Minggu, 11 September 2016

Mahasiswa/i yang Terhormat

Halo, mahasiswa-mahasiswi yang terhormat, teman-temanku.
Anggap saja aku temanmu, pun begitu selebihnya biarlah berlalu. Aku ingin bercerita, menyampaikan isi pikiran, mengkritik atau bahkan menghujatmu, teman. Maaf, yang terakhir biarlah menjadi persepsi masing-masing. Kendati aku menyuarakannya lewat tulisan di blog pribadiku, aku ingin kau buka pikiranmu seluas bangunan universitasmu.
Persetan dengan universitas, just open your mind no matter what, universitas hanya perihal obrolan orangtuamu dengan tetangga.
Teman, beberapa bulan lalu, alangkah aku bahagia melihat namamu dibarengi dengan kata 'Diterima' dalam kolom khusus penerimaan mahasiswa baru di universitas impianmu. Kendati demikian, teman, aku tak ubahnya orang yang berdoa agar kau berguna, sekalipun doa yang satu itu terdengar seperti mencemooh dirimu yang sebelumnya.
Harmonis, saat pikiran dan impian tergabung dalam kenyataan.
Tapi perihal kau menjadi mahasiswa, teman, disebuah universitas besar nan agung, mengapa aku sangsi kau bisa jadi orang besar nan agung? Ya, aku sangsi. Bukan iri. Aku tak pernah ingin menyentuh hal berbau gengsi, aku tak sudi. Aku sangsi, dengan kepribadian dan pemikiranmu yang masih belia dan penuh haha-hihi, dengan tabiatmu yang suka mondar-mandir di media sosial tanpa secuil pun hal penting yang bisa aku dapati disana.
Teman, adakah terlintas dalam benakmu bahwa engkau masih bersandar pada tembok rutinitas nyaman dibarengi uang bulanan? Berontaklah, teman, karena hidup bukan cuma sekedar naik kereta dan jauh dari orangtua.
Aku amati engkau dari jauh, berkecimpung dalam lapisan sosial yang tak ubahnya dengan belia SMA. Bilang bahwa aku sok tau, tapi pernahkah melihat seorang kritikus film ikut andil dalam pembuatan film tersebut? Yang berjarak akan melihat, sedang yang dekat akan merasa kelewat nikmat.
Teman, apakah begitu proses pendewasaan yang seharusnya? Butalah dari pujian fakultas atau universitas, engkau bukan dibentuk dari almamatermu. Engkau adalah engkau, yang meskipun cumlaude tetap realistis bukan penuh narsistik.
Engkau pasti akan bilang aku sama sekali tidak tau environment macam apa yang selama ini menghajarmu. Namun, teman, pernahkah kau berpikir ada ribuan mahasiswa di universitasmu? Dan pernahkah kau berpikir lagi bahwa disana pasti terbentuk berbagai lapisan sosial yang bisa kau pilih? Masyarakatnya heterogen, aku tau benar. Yang aku tak tau, kenapa kau memilih kelompok sosial yang berjibaku atas nama uang bulanan? Kenapa kau pilih pendakian sosial dengan uang, teman? Padahal ada begitu banyak kelompok sosial yang bergairah dengan berbagai macam hal penting yang baik maupun buruk. Asal tidak rendahan. Asal tidak gampangan. Asal tidak kampungan. Asal tidak kemahalan perihal uang bulanan. Tentu, kau bisa memilih dengan bijak jika kau berpikir.
Teman, mahasiswa ekonomi UI hanya akan jadi alumni ekonomi UI tanpa kelanjutan jika ia tak berjuang untuk melanjuti. Mahasiswa komunikasi UNPAD hanya akan jadi alumni komunikasi UNPAD dengan gelar tanpa jabatan jika ia tak mencoba untuk menjabat. Mahasiswa sastra UNAIR hanya akan jadi alumni sastra UNAIR tanpa pencapaian jika ia tak coba untuk mencapai. Begitu juga dengan yang lainnya, teman.
Jika hari ini kau hanya mengerjakan sederet tugas lalu tidur atau nonton drama korea, pasca kelulusan kau tidak akan mengenang apa-apa, kau belum sempat mencicipi pengalaman apapun, kau menyesal bahwa semuanya hanya jadi sia-sia. Yang kau ingat hanya tugas dan kumpul-kumpul tugas.
Tiga atau empat tahunmu belum apa-apa.
Kau tidak pernah mendapatkan apa-apa.

Teman, ayo, jangan dibaca lagi jika ini malah membuatmu takut atau kau merasa aku beromong-kosong. Tutup halaman ini.
Aku hanya mau yang tergugahlah yang membaca ini.

Jika Embun Kinara dalam Klandestin bilang bahwa jangan lulus dulu sebelum kau ikut demo, aku akan bilang hal yang sama pada kalian yang berjiwa berani. Atau jika kalian tidak seberani itu, lakukan aksi sosial di Merapi dan jangan hanya selfie di Kerinci. Atau jika kalian tidak seberani itu, kunjungi tempat-tempat bersejarah dan berfilosofilah, jangan hanya berkunjung ke cafe dan check-in Path, itu tak berarti, teman. Atau jika kau menganggap dirimu manusia modern, bergabunglah ke dalam asosiasi berbasis kepedulian dan jadikan kepedulianmu alat modernisasi bagi sisi dirimu yang ternyata bigot. Atau jika kau seorang yang religius, buatlah sekumpulan manusia yang menjunjung tinggi nilai keagamaan, dan bukannya menjunjung tinggi ego.

Seperti omong kosong?
Tepat (jika kau seorang teman yang bodoh dan tak mau dikritik)
Seperti sindiran?
Benar (jika kau seorang teman yang memenuhi timeline-ku dengan akun galau yang tak berdasar)
Atau tepat seperti apa yang mau kau dengar?
Ya, kau temanku yang terjerumus dan aku tak tega melihatmu mati dengan ketiadaan tanpa sempat aku peringatkan.

Orang-orang tak berguna seperti teman-temanmu atau bahkan kau sendiri, adalah orang-orang yang tersedia untuk dimanfaatkan. Jadilah berguna agar bermanfaat tanpa perlu dimanfaatkan. Jadilah berguna karena kau memang begitu, bukan karena mereka ingin kau begitu.

Teman, adakah hal yang lebih penting ketimbang mengingatkanmu?
Aku sayang kau, teman. Sayang sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar