Setiap pulang sekolah, sewaktu SMP dulu, aku sering berkunjung ke panti asuhan. awal aku ke sana adalah untuk mengunjungi perpustakannya yang menyediakan novel-novel fiksi, tidak seperti perpustakaan di sekolahku yang isinya hanya buku pelajaran membosankan.
Lama-kelamaan aku mulai beradaptasi dengan anak-anak panti asuhan di sana. sampai pada akhirnya aku mulai terbiasa berkunjung ke sana dan bermain dengan anak-anak di panti asuhan itu.
Sepulang sekolah biasanya aku bermain sampai hampir maghrib. dan jika uang sakuku selama seminggu sudah cukup untuk membeli jajanan untuk teman-teman di sana, aku akan membeli beberapa jajanan di sekolahku dan ku bawa ke sana.
Aku punya teman di sana, namanya Ani dan Onan. Ani lebih muda dua tahun dariku, sedangkan Onan lebih tua setahun dariku. kami berteman cukup baik, aku menyukai mereka karena mereka sepertinya benar-benar tulus berteman denganku.
Suatu sore, aku dan Ani sedang duduk di halaman dengan beralaskan sandal Ani. kami menunggu Onan pulang sekolah.
"Aku ingin pergi dari sini," ucap Ani tiba-tiba.
"Kenapa?" tanyaku.
Ani melemparkan batu kecil ke arah ayam yang sedang jalan bergerombol, "mereka memandangku rendah, Tih. mereka yang ada di sekolah."
Aku paham, aku benar-benar paham. tapi apakah dia punya tujuan untuk pergi?
"mereka memanggilku yatim," tambah Ani.
aku menoleh, "benarkah?"
Ani mengangguk sambil tersenyum, "apa rasanya memiliki orangtua?"
"biasa saja."
Ani menoleh kepadaku, "apa arti kebahagiaan bagimu?"
apa? aku sudah hidup tiga belas tahun dan belum mengerti apa itu kebahagiaan. akhirnya aku menggeleng.
"kebahagiaan bagiku adalah saat kamu membawa somay kemari untukku," ucap Ani.
Apa sesederhana itu? lalu jika sesederhana itu, mengapa aku tidak bisa mengingat apa kebahagiaan untukku.
"aku selalu bahagia saat kamu datang, saat Onan menjemputku dari toko ikan tempatku bekerja," lanjut Ani.
"apa sesederhana itu, Ani?" tanyaku.
Ani menggeleng, rambut merahnya terkena matahari sore, "bukan sesederhana itu, hanya itu. ya, hanya itu bahagiaku. yang kamu bilang sederhana itu, aku artikan sebagai bahagiaku."
"Aku tak paham, Ani."
"Onan akan menjelaskannya padamu. lihat, dia datang."
Onan datang dengan seragam SMP yang sudah kumal dibanding punyaku. rambut hitam legamnya yang menyentuh kerah bajunya terlihat basah oleh keringat.
"hai Onan, kenapa hari ini pulang lama sekali?" tanya Ani.
"aku bermain bola dulu tadi, aku akan mandi sebentar. jangan pergi dulu Ratih, aku membawa sesuatu untuk kalian."
beberapa saat kami menunggu Onan keluar rumah dalam hening. pikiranku masih memikirkan apa itu bahagia. tepatnya apa itu bahagia bagiku.
"lihat apa yang dibawanya," ucap Ani sambil mengedikkan dagu ke arah Onan yang baru keluar dari rumah.
Aku melihat Onan dengan senyum sumringahnya. mungkin itu bahagia, entahlah. ditangan kanannya terdapat dua plastik yang membungkus sesuatu yang berwarna-warni.
"apa itu?" tanya Ani.
Onan memberikan Ani satu plastik dan aku satu plastik. ternyata jepit rambut.
"Jadi, hari ini kalian sedang membicarakan apa?" tanya Onan
"bahagia. apa itu bahagia?" balasku sambil memakai jepit rambut itu di rambutku.
Onan tertawa, "kenapa mengartikannya terlalu dalam? sederhana saja."
"justru itu Onan, Ratih tidak mengerti sekali pun sederhana. coba kamu jelaskan," ucap Ani.
"kebahagiaan itu sesuatu yang membuatmu tersenyum." ucap Onan.
"kadang kalau sedih, aku tetap tersenyum, kalian tau itu." balasku sambil meraba jepit rambutku, "apa sudah pas letaknya, Ani?"
Ani mengangguk, "kamu selalu terlihat lebih cantik dari aku."
"dia memang terlihat cantik, terutama karena hatinya, Ani." tambah Onan.
aku tersipu, "terimakasih"
"apa kamu senang kami berkata begitu?" tanya Onan.
aku mengangguk malu.
"itu kebahagiaanmu, Tih."
aku mengerutkan alis, "apa hanya karena itu?"
"coba kamu pahami lagi."
"sejujurnya, aku selalu senang jika berkunjung kemari, selalu senang jika semua anak yang ada disni menyukai jajanan yang ku bawa, selalu senang jika kalian berdua mau menerima cerita-ceritaku," jelasku.
"nah, berarti itulah kebahagiaanmu," ucap Ani.
"benarkah?"
"entahlah, kamu yang merasakannya," jawab Onan sambil tertawa.
benarkah? sepertinya begitu. aku selalu senang jika datang kemari. mungkin disinilah letak kebahagiaanku, mungkin beginilah kebahagiaanku.
"sepertinya memang begitu bahagiaku."
mereka berdua tertawa.
"lagipula kita semua ini dalam masa mencari kebahagiaan. tapi tidak ada kebahagiaan yang abadi selain di surga." Onan berkata.
"benarkah? memangnya begitu ya?" tanyaku.
"dia hanya mengutip kata-kata ibu asrama" ucap Ani sambil tertawa.
"lalu mengapa kamu ingin pergi dari sini?" tanyaku pada Ani.
"apa Ani bilang begitu? kenapa?"
"seperti yang kau bilang tadi, kita semua kan sedang dalam masa mencari kebahagiaan."
"Ani, sebenarnya tidak ada yang abadi, jika kau dapat satu kau akan kehilangannya dan mendapatkan kebahagiaan yang lain, lalu kehilangannya lagi, begitu seterusnya. Tuhan tidak akan membiarkanmu benar-benar kehilangan kebahagiaan." jelas Onan.
"tapi aku sekarang memang sedang kehilangannya, Onan"
"kamu hanya tidak menyadari keberadaannya, Ani." balas Onan lagi.
mungkin memang beginilah bahagia. sederhana, dan memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. aku coba maknai semua hal sederhana yang menyenangkan, mungkin di sanalah terdapat makna bahagia.
untuk Ani dan Onan, terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar