Pukul 23.45, aku menerima sebuah email dari seorang teman, teman yang sangat dekat denganku. Begini isinya:
My Dearest friend,
sudah lama aku tidak mengirim email untukmu. bagaimana kabarmu? semoga kau baik saja, sebab kau selalu ada di setiap doaku.
masihkah hatimu sebeku dulu? masihkah ingat perkataanku tentang 'cinta selalu dibayangi kehilangan'? sebab itu kau tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah mau.
yang selalu aku sebut cinta itu, kau lebih senang menyebutnya sayang. kau tidak pernah suka dengan orang-orang yang dengan lekas menyebut 'sayang' sebagai 'cinta'. tidak, aku selalu ingat kau tidak pernah suka. dan aku adalah salah satu dari orang-orang itu.
saat kau bilang bahwa cinta hanyalah fatamorgana, saat itu pula aku tahu bahwa kehilangan sedang membayangi cintaku padamu. katamu, kau sayang denganku, tidak cinta. tapi asumsiku, sayang masih satu tingkat dibawah cinta. sayang tidak serupa dengan cinta.
katamu, sayang itu lebih halus dibanding cinta. katamu, cinta itu lebih berapi-api, sedangkan sayang itu lembut. aku tidak pernah mengerti.
dua tahun aku meninggalkan cinta, meninggalkanmu. lalu aku harus apa saat di setiap malamku selalu ada dirimu yang bermain di benakku? katakan aku harus apa, Tih? menurutku, aku harus kembali, padamu.
sebab sejujurnya aku merasa kau mencintaiku -- atau apapun kau menyebutnya -- tapi aku tak pernah benar-benar bisa memilikimu, karena kau tak pernah membiarkan dirimu terikat oleh apapun.
sebab kau bilang bahwa cinta -atau sayang- itu membebaskan, jadilah aku membebaskanmu. aku biarkan kau terbang kemana pun seperti dara, tapi tak pernah sekali pun aku membiarkanmu berhenti pada satu dara jantan lain, selain aku.
jaga dirimu baik-baik, aku hanya meracau di malam yang sepi ini. sepertinya aku akan kembali, karena aku juga haus akan dirimu. karena aku juga tak semulia itu melepaskan daraku terbang terlalu lama. karena sejujurnya, aku ingin membuat daraku kembali.
-Ur friend, Garda
malam itu aku tercenung. malam itu terasa panjang. malam itu aku mulai menerka-nerka sebeku apa hatiku ini, senaif apa diriku ini.
malam itu, aku mulai menyerah pada sayang -atau cinta. malam itu aku menuruti keinginan apapun itu yang ada dalam diriku.
jadi, malam itu, pukul 00.12, aku membalas email temanku itu:
my dearest friend
jadikan aku tempatmu pulang. kembalilah.
-Ur friend, Ratih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar