Jumat, 19 Desember 2014

Rokok #Blaburd



Hai!
Cerita pendek, sepertinya hanya imajinasi yang coba keluar dari pikiran. Just enjoy it!
***
Garda duduk di teras rumah gue sambil menghisap rokoknya. Ah, kebiasaan lama. Dia seorang perokok berat sejak kami masih SMA. Katanya, merokok adalah upaya untuk menenangkan jiwa sesoarang.
“Kenapa lo ngerokok sih, Gar?” tanya gue di tengah diamnya kami.
“Lo tau gue udah ngga bisa dilarang, jadi ngga usah nyoba deh,” jawabnya, lalu kembali menghisap batang rokoknya.
Gue menegakkan badan, “gue kan cuma nanya, Gar. Jawab dong.”
“Gimana ya, Tih. Ini tuh obat tenang gue. Rasanya, kalo ngerokok, sebagian kalut dalam diri gue tuh ikut terbang sama asapnya,” dalihnya.
Gue terkekeh, “ah jadi melankolis gitu lo. Emang gue kurang bisa jadi penenang lo ya?”
“Emang kenapa sih masih aja nanya? Gue rasa lo juga tau jawabannya,” tanyanya heran.
Hei Gar, gue cuma pengen orang yang gue sayang memastikan apa yang dilakukannya. Seyakin itu kah lo sama fungsi rokok yang lo sebutin tadi? Ingin rasanya gue menyahut begitu, tapi rasanya lo akan membela diri habis-habisan.
“Ngga, gue cuma mau ngeyakinin lo tentang apa yang lo lakuin aja,” jawab gue.
“Gue yakin, Tih, apa yang gue lakuin ini ngasih pengaruh baik kepada gue,” sahut Garda. Nah kan, lo membela diri.
“Gue denger dari temen gue, katanya satu batang rokok memangkas 6 menit waktu hidup seseorang. Gila,” ucap gue, mengambang.
“Lalu?” tanya Garda.
“Ya Tuhan, Garda! Berarti waktu hidup lo buat gue di hari tua nanti udah ngga banyak, karena banyaknya rokok yang udah lo hisap selama ini!” bentak gue. Astaga gue yakin dia ngga sebodoh itu.
Garda menatap gue, cukup lama sampai bikin gue salah tingkah. Dia membuang rokoknya yang masih setengah, lalu memeluk gue erat.
“Maaf,” oke dia meminta maaf. Lalu?
“Gue ngga akan buang waktu hidup gue. Gue baru sadar, kalo tetep candu sama rokok, itu artinya gue emang berencana ninggalin lo lebih cepat,” lanjutnya. Ya, kata-katanya memang kasar untuk suatu permohonan maaf, tapi gue tau maksud manis di dalamnya.
“Jadi, lo berusaha untuk melepas rokok dan mendekap gue lebih lama, begitu?” tanya gue dengan senyuman lebar yang pasti aneh banget.
Garda mengangguk. Dan saat itulah gue merasa sudah menjaganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar