Bu, bagaimana jika kematian adalah cara terbaik untuk berdamai dengan hidup?, kali itu aku lancang bertanya pada Ibu. Tapi untuk kali itu , aku memikirkan pertanyaanku sekalipun Ibu memukulku karena bertanya begitu. Bukankah hidup ini, selalu bertolak dengan keinginan kita yang selalu berlebihan? Lalu terjadilah perdebatan antara idealisme dan realita yang ada.
Dan kita, kenapa tidak pergi saja? Menghindari perdebatan yang terjadi. Meninggalkan kehidupan yang toh juga membuat lelah karena penuh pertentangan dan ketidaksesuaian. Kenapa tidak memilih kematian? Itu pertanyaanku pada semua orang yang lebih memilih bertahan hidup ketimbang kematian yang senyap, termasuk aku.
Kata Ibu, jika bisa menetapkan kematianmu sendiri, semua orang akan dengan senang hati menjalani hidup, toh sewaktu-waktu bisa pergi jika lelah. Tapi nyatanya, jika mengakhiri hidupmu sendiri, itu adalah dosa besar.
Lalu apakah semua ini takdir? Kehendak Tuhan? Tapi mengapa seberat ini? Mengapa tidak sesuai dengan keinginan kita? Mengapa menetapkan kehidupan kita tapi tanpa persetujuan kita?
Aku baru ingat, Tuhan tidak pernah salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar