Minggu, 17 April 2016

My Cancer

Mungkin begitu manis saat membaca kisah romantis dengan penyakit kanker didalamnya. Seperti bagaimana yang ditulis John Green atau Nicholas Sparks, mereka begitu indah dengan kisah cinta kanker yang manis sekaligus ajaib.
Tapi bagaimana jika aku menulis kisahku sendiri? Kankerku sendiri. Aku, perempuan berumur hampir 18 tahun dan baru selesai UN, pengidap kanker pankreas stadium akhir. Juga sedang makan apel saat menulis ini.
Mungkinkah kalian, akan menganggap ini seajaib kisah yang ditulis John Green dalam The Fault in Our Stars, atau semanis kisah Landon dan Jamie yang ditulis Nicholas Sparks dalam A Walk to Remember?
Kenyataannya tidak. Hanya ada pil-pil yang membungkus harapan sembuh, padahal bodoh jika masih berharap. Kenyataannya adalah, secepat itulah kankerku berkembang. Kalau Steve Jobs wafat 7 tahun setelah didiagnosis kanker pankreas, ajaibnya aku mungkin akan mati dua bulan lagi dan itu berarti kurang dari 5 tahun setelah didiagnosis kanker. Kenyataannya adalah, kankerku sangat ganas, dan aku tak punya kendali pada tubuhku, kanker menjajahku. Tapi orang-orang tak akan mengira aku mengidap kanker, karena aku memang dilahirkan dengan tubuh luar biasa kurus, pipi tidak berisi dan wajah yang tak pernah berbinar segar. Aku dilahirkan menyedihkan, namun itu membuatku bisa menyembunyikan penyakitku dari orang-orang.
Maksudku lumayan tersembunyi. Karena faktanya, tiap kali aku minum obat disekolah, itu membuat beberapa temanku penasaran obat apa itu, aku sakit apa, dan sebagainya. Menyedihkan saat aku jujur, jadi aku berbohong kalau aku tidak tahu itu apa dan hanya meminumnya karena ibuku. Untungnya, mereka percaya, dan hanya terus begitu sampai kami berpisah setelah UN. Ibu mengerti bahwa dibanding rasa sakit saat dikemo dan wajah yang jelek setelah itu, aku lebih baik bersenang-senang dan bersikap tidak peduli. Dan memang itulah yang aku lakukan ditengah-tengah rasa sakit yang melandaku mulai dari perut dan pencernaan sampai seluruh tubuhku bahkan ujung jariku.
Itu tidaklah penting dibanding seluruh kepura-puraanku diluar rumah. Aku aktif di sekolah, mengumpat jika marah, berteriak jika kesal, memperhatikan cowok-cowok keren, menulis puisi, belajar memasak, malas belajar. Dan begitulah, aku tetap berperan sebagai remaja bodoh padahal sudah mau mati.
Tapi percayalah, bukan itu poin pentingnya. Sekali aku menyerah untuk hidup normal, saat itulah aku akan terkapar dirumah sakit yang harusnya sebulan tapi hanya kulakukan 3 hari. Aku meyakinkan dokter bahwa orangtuaku pasti tidak bisa membayar biaya rumah sakit, dan pada akhirnya aku juga akan mati selama apapun aku dirawat disana. Jadi dokter membiarkan aku pulang.
Hidupku sesingkat 18 tahun dan semenarik itu dengan kebohongan. Tapi aku punya banyak cara untuk bahagia. Yang aku tidak bisa jelaskan di blog karena nanti orangtuaku akan membacanya. Yang penting dalam hidupku adalah aku, hidup sebagai manusia normal dengan 4 tahun kanker yang menjajahku. Tidak perlu kasihani diriku, aku sudah puas kasihan dengan diriku sendiri.
Karena faktanya, aku menyesal tidak mencari bahagiaku sejak dulu, sejak aku masih benar-benar normal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar