Selasa, 17 Maret 2015

kereta (datang-pergi)

beberapa tahun lalu, sepertinya tahun 2011 lalu. aku bertemu dirinya di kereta.
  aku pulang dari kuliah naik kereta. setiap hari aku bertemu orang-orang yang sama. aku hafal mereka. sampai akhirnya kami berteman, kami membentuk kelompok. terdiri dari aku si mahasiswi, Lani si ahli gizi di sebuah rumah sakit, Feri si pegawai pajak, Rere si akuntan di perusahaan kertas, dan dia (Garda) si editor di sebuah majalah.
  kami melakukan apapun yang menyenangkan di kereta. tapi sejujurnya, aku hanya ingin berinteraksi dengan Garda di sini. dia orang yang humoris juga ramah. pakaiannya selalu kasual, jaket dan celana jeans yang dipadukan dengan sepatu converse yang sudah lapuk. rambutnya hitam lurusnya menyentuh jaketnya.
  aku menyukai Garda saat kali pertama dia mempersilahkanku masuk terlebih dulu ke kereta, lalu saat dia berdiri dan membiarkanku duduk di tempatnya. aku menyukai Garda.
  dalam kelompok itu, kami selalu bertukar cerita. kelompok itu benar-benar berteman, kami benar-benar berteman. kami selalu duduk berdekatan di kereta. aku yang paling muda di sana, jadi akulah yang paling dilindungi.
  tapi suatu kali Garda bercerita tentang kekasih barunya pada kami. rasanya aku ingin melompat keluar dari kereta. Garda jelas menangkap kesedihanku. dan tanpa ku sadari ternyata selama ini gelagatku sangat kentara bahwa aku menyukainya.
  beberapa hari kemudian Garda mengajakku pergi. aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat itu, tapi dia hanya mengajakku naik kereta dan tidak turun di stasiun mana pun.
 "apa tidak masalah jika aku tak mengajakmu kemana-mana dan hanya duduk di sini?"
 aku menggeleng, "tidak masalah, aku selalu suka naik kereta."
 "aku juga, malah sangat suka, apalagi saat ada dirimu di kereta yang sama."
  aku tertegun. apakah itu ditujukan padaku? apakah ia hanya meracau sambil memikirkan gadisnya?
 ia tertawa pelan, "aku bicara padamu, kenapa diam saja?"
 "benarkah apa yang kamu katakan itu untukku?" tanyaku.
 "ya, benar," jawabnya.
 "aku kira kau memikirkan gadismu saat bicara begitu," balasku sambil sedikit tertawa.
 "sejujurnya aku tidak punya kekasih. waktu itu aku berbohong untuk melihat reaksimu. aku jatuh cinta, padamu."
 apa? padaku? jatuh cinta?
 "jadi, maukah kau jadi gadisku?" tanyanya.
  aku merona.

  aku ingat kejadian itu. aku ingat betul apa yang Garda katakan waktu itu. aku ingat betul bagaimana wajah Garda yang di depanku kini jauh lebih dewasa dibanding dulu.
 "memikirkan apa? kenapa sampai merona begitu?" tanyanya sambil menyentuh punggung tanganku.
 "mengingat bagaimana kejadian paling berarti di kereta dulu. saat ternyata cintaku juga mencintaiku."
  kami sama-sama tersenyum.
  dan membuang tatapan kami keluar jendela, pikiran kami melayang-layang.
  "sejauh ini aku masih percaya cinta kita. tapi aku pikir, cinta saja tidak cukup untuk membuat kita bersama," ucap Garda.
  Aku tertegun. apakah arti ucapannya itu. hatiku sakit perlahan-lahan.
  "apa maksudmu?" tanyaku.
  "kau tahu betul apa maksudku, Tih. pikirkan bagaimana aku yang hanya seorang editor, berdampingan denganmu yang merupakan seorang manajer keuangan di sebuah perusahaan besar. pikirkan bagaimana reaksi orangtuamu saat melihat kedatanganku ke rumahmu dengan pakaianku yang berantakan. pikirkan bagaimana jika orangtuamu tahu bahwa aku hanya seorang editor di sebuah majalah yang bahkan hampir tutup," jelasnya panjang lebar.
  aku tertegun. selama ini aku percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya. aku percaya bahwa cinta itu keras dan membara dan dapat mengalahkan semua yang menghalanginya.
  Garda menatapku dalam, "masihkah cinta cukup kuat untuk menghadapi itu semua?"
  "lalu kita harus apa?" tanyaku dengan suara mencicit.
  "harus berpisah. carilah seseorang yang lebih baik dari aku."
  "apa kau sudah tidak mencintaiku? jika masih, harusnya itu menjadi alasan kuat untuk mempertahankanku."
  "tidak semudah itu."
  "kau yang membuatnya sulit."
  Garda menghembuskan napas, "pikirkan baik-baik."
  aku mengangguk, "baik, aku akan memikirkannya."
  lalu di stasiun berikutnya, aku turun dan membiarkan Garda sendirian di kereta.
  benarkah cinta tidak cukup kuat untuk itu? jadi apa makna cinta? hanya sebuah rasa sialan yang sebenarnya tidak sanggup membuat kita cukup kuat untuk menghadapi rintangannya? kenapa banyak orang tergila-gila dengan cinta? kenapa aku menjadi salah satu dari orang-orang tersebut?
  tak akan pernah lagi aku memuji cinta. tapi setidaknya aku harus mempertahankan hubunganku yang aku tidak tahu masihkah terdapat cinta didalamnya.
  setidaknya, diriku masih kuat untuk mempertahankan Garda, sekalipun bukan atas nama cinta.
  di tengah gerimis sore ini, tetap saja ringkihku ini tak dapat bersembunyi dari airmata dan kesedihan.

-catatan gamang 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar