Jumat, 19 Desember 2014

Selamanya #Blaburd



Hai!
This is just a short story, not real story of me. Just enjoy it!
***
            Aku tak pernah menyangka bahwa sebuah persahabatan yang dijanjikan ‘selamanya’ akan begitu cepat mengaliri cinta yang aneh.
           
            “Apa kamu bahagia?” tanyamu, “bersamaku?” kamu menambahkan.
Malam itu kita baru saja menghadiri sebuah acara di kampusmu. Kita berjalan-jalan sebentar di Malioboro. Aku peninggalkan penginapan dengan diam dan mencoba mencicipi hiruk-pikuknya Jogja.
            Aku menggenggam tanganmu, “betapa beruntungnya aku memiliki sahabat yang mencintaiku dengan segenap hatinya.”
            Aku mencintaimu, sebagai sahabat, ah tidak, sepertinya lebih dari itu.
            “Aku mencintaimu lebih dari seorang sahabat,” kau berucap. Nah, kamu seperti menyatu denganku.
            Menyatu? Nyatanya kita belum pernah bisa melakukannya.
            “Mengapa kita tidak pernah bisa menyatu, Tih?” tanyamu.
            Ah Dy, kamu seperti menegaskan pertanyaanku saja. Berkali-kali aku menanyakan itu pada diriku sendiri, dan bingung dengan jawabannya yang berbelit-belit.
            “Apa aku tidak pantas untukmu?” seperti tidak sabar dengan diamku, kamu mencecarku dengan tanya.
            Ingin aku berteriak, ‘tidak! Kamulah yang paling pantas untukku, kamulah yang paling mengerti aku, kamulah lelaki pertama yang aku cintai setelah ayahku!
            “Kita bersahabat, Dy. Dan selamanya akan begitu,” ucapku, selalu begitu aku menanggapimu.
            “Kamu selalu terikat dengan kata ‘selamanya’. Segala sesuatu pasti akan berubah, tidak ada sesuatu yang selalu seperti mulanya”, sahutmu.
            “Tapi persahabatan ini memang tidak boleh berubah,” dalihku.
            Dasar bodoh. Padahal betapa tergila-gilanya aku pada sosokmu yang selalu tersenyum hangat padaku. Kenapa aku senaif ini?
            “Ada sesuatu yang memang tak bisa kita miliki, Dy. Ada batasan-batasan yang selalu membuatku tetap diam sekalipun sesuatu yang lain bergejolak dalam diriku. Ada sesuatu yang memang seharusnya begitu, lebih baik begitu,” dalihku. Dasar naïf.
            “Sudah berapa tahun kita bersama? Aku mencintaimu. Tidak bisakah kau mencintaiku tanpa mempedulikan aku sebagai sahabatmu?” tanyamu, putus asa.
            “Dy, sesuatu yang dikejar kadang lebih menarik dibanding apa yang sudah digenggam. Aku ingin selalu dikejar, olehmu,” bodoh, kenapa pernyataan itu bisa keluar dari mulutku?
            “Aku lelah, Ratih,” begitu katamu.
            Aku pun lelah, Yudy. Harus berdalih bahwa kita bersahabat dan selamanya akan begitu. Harus berpegang teguh pada kata ‘selamanya’. Harus berlari agar selalu dikejar olehmu, sekalipun aku ingin sekali berhenti dan membiarkanmu mendekapku.
            “Kejarlah aku, sampai aku lelah berlari dan berhenti, Dy,” bisikku.
            Matamu sayu, sarat akan lelah dan bingung. Hatiku perih melihatnya.
            “Jangan pernah lelah mengejarku. Nanti, jika kamu terengah jauh di belakangku, aku akan menghampirimu dan kita akan berjalan bersama,” bisikku lagi.
            Kamu merengkuh pundakku lalu mendekapku erat. Lama seperti itu, sampai aku mendengar bisikanmu tepat di telingaku.
            “Tolong, aku sudah terengah, jauh di belakangmu.”
            Aku mendaratkan kecupan singkat di pipimu. Lelah harus selalu naïf untuk hal ini.
            Ah Dy, sepertinya kita sudah harus berhenti bermain.
Toh aku pun mencintaimu, kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar