Rabu, 21 September 2016

Tentang 'Sebelum Pagi Terulang Kembali' Menurut Saya

Saya jarang bicara soal film, jarang sekali. Namun, kali ini saya sangat sangat ingin bicara soal film Indonesia yang satu ini. Judulnya; Sebelum Pagi Terulang Kembali.

Mungkin juga bahasan saya kali ini nggak sesuai target, karena sebagian besar pembaca blog saya cuma anak muda umur 16 sampai 23 tahun.
Ah peduli setan, memang mereka siapa? Nggak dibaca pun nggak apa, kok.

Mumpung film ini masih hangat dalam ingatan saya, saya mau kasih tau kalau film ini luar biasa bagus. Saya nggak bisa melihat kekurangan suatu hal yang bukan bidang saya, jadi disini saya akan bicara soal yang baik-baik saja, bukan buruk-buruknya.

Mari kita bicara dulu soal alur dan karakternya;
Saya dibawa mengalir di film ini. Saya dibawa masuk ke rumah Pak Yan (Alex Komang) untuk menyaksikan semua intrik dan kejadian yang ada di rumah beliau.
Saya dibawa untuk ikut merasai, meresapi.
Lebay kah? Oh tentu saja, karena film ini pun bagusnya luar biasa lebay. Saya tidak bercanda.
Di awali dengan sosok Satria (Fauzi Baadila) anak Pak Yan, yang merupakan seorang laki-laki yang bekerja di perusahaan swasta. Beda dengan Pak Yan yang bekerja di dinas perhubungan dan punya sifat 'lurus' dan berprinsip, Satria justru punya sifat nyeleneh dan bebas.
Lalu kepulangan kakak Satria, Firman (T. Rifnu Wikana) yang baru cerai dan pengangguran. Keadaan Firman bertolak belakang dengan Satria yang kaya raya, hedonis dan sibuk, Firman justru miskin dan tak punya aktivitas pasca kepulangannya ke rumah Pak Yan. Konflik dalam diri Firman, menurut saya adalah, dia anak pertama yang hidupnya paling berantakan di antara kedua adiknya.
Lalu, anak terakhir Pak Yan, Dian (Adinia Wirasti) yang diceritakan akan segera menikah dengan Hasan (Ibnu Jamil) yang merupakan anggota dewan.
Dua anak laki-laki Pak Yan punya konflik batin masing-masing. Firman berpikir bahwa ia belum bisa membahagiakan kedua orangtuanya, dan selalu merasa dipandang sebelah mata oleh ayah dan juga seluruh keluarga. Sedangkan Satria merasa bahwa ayahnya tak pernah memandangnya, menyayanginya dan menghargainya.
Diawali dengan kerja sama proyek yang ditawarkan Satria kepada Pak Yan, lalu ternyata proyek tersebut mengandung segala macam kecurangan yang berbanding terbalik dengan prinsip Pak Yan. Satria ternyata dimanfaatkan oleh Hasan, calon suami Dian. Bukan hanya menyeret Pak Yan, Satria juga menyeret kakaknya, Firman, dalam berjalannya proyek tersebut.
Hasan, Satria, Firman dan Pak Yan ada dalam lingkaran kecurangan itu.
Namun, segera setelah Pak Yan sadar, ia memilih mengundurkan diri. Satria, Firman dan Hasan masih dalam lingkaran tersebut.
Hasan memanfaatkan Satria, Satria memanfaatkan Firman.
Dalam perihal asmara, Firman yang baru cerai dengan istrinya ternyata jatuh cinta pada Nisa, pembantu di rumah sekaligus istri dari Jaka, sopir pribadi Pak Yan. Firman merasa, hanya Nisa-lah yang menerima dirinya apa adanya, tanpa menuntut apapun. Maka ia jadi 'buta' untuk mendapatkan rasa yang selama ini tidak didapatkannya dari siapapun.
Sedangkan Satria berhubungan dengan Caca yang merupakan seorang player. Caca merupakan anak jendral. Namun, tidak diceritakan lebih lanjut soal asmara mereka.
Dian sudah bersiap akan menikah dengan Hasan beberapa hari lagi.
Klimaks terjadi sangat cepat dan brutal. Dalam satu atau dua kali waktu, semua masalah terkupas. Konflik memanas.
Hari itu H-1 acara pernikahan Dian. Semua orang sibuk menata ruangan di rumah Pak Yan. Lalu, Ibu, istri Pak Yan, memergoki Firman yang sedang bermesraan dengan Nisa. Lalu, sore hari, seorang wanita datang dan mengaku sebagai istri Hasan. Sedangkan di rumah Jaka, Jaka menemukan barang-barang pemberian Firman pada Nisa.
Firman mengakui perbuatannya pada Ibu. Dian tidak jadi menikah. Jaka dan Nisa cerai.
Beberapa hari kemudian, Firman dan Satria ditangkap tangan oleh KPK, bersama dengan beberapa anggota dewan. Tidak dijelaskan apakah Hasan ikut tertangkap atau tidak.

Film ini sungguh-sungguh menjelaskan kepada saya perihal peran. Tentang bagaimana peran ayah, ibu, kakak, adik, pacar, teman. Lebih tepatnya, peran kita sebagai manusia. Film ini tidak menyediakan keterkejutan atau apapun, misal si A ternyata di belakang si B, dia berkhianat pada si A, tokoh in ternyata begini, kasus ini ternyata begini. Kita seperti sudah diberitahu, kita hanya tinggal menunggu. Film ini tidak seperti 'siapa yang membawa granat dan akan meledakkannya', tapi lebih kepada 'kira-kira kapan bom waktu yang dibawa si anu meledak'.
Film ini tidak memberi kejutan, namun lebih kepada tamparan. Penonton seperti saya puas tanpa perlu berprasangka.
Masalah casting, saya juga merasa cocok. Meskipun banyak artisnya yang out of profile, namun mereka bermain peran dengan baik. Contohnya Adinia, karakternya biasanya kuat, terlihat independen sekaligus berantakan, tapi di film ini dia menjadi perempuan lurus dan manis sekaligus si bungsu yang disayang ayah, ibu, kakak dan calon suaminya. Adinia membawakan peran perempuan happy yang selalu disayang, bahkan terlihat tepat saat membawakan kesedihan karena dibatalkannya pernikahan.

Setting keluarga juga kentara. Dimana keluarga menjadi tempat pertama untuk sosialisasi tentang norma. Dimana selain kasih sayang, masih banyak yang bisa diberikan keluarga, salah satunya masalah. Film ini nggak melulu menceritakan soal keluarga sebagai tempat berlindung, tempat pulang, ada kalanya keluarga menjadi seteru, meskipun pada akhirnya akan bersatu. Saya menyukai karakter ayah dalam diri Pak Yan yang dibawakan dengan baik oleh Alex Komang, karakter bijaksana yang bisa juga kebingungan soal merespon anak-anaknya. Saya juga menyukai karakter ibu dalam diri Ratna yang dibawakan dengan apik oleh Nungki Kusumastuti, karakter yang jernih dalam keluarga, sekaligus gamang sebagai pribadi.
Mungkin kalian juga akan sangat sangat menyukai Eyang. Saya pun demikian.

Saya rasa film ini bukan hanya perihal kecurangan, korupsi, proyek, jabatan atau sejenisnya. Lebih dari itu, film ini menunjukkan kepada kita bagaimana sebuah keluarga itu pada umumnya. Konflik apa yang ada di dalamnya. Siapa mencintai siapa, siapa menginginkan siapa, siapa bersama siapa, siapa seharusnya.
Film ini membawa kenyataan tentang manusia, keluarga, dan kehidupan. Film ini tidak mengada-ada.

Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar