Senin, 23 Maret 2015

bahagiaku, bahagianya, bahagiamu

malam ini, di teras rumahku, di temani kopi dan sebatang rokok yang terselip di bibirku, aku melakukan percakapan dengan seorang laki-laki kebingung yang bahkan dirinya tak mampu di limbungkan oleh sebotol alkohol yang hampir tandas.

"katanya cinta, kok nggak berusaha mendapatkannya?" tanyanya lagi. oh ya, nama lelaki bingung ini adalah Garda.
aku menghembuskan asap rokokku kencang, "cinta, kan, nggak harus memiliki, Gar."
Garda mengangguk. mengambil sebatang rokok dari bungkusnya dan menyalakannya. raut wajahnya sedih, entah mengapa. oh ya ampun, aku bahkan tak mau mengakui mengapa ia sedih. yeah, dia sedih karena melepaskan gadis pujaannya untuk mengejar cintanya, dia melepaskan.
"Gar, jangan pikir kita beda. begini, aku melepaskan cowok yang aku suka, sebagaimana kamu melepaskan aku," ucapku, lalu menyesap kopi hitamku yang hampir tandas.
Garda berdecak, "tapi aku bukan melepaskanmu dengan sia-sia. aku ingin kamu mengejar bahagiamu, aku ingin kamu dengan bebas mengejar cintamu. memang menyakitkan, tapi beginilah bahagiaku, bahagiamu adalah bahagiaku."
aku terkekeh, tapi dalam hati berteriak frustasi. Garda mencintaiku, aku mencintai orang lain, orang lain-ku itu sudah akan berbahagia dengan orang lain-nya. paham? jadi apakah aku setega itu menghancurkan kebahagiaan 'orang lain-orang lain' itu?
"kita sama Gar, aku membahagiakan cinta. jadi beginilah bahagiaku, bahagianya adalah bahagiaku," ucapku dengan kejam. aku tak tau pasti bagaimana perasaan Garda saat mendengar kata-kataku tadi.

kami terdiam cukup lama. alkohol dalam botol itu sudah habis oleh Garda. kopiku tinggal ampasnya. rokok yang terselip di bibirku kini sudah batang rokok baru. kami tak tau apa arti cinta sebenarnya, ya kan? memang, kami itu orang-orang bodoh yang dengan heroik sekali melepaskan cinta.

"kalau begitu berbahagialah denganku," ucap Garda tiba-tiba. matanya tidak menatapku, matanya menerawang jauh ke balik pagar rumahku.
"excuse me?" aku terbahak.
Garda menoleh ke arahku, "kenapa? setidaknya saat sama-sama tak mendapatkan bahagia, kita bersama."
"oh ayolah Garda, jujur saja bahagiamu adalah saat aku milikmu, ya kan?" godaku. sejujurnya aku bingung saat ini, apa dia memintaku untuk jadi miliknya? ya ampun ini kali pertama Garda melakukannya, dia tak pernah memintanya sebelumnya.
"memang begitu sejujurnya," balasnya.
aku bungkam.
aku bingung.
"bagaimana? mungkin kamu bisa belajar mencintaiku juga," tambahnya.
tapi kenapa jantung ini berdetak kencang?
Garda mengambil batang rokokku dari tanganku, lalu membuangnya dan ganti menggenggam tanganku.
"sungguh aku tidak memaksa, kamu selalu tau aku mencintaimu," ucapnya.
kemudian aku merasakan sapuan bibirnya di bibirku
kemudian aku merasakan jantungku berdegup lebih kencang sampai telingaku tuli.
dan aku mengangguk
apa? aku mengangguk?
oh secara naluri anggukan itu terjadi.
berarti tidak masalah, kan? mungkin aku memang sebenarnya ingin menerima Garda.
mungkin, memang dialah bahagiaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar