Hai!
This is just a short story, not
real story of me. Just enjoy it!
***
Aku tak pernah menyangka bahwa sebuah persahabatan
yang dijanjikan ‘selamanya’ akan begitu cepat mengaliri cinta yang aneh.
“Apa kamu
bahagia?” tanyamu, “bersamaku?” kamu menambahkan.
Malam itu kita baru saja menghadiri
sebuah acara di kampusmu. Kita berjalan-jalan sebentar di Malioboro. Aku peninggalkan
penginapan dengan diam dan mencoba mencicipi hiruk-pikuknya Jogja.
Aku
menggenggam tanganmu, “betapa beruntungnya aku memiliki sahabat yang
mencintaiku dengan segenap hatinya.”
Aku
mencintaimu, sebagai sahabat, ah tidak, sepertinya lebih dari itu.
“Aku
mencintaimu lebih dari seorang sahabat,” kau berucap. Nah, kamu seperti menyatu
denganku.
Menyatu?
Nyatanya kita belum pernah bisa melakukannya.
“Mengapa
kita tidak pernah bisa menyatu, Tih?” tanyamu.
Ah Dy, kamu
seperti menegaskan pertanyaanku saja. Berkali-kali aku menanyakan itu pada
diriku sendiri, dan bingung dengan jawabannya yang berbelit-belit.
“Apa aku
tidak pantas untukmu?” seperti tidak sabar dengan diamku, kamu mencecarku
dengan tanya.
Ingin aku
berteriak, ‘tidak! Kamulah yang paling
pantas untukku, kamulah yang paling mengerti aku, kamulah lelaki pertama yang
aku cintai setelah ayahku!’
“Kita
bersahabat, Dy. Dan selamanya akan begitu,” ucapku, selalu begitu aku
menanggapimu.
“Kamu
selalu terikat dengan kata ‘selamanya’. Segala sesuatu pasti akan berubah,
tidak ada sesuatu yang selalu seperti mulanya”, sahutmu.
“Tapi
persahabatan ini memang tidak boleh berubah,” dalihku.
Dasar
bodoh. Padahal betapa tergila-gilanya aku pada sosokmu yang selalu tersenyum
hangat padaku. Kenapa aku senaif ini?
“Ada
sesuatu yang memang tak bisa kita miliki, Dy. Ada batasan-batasan yang selalu
membuatku tetap diam sekalipun sesuatu yang lain bergejolak dalam diriku. Ada
sesuatu yang memang seharusnya begitu, lebih baik begitu,” dalihku. Dasar naïf.
“Sudah
berapa tahun kita bersama? Aku mencintaimu. Tidak bisakah kau mencintaiku tanpa
mempedulikan aku sebagai sahabatmu?” tanyamu, putus asa.
“Dy,
sesuatu yang dikejar kadang lebih menarik dibanding apa yang sudah digenggam.
Aku ingin selalu dikejar, olehmu,” bodoh, kenapa pernyataan itu bisa keluar
dari mulutku?
“Aku lelah,
Ratih,” begitu katamu.
Aku pun
lelah, Yudy. Harus berdalih bahwa kita bersahabat dan selamanya akan begitu.
Harus berpegang teguh pada kata ‘selamanya’. Harus berlari agar selalu dikejar
olehmu, sekalipun aku ingin sekali berhenti dan membiarkanmu mendekapku.
“Kejarlah
aku, sampai aku lelah berlari dan berhenti, Dy,” bisikku.
Matamu
sayu, sarat akan lelah dan bingung. Hatiku perih melihatnya.
“Jangan
pernah lelah mengejarku. Nanti, jika kamu terengah jauh di belakangku, aku akan
menghampirimu dan kita akan berjalan bersama,” bisikku lagi.
Kamu
merengkuh pundakku lalu mendekapku erat. Lama seperti itu, sampai aku mendengar
bisikanmu tepat di telingaku.
“Tolong,
aku sudah terengah, jauh di belakangmu.”
Aku
mendaratkan kecupan singkat di pipimu. Lelah harus selalu naïf untuk hal ini.
Ah Dy,
sepertinya kita sudah harus berhenti bermain.
Toh aku pun mencintaimu, kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar