Senin, 29 Desember 2014

Mila #Blaburd



Mila yang gue kenal adalah Mila yang ceria, yang royal, yang cuek, yang high class, yang pokoknya tipe cewek-cewek metropolis yang suka foya-foya.
Gini, Mila yang gue kenal adalah Mila yang makan siangnya aja biasanya steak seharga setengah juta, tapi lebih biasanya lagi dia nganggurin steak itu karena dapet sms dari pacarnya. Dan biasanya, pacarnya dia ganti-ganti setiap minggunya, dan lebih biasanya lagi dia jarang nyebut cowok-cowok itu sebagai pacarnya.
Mila adalah putri bungsu dari seorang ayah yang bijaksana dan tegas luar biasa tapi juga kasiannya penyayang banget sama si Mila ini. Mila yang biasanya itu, adalah Mila yang ngejar-ngejar konser Boyband Super Junior sampai Tokyo Dome dan nonton konser mereka secara LIVE, sedangkan gue cuma nunggu ada yang ngupload ke youtube, atau malah gue cuma dengerin ceritanya si Mila karena nggak sempat buka youtube.
Mila temen gue ini mukanya bakal kusut kalo kartu ATMnya di blokir sama ayah tercintanya. Atau kartu kreditnya tiba-tiba hilang saat dia lagi gila-gilaan belanja. Dan mukanya bisa sedih-sedih asem saat akhirnya gue yang harus membayarnya setelah sebelumnya ngambil uang di ATM gue yang isinya bahkan nggak sampe 5juta.
Mila juga cewek yang selalu nyeletuk kurang ajar saat gue berniat menjalankan sholat yang sebisa mungkin nggak gue tinggalin. Dan Mila, adalah cewek yang kerjanya cuma mondar-mandir asik dari satu bar ke bar yang lain.
TAPI, Mila didepan gue ini adalah Mila yang bukan Mila kayak biasanya. Mila yang di depan gue sekarang adalah Mila yang cuma diam dari awal masuk ke kamar kost gue dengan matanya yang kosong dan muka pucat tanpa riasan menor kayak biasanya.
“Mil, elo kalo cuma mau bengong nggak usah sampe dateng ke kost gue kenapa sih? Di rumah lo emang nggak bisa bengong ya?” tanya gue. Dan tebak apa? Dia masih menjalankan aksi bengongnya.
Oke, mungkin ini sesuatu yang penting, jadi dia butuh waktu.
“Gue nyari makan siang dulu deh di warteg belakang,” ucap gue seraya berdiri. Tiba-tiba gue mendengar suara tawanya yang pelan.
“Masih aja makan di warteg lo, Nyet,” ucapnya. Oke, ini namanya kurang ajar. Udah bertamu bisu, manggil gue ‘Nyet’. Tapi, asal kalian tahu, panggilan ‘Nyet’ ini sudah jadi panggilan sayang kami dari waktu SMA.
Oh astaga, maksud gue sayang sebagai teman.
“Sialan!” seru gue sambil tertawa.
“Tih, duduk deh, gue mau ngomong nih,” ucapnya. Dari tadi gue juga nungguin si Mila ini ngomong.
Lalu gue duduk lagi, mengurungkan niat untuk pergi beli makan siang di warteg belakang.
“Cepet, ngomong!” seru gue karena tidak sabar.
Nah, lihat, dia bengong lagi.
“Mila, ini udah jam dua, gue laper. Gue rela tunda makan siang gue demi dengerin lo ngomong, buruan kek!” sumpah, gue udah nggak sabar sama sekali sama si monyet satu ini.
Mila cuma terkekeh, lalu keningnya berkerut-kerut. Mukanya kusut dan seperti sedang berpikir. Jarang gue melihat anak ini mikir gitu.
“Muka lo kayak orang susah banget sih, Nyet. Mules gue ngeliatnya,” cetus gue. Ya ampun Minggu siang ini si Mila kerasukan apa coba?
Mila berdeham, “Tih, gue hamil.”
Tunggu, dia ngomong apa? Hamil? Oke hamil, tapi kenapa bilangnya ke gue? Emang gue bapaknya itu anak yang dalem perut dia? Oke gue kejam. Tapi, ih gila, gue nggak nyangka dia se-‘monyet’ itu.
