Sabtu, 14 Februari 2015

Jiwaku

kadang, dari ribuan jiwa yang bersemayam di berbagai raga membuat masing-masing dari kami buyar. kami tidak bisa beradaptasi dengan jiwa A, atau terlalu takut dengan jiwa C, bahkan terlalu kasihan tapi sebenarnya tidak bisa begitu pada jiwa B.
sore ini waktunya untuk terserah. terserah pada siapa jiwamu akan berlabuh, pada apa jiwamu akan bersemayam. tentu saja, jiwaku juga begitu.
malam ini aku tahu jiwaku bersemayam dalam raga seorang gadis cantik dengan blus selutut berwarna hijau. jiwaku bersemayam gelisah di sana, pasalnya, gadis ini tidak memiliki sesuatu yang bisa membuat jiwaku melihat. gadis ini buta. tapi gadis ini tidak tuli juga tidak bisu.
"selamat malam," sapa jiwaku.
gadis itu tersenyum, mudah-mudahan jiwaku adalah yang mempengaruhinya untuk tersenyum.
suasana hatinya baik, hatinya bersih tapi tak tenang. sebelum jiwaku datang, sepertinya ruang untuk jiwa kosong karena di sana sangat berdebu.
"hei gadis buta gila!" teriak sebuah suara. jiwaku tidak bisa melihat siapa yang berteriak, gadis ini buta.
gadis ini tersenyum, diiringi tawa mengejek orang yang berteriak.
"aku ini gila, aku ini buta. tapi bukankah aku ini sangat cantik?" gadis itu berbicara .
oh dia bicara pada siapa? pada jiwaku?
"aku ini tak punya jiwa sebelum kamu, ruang untuk jiwaku ini kosong. ah tidak, ruang itu diisi oleh olok-olok jiwa yang lain"
kasihan sekali dirimu.
"aku mengenaskan. tapi setidaknya sekarang aku memilikimu. tolong jangan tinggalkan aku."
oh jiwaku tersentuh. oh betapa menderitanya raga gadis itu tanpa jiwa. oh jiwaku memilih bersemayam di sana.

tentu saja boleh.

ragaku telah diisi oleh jiwa yang lain.

tapi jiwaku, baik-baiklah di sana. selamat tinggal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar