Selasa, 27 September 2016

Pengakuan Kami #Atharwa

Pembaca, di lantai dua rumahku, terdapat ruang kosong dekat gudang. Di sana ada satu jendela yg menghadap ke belakang rumahku, ke jendela kamar orangtuaku di lantai satu, dan ke halaman kecil belakang rumahku. Biasanya aku duduk di sana, lalu Atharwa datang. Lewat mana? Aku pun tak mengerti.
Kemarin sore pun begitu. Dia tiba-tiba datang saat aku duduk di dekat jendela sambil minum teh.
"Atharwa, bulan depan aku ke Bali, udah tau?" tanyaku tanpa menatapnya.
Atharwa hanya berdiri di sebelahku, sambil memegang pundakku.
"Tau, bahkan sebelum kamu daftar kesana, aku udah tau," balasnya.
"Serius?"
Dia hanya mengangkat bahu.
Sudahkah aku bilang padamu, Pembaca, bahwa dia menjelaskan duniaku sekaligus menyimpan rahasia. Sedang aku tak pernah tau sedikitpun soal dunianya, apalagi rahasianya.
"Kalau aku ke Bali, kamu ikut ya? Temenin aku. Aku pasti kesepian kalau nggak ada kamu," ucapku lagi.
"Belum tau, tergantung semesta mengizinkan atau nggak," balasnya.
Aku menatapnya, wajahnya teduh dengan pandangan lurus menghadap rumah tetangga.
"O come on, kita ini punya andil terhadap diri kita, Atharwa," ujarku sambil tertawa.
"No, we have not, Pirus. Ada Yang Maha Kuasa yang mengatur segalanya," jelasnya sambil tersenyum ke arahku.
"Iya sih benar."
"Baik-baik ya di sana. Kalau aku nggak bisa ikut, kamu harus cari teman yang banyak biar nggak kesepian. Jangan sinis jadi orang, jangan cuek, jangan 'jahat', jangan keluarkan sisi negatifmu, Pirus," gumamnya, dia tak menatapku.
Apa di matamu itu ada kesedihan untukku, Atharwa?
Aku terkekeh, "memangnya aku jahat?"
"Bagiku enggak, kamu hanya mau pengakuan. Dan dunia ini lebih mudah mengakui kejahatan, dibanding kebaikan," jawabnya.
"Kalau bisa, kamu ikut ya? Nggak akan ada orang yang sebaik kamu, nggak ada orang yang ngerti aku selain kamu,"
Atharwa tersenyum, "liat aja nanti."
Kami terdiam. Menatap langit sore yang mulai menampakkan gurat jingga. Wajahnya teduh dan dihias cahaya lembayung.
"Lembayung sore ini indah," ucapku.
"Seindah kamu," balas Atharwa.
Aku tersenyum. Makhluk apa sih dia. Kenapa dia begini sayang padaku? Mengapa dia membuat aku nyaman dengan eksistensinya yang kadang?
Ampun Gusti, jangan buat aku tenggelam lebih dalam pada dia yang memberiku genggam.
"Kamu tuh makhluk apa sih? Kamu selalu ada buat aku, sampai aku nggak mau cari siapa-siapa lagi. Kamu aja sudah cukup buatku. Aku sama sekali nggak tau duniamu, bahkan rahasiamu. Sedang kamu menjelaskan duniaku juga menyimpan rahasiaku. Atharwa, aku juga ingin kamu berbagi denganku," ucapku padanya. Baru kali ini aku mengeluarkan isi kepalaku tentang ini padanya.
Atharwa menatapku dalam. Matanya seringkali membuat aku hanyut, terbuai, dalam duniaku yang dipaparnya, dalam rahasiaku yang disimpannya.
Kemudia ia berlutut, di sampingku yang diam terduduk. Ia menyentuk tanganku. Terasa nyata sekaligus penuh imaji yang membara.
"Jangan cemas soal aku. Aku hanya dikirim semesta kepadamu. Aku hanya temani kamu sampai pada saat yang kelak akan kamu tentukan. Jangan risau, Pirus, jangan pernah. Aku disini untukmu, bukan kamu yang disini untukku," jelasnya.
Kalau aku jatuh cinta padamu bagaimana, Atharwa?
"Kamu boleh jatuh cinta padaku, tapi pikirkan dulu tentang perbedaan kita, Pirus. Aku bahkan sudah lebih dulu mencintaimu. Pirus, percayalah," ucapnya, membalas kata dalam pikiranku.
"Kamu mencintaiku?"
"Dari dulu. Tapi aku sadar kita berbeda,"
"Aku tak ingin beda. Aku tak ingin Arjuna, aku ingin kamu Atharwa,"
Atharwa hanya menatapku. Setitik airmata jatuh dipipiku.
Atharwa tersenyum, lalu hilang menjadi sekumpulan asap. Meninggalkan aku berairmata bersama langit gelap senja.
Rasanya, tak akan mampu aku sendiri tanpamu, Atharwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar