Jumat, 06 Mei 2016

A Deaf

Kalau Sandra Brown mendeskripsikan Jennifer dalam Eloquent Silence sebagai gadis tuli yang mampu membuat orang lain langsung sayang, gue mendeskripsikan diri gue sebagai orang yang langsung sayang sama orang tuli satu ini. Namanya Dikta.

Yes, Dikta, bertemu gue sekitar satu setengah tahun lalu, kemudian jadi pacar gue, dan sampai malam ini jabatannya adalah tunangan gue. People says, "he is your fault", tapi mereka salah, karena yang benar adalah; "he is my love." Kalau dia adalah kesalahan, maka nggak mungkin gue bertahan dalam waktu satu setengah tahun mencintai seorang tunarungu.
Jelas, Dikta atau ketuliannya bukan kesalahan.
Dikta mengidap tunarungu parsial, artinya dia masih bisa mendengar suara keras, seperti dia masih bisa membedakan mana suara helikopter dan mana suara peluit pramuka. Dia juga masih bisa sedikit bicara, seperti memanggil nama gue dengan kejelasan yang menakjubkan bagi seorang tuli. Tapi Dikta tetap menggunakan alat bantu dengar yang dipasangnya ke kuping, alat ini bukan alat bantu korektif seperti kacamata. Begini, kalau kalian menyetel radio lalu yang terdengar hanya suara desis, dan saat kalian memperkeras volumenya maka yang terdengar adalah suara desis yang lebih keras, bukan jernih. Jadi menurut gue, mungkin alat bantu itu nggak berarti apa-apa dibanding kepekaan dirinya akan sesuatu.
Walaupun begitu, Dikta adalah seorang laki-laki yang luar biasa tampan, kalian nggak akan sadar kalau dia adalah seorang tunarungu sampai mendengarnya bersuara. Dikta punya tinggi badan sekitar 170cm, kulit bersih dan rambut lurus yang kalem warna coklat. Senyumnya manis, dan gue sadar itu dari hari pertama bertemu dia.
Well, satu setengah tahun lalu gue bertemu dia di sebuah kegiatan amal yang diadakan oleh dia dan rekan-rekannya. Mereka mengadakan kegiatan belajar gratis untuk tunarungu di daerah terpencil Indonesia, dan gue selaku mahasiswi pendidikan luar biasa tingkat akhir mengikuti kegiatan tersebut sebagai pengajar. Waktu itu Dikta masih berpacaran dengan Alin, seorang wanita tunarungu yang luar biasa cantik. Mereka berdua serasi, sangat. Namun, karena saat pertama melihat Dikta gue langsung jatuh cinta sama dia, gue berusahan keras untuk mendapatkannya. Sekali lagi, people commented on me, they said I'm really crazy, padahal sebegitu banyak lelaki normal di dunia. Jawaban gue waktu itu enteng, "Dikta ganteng," well dia juga bukan abnormal.
Setengah tahun berikutnya gue berpacaran dengan Dikta, dan Alin menikah satu tahun kemudian. Dan waktu gue tanya apakah Dikta sedih melihat Alin sudah menikah, jawabannya adalah "engga, karena Alin bukan ingin menikah dengan Dikta" begitu Dikta jawab pakai bahasa isyarat ke gue.
Dan waktu itu gue tanya lagi pakai bahasa isyarat, "jadi kalau Alin mau menikah dengan Dikta, Dikta malah sedih?"
Dikta tersenyum, lalu membentuk huruf R dengan bahasa isyarat dan melakukan gerakan telunjuk dari atas ke bawah seperti membuat garis yang berarti nama gue. Setelah dia mengisyaratkan nama gue, dia berisyarat, "kalau Alin menikah dengan Dikta, kamu pasti sedih, dan kalau kamu sedih aku juga sedih. Begitu."
Aduh, rasanya waktu itu mau mati meleleh deh.

Iya, waktu itu. Karena sekarang, sambil menunggu Dikta datang ke rumah gue yang berada di dekat alun-alun Jogja, gue merenung. Mungkin apa yang tadi gue ceritain ke elo adalah cerita gue sekitar setengah tahun lalu, saat gue dan dia masih hangat dan masih seru. Saat gue masih antusias menjadi pacar seorang tunarungu ganteng. Namun sekarang, diam-diam dengan keji gue malah memikirkan betapa romantisnya punya pasangan yang bisa dengerin gue nyanyi, yang bisa diajak karokean, yang bisa diajak dengerin suara merdunya Mandy Moore yang nyanyi buat Shane West di A Walk to Remember, yang bisa diajak diskusi panas sampai teriak-teriak, yang bisa marahin gue dengan berapi-api, yang bisa main gitar sambil nyanyiin lagu-lagunya Sheila on 7, yang bisa musikalisasiin puisi-puisi gue dan bukannya cuma tersenyum setelah membacanya.
Kalau mau disebutin semua, terlalu banyak andai kata "yang bisa bla bla bla". Dan kalau lagi sendirian gini, gue memang sering memikirkan ucapan orang-orang tentang "kesalahan" gue. Tentang gue yang jago masak, jago bikin puisi, jago renang, jago suling, jago tenis meja dan jago-jago lainnya ini, gue ini, lebih memilih untuk menyerahkan diri dan cintanya pada tunarungu ganteng, atau pendeknya mereka sebut "kesalahan".

Lalu suara ketukan pintu menyadarkan lamunan gue. Gue beranjak ke pintu lalu membukanya, terlihat Dikta yang compang-camping dibopong oleh Pak Supirnya. Wajah kirinya lebam, kemeja lengan kirinya terkoyak, celananya bolong dan kekacauan lain.
Tapi Dikta tersenyum, ke gue, sambil sedikit meringis.
Gue membawa Dikta masuk. Lalu membiarkan Pak Supirnya pulang, dengan ancaman keras agar tidak memberitahu keluarga Dikta, takut mereka khawatir. Lalu sambil membersihkan dan mengobati lukanya, gue bertanya padanya dengan bahasa isyarat;
"kamu kenapa?"
"Kecelakaan," jawab Dikta sambil meringis menahan sakit.
"Gimana kejadiannya?" tanya gue lagi.
"Tadi lagi mau ke toko untuk ambil barang pesanan, lalu saat mau nyebrang ada motor menyerempet badan aku," jawab Dikta. Bahasa isyaratnya sedikit tersendat karena sepanjang lengannya terluka.
Lalu gue melihat bungkusan yang dibawa Dikta, paper bag hitam dari toko perhiasan Semar Nusantara. Gue mengernyit saat membukanya. Ada kotak cincin warna hitam, lalu gue bertanya;
"kenapa beli ini? untuk siapa?"
"sebenarnya rahasia," jawab Dikta.
gue cemberut, penasaran.
lalu Dikta menyentuh pundak gue dan berisyarat, "buka."
Gue pun membukanya, terdapat dua cincin, yang satu dengan ukiran nama gue didalamnya dan yang satu lagi ukiran nama Dikta. Gue tertegun, buat gue?
Dikta menyentuh pundak gue lagi agar gue melihat kearahnya, lalu dia berisyarat, "harusnya rahasia, tapi karena ketahuan ya udah cobain aja dulu."
Dikta tersenyum malu-malu.
Dan gue tertawa terbahak-bahak. Gila, bisa sepolos ini ya. Tapi juga semanis ini.
Gue memandang Dikta, lama. Dikta memang sering nggak paham sesuatu, gue yang harus benar-benar paham. Harusnya cincin ini dipakai di pernikahan nanti, bukan dicobain dulu. Tapi melihat bagaimana Dikta datang ke rumah gue dengan tubuh penuh luka dan senyum malu-malu saat gue menemukan kotak cincin ini, gue tau dan paham betul, laki-laki tunarungu ini sungguh-sungguh dan nggak akan menyakiti gue.
Walaupun dia nggak sempurna, namun gue rasa gue bisa merasakan kelembutan hatinya. Lewat isyaratnya, gue paham betul bagaimana dia dan lewat ketuliannya kadang dia mendengar suara hati gue.
Jadi, malam itu, adalah acara coba-coba cincin kawin dan berisyarat-isyarat tentang cinta.
Keraguan dan penyesalan gue selama ini habis sudah, yang ada hanya keyakinan akan isyarat cintanya.

-Jogjakarta. Agustus 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar