pernahkah kamu terpaku pada pandangan pertama saat kamu melihat seseorang? aku pernah. aku bertemu dengannya 6 jam lalu, sepertinya tak perlu ku sebutkan dimana tempat kami bertemu.
saat itu aku terpaku pada hidung mancungnya yang menawan (menurutku). apakah aku harus mengaku padamu bahwa aku tergila-gila pada hidung mancung seorang lelaki? oke, aku mengaku. tatapanku berhenti cukup lama di hidungnya, lalu beralih pada tatapan matanya yang sungguh jenaka. lalu tatapanku teralihkan oleh senyum miringnya yang mempesona.
I'm going crazy. ah
"hai" itu kata pertama yang keluar dari mulutnya. oh apakah ia bicara padaku? ternyata memang bicara padaku. aku tidak tahu harus berkata apa. aku butuh juru bicara sekarang.
"oh eh hai hai" aku membalas. dasar bodoh. idiot. astaga.
"sedang apa?" tanyanya.
sedang memandangimu, batinku.
"berdiri" lagi-lagi aku membalas dengan bodoh. astaga apakah aku seidiot ini? otakku tidak berfungsi dengan baik sepertinya.
dia tertawa. tawa jenaka dan renyah dan ringan dan mempesona dan membuat nyaman dan... astaga dia sangat tampan. oh ternyata itu kesimpulannya, dia sangat tampan dengan semua yang ada pada dirinya.
"maksudku, aku memang sedang berdiri saja. sebenarnya, emm uh ini emm menunggu teman" aku menambahkan. sebenarnya aku tidak perlu gagap begitu.
dia berusaha behenti tertawa, lalu bicara padaku dengan sisa tawa dan senyumnya. "sudah lebih dari setengah jam? benarkah menunggu temanmu?"
tidak, aku tidak tahu menunggu siapa, aku hanya berdiri di sini. dan ketika kau datang, aku ingin berdiri di sini sampai setengah jam berikutnya, lalu berikutnya lagi, lalu seribu jam lagi, tentu saja dengan adanya dirimu di sini, batinku menjawab. tunggu, apa dia memperhatikanku dari tadi?! astaga memang iya dia memperhatikanku, pasti memperhatikanku! buktinya dia tahu aku sudah setengah jam di sini.
jelas tidak bodoh, memangnya semenarik apa dirimu? memangnya siapa dirimu, jawab iblis kecil di dalam hatiku. uh benar juga.
"uh? ya, dia lama sekali" jawabku. sungguh aku bingung.
"bilang pada temanmu kau sudah pulang" ucapnya. kali ini tanpa senyum, tapi matanya masih saja jenaka.
"uhm, tapi aku belum akan pulang. aku masih bisa sabar menunggunya" balasku.
"aku ingin mengajakmu pulang" ucapnya dengan senyum yang (ingat masih mempesona!) tersungging di bibirnya.
apa? tunggu, aku salah dengar. mungkin aku disuruh pulang olehnya karena aku merupakan sampah bagi pemandangannya, tapi bukan dengan dia yang mengajakku pulang. tapi aku mendengar dia berkata ingin mengajakku pulang, tapi jelas tidak mungkin. dasar idiot.
"apa?" akhirnya aku bertanya. untuk memastikan saja. atau untuk berkhayal dia mengajakku pulang?
dia menarik tanganku. oh apa-apaan ini? oh oke, ini menyenangkan, tangannya ada di pergelangan tanganku. tangannya besar dan hangat, dan nyaman, dan sepertinya akan pas jika kami saling menggenggam.
oh ini arah menuju parkiran. oh itu motornya, motor merah yang selalu keren jika ditumpanginya.
"kita mau kemana?" tanyaku setelah kami berhenti di samping motornya.
"pulang" jawabnya. lalu ia menaiki motornya, menyalakannya.
oh apa aku harus naik di belakangnya? atau tidak? apa dia ingin aku naik? apakah maksudnya adalah aku di ajaknya pulang bersama?
"apa aku harus naik?" mulut dan otak idiot ini menyuarakan pertanyaan batinku.
dia tertawa, " dasar bodoh, tentu saja, cepat"
dengan terburu-buru aku naik di belakangnya. lalu dia melajukan motornya.
oh ini nyaman ternyata. apa aku boleh memeluknya? lalu apa yang akan terjadi ya? oh tidak tidak, jangan.
"motorku terlalu luas ya sampai kau duduk terlalu jauh dariku?" tanyanya dengan senyum menawan yang aku lihat dari kaca spion motornya.
apa aku harus duduk dekat dengannya? bolehkah? ah aku tidak peduli, aku ingin duduk 'terlalu' dekat dengannya.
"berpeganganlah padaku"
"padamu?"
"pada siapa lagi?"
oke berpegangan padanya. astaga aku menyukai ini. ini nyaman, ini luar biasa.
lalu sepertinya, saat itu, aku jatuh cinta. tapi apakah cinta akan baik-baik saja untukku?
-bersambung-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar