oni.
"Kumala, please, bangun. Kita harus buru-buru," ucap Oni, sambil membereskan beberapa pakaian kotor yang berserakan di lantai kamar.
"Please Oni, Indonesia udah merdeka, dan gue masih kerja rodi," balas gue.
Ya gila aja, baru tidur jam empat dan dibangunin jam setengah enam gini. Amit-amit emang si Oni ini.
"Ada pemotretan jam tujuh pagi, babe, jangan bilang lo lupa," ucap Oni, sekarang sudah mulai menarik-narik selimut gue.
"Gue nggak pernah dikasih tau ada pemotretan hari ini," kali ini gue udah duduk sambil ngedumel.
"Iya, manajer lo emang gila. Apa-apa nggak tau. Gue pecat dia hari ini deh, nggak berguna, bikin lo luntang-lantung," balas Oni sambil melipat selimut gue.
"Ni, tau nggak? Sebenernya lo yang bikin gue luntang-lantung, bangun pagi-pagi gini. Lo inget nggak semalem kita baru nyampe dari New York?" balas gue ketus. Lalu buru-buru masuk kamar mandi.
"Tapi lo juga harus inget, Mala, hari ini pemotretan mahal, bukan yang bisa dibatalin gitu aja," teriak Oni dari luar kamar mandi.
Dasar gila. Jadi gue deh yang jadi budaknya.
Selesai mandi dan berpakaian, gue sudah melihat Oni duduk di ruang TV dengan dua mangkuk bubur yang masih mengepul.
"Bubur dimana nih? Mantap," ucap gue, siap menyantap bubur yang dihidangkan Oni.
Oni buru-buru menyodorkan teh hangat dari mug biru kesayangan gue, "minum teh dulu. Make your body warm."
Gue patuh pada Baginda Oni.
"Ngomong-ngomong, pemotretan apa sih hari ini?" tanya gue sambil mulai melahap buburnya.
"Inget Theo?" tanya Oni.
"Theo James?" jawab gue asal.
Oni mendecak, "itu divergent. Theo yang waktu itu kita ketemu di Sydney, orang garut-Jerman, yang lo ketawain waktu dia ngomong Sunda. Inget nggak?"
Gue mengangguk perlahan, "model Sydney kan cakep-cakep, ngapain minta ke elo?"
"Because he is my lover. And want to shoot my dearest model, you," jawab Oni.
Gue terlonjak kaget, "kok gue nggak tau lo udah nggak sama Feri?"
"Ini gue kasih tau."
Gue mendecak. Si Oni ini, adalah nice guy yang sukanya dadakan, apa-apa mendadak. Dari soal pekerjaan, sampai keputusannya menjadi seorang gay.
Diam-diam gue terkikik, kalau Bapak Haji Gustaman Tardi dan Ibu Hajah Dwi Arumi tau bahwa gue, anak semata wayang mereka bersahabat dengan gay, maka habislah gue dan gay itu. Oni dan gue bakal dibanjiri batu mungkin sama mereka.
Ya, di Indonesia, baru-baru ini, gay memang menjadi salah satu perdebatan pelik antar golongan. Mulai dari pemuka agama, sampai aktivis HAM membicarakan ini. Si Oni sendiri, yang melihat realita itu, adem ayem aja, kadang malah geleng-geleng kepala. Kata dia; gue aja sering nggak ngurus diri sendiri, kok ini orang-orang sibuk ngurusin gue. Biasanya, gue cuma membalasnya dengan menoyor kepalanya, biar nggak tambah sinting.
"Is he nice?" gue tanya.
Oni menggeleng, "sedikit egois, but overall I'm happy with him."
"What makes you happy with him, Oni?"
"He is smart, Mala. You know, he is educated," balas Oni.
Kali ini bubur kita sudah sama-sama habis. Gue meminum teh dari mug gue, lalu menaruh mug itu ke meja.
"I always here if you feel lose," ucap gue.
"So do I," balas Oni sambil memeluk gue.

Selesai pemotretan, gue, Oni dan Theo makan siang. Sebenarnya ini udah termasuk makan sore, jam tiga begini.
"Oni, harusnya kamu memperhatikan pola makan model kamu ini. Lihat, Kumala baru makan jam tiga sore," ucap Theo saat kami menyantap makan siang di sebuah restoran jepang.
"I'm okay, Theo. Mau gimana pun, gue nggak akan gemuk," balas gue, sambil tersenyum.
"I know, but you should keep healthy for camera. Jangan sampe loyo," lanjut Theo.
Gue tertawa saat orang bule satu ini melafalkan 'loyo'.
"Really, I'm okay. I do exercise, drink water enough, eat more, but less sleep," adu gue diakhiri tawa.
"Yes Oni, your model is tired. Just sleep, honey, jangan buru-buru kerja kalau masih ngantuk," ucap Theo, tulus.
"Thanks, Theo. But you should know how Oni's slave life is, we are slave for him," ucap gue, sambil terus cekikikan. Makanan gue sampai dingin.
Theo menampakkan wajah kecewa, "Oni, denger nggak pengakuan Kumala tadi?"
Oni yang dari tadi hanya diam, menoleh ke arah Theo dengan wajah datar. Aku tau ini tatapan apa, Oni tidak suka.
"Could you shut up your mouth and just eat, please." bukan, itu bukan permintaan. Oni memerintahkan.
And everyone in our table just eat.
Oni sendiri sudah selesai makan, dia menyalakan rokoknya dalam diam.
"Okay guys, I have to go now. Nanti malam aku ada flight ke palembang jam tujuh, so I must be prepared before it," ucap Theo, lalu berdiri.
Gue pun ikut berdiri dan menyambut uluran tangannya, menerima ciuman pipinya, dan memberikan senyum profesional.
"I'm glad to meet you, honey. You are the perfect model. Nanti kalau sudah diedit, aku kirim hasil pemotretan tadi," ucap Theo.
"Yes Theo, thank you. Really I enjoy it, kamu partner kerja yang baik," balas Theo.
"Sleep more," ucap Theo lalu pergi.
Dia sama sekali tidak pamit pada Oni.
"Babe? Are you okay?" tanya gue pada Oni.
Oni menggeleng sambil menghembuskan asap rokoknya.
"He is nice, serius," ucap gue.
"Ternyata dia suka ikut campur," balas Oni sambil mematikan rokoknya di asbak.
Oni melangkah pergi. Gue buru-buru mengikutinya. Gila ya si Oni, nggak ngerasa lagi bawa gue, main pergi aja.
Di dalam mobil, Oni menjalankan aksi bisunya. Gue merasa bersalah, pasalnya tadi gue menjelekkan namanya didepan pacarnya. Emang tolol gue.
"Oni, I'm sorry," ucap gue.
"What?" tanya Oni, datar.
"Gue tadi ngomong gitu ke Theo, maksudnya bercanda, Ni. Gue nggak maksud bikin lo terlihat kejam sama gue," jawab gue.
"About slave?"
"Ya,"
"Asal lo tau, lo juga budak dari perasaan lo sendiri, lo budak kamera, lo budaknya masyarakat, lo budaknya perancang busana. We are slave, honey," jelas Oni.
Gue diam.
"Sorry," ucap Oni.
Gue tersenyum, "it's okay."
Kami diam. Oni tetap sahabat yang gue kenal, yang kali ini terbukalah salah satu sisi dalam dirinya. He is slave, so am I.
"Ni, break relationship between you and Theo. Don't be a relationship slave," ucap gue, dengan senyum.
Oni tertawa, "yes okay, I will."
"Now, please."
"Okay Yang Mulia," jawab Oni sambil masih tertawa.
Lalu mobilnya mulai menepi. Oni mulai menelpon Theo.
"Yes Theo," ucap Oni, sepertinya sudah diangkat.
"Can we stop everything between us, now? I mean, gue rasa gue nggak cocok sama lo," ucap Oni, lalu diam.
"Yes, thank you. Glad to meet you," ucap Oni, mematikan ponselnya.
"Done?" tanya gue.
"Already done. Thank you," balas Oni.
"Anytime buddy."
Gue rasa ada satu hal baik yang gue suka dari seorang Oni, jika dia bilang 'yes', it will 'yes'.
Berbandingan terbalik dengan sikap gue, jika gue bilang 'yes', pada akhirnya mungkin saja 'yes' 'no' 'idk'.
Gue linglung, Oni terarah.
"Mungkin kalo lo datang bertahun-tahun lalu, gue akan naksir berat sama lo," ucap Oni.
Gue terhenyak. Oni nggak pernah begini.
"Tapi dulu itu, gue udah terlanjur kecewa menjalani hubungan dengan perempuan. Perempuan itu nggak terdeteksi, kaya elo gini," lanjut Oni.
"Ni," panggil gue, ingin menyadarkan dia.
Oni terbahak, "jangan tegang begitu. Gue kan nggak lagi nembak lo."
"Lo nggak pernah ngomongin relationship lo sama cewek ke gue," ucap gue.
"Because I'm gay,"
Gue menghembuskan napas, "you are best buddy for me."
"You too, Kumala. Rasanya gue nggak butuh apa-apa lagi kalo ada elo, elo bisa jadi semuanya. Elo handal dalam segala hal," ucap Oni, tulus.
"Because I'm your slave," balas gue sambil tertawa.
Oni ikut tertawa, "stay here. Keep close with me, model."
"Yes boss,"
Oni tersadar, "omong-omong, gue mau pecat manager lo nanti malam. Gue aja yang jadi manager lo,"
"Elo?"
"I am."
"Bisa kerja rodi ditambah romusha nih gue," ucap gue.
"Just love me and your job, honey."
Mampus, bos besar merangkap manajer.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar