"Apa kau nggak berniat meminta maaf padaku? Pada Felix? Pada gurumu?" tanyaku pada Mia yang duduk diam di sampingku, mataku lurus menatap jalanan didepanku.
Mia tetap diam.
"Kau dengar aku, Mia?" tanyaku.
"Kau dengar suara hatiku, Mum?" balasnya
Oh astaga. Aku tidak menyangka bahwa memiliki anak perempuan manis seperti Mia bisa sangat merepotkan, bahkan aku seperti memiliki anak laki-laki yang suka bertengkar.
Hari ini aku dipanggil oleh kepala sekolah Mia yang mengatakan bahwa Mia baru saja melakukan perbuatan tidak terpuji kepada temannya, Felix. Aku datang ke sekolah, dan aku akhirnya tau bahwa Mia baru saja melemparkan cat air ke wajah Felix, dan sialnya mengenai matanya. Mata Felix iritasi, orangtuanya dipanggil lalu memarahi Mia habis-habisan. Aku baru saja akan mengasihani gadisku kalau ia tidak berkata begini pada orangtua Felix;
"Harusnya kau didik putramu cara berkenalan dengan gadis cantik kayak aku. Felix menggodaku karena aku nggak punya ayah, tapi kata teman-temanku dia hanya mencoba untuk bermain sama aku," begitu kata Mia.
Sialan anak ini, siapa sih yang suka memuji dirinya cantik?
"Mum tenang aja, nanti Felix akan minta maaf sama aku," ucap Mia tiba-tiba.
"Bisa kau jelaskan kenapa kau seyakin itu?"
"Karena aku cantik, semua anak disekolah mau main sama aku, Felix juga begitu,"
Aku mendecak, "tidak ada yang mau main dengan gadis yang melempar cat air ke wajah temannya."
"Karena aku pemberani, Mum, dia sudah menjahiliku," balas Mia.
Bagaimana caranya aku berdamai dengan orangtua Felix? Bagaimana aku meyakinkan orangtua lain bahwa Mia sebenarnya hanya gadis yang merasa pemberani? Bagaimana jika Felix akan sakit parah? Bagaimana aku mempertanggungjawabkan kelakuan gadisku ini?
"Kau tau Mia? Orangtua lain akan melarang anak mereka untuk bermain denganmu," ucapku sebelum keluar dari mobil dan memasuki apartemenku.
Malam harinya, aku memasak untuk Mia, dia tidak keluar kamar seharian, asik bermain video game sambil memakan tortilla chips milikku.
"Mia, makan malam sudah siap!" teriakku dari dapur.
Mia keluar kamar.
"Aku ingin bicara denganmu," ucapku.
"Nggak boleh bicara sambil makan, Mum," balasnya.
Aku hanya mengangguk, lalu mulai menyajikan steak ikan tuna dan salad buncis beserta jagung dan selada.
Kami makan dalam diam, Mia bahkan makan terlalu banyak malam ini. Aku tak ingin melarangnya, mungkin ia sudah tau cara meredakan penatnya. Diam-diam aku tau, dia khawatir akan keadaan Felix.
Selesai makan, Mia mencuci piringnya sedangkan aku membuat sirup jeruk yang diberi potongan nata de coco.
"Sudah," ucap Mia sambil mengelap tangannya di serbet dapur.
"Katakan padaku, apa kau khawatir pada Felix?" tanyaku.
Mia mengangguk, "catnya terlalu banyak."
Mia mulai menangis. Airmatanya keluar deras, namun tubuhnya tak berguncang. Matanya fokus menatapku.
"Kau mau minta maaf padanya? Pada orangtuanya?" tanyaku.
Mia mengangguk lagi, "aku juga mau berteman dengannya."
"Aku ingin tanya, memangnya bagaimana dia meledekmu? Maksudku, seperti apa kata-katanya," tanya Mia.
"Dia bilang mungkin Mum sebatang kara dan punya aku tiba-tiba, dia bilang aku menyedihkan tanpa ayah. Dia juga menyombongkan ayahnya," ucap Mia, tangisannya mulai mereda.
Aku tertawa terbahak-bahak, "dasar bodoh. Bagaimana mungkin aku bisa punya kau tiba-tiba? Setiap perempuan pasti punya lelaki agar bisa punya bayi. Setiap bayi pasti punya ayah, entah dimana pun ayahnya itu. Kau pemberani tapi bodoh, Mia."
Mia ikut tertawa, "aku nggak suka Mum dibilang sebatang kara."
"Bagus," ucapku sambil meraihnya ke pangkuanku.
"Mum, maafkan aku, aku nggak akan nakal lagi, Mum," ucap Mia.
"Kau janji?"
Mia mengangguk.
"Baik, kalau begitu apa yang akan kau katakan pada Felix? Besok kita akan menjenguknya,"
"Aku akan bilang bahwa setiap anak pasti punya ayah dimana pun ayahnya, karena setiap perempuan harus punya lelaki agar bisa punya bayi," ucap Mia.
"Mungkin Felix nggak akan mengerti kata-katamu soal bayi," ucapku, khawatir bahwa anak kecil seperti Felix tidak bisa menangkap maksud perkataan gadisku yang cerdas.
"Aku juga nggak mengerti sih," ucap Mia dengan alis berkerut.
Dasar bodoh, aku kira dia mengerti penjelasanku. Rasanya aku ingin tertawa.
"Aku kira kau mengerti," ucapku sambil tertawa.
Mia menggeleng, "maksudnya apa sih Mum? Memangnya ada apa diantara laki-laki dan perempuan?"
"Ada takdir Tuhan," jawabku.
"Berarti aku ini takdir antara kau dan Alex?" tanya Mia.
"Ya, semacam itu. Nanti saat kelas dua SMP kau akan mengerti. Jadi sekarang anggaplah seperti itu,"
Mia mengangguk-angguk, "tidak terlalu rumit. Mungkin Felix akan mengerti."
Aku menghembuskan napas, "Felix nggak secerdas dirimu. Jangan bicara soal itu, bilang saja bahwa kau punya ayah tapi nggak tau dimana."
Mia mengangguk.
"Baik, kita akan menjenguknya pagi sekali, soalnya aku harus berangkat kerja. Dan, berhubung kau sedang diliburkan sementara oleh sekolahmu, bagaimana jika kau membersihkan rumah selagi aku bekerja?" ucapku.
"Kau memanfaatkanku," balas Mia.
Aku mencibir, "anggap saja agar kau bisa aku maafkan."
Mia mengangguk lemah.
Aku menciumnya lalu menurunkannya dari pangkuanku.
"Jangan lupa berdoa agar Felix baik-baik aja," ucapku.
"Mum juga harus berdoa agar aku baik-baik aja,"
"Selalu," balasku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar