-Malam ini, aku duduk dekat jendela, kiranya langit tak bertuan bulan ataupun bintang. Tiba-tiba, Atharwa sudah berdiri di sebelahku, menarik kursi di dekat ku lalu duduk. Ia tak menghiraukan aku dan asap rokokku.
Oh, jangan kau tanya dari mana datangnya ia, pun kemana perginya.
"Ngapain?" tanyaku.
"Duduk," jawabnya, dibarengi senyum yang damai. Jika tak merasa segini dekat dan sayang dengannya, mungkin akan aku pacari ia karena senyumnya.
Aku hanya hembuskan asap ke arah wajahnya.
Ia pandangi aku lekat, "berhentilah hembuskan asap kematian."
Aku terkikik, "ayolah Atharwa, ini Jakarta."
"Bekasi,"
Aku mendecak.
"Carilah kebahagiaan yang lain," ucapnya lagi.
"Misalnya?"
"Carilah cinta,"
Aku terbahak, "sudah ada dikeluargaku, tak perlu repot."
"Dari seseorang, laki-laki."
"Why should I?" tanyaku.
"Mau melajang seumur hidup, heh?" balasnya kesal.
"Kenapa? Aku punya kamu yang sayang sama aku," balasku sambil menatapnya lekat.
Atharwa berdecak.
"Oh, atau kamu ada niatan untuk pergi?" tanyaku cepat.
"Aku nggak bisa terus-terusan jagain kamu," jawabnya. Ada nada frustasi?
"Aku memang merepotkan," ucapku, lemah. Sembari bersandar kembali pada kursi dan menatap langit.
"Carilah seorang Arjuna," ucap Atharwa. Ternyata dia belum selesai menguliahi aku dengan wejangannya.
"Diam, Atharwa,"
"Aku serius, Pirus. Carilah Arjuna untukmu!" dia panggil aku 'Pirus', saat situasi berubah serius. Selalu begitu.
"Kenapa harus Arjuna saat aku temukan seorang Bisma dalam dirimu? Bisma yang hanya mencintai satu orang, kamu yang hanya mencintai aku. Kenapa?" tanyaku, mendesak.
Dia menghela napas, "itu berbeda."
"Tell me the different, Atharwa, tell me,"
"Pirus, percayalah aku menyayangi bahkan mencintaimu, namun aku bukan untuk jadi milikmu selamanya. Aku menemanimu sampai saat yang telah ditentukan," jelasnya.
"Kapan saat itu tiba?"
"Kamu yang tentukan."
"Kalau begitu tak akan pernah aku menentukannya," jawabku, sengit.
Atharwa meraih kepalaku, membuatku terpaksa memandang bola matanya. Aku melihat isi dunia, bahkan segala rahasia, pada manik matanya.
"Jadilah Subadra, bagi Arjuna," bisiknya.
"Baiklah, bukan Bisma. Tapi kenapa harus Arjuna? Saat ada Yudistira, Bima, Nakula bahkan Sadewa. Kenapa?"
"Karena takdirmu adalah menjadi Subadra, yang paling sayang dan setia pada Arjuna," jawabnya.
Pembaca, aku bingung, kenapa Atharwa membawa kisah wayang disini. Pembaca?
"Omong kosong. Sadarlah Atharwa, hidupku bukan kisah pewayangan," balasku.
"Memang bukan, namun Dewata sudah menggariskannya," ucapnya.
Aku bergeming. Aku menolak untuk percaya, namun apapun yang diucapkan Atharwa selalu benar dan membuat aku percaya. Seolah ada rantai yang membuatku selalu yakin akan dirinya yang bahkan dipenuhi rahasia.
Atharwa mengusap pipiku, "berbahagialah, Pirus. Kamu tau aku selalu menginginkanmu begitu."
Kemudian ia kecup dahiku, membuatku tenteram dengan mata terpejam.
Saat tak kurasai lagi bibirnya di dahiku, aku buka mataku. Mendapati dirinya yang tersenyum dengan dua lesung yang mendamaikan, dengan mata jernih yang menyimpan duniaku. Sesaat aku terlena oleh duniaku dalam matanya. Duh Gusti, sebab apa Kau ciptakan makhluk yang begini indah?
Sesaat, dirinya lenyap, menjadi sekumpulan asap yang lalu mengabur dan hilang. Aku tertegun, Atharwa selalu menghilang dengan caranya sendiri. Namun ia sukses membuat malamku damai, pun bulan dan gemintang enggan berteman.
Makhluk dari ordo manakah Atharwa? Makhluk dari ordo manakah ia yang menyimpan rahasiaku sekaligus menjelaskan duniaku? Pun aku tak memintanya datang, ia selalu datang disaat yang tepat untuk datang, sejauh manapun aku pergi, sehening apapun aku sembunyi, ia tetap datang. Bahkan sebelum aku sadar bahwa aku butuh dia. Makhluk apakah dia, Pembaca?
Duh Gusti, sebab apa Kau ciptakan Atharwa untukku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar