Hai!
Cerita pendek, sepertinya hanya imajinasi yang coba
keluar dari pikiran. Just enjoy it!
***
Garda duduk di teras
rumah gue sambil menghisap rokoknya. Ah, kebiasaan lama. Dia seorang perokok
berat sejak kami masih SMA. Katanya, merokok adalah upaya untuk menenangkan
jiwa sesoarang.
“Kenapa lo ngerokok sih,
Gar?” tanya gue di tengah diamnya kami.
“Lo tau gue udah ngga
bisa dilarang, jadi ngga usah nyoba deh,” jawabnya, lalu kembali menghisap
batang rokoknya.
Gue menegakkan badan,
“gue kan cuma nanya, Gar. Jawab dong.”
“Gimana ya, Tih. Ini
tuh obat tenang gue. Rasanya, kalo ngerokok, sebagian kalut dalam diri gue tuh
ikut terbang sama asapnya,” dalihnya.
Gue terkekeh, “ah jadi
melankolis gitu lo. Emang gue kurang bisa jadi penenang lo ya?”
“Emang kenapa sih masih
aja nanya? Gue rasa lo juga tau jawabannya,” tanyanya heran.
Hei Gar, gue cuma
pengen orang yang gue sayang memastikan apa yang dilakukannya. Seyakin itu kah
lo sama fungsi rokok yang lo sebutin tadi? Ingin rasanya gue menyahut begitu,
tapi rasanya lo akan membela diri habis-habisan.
“Ngga, gue cuma mau ngeyakinin
lo tentang apa yang lo lakuin aja,” jawab gue.
“Gue yakin, Tih, apa
yang gue lakuin ini ngasih pengaruh baik kepada gue,” sahut Garda. Nah kan, lo
membela diri.
“Gue denger dari temen
gue, katanya satu batang rokok memangkas 6 menit waktu hidup seseorang. Gila,”
ucap gue, mengambang.
“Lalu?” tanya Garda.
“Ya Tuhan, Garda!
Berarti waktu hidup lo buat gue di hari tua nanti udah ngga banyak, karena
banyaknya rokok yang udah lo hisap selama ini!” bentak gue. Astaga gue yakin
dia ngga sebodoh itu.
Garda menatap gue,
cukup lama sampai bikin gue salah tingkah. Dia membuang rokoknya yang masih
setengah, lalu memeluk gue erat.
“Maaf,” oke dia meminta
maaf. Lalu?
“Gue ngga akan buang
waktu hidup gue. Gue baru sadar, kalo tetep candu sama rokok, itu artinya gue
emang berencana ninggalin lo lebih cepat,” lanjutnya. Ya, kata-katanya memang
kasar untuk suatu permohonan maaf, tapi gue tau maksud manis di dalamnya.
“Jadi, lo berusaha
untuk melepas rokok dan mendekap gue lebih lama, begitu?” tanya gue dengan
senyuman lebar yang pasti aneh banget.
Garda mengangguk. Dan
saat itulah gue merasa sudah menjaganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar