Gue remaja perempuan hampir 18 tahun, tinggal di Bekasi sampai dua minggu setelah UN ini. Bukan, bukan berarti gue mau cerita tentang kegalauan gue dan laki-laki tai kucing yang baru mimpi basah. Bukan, jelas bukan. Gue sedikit berbeda dengan remaja kebanyakan, atau bisa dibilang otak kecil gue nggak mampu untuk menciptakan memori imut bersama laki-laki. Entah.
Gue mau cerita tentang orangtua gue. Gue dua bersaudara, gue anak kedua dan punya kakak perempuan yang manis dan masih sekolah. Sayangnya, kecenderungan kakak gue yang manis ini adalah menghabiskan uang orangtua gue, sayangnya. Namun, berbeda dengan gue yang otaknya kecil dan cuma suka masak atau kongkow nggak jelas, kakak perempuan gue lebih besar otaknya dan berorientasi masa depan. Dia orang yang punya sistem sempurna, sekalipun borosnya amit-amit.
Dan, gue punya Mama dan Papa yang sayangnya nggak pernah mengerti gue. Sayangnya lagi.
Jadi ketika gue tanya apa yang mereka mau dari gue, mereka menjawab;
"Mama tuh mau kamu kayak kakak. Belajar, main, shopping, punya rencana. Kamu tuh nggak teratur, sayang, seenaknya," itu kata Mama.
Well, Ma, bisa nggak hilangkan kata 'sayang' disitu. Kalau Mama ngomong gitu, it's mean that Mama nggak sayang sama aku.
Enggak, gue nggak ngomong gitu ke Mama, gue diem aja. Cukup bayangin aja, kalo gue ngomong gitu ke Mama, maka balasan Papa adalah;
"Kamu kalau ngomong yang sopan! Memangnya Papa sama Mama pernah ngajarin kamu ngomong nggak sopan gitu?! Hah?!"
Papa orang Batak yang lama tinggal di Jakarta. Jadi yang tersisa dari bataknya hanyalah nada bicara yang keras, padahal harusnya banyak sisi dari orang Batak yang gue suka. Tapi sisi yang tersisa dalam diri Papa bukan salah satunya.
And see, gue nggak mau ngomong kasar ke Mama, bukan karena nggak berani, tapi lebih karena apa yang akan Papa balas ke gue. Dan itu benar-benar bikin gue muak, muak banget.
Seharusnya Papa sadar bahwa yang membuat anak-anaknya bicara kasar adalah dirinya. Karena nada bicara Papa yang kasar, karena bentakan-bentakan Papa saat sebenarnya kami hanya bicara biasa saja. Dan karena, khususnya dalam kasus gue, Papa selalu kontra sama apapun yang gue sampaikan. Begitu. Jadi bisa lo bayangkan, bagaimana mulut gue harus benar-benar gue jaga biar orang lain nggak tersakiti, seperti gue yang selalu tersakiti kalau Papa nggak menjaga mulutnya.
Kelihatannya, gue nggak bersyukur ya karena masih punya orangtua? Ya, kan? Oh well, lo harus cicipi dulu tinggal bersama kedua orangtua gue, baru lo tau apa arti 'bersyukur' yang sebenarnya. Disamping mereka adalah orangtua gue, kami adalah individu yang berbeda. Dimana setiap individu hidup untuk mencapai tujuan dan menyelamatkan diri. Gue pun begitu;
"Sayang, Mama mau kamu berhenti merokok. Kamu kan cewek, nggak bermoral kelihatannya kalau kamu merokok," itu kata Mama saat ngeliat gue duduk di jendela kamar sambil berasap-asap ria.
"Mama tau nggak kalau aku merokok karena apa? Karena Papa juga merokok, Ma," jawab gue.
"Tapi kamu nggak harus mencontoh yang jelek-jelek. Kamu contoh dong Papa yang bertekad keras, Papa yang berani, Papa yang mampu mengatasi masalah. Yang jelek-jelek itu ya nggak usah kamu ikutin," kata Mama, lembut. Kebetulan Mama orang Solo, yang mengukir sejarah baru di kampungnya karena kepentok sama orang Batak.
"Aku nggak tau mana yang buruk dan baik. Bukan aku yang harus memilah mana yang boleh dicontoh atau engga, tapi Papa yang harus memilah mana yang harusnya ditunjukin ke anaknya, mana yang engga," jawab gue. Lalu membuang puntung rokok gue ke asbak, pergi dari Mama. Beliau cuma bisa menghembuskan napas. Itu cara menyelamatkan diri dari racauan orangtua gue yang suka ngelantur menyalahkan gue.
Biasanya, kalau nggak sekolah, gue mulai nongkrong di warteg punya kakaknya temen gue dari pagi sampe sore. Warteg sederhana yang teh manisnya jempolan. Biasanya gue bantuin masak disana, sampai diusir-usir sama kakaknya temen gue yang nggak suka liat gue bolos. Yeah, otak kecil gue nggak bisa keseringan sekolah, takut overload.
Tapi seringnya, kakak perempuan gue yang manis suka mergokin gue di warteg itu, atau kalau malam di angkringan sambil minum wedang jahe dan jajan rokok. Biasanya kakak gue langsung narik gue ke mobilnya, dan nangis sambil ceramah sampai depan pagar rumah kami. Hebat ya dia, kok kuat ceramah sambil sesenggukan gitu ke gue yang bahkan nggak dengerin.
"Kamu tuh jangan gini. Kasian Papa sama Mama kalau ngeliat kamu nakal begini. Kamu sama aja ngancurin hidup kamu sendiri," pasti begitu dia ngomongnya.
"Gue sampe hafal loh omongan lo, keseringan mergokin gue sih lo. Gue begini nih, lo pikir kenapa? Karena apa karena siapa? Ya karena mereka, siapa lagi kan? Gue tuh cuma dipengaruhi sama mereka," balas gue. Mencoba membuat kakak gue ini mengerti sesuatu, yang selama ini seringnya dia tolak untuk mengerti.
"Mereka nggak mempengaruhi kamu. Mana ada orangtua yang mempengaruhi kejelekan ke anaknya?" balas kakak gue.
"Mungkin karena gue kalo dirumah makan yang haram mulu kali ya, jadi nakal begini," balas gue sambil mendengus.
Kakak gue terkesiap, "kamu ngomong apa sih? Kamu tuh nggak boleh ngomong gitu! Kamu kira mereka cari uang buat siapa? Ya buat kamu, buat aku. Kamu kok bisa-bisanya ngomong gitu!"
"Kak, lo bukannya nggak tau kan kalo Papa itu korupsi besar-besaran di DPRD, hm? Itu hal lumrah, gue tau, nggak ada anggota dewan yang suci. Tapi gue jijik kak, bahkan gue jijik sama Papa gue sendiri," jelas gue, tenang. Kalo dibentak, kakak gue bisa nangis, bahaya.
"Papa kayak gitu buat kita, cuma buat kita. Papa nggak akan kayak gitu kalo dia nggak punya mimpi buat bikin hidup anaknya layak," kakak gue mulai bengong-bengong nangis. Aduh.
"Dan lo pikir caranya bener? Lo tau nggak bahkan dengan duit haram, bisa bikin hidup ancur, anak istri nggak bener. Tuhan itu punya balasan buat manusia. Dan gue adalah balasan dari Tuhan buat Papa," gue mulai serius. Bayangin, mobil udah berhenti gitu aja dipinggir jalan, dan gue harus menyadarkan kakak gue.
"Tapi Papa tetep sayang sama kamu, dia tetep Papa kamu apapun kesalahan yang dia lakuin, dia tetep Papa,"
"Emangnya gue yang mau jadi anak Papa? Kalo bisa milih sih, mending gue jadi anak Pak Darmo supir Papa," balas gue enteng.
"Nyatanya engga, kan?"
"Iya, nyatanya gue lahir di keluarga Bapak Halim Lubis si koruptor dan Ibu Runi Ambarwati si pengurus asosiasi yang suka mangkir. Dan lo mengharapkam gue jadi anak baik? Gue aja sampe nggak habis pikir, gimana bisa lo jadi anak yang manis gini di tengah keluarga yang antah-berantah!"
Iya, nyatanya begitu. Dan sumpah demi apapun, gue nggak pernah berniat membangun keluarga kaya yang tersistem dengan uang. Gue mau keluarga yang sederhana, bukan kayak keluarga gue. Dan kalau mau jadi orangtua nanti, gue nggak mau jadi seperti Papa atau Mama.
Nyatanya Mama adalah anggota asosiasi peduli lingkungan hidup yang sukanya cuma ngambil tur atau acara jalan-jalan yang katanya survei. Tapi Mama nggak pernah benar-benar peduli lingkungan. Mama suka pulang malam atau malah nggak pulang karena kongkow sama temen-temennya. Mama lebih suka hidup yang dipandang baik luarnya oleh semua orang, dibanding hidup yang kebaikannya mengakar dari dalam sekalipun luarnya nggak penuh pencitraan. Mama suka citra yang bagus didepan orang-orang, dibanding citra yang bagus didepan anak-anaknya.
Lalu Papa adalah koruptor yang bahkan nggak peduli pendapat anaknya. Papa bukan contoh yang baik, bukan.
Dan gue mana bisa hidup baik di tengah keluarga yang begini. Gue yang pemikirannya selalu terlalu dalam sampai pemikiran itulah yang akhirnya menjebloskan gue ke dalam dilema gue sendiri. Dilema apakah ini semua harus disyukuri atau diadukan. Dilema apakah ini harus dielu-elukan ataukah dipertanyakan diam-diam.
Sebagai orangtua yang menuntut gue agar menjadi baik, harusnya mereka juga menunjukkan kebaikan kepada gue. Bukannya melakukan kejahatan seakan itu lumrah untuk dilakukan. Mereka menuntut gue, namun tidak memberi pengertian pada gue. Mereka ingin gue menurut, namun tak beri contoh yang baik agar gue bisa mengikuti.
Bicara soal orangtua, mungkin diluar sana banyak anak-anak yang sedih karena orangtuanya bercerai, meninggal, sakit, atau apapun. Namun percayalah, lahir didalam keluarga kaya dan punya orangtua bobrok adalah masalah yang pahit. Gue hampir nggak bisa membedakan mana benar atau salah, semua abu-abu dengan segala kilatan kemunafikan.
Dan gue hampir lupa bagaimana bahagia itu. Karena semua disekeliling gue, orang-orang yang tidak bahagia ini, selalu memakai topeng kebahagiaan yang membuatnya rancu. Yang membuat gue hampir percaya, namun sudah puluhan kali memikirkan ulang, gue memang harus bertanya apa itu bahagia.
Gue sampai lupa bahwa sebenarnya ada hubungan batin antara anak dan orangtuanya. Gue lupa karena selama ini, yang gue tau adalah kami ini individu yang berbeda dan punya kepentingan yang berbeda pula. Gue dan orangtua gue nggak punya hubungan batin itu, yang tersisa hanya darah yang katanya kental. Entah bagaimana dengan kakak gue.
Well, sudah terlalu malam. Gue harus membawa kakak gue pulang, tanpa tergores sedikitpun, terutama hatinya. Gue nggak mau, seseorang yang manis dan baik hati ini terluka dengan kemunafikan dan linglung karena kebingungan. Kakak gue harus jauh dari kedua hal itu, kedua hal yang selama ini menggelayuti gue.
"Ayo kita pulang, Mama nanti nyariin lo," ajak gue.
"Kayaknya malam ini Mama nggak pulang lagi. Kaya kemarin dan dua hari lalu," jawabnya.
Oh dia sudah sadar rupanya bagaimana Mama tersayangnya itu.
"Kadang gue mai ngerasain pulang pagi, kaya yang sering lo lakuin," ucapnya sambil tertawa sedikit.
Gue menyalakan rokok lalu membuka jendela mobil. Sambil menghembuskan asapnya, gue bilang, "jangan, lo orang baik-baik."
Kira-kira, orang baik-baik macam apa kakak gue ini yang lahir di keluarga munafik?
Namun gue sadar, mungkin dia membentuk pribadinya sendiri dan mampu membangun kebaikan itu dalam dirinya. Mungkin.
Nggak seperti gue, yang bukan hanya badannya yang dilahirkan seperti orangtua gue, namun juga sifatnya yang merupakan kombinasi terburuk dari keduanya.
Bagaimanapun, seorang anak adalah hasil dari orangtua, entah itu sifat atau raganya. Ia dibentuk oleh orangtua, entah itu buruk atau baik, itulah hasilnya.
Lalu harusnya orangtua bercermin dan berkata, sudahkah aku baik untuk menjadikan anakku baik pula?
Sayangnya, orangtua gue nggak suka bercermin. Sayangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar