Jakarta, 15 Juli 2015
Jam habis maghrib sama dengan jam pulang kerja dikali macet dibagi rame-rame. Gue hafal, hafal banget, setelah dari lahir sampe umur 28 tahun begini menetap di ibu kotanya Indonesia. Luar biasa hebat sih, cukup bangga sama diri sendiri.
And for your information, gue ngga menyalahkan kemacetan sama sekali, karena bagaimana pun, gue adalah kemacetan itu sendiri. Jadi, kali ini dengan heroiknya gue pulang dari kantor, langsung sehabis gue melipat mukena selesai sholat Maghrib. Nggak pake nunggu-nunggu jam abis Isya, masa bodo yang penting gue sampai di rumah mertua lebih cepat seperti yang belakangan gue lakukan. Kenapa?
Karena dari beberapa bulan lalu, gue merasa kedua mertua gue udah muncul taring dimulutnya lantaran gue nggak juga berhenti kerja. Mereka ingin gue mengurus anak gue, Rima, dengan baik dan menjadi ibu rumah tangga teladan. Bukannya jadi konsultan pasangan suami-istri yang biasanya rumah tangganya bermasalah, kata mertua lebih baik bangun rumah tangga sendiri yang jelas dan nggak abu-abu kayak sekarang.
Wow, abu-abu ya. Ternyata rumah tangga gue abu-abu, marriage life gue abu-abu (kecuali Rima Hujan yang malah kayak pelangi buat hidup gue).
Suami gue, juga abu-abu. Bukan, tapi bukan abu-abu monyet dan kayak monyet. Suami gue ini beda jauh sama monyet, dia emang nggak ganteng-ganteng amat, tapi kaya-raya banget.
Orang kaya-raya nggak ada yang mirip monyet.
As rich as I want he to be, dia jadi pengusaha hotel dan restoran bintang lima di Bali. Dan, dulu gue segera menerima lamarannya, sebelum dia sadar mungkin gue bukan perempuan yang tepat. Tapi, mungkin kami adalah pasangan yang tepat, mungkin, karena mau berjuang untuk satu sama lain sekaligus mau diperjuangkan.
Gue dan Bas (suami gue) adalah pasangan yang rasional, kami 'menikahi' semua lapisan sosial kami dan baik-baik saja sampai kami memiliki Rima, kebahagiaan kami nomor satu. Kami kira Rima nggak akan menghalangi karir kami, Bas yang bolak-balik Jakarta-Bali, gue yang mengarungi macetnya Jakarta. Lalu kami titip Rima di Ambu, ibu mertua gue, yang judes abis. Dan memang bukan Rima masalahnya, masalahnya adalah Ambu.
Tapi, mungkin Bas adalah laki-laki kaya yang baik plus romantis, yang dalam khayalan remaja gue dulu adalah si future husband. Namun, keromantisan dan kebaikkannya seperti entah. Eksistensinya masih kurang dalam hidup gue dan Rima, dia lebih eksis di majalah SWA.
Dan itulah yang bikin bahagianya gue dan Bas, atau bahagianya gue pribadi seperti abu-abu.
Abu-abu.
Lalu,
Gue jadi teringat seorang senior gue di SMA, seorang cowok dan belum pria. Namun, saat itu pencariannya tentang bahagia, cinta dan hal-hal kecil yang 'abu-abu' dalam hidupnya menjadi ingatan yang saat macet begini terulang di otak kecil gue.
Penetapan hatinya tentang cinta yang lalu mengkhianatinya, lalu mulai kembali berulah pada beberapa hati sebagian besar anak perempuan di sekolah gue. Saat itu gue sadar, laki-laki ini berbeda didalamnya, dan benar saja, ternyata dia mencintai sahabatnya dan takut kehilangan. Kalau Kahlil Gibran pernah bilang, tidak akan pernah ada persahabatan diantara perempuan dan laki-laki, itu jelas tepat sekali untuk kasus senior gue ini. Dan gue bilang ke dia, "saat jatuh cinta, kita harus buru-buru merealisasikannya. Jangan nelangsa nahan cinta yang harusnya bahagia."
Lalu pencarian arti 'ikhlas' oleh senior gue ini. Dengan penjelasan tentang ikhlas dari gue yang bunyinya "we can do nothing" dia nggak juga paham. Sembahyang dengan ikhlas artinya tanpa disuruh, menurutnya, jadi saat disuruh sholat dia merasa gagal untuk sholat dengan ikhlas.
Gue kembali mengulang semua percakapan dan diskusi itu di dalam kepala gue. Saat gue pikir itu cuma omong kosong dari seorang remaja yang akan beranjak dewasa, ternyata memang hanya diputaran itulah kita mencari hakikat sebenarnya dari hidup yang abu-abu ini.
Mungkinkah pikiran gue baru beranjak dewasa saat usia gue udah 28 tahun?
Dan, apakah gue udah bisa menjadikan jawaban gue ke senior gue dulu itu sebagai pandangan hidup gue? Apakah buru-burunya gue dulu saat nerima lamaran Bas adalah perealisasian cinta gue? Apakah gue dulu jatuh cinta sama Bas kayak senior gue yang jatuh cinta sama sahabatnya? Kejamnya, pernahkah gue jatuh cinta sama suami gue yang merupakan future husband gue saat remaja? Pernahkah?
Lalu selama ini, dengan menikahi seluruh lapisan sosialnya suami gue, berdamai dengan Ambu yang judesnya minta ampun, apakah itu yang dinamakan ikhlas? We can do nothing, kan? Lalu apa yang bikin gue bisa seikhlas itu?
Dan, dimana masa 'jatuh cinta'-nya gue? Pernahkah gue jatuh cinta? Apakah hati gue setenang itu, nggak pernah menggebu karena cinta? Karena patah hati? Karena cinta monyet? Ah monyet lagi.
Gue, umur 28 tahun, punya suami dan satu anak, belum pernah jatuh cinta.
Ternyata gue hanya mengikuti tradisi menikah setelah lulus kuliah pada usia 23 tahun. Mendapat future husband yang keromantisan dan kebaikkannya cuma ada kalo dia lagi ada. Mendapat lingkaran kerabat baru dan harus luwes menjalankan beberapa peran dengan topeng yang diberikan langsung oleh mereka; 'si wanita paling bahagia karena nikah dengan pengusaha dan punya anak gadis cantik'. Terus mereka merapal, semoga bahagia selalu ya.
Terus apa arti bahagia sebenarnya? Begini? Kayak yang sedang gue alami ini? Sebatas ini? Begini doang? Terus kenapa orang-orang ribet nyari bahagia? Toh cuma begini, nggak perlu diagung-agungkan, cuma sebatas ini aja kok.
Atau, ternyata bukan ini yang orang-orang cari? Bukan bahagia ini yang mereka cari? Bukan begini seharusnya bahagia? Jangan-jangan, gue juga belum bahagia, namun dibohongi oleh orang-orang yang bilang gue bahagia.
Gue, 28 tahun, seorang konsultan pasangan suami-istri, nggak tahu bahagia. Dibohongi soal bahagia pula.
Lalu gue harus apa? Susah-susah nyari laki-laki yang bisa bikin gue menggebu, patah hati, lalu berbunga, lalu apa? Atau biarkan begini, punya suami sering muncul di SWA, kaya dan romantis, tapi eksistensinya kurang, lalu apa?
Ikhlas, we can do nothing.
Sekalipun ada lubang-lubang hampa dalam hati dan jiwa gue. Sekalipun ada suara-suara yang masih bertanya. Sekalipun ada hati dan jiwa yang masih mencari. Gue nggak bisa ngelakuin apapun. Tapi gue yakin, pengertian ikhlas yang begitu adalah salah. Ikhlas adalah saat gue cuma nyaman dalam melakukan, tanpa dipaksa juga berharap. Gue? Berharap iya, dipaksa iya. Entah berharap apa, dan dipaksa oleh siapa.
Lalu, gimana lubang, suara, jiwa dan hati gue?
Mungkin Bas dan Rima bisa menjadi jawaban atas semua tanya dan juga cari yang masih gue lakuin. Mungkin gue hanya harus membiarkan sesuatu, apapun itu, membuat gue merasa beruntung karena tak lebih jauh mencari dan bertanya.
Entah. Apapun itu, gue membiarkan dia datang.
Sekalipun dia adalah teman kuliah yang dulu gue tolak cintanya.
Eh apaan sih, kok sampe nyambung ke masa kuliah?
By the way, ini macet belum kelar juga ya. Sampai lamunan gue abis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar