Minggu, 22 Mei 2016

Mengulang

Kali ini terserah orang-orang ingin menyukai tulisan saya atau tidak. Saya hanya ingin bercerita, tentang bagaimana saya ke kamu. Saya hanya ingin bertanya, tentang bagaimana kamu ke saya.


Bekasi, pukul 9 pagi

Hari ini saya bangun jam sembilan lagi, rumah saya sudah sepi. Entah ini hari ke berapa saya jadi pengangguran pasca UN, saya udah mulai bosan. Makin sering saya nganggur, makin sering saya ngelamun, makin sering pula saya memikirkan tentang kamu.

Mikirin bagaimana saya dan kamu, beberapa bulan lalu, bertemu dan bersama dalam satu hari itu.

Sebenarnya saya bukan orang yang suka pakai perasaan untuk sesuatu yang sebentar dan tidak menguras pikiran. Tapi nyatanya, satu hari bersamamu itu menguras pikiran walau hanya sebentar. Setelah bertemu kamu itu, besoknya, saya mulai kepikiran, mulai bertanya-tanya, mulai menyesal, mulai kecewa terutama pada diri saya sendiri.

Tapi poin pentingnya bukan itu, poin pentingnya adalah setelah bertemu kamu, besoknya, besoknya lagi, dan seterusnya hingga hari ini, saya masih bertanya-tanya, berartikah hari itu bagi kamu? Karena kejadian hari itu masih jelas membekas dalam benak dan hati saya.

Jadi setelah bangun tidur ini, saat saya sedang minum teh sambil makan roti, saya punya pikiran untuk mengulang kejadian hari itu, lagi.
Saya ingin mengulang indahnya, agar saat mengingatnya bukan hanya sakit yang saya rasakan. Bukan hanya sakit.
Lalu saya buru-buru menghabiskan sarapan saya, buru-buru mandi, buru-buru berpakaian seperti hari itu, buru-buru menyiapkan tas yang saya pakai waktu itu.

Saya gila, memang. Saya lemah untuk semua hal tentang kamu.

Tapi lalu saya berpikir, bukannya saya ingin lupa? Bukannya kenangan adalah satu-satunya hal terkuat yang ingin saya kalahkan? Lalu mengapa saya begini?
Saya ingat, hari ini saya mendapat informasi tentang pameran seni rupa di Museum Seni dan Keramik, lebih baik saya kesana, jauh lebih baik saya kesana daripada mengulang semuanya seperti yang baru saja saya niatkan ini.
Akhirnya saya ganti baju saya, saya ganti tas saya, saya ganti juga isi tas saya.
Saya berangkat, ke pameran.


Pameran Rupa Karya 2016, Jakarta

Saya masuk ke pameran itu, karya pertama yang saya lihat adalah sebuah karya dari seorang mahasiswa Politeknik Negri Media Kreatif. Selanjutnya, banyak karya 'bermain' yang bagus dan mindblowing. Saya bisa lupa sejenak tentang kamu.
Tema yang diangkat adalah 'bermain', jadi berkali-kali saya yakinkan diri saya bahwa saya masih anak-anak yang waktu itu kamu ajak bermain.

Sekalipun telah dewasa, terkadang sekali waktu kita kembali ke masa lalu dan bermain dengan memori yang sulit di pahami
itu kutipan disamping karya Once Upon A Time milik Andreas.
Rasanya antara bermain dan masa lalu adalah satu hal yang terkait. Namanya bermain, bagi saya, adalah masa lalu. Bermain adalah masa lalu yang mungkin, di waktu saya yang sudah serius ini, bermain tak bisa digapai lagi. Ia menjadi memori yang sulit dipahami oleh saya dan waktu yang serius ini.

Saya menyesal sudah bermain dengan kamu. Saya menyesal, karena saat ini saya sulit memahami memori bersama kamu itu.

Ada foto lelaki dengan kemeja putih yang dibalut jas hitam, itu karya Goyang Ketombe dengan judul Janji Pria Sejati. Di atas foto tertulis LELAKI SEJATI TAK PERNAH INGKAR JANJI.
Lalu sebaris tulisan di samping karya itu berbunyi; lelaki baiknya mendengarkan hati bukan nafsunya.
Waktu itu, apa kamu mendengarkan hatimu? Saya tidak begitu yakin.
Katanya, lelaki sejati tak pernah ingkar janji. Kamu tak buat janji dengan saya. Itu yang ada di pikiran saya waktu ngelamun sambil menatap tulisan di atas karya ini.

Kamu tak pernah buat janji dengan saya.

Kebanyakan karya di sini adalah karya mahasiswa Universitas Tarumanegara. Tapi ada beberapa dari universitas lain, seperti UNJ, Polimedia, LaSalle College.

Saya menutup kunjungan saya ke pameran sekitar pukul 4 sore. Saya lelah dan ingin pulang. Saya tak mau apapun untuk dikenang. Saya ingin segera sudah lalu lupa.


Stasiun Jakarta Kota, pukul 4.30 sore

Kereta tujuan Bekasi ramai, semua orang tampak bergegas. Dan saya jadi malas. Lalu saya beralih ke kereta tujuan Kampung Bandan, saya mau naik dari Jatinegara saja. Saya duduk di salah satu bangku kereta, dekat seorang lelaki dengan celana pendek loreng dan kaus polo, terlihat santai. Tidak terlihat lelah seperti saya.
Sambil menunggu kereta berangkat, saya membuka buku pameran tadi, melihat karya-karya yang tadi terpajang di sana. Sia-sia memang, saya hanya membunuh waktu agar tidak bosan.
"Dari Pameran Rupa Karya ya, Mbak?" ucap lelaki di sebelah saya ini.
Saya menoleh, lalu tersenyum sambil mengangguk. Saya baru sadar, rambut laki-laki ini tidak begitu hitam, rambutnya agak coklat tua.
"Suka seni rupa?" tanya lelaki itu, lagi. Dia mungkin tidak menyadari lelahnya saya hari ini.
"Engga, cuma iseng dateng kesana. Saya juga nggak ngerti maksud karya-karyanya kalau nggak ada penjelasan di sampingnya," jawab saya, sedikit panjang. Agar dia puas lalu bungkam.
Dia mengangguk sambil mulutnya membentuk huruf O, "saya tadi mau kesana, pas mau masuk udah nggak boleh karena udah tutup. Telat banget sih, kesorean." Saya hanya menggumam untuk menanggapi.
"Mbaknya dari mana?" tanyanya lagi.
"Dari pameran, Mas," jawab saya, enggan menoleh.
Lalu lelaki disamping saya tertawa pelan, membuat saya menoleh.
"Maksudnya, Mbaknya tinggal dimana?" tanyanya dengan sisa tawa dibibir tipisnya.
Saya tersenyum malu, "oh, saya dari Bekasi Mas."
Enggan bertanya dari mana dia, takut berakhir panjang.
"Loh, itu kereta ke Bekasi, kok nggak naik yang itu aja?" tanyanya heran.
"Penuh," begitu saja saya jawab.
Diam sejenak, dia membalas, "saya juga tinggal di Bekasi."
"Terus kenapa nggak naik kereta yang itu Mas?" tanya saya, mengulang pertanyaannya pada saya tadi.
Dia tersenyum, "bisa dibilang, saya ingin mengulang."
Aku buru-buru menoleh.
Tatapanku entah apa artinya, tapi rasanya 'mengulang' itu pernah jadi niatku.

There is something behind every games played, kutipan karya Controller milik Maharani Anandita.
Jadi kira-kira, sesuatu apa dibalik permainan percakapan saya dengan mas-mas celana loreng ini?

"There is something behind every games played," ucapnya sambil membaca tulisanku diatas gambar karya Maharani itu. Aku memang mencatat kutipannya di buku pameran ini.
Aku mengerutkan kening.
"Yang pasti ya, Mbak, saya bukan sesuatu dibalik percakapan kita ini. Saya cuma mau membunuh waktu dengan ngobrol sama Mbak," lanjutnya.

Saya juga sedang membunuh waktu. Tapi saya tidak ingin 'bermain'.

"Maaf ya Mas, saya capek, saya nggak mau dengerin kata-kata Mas yang mindblowing itu," ucap saya.
"Terimakasih karena bilang kata-kata saya mindblowing," balasnya.
Lalu kami berdua sama-sama diam sampai tujuan.


Stasiun Kampung Bandan, pukul 5.15 sore (mendung)

Sejujurnya, saya memang ingin mengulang. Mengulang semuanya. Dari mulai saya yang memilih untuk naik kereta tujuan Kampung Bandan lalu ingin lanjut ke Jatinegara baru ke Bekasi, dalam lubuk hati saya yang paling dalam saya ingin mengulang.

Setidaknya, saya ingin mengulang rute itu dulu. Walau tak sama persis.

Saya duduk di bangku stasiun yang penuh sesak. Menunggu kereta tujuan Jatinegara bersama ratusan orang lain. Pikiran saya menguak lagi beberapa memori yang dulu telah saya simpan rapat-rapat. Hati saya menjelaskan lagi bagaimana sakitnya ini.
Saya ini, sebenarnya, memang tak ingin lupa. Saya ini, sejujurnya, memang ingin menyimpannya rapat-rapat. Namun kenapa hanya rasa sakitnya yang jelas, mengapa indahnya malah mengabur.

Percaya atau tidak, setitik air mata saya buru-buru jatuh ke lutut saya. Sialan

"Geser dikit, Mbak," ucap suara seorang laki-laki kepada saya. Laki-laki tadi.
Saya buru-buru geser tanpa bersuara.
"Kebawa suasana ya, Mbak?" tanyanya.
"Suasana apa?" tanya saya sambil menoleh.
Dia tersenyum lalu menjawab, "iya, ini mendung-mendung berangin dingin gini di stasiun emang membawa suasana sendu, Mbak."
Saya tertawa pelan, "percaya atau enggak, memang iya."
Lalu kami sama-sama diam.

Hati dan pikiranku memang disini, tapi tentang beberapa waktu lalu. Bukan saat ini
Kamu yang manis untuk dikenang, serupa guruh dilangit juga lubuk hati
Indah bersama pilu yang hadir di pintu jiwa yang mendung
Kelabu, sendu, terbias dari rupa kelopak yang sayu
Mengulang, aku mengulang
Dari satu dua perjalanan kereta
Dari tiga empat langkah di peron
Kenangan itu menjelma ratusan sakit yang terpahat lama, berkarat
Gores dinding hati yang belum sembuh dari kenangan
Kenangan
Kenangan

Kereta tujuan Jatinegara di jalur dua.


Stasiun Jatinegara, pukul 5.50 sore (hujan)

Jakarta diguyur hujan deras sore itu. Saya sampai di Jatinegara, bersama dengan laki-laki tadi saya menuju ke mushola untuk sholat Maghrib. Seusai sholat Maghrib, saya beli dua roti dan dua cup kopi panas. Lalu buru-buru kembali ke depan mushola tempat laki-laki tadi memakai sepatu.
Saya menaruh roti dan teh di samping laki-laki itu.
"Ngopi, Mas," ucap saya.
Dia tersenyum sambil mengambil cup kopinya, "makasih, Mba."
Saya hanya tersenyum.

Di stasiun ini juga, dulu, saya dan kamu duduk sebentar untuk mengisi perut saat hujan mengguyur Jakarta dengan deras. Saya luar biasa kedinginan waktu itu, sekarang tidak. Dulu, saya membuat kenangan bersama kamu disini. Dulu kita 'bermain', ingat saya menyesal karena pernah 'bermain' dengan kamu.
"Tadi kenapa, Mbak, di Kampung Bandan?" tanya laki-laki di samping saya, tiba-tiba.
Saya tersenyum, "saya mengulang, sama seperti yang Mas lakukan."
"Bedanya mungkin saya mengulang kebahagiaan, Mbak bukan mengulang suatu hal itu," balasnya.
Sukses membuat hati saya mencelos.
"Kalau kata I Gusti Ngurah Bagus Wirajaya dalam karyanya yang Maen Aer, bahagia itu tergantung dari sudut pandang kita," ucap saya, tegas.
Lelaki itu menoleh, "nah, itu dia Mbak, coba ubah sudut pandang Mbak. Siapa tau hal itu jadi kebahagiaan."

Benar juga, masa lalu memang tidak bisa diubah. Namun tentang sedih atau bahagianya masih bisa kita manipulasi dengan sudut pandang kita tentang masa lalu tersebut.

Kereta menuju Bekasi datang.


Kereta Menuju Bekasi, pukul 6.30 sore (gerimis)

Saya dan lelaki tadi berdiri berdekatan, tidak dapat tempat duduk. Saya bersandar pada ruang kosong di sebelah pintu. Saya kembali memikirkan bagaimana sakit dan galaunya saya tentang kejadian pada hari itu, pada hari dimana kita bertemu.

Mungkin benar, kebahagiaan itu tergantung dari sudut pandang kita.

Termasuk kebahagiaan tentang masa lalu itu. Masa lalu memang begitu adanya, sekuat apapun kita tak bisa mengubahnya, namun saya bisa ganti sudut pandang saya tentang masa lalu itu.
Agar tidak ada lagi sakit yang saya dapat saat mengingatnya.
"Mbak tau nggak apa kata C. S Lewis tentang kebahagiaan?" tanya laki-laki tadi, mungkin ingin membunuh waktu dengan percakapan.
"Apa?" tanya saya.
"Don't let the happiness depend on something you may lose," jawab laki-laki itu.
Saya mengerutkan kening, "loh iya dong, memang harusnya begitu. Sudah bergantung lalu kehilangan kan nggak akan bahagia."
"Jadi, Mbak, cari sesuatu yang kekal untuk menggantung kebahagiaan kita, jangan bergantung sama apa yang pasti akan menghilang. Udah tau akan pergi, kok masih menggantung kebahagiaan ke dia," jelasnya.
Saya tercenung. Sialan, kata-katanya memang mindblowing banget.

kereta berhenti di stasiun Cakung. Tertunda karena rel putus.

Laki-laki itu keluar kereta, memilih untuk membiarkan dirinya terkena gerimis. Saya berdiri di pintu sambil menghadap keluar, melihat bagaimana orang-orang memilih untuk keluar kereta, entah untuk keluar stasiun atau hanya menunggu diluar.
"Masih kepikiran ya, mbak?" tanyanya.
"Saya nggak habis pikir, kata-kata Mas tuh mindblowing banget ya," ucap saya sambil tersenyum.
Dia tertawa, "mindblowing karena keadaan Mbak persis kayak yang saya omongin. Buat yang lagi nggak mengalami sih biasa aja, Mbak."
Saya ikut tertawa. Lagipula, sudah lama saya tidak tertawa oleh ocehan lelaki.
Laki-laki itu menatap saya, "ada beberapa lelaki yang memang saya akui terlalu kurang ajar buat perempuan."
"Maksudnya?"
"Saya memang lelaki, tapi saya tau mana kaum saya yang udah keterlaluan."
Saya tertawa, "Mas ini kaya Aslan lagi ngomong ke penduduk Narnia, ya."
Dia ikut tertawa, terbahak malah.
"Tapi memang saya baru bertemu yang brengsek sih, Mas, belum ketemu yang baik-baik," lanjut saya sambil tertawa pelan.
Kami diam sambil menatap sekeliling. Mungkin bingung ingin bicara apa lagi.
"Mbak turun dimana? Bekasi atau Kranji?" dia bertanya.
"Bekasi," jawab saya.
Dia mengangguk-angguk, "Mbak ini emang nggak suka bertanya balik ya?"
Saya tertawa, dia juga.
"Yaudah, Mas turun di Bekasi juga?" tanya saya.
"Enggak, saya turun di Kranji," jawabnya.

kereta melanjutkan perjalanan

Saya lelah juga ingin pulang
Saya merasa cukup untuk hari ini
"Udah mau sampai Kranji, Mbak," ucapnya tiba-tiba.
Aku mengangguk.
"Saya boleh minta kontak Mbak?" tanyanya lagi.
Saya buru-buru menoleh.
"Maksudnya saya mau lebih banyak percakapan,"
"Saya ngerti, tapi saya nggak bisa. Saya nggak mau bermain lagi, dan saya juga yakin kamu nggak mau ada di lingkaran permainan saya," balas saya.


Stasiun Kranji

Laki-laki itu akan turun, namun sebelum melangkahkan kaki keluar gerbong kereta ini, dia menoleh lalu berkata;
"Terimakasih buat permainan hari ini. Nama saya Ferris."


Stasiun Bekasi, pukul 7.45

Saya jadi ingat kutipan di sebelah karya I'm Playing punya Loudeath;
Play is our brain's favorite way to be washed

Jadi, tunggu main-mainnya saya ya, Ferris.



Bekasi, 21 Mei 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar