Mila yang gue kenal adalah Mila yang ceria, yang
royal, yang cuek, yang high class, yang pokoknya tipe cewek-cewek
metropolis yang suka foya-foya.
Gini, Mila yang gue kenal adalah Mila yang makan siangnya
aja biasanya steak seharga setengah juta, tapi lebih biasanya lagi dia
nganggurin steak itu karena dapet sms dari pacarnya. Dan biasanya, pacarnya dia
ganti-ganti setiap minggunya, dan lebih biasanya lagi dia jarang nyebut
cowok-cowok itu sebagai pacarnya.
Mila adalah putri bungsu dari seorang ayah yang
bijaksana dan tegas luar biasa tapi juga kasiannya penyayang banget sama si
Mila ini. Mila yang biasanya itu, adalah Mila yang ngejar-ngejar konser Boyband
Super Junior sampai Tokyo Dome dan nonton konser mereka secara LIVE, sedangkan
gue cuma nunggu ada yang ngupload ke youtube, atau malah gue cuma dengerin
ceritanya si Mila karena nggak sempat buka youtube.
Mila temen gue ini mukanya bakal kusut kalo kartu
ATMnya di blokir sama ayah tercintanya. Atau kartu kreditnya tiba-tiba hilang
saat dia lagi gila-gilaan belanja. Dan mukanya bisa sedih-sedih asem saat
akhirnya gue yang harus membayarnya setelah sebelumnya ngambil uang di ATM gue
yang isinya bahkan nggak sampe 5juta.
Mila juga cewek yang selalu nyeletuk kurang ajar
saat gue berniat menjalankan sholat yang sebisa mungkin nggak gue tinggalin.
Dan Mila, adalah cewek yang kerjanya cuma mondar-mandir asik dari satu bar ke
bar yang lain.
TAPI, Mila didepan gue ini adalah Mila yang bukan
Mila kayak biasanya. Mila yang di depan gue sekarang adalah Mila yang cuma diam
dari awal masuk ke kamar kost gue dengan matanya yang kosong dan muka pucat
tanpa riasan menor kayak biasanya.
“Mil, elo kalo cuma mau bengong nggak usah sampe
dateng ke kost gue kenapa sih? Di rumah lo emang nggak bisa bengong ya?” tanya
gue. Dan tebak apa? Dia masih menjalankan aksi bengongnya.
Oke, mungkin ini sesuatu yang penting, jadi dia
butuh waktu.
“Gue nyari makan siang dulu deh di warteg
belakang,” ucap gue seraya berdiri. Tiba-tiba gue mendengar suara tawanya yang
pelan.
“Masih aja makan di warteg lo, Nyet,” ucapnya.
Oke, ini namanya kurang ajar. Udah bertamu bisu, manggil gue ‘Nyet’. Tapi, asal
kalian tahu, panggilan ‘Nyet’ ini sudah jadi panggilan sayang kami dari waktu
SMA.
Oh astaga, maksud gue sayang sebagai teman.
“Sialan!” seru gue sambil tertawa.
“Tih, duduk deh, gue mau ngomong nih,” ucapnya.
Dari tadi gue juga nungguin si Mila ini ngomong.
Lalu gue duduk lagi, mengurungkan niat untuk pergi
beli makan siang di warteg belakang.
“Cepet, ngomong!” seru gue karena tidak sabar.
Nah, lihat, dia bengong lagi.
“Mila, ini udah jam dua, gue laper. Gue rela tunda
makan siang gue demi dengerin lo ngomong, buruan kek!” sumpah, gue udah nggak
sabar sama sekali sama si monyet satu ini.
Mila cuma terkekeh, lalu keningnya berkerut-kerut.
Mukanya kusut dan seperti sedang berpikir. Jarang gue melihat anak ini mikir
gitu.
“Muka lo kayak orang susah banget sih, Nyet. Mules
gue ngeliatnya,” cetus gue. Ya ampun Minggu siang ini si Mila kerasukan apa
coba?
Mila berdeham, “Tih, gue hamil.”
Tunggu, dia ngomong apa? Hamil? Oke hamil, tapi
kenapa bilangnya ke gue? Emang gue bapaknya itu anak yang dalem perut dia? Oke
gue kejam. Tapi, ih gila, gue nggak nyangka dia se-‘monyet’ itu.
“Ngaco lo, Nyet,” cetus gue. Dengan tololnya gue
malah menanggapi begitu.
Mila menatap mata gue, “Gue hamil.”
Oke, ini mulai terdengar gila. “Sama siapa?” tanya
gue.
“Erfan, mungkin,” jawabnya. Apa? Mungkin? Gila, si
Mila bener-bener gila. Maksudnya dia nggak yakin ini perbuatan Erfan?
“Maksudnya lo nggak yakin itu Erfan?” akhirnya gue
menyuarakan pikiran gue.
“Mana gue bisa yakin kalo yang ngelakuin ini
adalah sahabat gue dari kecil tih?!” bentaknya dengan air mata yang mulai
mengalir turun.
Oke, gue harus tenang setelah dibentak secara
kurang aja begini. “Lo udah ngomong ke dia?”
Mila mengangguk untuk menjawabnya.
“Terus dia bilang apa?” tanya gue lagi.
“Dia bakal tanggung jawab,” jawab Mila.
“Nah, clear kan? Terus apa yang lo tangisin?”
tanya gue, kedengaran menggampangi memang.
“Gimana reaksi bokap gue? Apa kata nyokap? Mereka
bakal ngusir gue kali. Terus gimana kata orang-orang? Mau ditaro dimana muka
gue, Tih?” tanyanya.
Gue nggak tau, Mil, sumpah!, rasanya gue ingin
neriakin itu di depan lo karena sejujurnya gue juga nggak tahu.
“Elo bicara baik-baik sama orangtua lo, lo bawa
Erfan juga, terus bilang lo mau nikah,” akhirnya gue malah menanggapi secara
bijak dan sok tau.
“Nikah,” gumam Mila sambil terkekeh sinting.
“Gini ya, Mil, gue emang nggak habis pikir sama
ini. Gue nggak tau lo bakal gini sekalipun gue tau lo nakal banget. Dan gue
juga nggak yakin sama saran gue tadi, tapi mungkin lo bisa nyoba. Yang pasti,
jangan sampe perut lo udah sampe kayak balon baru lo bilang,” jelas gue.
Mila terkekeh. Nah kan, si Mila ini mau dalam
keadaan apapun juga ketawa aja, dasar dungu.
“Oke gue bakal coba saran lo,” ujar Mila.
“Yuk ah gue mau makan, masak mie rebus enak kali
ya Mil?”
“Gue pengen makan ikan nih, Tih. Fish & Co di
taman anggrek yuk,” ajak Mila.
Ngidam?
“Lo traktir gue aja, gue bakal mau kok. Yuk,” lalu
gue segera ganti baju.
“Temen lagi susah juga dipalakin ya, Nyet,” cetus
Mila sambil tertawa.
***
3 bulan setelah itu, setelah pengakuan Mila di
kost gue itu, gue dapet undangan dari dia. Karena gue sibuk, gue jadi nggak
sempat buat tanya kelanjutan kisah dia. Dan karena itu juga, gue kaget dan
tersenyum senang saat dapat undangan pernikahan Mila dan Erfan.
Sampai akhirnya anaknya Mila lahir dan di beri
nama Krystal sama Mila sendiri. Dari dulu dia memang berharap anaknya secantik
Krystal dari girlband f(x), dan berdoa bakal terwujud dengan memberi nama itu.
Dari dulu sampai sekarang, gue nggak pernah berhenti manggil Mila dengan
sebutan ‘monyet gila’.
Beberapa hari lalu Mila datang dengan Erfan dan
anak mereka ke apartemen gue (naik pangkat dari kost ke apartemen mini).
Kebahagiaan bukan dengan gampang di dapatkan Mila
dengan mondar-mandir ke bar, mall atau restoran mahal. Oke itu bisa di sebut
kebahagiaan, tapi itu mungkin sangat temporer. Kebahagiaan Mila yang ini, yang
dia dapatkan dengan rasa sakit bertubi-tubi, rasa malu yang luar biasa,
merupakan kebahagiaan yang lebih berarti ketimbang kebahagiaan Mila sebelumnya,
juga pastinya lebih awet. Kebahagiaan Mila ada pada Erfan dan Krystal, dan gue
bisa lihat itu.
Dan gue tau sahabat gue yang satu itu udah
menjalan hidup yang happilyeverafter.
Wahahaaaa seru tihhh;'D
BalasHapusWehehe :D
Hapus