“Ngaco lo, Nyet,” cetus gue. Dengan tololnya gue malah menanggapi begitu.
Mila menatap mata gue, “Gue hamil.”
Oke, ini mulai terdengar gila. “Sama siapa?” tanya gue.
“Erfan, mungkin,” jawabnya. Apa? Mungkin? Gila, si Mila bener-bener gila. Maksudnya dia nggak yakin ini perbuatan Erfan?
“Maksudnya lo nggak yakin itu Erfan?” akhirnya gue menyuarakan pikiran gue.
“Mana gue bisa yakin kalo yang ngelakuin ini adalah sahabat gue dari kecil tih?!” bentaknya dengan air mata yang mulai mengalir turun.
Oke, gue harus tenang setelah dibentak secara kurang aja begini. “Lo udah ngomong ke dia?”
Mila mengangguk untuk menjawabnya.
“Terus dia bilang apa?” tanya gue lagi.
“Dia bakal tanggung jawab,” jawab Mila.
“Nah, clear kan? Terus apa yang lo tangisin?” tanya gue, kedengaran menggampangi memang.
“Gimana reaksi bokap gue? Apa kata nyokap? Mereka bakal ngusir gue kali. Terus gimana kata orang-orang? Mau ditaro dimana muka gue, Tih?” tanyanya.
Gue nggak tau, Mil, sumpah!, rasanya gue ingin neriakin itu di depan lo karena sejujurnya gue juga nggak tahu.
“Elo bicara baik-baik sama orangtua lo, lo bawa Erfan juga, terus bilang lo mau nikah,” akhirnya gue malah menanggapi secara bijak dan sok tau.
“Nikah,” gumam Mila sambil terkekeh sinting.
“Gini ya, Mil, gue emang nggak habis pikir sama ini. Gue nggak tau lo bakal gini sekalipun gue tau lo nakal banget. Dan gue juga nggak yakin sama saran gue tadi, tapi mungkin lo bisa nyoba. Yang pasti, jangan sampe perut lo udah sampe kayak balon baru lo bilang,” jelas gue.
Mila terkekeh. Nah kan, si Mila ini mau dalam keadaan apapun juga ketawa aja, dasar dungu.
“Oke gue bakal coba saran lo,” ujar Mila.
“Yuk ah gue mau makan, masak mie rebus enak kali ya Mil?”
“Gue pengen makan ikan nih, Tih. Fish & Co di taman anggrek yuk,” ajak Mila.
Ngidam?
“Lo traktir gue aja, gue bakal mau kok. Yuk,” lalu gue segera ganti baju.
“Temen lagi susah juga dipalakin ya, Nyet,” cetus Mila sambil tertawa.
***
3 bulan setelah itu, setelah pengakuan Mila di kost gue itu, gue dapet undangan dari dia. Karena gue sibuk, gue jadi nggak sempat buat tanya kelanjutan kisah dia. Dan karena itu juga, gue kaget dan tersenyum senang saat dapat undangan pernikahan Mila dan Erfan.
Sampai akhirnya anaknya Mila lahir dan di beri nama Krystal sama Mila sendiri. Dari dulu dia memang berharap anaknya secantik Krystal dari girlband f(x), dan berdoa bakal terwujud dengan memberi nama itu. Dari dulu sampai sekarang, gue nggak pernah berhenti manggil Mila dengan sebutan ‘monyet gila’.
Beberapa hari lalu Mila datang dengan Erfan dan anak mereka ke apartemen gue (naik pangkat dari kost ke apartemen mini).
Kebahagiaan bukan dengan gampang di dapatkan Mila dengan mondar-mandir ke bar, mall atau restoran mahal. Oke itu bisa di sebut kebahagiaan, tapi itu mungkin sangat temporer. Kebahagiaan Mila yang ini, yang dia dapatkan dengan rasa sakit bertubi-tubi, rasa malu yang luar biasa, merupakan kebahagiaan yang lebih berarti ketimbang kebahagiaan Mila sebelumnya, juga pastinya lebih awet. Kebahagiaan Mila ada pada Erfan dan Krystal, dan gue bisa lihat itu.
Dan gue tau sahabat gue yang satu itu udah menjalan hidup yang happilyeverafter.

2 komentar: