Jadi ceritanya, hari Minggu yang lalu gue berkunjung ke rumah temen lama gue di Jakarta, tepatnya di Klender. Wilayah itu dulunya adalah tempat tinggal gue dan Mama setelah Bapak meninggal waktu kami masih tinggal di Bogor. Gue tinggal di Jakarta sampai umur gue 13 tahun, sampai Mama menyusul Bapak karena sakit. Pada akhirnya, gue ditampung oleh panti asuhan milik pemerintah di Kota Bandung, lalu setahun kemudian gue diadopsi oleh sepasang suami istri kaya raya yang tidak punya anak, lalu gue menyebut mereka sebagai Ibu dan Ayah.
Ibu adalah perawat di sebuah rumah sakit besar di Bandung, umur Ibu waktu mengadopsi gue adalah 40 tahun. Sedangkan Ayah adalah seorang pemilik pabrik kertas di Kalimantan, kantornya ada di Jakarta, waktu mengadopsi gue Ayah berumur 43tahun.
Ibu dan Ayah merawat gue dengan baik. Gue tinggal berkecukupan di Kota Kembang. Untungnya, gue anak yang lumayan pintar, dan selalu berusaha untuk menjadi baik agar Ibu dan Ayah tidak kecewa karena telah mengadopsi gue. Mereka menyekolahkan gue sampai jenjang kuliah, dimana gue mengambil jurusan komunikasi di universitas negri ternama di Bandung.
Dan sekarang, di umur 25 tahun, gue sudah terbilang sukses di dunia jurnalistik. Gue menjadi wartawan di salah satu media cetak nasional yang bergengsi. Gue mencapai sukses dengan jalan yang dimudahkan Tuhan.
Mungkin, Mama dan Bapak bisa melihat gue, anak semata wayangnya telah menjadi gadis sukses. Walaupun Mama dan Bapak mungkin juga nggak bisa melihat gue, gue selalu berdoa buat mereka dalam sujud terakhir di setiap sholat gue.
Kembali ke cerita di Hari Minggu. Gue menyusuri gang-gang sempit tempat dulu gue main bareng temen-temen gue yang bajunya nggak pernah bagus. Gue juga dulu selalu pakai baju seadanya, Mama nggak bisa beli baju bagus karena gaji buruh belum sebesar sekarang. Mama dan gue hidup seadanya waktu itu. Di kampung kumuh ini, dulu gue berteman dengan Sani, perempuan dengan rambut hitam legam saat rambut gue dan rambut beberapa anak lain merah pirang karena kebanyakan kena sinar matahari. Sani punya badan kecil dan mukanya manis dengan mata belo sama kayak punya gue. Sani adalah sahabat terbaik gue disini. Sani juga punya kakak, namanya Gilang. Dulu itu gue dan Gilang, ah nggak usah dibicarakan, kisah masa kecil.
Sampai di gang rumah gue dan Sani, gue melihat beberapa orang yang berbeda, nggak seperti ingatan gue tentang orang-orang disini. Tapi rumah Sani masih disana, persis disamping rumah gue yang sekarang catnya sudah bagus mengkilap.
Rumah Sani masih kecil, kumuh, dan kurang sedap dipandang. Namun, dulu disanalah gue biasanya tidur siang kalau Mama belum pulang dari pabrik.
Ini jam 11 siang, kemungkinan Sani sedang bekerja atau kemana. Tapi gue udah terlanjur kesini, masa mau balik lagi ke Bandung. Ternyata pintu rumah Sani terbuka, TV dirumah itu menyala dan seorang perempuan sedang mengupas bawang didepan pintu sambil menghadap ke TV.
"Assalamualaikum," ucap gue.
Perempuan itu menoleh, dan iya itu Sani. Alis Sani mengerut heran, lalu dia menghampiri gue yang masih diluar pagar rumahnya.
"Cari siapa, mbak?" tanyanya.
Gue tersenyum, "ini aku, San, Nita."
Mata Sani melebar kaget, "ya ampun, pangling gue. Rambut lo udah nggak merah sih, Nita!"
Gue tertawa, "Bandung adem, San."
Sani tertawa lalu mempersilahkan gue masuk, "masuk sini masuk."
Gue pun masuk kerumah Sani. Rumahnya sepi, kayak nggak ada orang selain Sani sendiri. Foto-foto yang dipajang masih sama seperti dulu, kecuali tambahan foto wisuda SMA Sani dan Gilang.
"Baru mau masak lo?" tanya gue, mulai terbiasa dengan bahasa kasar kami dulu.
"Iya, gue baru pulang dagang di pasar. Eh mau minum apa, Nit?" balas Sani.
Ternyata Sani pedagang di pasar, sama kayak ibunya dulu.
"Apa aja, nggak usah repot-repot, San," jawab gue sambil mengeluarkan tiga kotak kue dari ransel gue lalu menaruhnya di meja makan tempat Sani membuatkan gue minum.
Sani kaget, "eh itu elo yang repot-repot, pake bawa-bawa segala kayak kerumah siapa aja."
"Nggak repot lagi, gue nggak bikin kue sendiri, San," balas gue terkikik.
Sani selesai membuat dua gelas es teh untuk gue dan dia. Kami lalu ke ruang depan, tempat TV dan bawang Sani ditinggal tadi.
"Apa kabar lo, Nit?" tanya Sani.
"Baik, lo sendiri gimana?"
"Baik juga. Lo sibuk gitu ya sekarang?"
Gue menggeleng, "cuma kerja sampe Sabtu, nggak sibuk sih biasa aja."
Sani mengangguk-angguk, "gimana kabar orangtua lo?"
"Mereka baik, Ibu baru pensiun bulan lalu, sekarang lagi dirumah aja. Kalo Ayah sih masih sibuk," jawab gue.
Sani bergumam mengiyakan.
"Orang rumah pada kemana, San? Kok sepi? Orangtua lo kemana? Bang Gilang?" tanya gue berturut-turut.
Wajah Sani berubah, gue merasa nggak enak.
"Orangtua gue meninggal setahun lalu, Ibu meninggal karena stroke, tiga bulan kemudian Bapak kena tabrak lari sama orang naik motor. Bang Gilang belom pulang dari semalem," jawab Sani, wajahnya tertunduk dalam.
Gue sedih mendengar apa yang Sani bilang, gue nggak menyangka. Gue pun menggenggam tangan Sani, "maaf San karena ngungkit ini."
Sani menggeleng lalu menatap gue sambil tersenyum, "udah sewajarnya lo nanya begini, Nit."
"Kenapa elo nggak ngabarin gue waktu orangtua lo meninggal?" tanya gue.
"Gue nggak kepikiran. Saat itu keluarga gue lagi kelilit utang, gue minjem kemana-mana waktu Ibu sakit. Setelah Bapak meninggal sampai sekarang pun utang itu belum lunas. Bang Gilang juga minjem kemana-mana, ditambah kerja sana-sini," jawab Sani, airmata sudah mengalir deras di kedua pipinya.
Memang sudah seharusnya Sani menangis.
Gue meremas bahunya, ingin menenangkan sahabat gue ini. Kemudian, dia buru-buru meredakan tangisannya dan menghapus air matanya.
"Sekarang Bang Gilang kerja apa?" tanya gue.
"Kerja di toko punya cina di pasar, biasanya sampe abis maghrib. Tapi semalem dia nggak pulang, nggak tau kemana," jawab Sani.
"Dia sering nggak pulang gitu?"
Sani menggeleng, "jarang, cuma sebulan terakhir ini emang lebih sering. Biasanya pagi pulang, itu juga rada mabok."
Gue memeluk Sani, gue ingin memeluk sahabat gue. Gue nggak ngerti lagi gimana sakitnya dia, apa yang udah dia lewatin sendirian selama ini. Tubuh Sani lebih kurus dari yang terlihat. Tubuh ini yang dulu sering main gendong-gendongan sama gue di kolong jembatan depan, sambil lari-lari seperti orang gila.
Masa kecil Sani dulu nggak seburuk sekarang.
Sani sudah berhenti menangis dan gue sudah melepaskan pelukan gue.
"Lo harus kuat, San. Lo sekarang punya gue, lo tau harus kemana kalo lo butuh bantuan," ucap gue.
"Gue nggak bisa minta bantuan lo, Nit. Gue nggak bisa begitu," balas Sani.
"Kenapa, San? Kita ini temen, kita ini sahabatan udah dari kecil, San. Hubungin gue ya kalo lo butuh sesuatu? Ya?" bujuk gue. Gila, mana gue tega ngebiarin dia susah sendiri, pontang-panting sendiri, saat dia punya gue yang lagi nganggur dan bisa bantu.
Sani mengangguk, "iya, gue akan hubungin lo kalo gue lagi butuh sesuatu, gue janji. Makasih, ya."
Gue mengangguk sambil menggenggam tangannya.
"Kerja apa lo sekarang?" tanya Sani.
"Wartawan, San, di koran," jawab gue.
Hening. Mungkin Sani diam-diam menginginkan untuk menjadi seperti gue. Dan gue, diam-diam bersyukur kepada Tuhan atas apa yang diberikannya kepada gue.
"San, gue mau nanya," ucap gue, membuat mata Sani menatap gue.
"Berapa banyak utang lo?" tanya gue, hati-hati.
"Lo nggak perlu tau, Nit," jawabnya sambil tersenyum.
"Jawab aja, San," desak gue.
Sani diam sejenak, lalu menjawab, "sebelas juta."
Hening. Jujur, gue kaget.
"Gue ada uang segitu, lo bisa pake dulu buat bayar utang lo, ya?" ucap gue.
Sani buru-buru menggeleng, "nggak, gue nggak mau."
"Mau nggak mau lo harus, San. Lo mau kelilit utang terus? Makin lo tunda bayar, makin banyak utang lo," tegas gue.
"Gue nggak bisa, Nit, gue nggak bisa pakai duit lo gitu aja,"
"Lo bisa, San. Kali ini turutin gue ya?" bujuk gue lagi.
Sani menggeleng.
"San, siapa lagi yang bisa ngasih lo sebelas juta buat lunasin utang lo? Siapa lagi yang mau lo utangin buat bayar utang lo?" tanya gue. Kali ini memaksa agar Sani setuju.
Akhirnya Sani mengangguk, "gimana cara gue balikinnya?"
"Nggak usah mikirin itu. Besok gue kesini buat ngasih uangnya, ya?"
Tepat saat itu, ada seorang laki-laki masuk ke rumah. Badannya tinggi, kaki panjangnya dibalut celana jeans belel, badan tegapnya dibalut kaos yang kelihatan usang. Wajahnya tirus dengan mata tajam dan janggut tipis yang mulai tumbuh.
Laki-laki itu Gilang. Dan Gilang masih setampan dulu meski dengan dandanan orang pasar.
"Bang Gilang, ini Nita, masih inget nggak?" ucap Sani, jejak-jejak air mata masih membekas di wajahnya.
Sorot matanya kaget, lalu berubah rindu. Entah, atau gue yang terlalu percaya diri.
"Bang," sapa gue.
"Eh Nit, jadi item ya sekarang rambut lo," balasnya sambil melenggang masuk. Aroma alkohol tercium saat dia lewat di belakang gue.
Suara air terdengar dari kamar mandi, sepertinya Gilang sedang mandi.
Beberapa saat kemudian dia muncul didepan gue dan Sani dengan celana jeans yang tadi dan kaos yang terlihat baru.
"Kaos siapa, bang?" tanya Sani.
Gilang menatap kaos yang dipakainya, "kaos gue. Bikinin gue teh tawar, San."
Sani buru-buru ke dapur.
"Apa kabar lo, Nit?" tanya Gilang.
"Baik, Bang. Abang sendiri gimana?" balas gue.
"Ya begini," jawabnya sambil terkekeh.
Gue hanya tersenyum sambil menenangkan detak jantung gue. Sialan, masih begini ternyata.
"Kangen gue sama lo. Bersihan ya sekarang, nggak gembel kayak dulu," ucapnya diikuti tawa Sani.
Sani meletakkan teh tawar di depan abangnya, lalu ikut duduk dengan gue dan abangnya.
"Wartawan dia sekarang, Bang," ucap Sani kepada abangnya yang sedang meminum teh nya.
Gue hanya tersenyum malu.
"Wah udah asik lo sekarang. Masih di Bandung?" tanya Gilang.
"Masih," jawab gue.
Kemudian obrolan kami bertiga berlanjut sekiranya sampai habis Maghrib.
"Gue mau pulang nih, udah malem banget, takut udah nggak ada bus," ucap gue.
"Yaudah yuk gue anter sampai depan," balas Gilang.
Gue pun mengiyakan, lalu pamit pada Sani dan bilang bahwa gue akan kesini lagi besok.
Gue dan Gilang jalan kaki menyusuri gang-gang sempit ini. Saat di perjalanan, perut gue berbunyi. Gue baru inget, saking asik ngobrol, Sani, Gue dan Gilang cuma makan kue. Dan gue juga baru inget, perut gue belum tersentuh nasi dari semalam. Kalau Ibu tau, mungkin gue udah diceramahin panjang lebar.
"Laper?" tanya Gilang.
Gue baru sadar kalau bunyi perut itu tanda lapar, gue pun mengangguk.
"Lo mau makan dulu di warung-warung depan sana atau mau beli roti aja di supermarket?" tanya Gilang lagi.
Gue bingung, asli, "gue nggak berani makan di warung sendirian. Tapi kayaknya gue bakal pingsan deh kalau cuma makan roti."
Aduh, tolol.
Gilang tertawa terbahak-bahak.
Tuh kan, emang tolol banget gue.
Gue cuma diam.
"Jadi mau minta gue temenin makan di warung?" tanya Gilang.
Gue tetap diam.
"Yuk," sambil menggandeng tangan gue, Gilang menuju salah satu warung bubur ayam.
"Pak bubur ayam satu," teriak Gilang kepada pedagang bubur ayam.
"Lo nggak makan?" tanya gue heran.
Gilang menggeleng, "nanti aja."
Gue mendecak lalu berteriak, "satu lagi pak bubur ayamnya."
"Gue belom laper," ucap Gilang dengan nada tidak suka.
"Gue nggak suka makan sendiri," balas gue.
Lalu bubur ayam kami datang. Kami menyantapnya dalam hening.
Lalu tiba-tiba Gilang berkata, "lo nggak usah minjemin kita uang sebelas juta. Jumlah itu nggak sedikit."
"Gue minjemin Sani, bukan lo," balas gue sambil melahap satu sendok terakhir bubur ayam gue.
"Nit, dengerin gue. Gue dan Sani nggak mau elo ikut susah kaya kita. Gue dan Sani tau dulu gimana susahnya elo waktu kecil, jadi kalo sekarang lo udah hidup enak ya jangan ikut kita susah," ucap Gilang panjang lebar.
"Gue nggak ikut susah, Gilang. Gue cuma ikut bantu kalian berdua, emang salah?" balas gue.
Gilang diam, lalu, "gue takut nggak bisa ganti duit lo."
"Nggak usah diganti juga nggak apa-apa, Gi," ucap gue.
"Nggak apa-apa gimana? Itu sebelas juta, bukan sebelas ribu!" bentak Gilang. Beberapa pengunjung warung memperhatikan kami.
Gue menatap Gilang, masih ada sisa-sisa kangen gue ke dia. Masih ada sisa-sisa rasa kagum gue ke dia yang dulu pernah gue rasain. Masih, masih ada, dan masih sama.
Gilang yang dulu, yang ada di masa kecil gue adalah Gilang yang selalu ngebelain gue kalau gue berantem dengan anak dari kampung sebelah. Gilang yang nganterin gue pulang waktu Mama udah mengunci pintu karena gue pulang terlalu larut. Gilang yang selalu marahin Sani kalau gue berantem sama Sani, dan akhirnya gue dan Sani berbaikan karena takut sama Gilang.
Lucu, masa kecil gue dulu, gue merasa punya kakak laki-laki. Gue merasa punya pengganti Bapak, gue merasa punya sosok laki-laki yang gue kagumi. Gue punya Gilang, sebagai laki-laki yang eksistensinya berlebih dalam kehidupan masa kecil gue.
"Gi, sebelas juta itu nggak ada artinya kalau dibandingin sama eksistensi lo di masa kecil gue dulu," ucap gue, pelan.
"Tentang masa kecil itu harusnya nggak usah diungkit-ungkit lagi, Nit. Gue emang udah seharusnya jadi abang buat lo dan Sani," balas Gilang.
"Gue cuma mau berterimakasih sama lo berdua, dan biarin ini jadi satu-satunya cara buat gue berterimakasih,"
"Gue harus tetep ganti sebelas juta itu," ucap Gilang tegas.
"Lo bisa jual rumah lo itu, lalu tinggal dirumah kecil gue di Bandung. Gue punya rumah hasil tabungan gue disana, nggak terlalu jauh dari rumah orangtua gue. Lo berdua bisa tinggal disana," ucap gue.
"Nggak, nggak bisa," balas Gilang.
"Itu satu-satunya cara, Gi," ucap gue lagi.
Gilang menggeleng.
"Satu-satunya cara biar gue nggak terus-terusan kangen sama lo," ucap gue.
Sialan, mulut tolol ini emang harus dilatih buat ngomong sama Gilang.
"Nggak terus-terusan kangen sama Sani juga," lanjut gue, berusaha untuk seringan mungkin mengucapkan itu.
Tapi, Gilang udah terlanjur menatap mata gue. Tepat di mata gue, sampai seluruh badan gue kaku dan kuping gue berdenging. Jantung gue berpacu terlalu keras.
"Gue udah selesai, Gi. Gue mau pulang," ucap gue tiba-tiba.
Gue lalu membayar bubur ayam. Gilang masih duduk di bangku tadi, gue pun menghampirinya.
"Udah ya, Gi, gue pulang. Makasih udah nganterin gue sampai sini, bilang juga sama Sani, makasih udah nerima kunjungan gue dengan baik," ucap gue.
Gilang hanya terus menatap gue, dengan rahang keras yang dikatupkan.
"Gue antar lo sampai terminal," ucap Gilang.
Lalu dia berdiri, "ke bengkel itu sebentar yuk, gue mau minjem motor."
Gue mengikuti langkahnya ke bengkel yang dimaksud.
Lalu beberapa saat kemudian Gilang sudah mengendarai motor dengan gue di belakangnya.
Beberapa menit kemudian kami sampai di terminal, gue turun dari motor diikuti Gilang.
"Gue mau tinggal di Bandung, di rumah lo," ucap Gilang.
Entah senyum macam apa yang gue tunjukkan saat itu, yang pasti itu membuat Gilang terkekeh.
"Bilang sama Sani, besok udah harus siap. Gue akan bawa mobil ke sini, kalian berdua akan ikut gue," balas gue.
Tiba-tiba Gilang memeluk gue.
Aduh, Gi, ini terminal.
"Terimakasih banyak,"
"Sama-sama, Gilang,"
Dan akhirnya, malam kamis ini, gue dan Gilang sedang duduk-duduk santai menunggu Sani menyelesaikan masakannya untuk makan malam kami.
"Gi, nggak nyangka kita bertiga akan berakhir begini," ucap gue, sambil rebah di bahunya.
"Gue sih udah nyangka kalau gue akan bareng-bareng terus sama lo, entah berapa lama kita pisah," balas Gilang sambil tertawa pelan.
Kok gue nggak nyangka sih, Gi?
-Bandung, Mei 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar