Iya, Bandung sekarang beda sama Bandung 2005 silam. Ah, nggak perlu diungkit lagi hal-hal di tahun 2005 itu. Kumala Tardi ini sudah harus melupakannya.
Gue emang nggak berniat kesini, kalo siang tadi si Oni nggak nyulik gue setelah rapat terakhir buat pelaksanaan fashion show hari Rabu nanti. Saat gue tanya ada apa, ternyata ada pameran foto Zaldy Armansyah. Gila, Zaldy Armansyah aja gue nggak tau orangnya. Tapi ya namanya juga Oni, kalo udah sampe nyulik gue begini ya gue harus nurut, kalo engga nurut bisa-bisa dia menjalankan aksi bisu ke gue selama sebulan.
Omong-omong soal Bandung, gue pernah tinggal di sini dari lahir sampai SMA, yaitu tahun 1987 sampai 2005. Lalu gue kuliah di Jogja dan kerja disana sampai tahun 2014. Pada akhir tahun 2014 itu gue menikah dengan Ali dan pindah ke Jakarta. Gue meninggalkan pekerjaan gue di Jogja sebagai psikolog dan menjadi pengangguran selama menikah dengan Ali. Lalu sekitar pertengahan 2015 gue bercerai dengan Ali karena masalah sepele, yang pada akhirnya gue tau bahwa kita terlalu buru-buru untuk bersatu.
Ali kembali ke Bandung untuk mengenang
Gue di Jakarta tak mau mengenang
"ngelamunin apa sih, La?" tanya Oni sambil menyetir. Tol ke arah Bandung rame, padat, rasanya semua orang ingin mesra di Bandung malam ini.
"ngelamunin kenapa elo bisa-bisanya ngajak gue ke Bandung malam Minggu gini. Nggak malam Minggu aja gue udah benci ke Bandung," sembur gue. Oni cuma cekikikan di balik kemudi.
"Elo harus bisa move on dari Bandung, Mala," ucap Oni.
Cowok satu ini kayaknya nggak pernah ngerti aksi move on gue deh.
"Masa gue ajak ke Bandung aja nggak kuat, sembur sana sembur sini," lanjutnya.
"Oni, gue ini lagi dalam masa move on, tapi elo malah ngajak gue ke Bandung. Elo ngerti definisi move on nggak sih, Ni?" ucap gue, lalu membuka jendela mobil dan mulai menyalakan rokok gue.
Oni malah makin cekikikan, "ngerti gue. Gue tuh cuma pengen tau udah sampe mana lo move on-nya. Ternyata masih belum kemana-mana sama sekali, masih stuck sama romantisme lo di Bandung."
Rasanya gue mau menyundutkan rokok gue ke si Oni.
"Udah deh, pokoknya gue mau buru-buru balik abis pameran kelar."
"Emang siapa yang mau lama-lama sih?" balas Oni sambil cekikikan.
Sampe di tempat pameran, gue bener-bener ngerti bagaimana temen gue yang seniman ini begitu tergila-gila sama seni. Gue sendiri sih buta sama sekali sama seni macam gini. Yang gue tau cuma jalan di catwalk pake rancangan Anne Avantie, Peggy Hartanto dan yang lainnya. Yang gue tau cuma photoshoot pake make up artsy yang sama sekali nggak gue ngerti arti seninya dimana. Gue cuma menjalani aktivitas dengan kosong, setelah meninggalkan segala romantisme hidup.
Beda dengan Oni yang selalu senang dengan muka gue saat pake make up artsy buat photoshoot, yang selalu datang saat gue ada di peragaan busana luar atau dalam negri, gue sendiri malah nggak ngerti makna-makna dalam hidup gue, dalam segala 'indah' yang Oni definisikan. Dalam segala seni yang gue kenakan, gue nggak mengerti makna di balik itu semua.
"La, kalo lo bosen, duduk aja ya, gue mau menjelajah dulu. Parah, keren banget si Zaldy ini," ucap Oni lalu melangkah pergi. Gue bosen tapi nggak lihat ada tempat duduk.
Gue menghembuskan napas lelah. Mengamati sekeliling.
Orang-orang gila seni, gila keindahan dengan penafsiran masing-masing, berada di sekeliling. Tapi aku cuma tahu lelah dan hampa di hati, di lubuk paling jauh, dan di sisi paling dekat. Sekalipun dekat tapi tak ada sentuh, sekalipun jauh tapi tak pernah dekat.
Aku hanya sendiri, yang bahkan tak memiliki diri. Aku hanya gamang dan tak bertuan.
Menepi tapi tak sudah. Menyepi tapi tak lengah.
Entah, mungkin pada akhir aku bergantung bahagia. Mungkin juga pada perjalanan aku rakus bahagia.
Tapi bahagia sendiri itu, apa?
Aku terlalu jauh. Aku terlalu jauh, entah dari apa dan siapa.
"Kumala?" panggil seseorang, membuyarkan lamunan gue. Membuyarkan kata yang bahkan tak pernah sudah berucap dalam benak gue.
Gue menoleh, "Ali?"
Orang-orang disini gila seni. Orang-orang dijalan gila mesra. Orang-orang didefinisikan dengan 'gila'-nya masing-masing. Entah Ali, aku gila pada apa saat melihatmu."Ada apa kesini? Tumben," tanyanya sambil mendekati gue.
Ali masih setampan dulu, tapi romantisme dalam dirinya sudah terkikis habis secara magis.
"Yang pasti bukan untuk ketemu kamu, Ali," jawab gue kasar.
Ali tersenyum, "terserah. Bagaimana kabar kamu?"
"Baik," jawabku datar. Ingin buru-buru pergi.
Untunglah Oni datang, kegilaan gue sudah akan meledak.
"Ayo, Oni, kita pergi," ajak gue.
Aku tak beri kesempatan pada waktu untuk membuka kenanganku. Juga, tak beri waktu untuk membuat kenangan baru. Aku ingin sudah, Ali, aku tak ingin bertengkar dengan diriku dan takdirku. Aku ingin sudah, Ali, aku tak ingin ada sempat yang membuat rasaku melarat. Jadi izinkan kita melepas kita, izinkan aku telanjangi hatiku dari rasa sakit karena dirimu. Izinkan aku bersuci, dari luka yang pernah engkau toreh. Biarkan aku lahir kembali, suci tanpa bayangmu.Gue beranjak tanpa pernah mengungkit romantisme yang diberikan oleh Kota Bandung. Sambil membayang dalam mobil yang sunyi, apakah Oni tau seberapa jauh gue move on dari romantisme itu.
"Dia orangnya?" tanya Oni.
Gue mengangguk.
"Sakit?"
Gue mengerutkan kening, "siapa?"
"Hati lo, sakit?"
Gue menggeleng, ragu.
"Gue tau bagaimana usaha lo. Gue tau bagaimana elo nggak mau lagi nerima romantisme hidup ini, dari lo yang nggak terima bunga saat peragaan busana, nggak ikut fanmeet yang diadain manajemen, nggak pulang ke rumah orang tua lo. Gue tau apa yang berkecamuk dalam diri lo," ucap Oni, tulus.
Gue tertawa, "rasanya gue mau jawab 'tau apa sih lo, Oni'. Tapi saat sadar kalo elo yang mungut gue dari kesedihan, rasanya nggak sopan."
Oni tertawa sambil menepuk pundak gue.
Ini jam dua malam, tapi rasanya gue masih ingin mengembara ke dalam diri gue. Masih ingin bercengkrama dengan diri gue. Gue masih belum ingin tidur.
Jadi jam dua malam itu, gue minta traktir Oni ke bar kecil di Bandung. Sambil membuka percakapan dalam benak gue.
Malam ini, jalanan sepi tapi pikiran manusia tak pernah sunyi. Ada yang masih mengadu pada Tuhan, ada yang masih menyusun pekerjaan, ada yang baru saja bekerja, ada yang mulai menggoda.
Aku memilih bercengkrama sendiri.
Berisik. Dalam benakku berisik.
Tersihir oleh alkohol yang setia menemani luka, teraniaya oleh satu gelas kosong yang menjelma dua.
Malam ini aku tak ingin lelap, malam ini aku harus kalap. Menjelajah, bertanya, mencari, satu atau dua tanya harus terjawab.
Malam ini aku kalap.
-Bandung, 14 Mei 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar