![]() |
| Photo by Wendy Laurel |
Baik, aku akan ceritakan pertemuanku dan Mia dengan Alex. Everyone please compliment me and Mia, kami berdua adalah perempuan terkuat sejagat.
Hari itu adalah dua hari setelah Natal, Alex baru menemui kami di hotel. Which was, pada hari Natal aku dan Mia hanya berdua di hotel padahal aku mengundang Alex untuk datang. Well, dua hari setelah natal itu, Alex datang dengan membawa anak anjing untuk Mia, dia bilang itu hadiah Natal dan permintaan maaf karena tidak bisa merayakan Natal bersama kemarin.
Namun, Alex sama sekali tidak meminta maaf padaku. Aku benar-benar terkejut. Seolah-olah menurutnya tidak terjadi apapun pada kami sebelumnya. Seolah-olah Mia hanya anak gadis biasa yang dikecewakannya saat Natal, dan bukannya buah hatinya yang ditinggal olehnya saat masih dalam rahimku. Apapun, kami berdua ini, aku dan Mia, harusnya adalah sesuatu miliknya, bukan hanya dua perempuan biasa yang minta bertemu.
"Jadi, kapan kau akan kembali ke Indonesia?" tanya Alex.
God. Itulah hal pertama yang ditanyakannya padaku.
"Entahlah. Mungkin besok sore atau lusa," jawabku, terkejut dengan ketenangan suaraku.
"Well, aku bisa mengantarmu ke bandara kalau kau mau," ucapnnya, sambil menatap Mia yang penasaran menatap aku dan Alex bicara sangat fasih dalam Bahasa Inggris.
Lalu, "Alex, apakah ini terasa seperti aku dan Mia bukan siapa-siapa? Apakah kau tidak merasa bahwa harusnya kau ada untuk kami?" cecarku.
Alex mengedikkan bahu, "entahlah. Kenyataannya aku sudah menikah dan aku mencintai istriku."
Aku terdiam. Rasanya sakit, namun entah, aku mengambang dalam gamang.
"Aku tidak lagi bicara tentang cinta denganmu," desisku tajam.
"Tapi harusnya kau paham kenyataan!" balasnya.
"Kenyataannya adalah Mia itu anak kandungmu dan kau berhutang tanggung jawab denganku!" jeritku.
"Mum..." bisik Mia, gemetar melihat Mum-nya hilang kendali.
"Mia aku mohon keluarlah dulu. Cari udara segar atau makan waffle di cafe hotel. Mum akan menyusulmu nanti," ucapku.
Lalu Mia keluar dengan membawa mantel dan anak anjing barunya.
"Alex aku mohon, sekalipun aku ini tidak berarti bagimu, namun tataplah Mia. Sayangi dia, Alex," ucapku.
"Bagaimana aku bisa menyayangi anak kecil yang baru saja aku temui setengah jam lalu? Bagaimana aku bisa yakin bahwa dia adalah anak gadisku?" tanya Alex bertubi-tubi.
"Aku sudah menjelaskannya padamu dulu," balasku.
Alex menatapku dalam, "bagaimana aku bisa yakin bahwa kau hanya tidur denganku?"
Cukup Alex, aku muak. Inikah Ayah dari anak gadisku yang baik hati?
"Cukup ALex, sekarang pergilah. Jangan temui aku dan Mia lagi," desisku.
"Kabari aku jika kau akan pergi, aku akan mengantar kalian ke bandara," ucap Alex sebelum keluar kamar.
What the hell it is.
Beberapa saat kemudian Mia masuk, melihatku bersandar pada meja yang tadi menghidangkan teh untuk Alex. Aku belum sempat menangis.
"Mum," panggilnya
"Yes?"
"Anak anjingnya aku berikan ke penjaga pintu hotel. Aku nggak mau bawa dia pulang," ucapnya.
"Kenapa nggak mau?" tanyaku.
Mia menghembuskan napas, "karena pemberinya itu menyebalkan, dan kau kayaknya nggak suka dia."
Salah Mia, dulu aku jatuh cinta pada Alex.
"Laki-laki tadi itu ayahmu, sayang," bisikku.
"Mum, mau tahu nggak? Kau memang menyebalkan dan jahat sama aku. Dan kau juga bodoh karena mengajakku ke London cuma untuk ketemu orang menyebalkan itu," ucap Mia, menohokku dalam.
Aku menghembuskan napas, "Entahlah Mia, aku cuma ingin kau ketemu sama dia."
"Kalau Mum nggak suka, aku juga engga," balas Mia.
Aku mencintaimu Mia.
Lalu aku memeluk gadi kelas tiga SD itu
"Kapan kita pulang? Aku nggak suka disini," ucap Mia.
"Besok mungkin,"
Lalu Mia mengangguk semangat.
Mia adalah satu-satunya yang aku punya saat dunia meninggalkanku sendirian.
Menjadi singlen paren tentunya bukan mimpiku karena mimpi sejak remaja dulu adalah tinggal di rumah mungil bersama anak-anakku dan juga lelaki idamanku. Namun, sekalipun Alex adalah lelaki idamanku, aku juga tak pernah bermimpi untuk hidup bersama pria brengsek yang meninggalkan wanitanya saat sedang hamil anaknya. Tidak, aku bahkan tak pernah memikirkan lelaki seperti itu.
Aku memilih hidup bersama Mia saja.
"Mum, ngomong-ngomong, dimana sih Mum ketemu dia?" tanya Mia padaku.
Aku jawab, "di London"
"Saat kau sekolah di sini ya?" tanyanya lagi.
Ya, aku bertemu Alex saat aku belajar tentang bisnis di sini. Ayahku punya perusahaan besar di Jakarta dan Ibuku punya beberapa hotel dan rumah makan di Bali. Aku anak tunggal mereka, yang kebetulan sangat pintar dan penurut waktu itu. Sewaktu remaja, aku punya mimpi bertemu pangeran dan bahagia dengannya sampai mati.
Lalu aku bertemu Alex dan sosok pangeran itu ada dalam dirinya. Aku dan Alex hanya bertemu dua kali waktu itu, lalu kami melakukan sesuatu yang seolah-olah benar. Aku seperti berlabuh waktu itu dan mengira, inilah akhir pencarianku, sudah kutemukan pangeranku.
Namun setelahnya, aku hanya merasa mimpi beserta pangerannya adalah omong kosong. Saat diberitahu aku hamil, Alex pergi entah ke bagian mana dari London. Aku memulai untuk mati, semua rencana tersusun namun Mia yang ada di perutku seperti sudah menyayangi ibunya.
Mia menghidupkan aku.
Lalu aku pulang ke Indonesia, dan duniaku berubah. Tak satu pun menerimaku. Tidak ada lagi ayah yang hebat dan ibu kaya raya, tidak ada gemerlap lagi dalam hidupku. Semua seperti hilang, bahkan diriku yang pintar juga penurut. Dunia meninggalkan aku.
Tapi lalu bersama Mia, aku menemukan kebenaran yang mungkin terlewat sebelumnya. Aku mulai membentuk hidup dengannya, hidup baik dan damai di apartemen kecil warna pink di Jakarta. Walaupun terkadang ada pertengkaran karena lidah tajamnya, namun aku memang menginginkan itu.
Aku berhutang banyak pada Mia, anak gadisku.
"Mum, aku bertanya," Mia membuyarkan lamunanku.
"Ya, waktu aku sekolah bisnis disini. Sudahlah, tak ada gunanya bicara tentang itu. Kau ingin makan malam apa?"
"Ayo kita keluar, sambil mencari oleh-oleh buat Eda," ajaknya semangat.
"Baiklah tuan putri," jawabku.
"Oh Mum! Kali ini aku akan mentraktirmu es krim!" ucap Mia.
"Apa kau membawa uang?"
"Aku sudah menabung untuk Natal dan London kita. Ayo kita senang-senang!"
Dan kami berdua menemukan bahagia kami sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar